CUT

CUT
Minta Jatah...


__ADS_3

Semua urusan menyangkut surat-surat kepemilikan aset milik Iskandar sudah beres. Cut juga sudah mewariskan miliknya untuk Anugrah dan Iskandar. Pak Cek Amir bergerak cepat dengan mengurus semua saat Cut dan keluarganya berada di Aceh.


“Ma, ini seandainya ya. Kalau misalnya suatu hari nanti ponakan Mama kembali gimana?” tanya Iskandar.


“Dia akan mendapatkan haknya yang menajadi hak Kakek. Kakek sudah membuatkan surat untuk jaga-jaga jika itu memang sampai terjadi. Ini adalah hak Rendra dan akan kembali menjadi miliknya jika nanti dia kembali. Banyak kejadian yang anak mereka akhinya ditemukan bahkan yang terpisah sampai Malaysia. Om Faris dan semua anggota keluarga sudah mengetahuinya. Kamu pasti tahu jika ada orang yang memakan harta warisan orang lain maka itulah api neraka yang berjalan di atas bumi, kan?” tanya Pak Cek Amir pada sang cucu.


Setelah semua selesai, pagi ini keluarga Cut kembali lagi ke Jawa. Di antar oleh Om Adi dan Faris, mereka akhirnya meninggalkan Aceh untuk kembali melanjutkan hidup di tanah kelahiran sang ayah.


“Kamu sudah baikan?” tanya Iskandar pada Anugrah yang duduk di sampingnya.


“Baikan? Memangnya aku sakit?”


“Hati kamu!”


“Ouh, makasih Kak. Setidaknya ide berkunjung ke kampung halaman sedikit mengobati perasaanku. Laki-laki tidak boleh larut dalam perasaan terlalu dalam. Setelah mulai dinas kembali, aku yakin semuanya akan kembali seperti biasa. Banyak hal yang bisa aku lakukan di sana. Apalagi tempatnya juga jauh dari Jawa.”


“Tetap hati-hati memilih pasangan!”


“Tidak untuk saat ini, Kak. Aku mau menikmati dulu seperti ini tanpa harus terbebani dengan perasaan orang lain.


“Apa di sana ada yang menyukaimu?”


“Kakak pikir aku gak laku? Banyak, Kak. Kalau aku mau. Tapi kan aku tidak mau, apalagi saat itu statusku masih pacaran sama dia.”


“Kalau ke depannya?”


“Aku belum ingin, Kak. Kakak aja dulu! Setelah Kakak menikah, aku baru cari calon istri.”


“Sepertinya akan lama, aku belum berniat untuk menikah apalagi mencari calon istri.”


Keduanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing hingga tanpa sadar tertidur. Suara panggilan merdu dari dua pramugari cantik membuat dua pemuda itu terbangun. Pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat indah di Jawa setelah sempat transit di Jakarta.


“Kak, kapan mulai mengajar?” tanya Cut pada sang putra. Anugrah mengendarai mobil yang sempat di parkir lama di bandara. Tidak ada yang akan berani mencuri mobil dengan plat militer milik markas Anugrah.


“Lusa, Ma.” Jawab Anugrah.


“Apa kamu senang sudah pulang kampung?” tanya Cut kembali.


“Senanglah, Ma. Bisa lihat kampung Mama terus mencicipi banyak makanan. Aku jadi pingin tinggal di Aceh.” Bukan Iskandar yang menjawab melainkan Anugrah yang tengah menyetir.

__ADS_1


“Apalagi kalian dapat warisan, ya kan?” ejek Rendra.


“Nah, itu tuh poin pentingnya.” Sahut Anugrah.


Cut bahagia karena Anugrah sudah kembali seperti biasa. Sementara Iskandar memang karakternya seperti itu. Dia selalu datar seperti ayahnya tapi jika sudah berada dengan para sahabatnya, dia akan berubah menjadi ceria. Saat Cut di rumah sedang membereskan barang-barang bawaan mereka dari Aceh. Rendra meminta izin untuk mengunjungi rumah ayahnya.


“Aku ikut!” teriak Anugrah.


Sementar Iskandar hanya bisa menghela nafasnya menatap sang adik yang masih dalam mode pengawas itu.


“Adikmu tidak mau memberikan kesempatan buat Tante Risma mendekati Papa. Bahkan sampai sudah besar pun masih bertingkah begitu. Mama heran, dari siapa ide itu berasal?” Iskandar yang mendengar jadi salah tingkah. Ia langsung berjalan menuju kamarnya tidak mau sang mama menaruh curiga padanya.


“Apa pun yang kalian lakukan untuk melindungi Papa dari Tante Risma. Mama ucapkan terima kasih. Mama bahagia karena kalian sangat perhatian sama Mama.” Ucap Cut seraya menaikkan sedikit suaranya hingga terdengar ke kamar Iskandar.


Rendra dan Anugrah tiba di rumah Bapak Wicaksono. Mereka membawakan beberapa macam oleh-oleh seperti kue dan survenir khas Aceh namun sayangnya kadatangan ayah dan anak itu justru disambut wajah masam sang adik perempuan yang sudah berdiri di depan pintu dengan kedua tangan bersidekap di dada.


“Masuklah! Tante ada perlu dengan Papamu.”


Anugrah menatap bingung tapi ia tetap melangkah masuk menghampiri sang kakek yang sedang main catur di dalam bersama sahabatnya.


“Ada apa?” tanya Rendra menatap kesal pada sang adik.


“Reni, Jaga bicaramu! Aku gak ngerti apa yang membuatmu marah. Kalau masalah pergi tampa bilang-bilang, biar aku sendiri yang bicara sama Papa.”


Rendra masuk langsung menemui sang ayah, “Pa, maaf ya karena Rendra pergi mendadak gak sempat pamit sama Papa. Rendra lagi menyelamatkan cucu kesayangan Papa ini dari batal menikah. Rendra tidak sempat cerita soal Anugrah yang gagal menikah sama Papa karena Papa juga lagi berduka.” Bapak Wicaksono yang sedang main catur tiba-tiba menghentikan permainannya setelah mendengar perkataan sang putra.


Lantas beliau langsung menatap sang cucu yang sedang duduk di sampingnya. “Kamu ditolak?” tanya Bapak Wicaksono pada sang cucu.


“Bukan ditolak, Kek. Tapi dia gak mau pindah keyakinan jadinya ya gitu.” Jawab Anugrah santai.


“Kalau Iskandar tidak memberikan ide untuk pulang lalu kami semua tiba-tiba minta ikut mungkin saat ini cucu kesayangan Papa sudah kurus kering bermuram durja lantaran gagak nikah. Kami tidak berencana lama tapi sampai ke sana ternyata cucu kesayangan Papa itu justru mendapat warisan. Ya sudah, terpaksa kami menunggu surat-suratnya siap baru kami bisa pulang lagi ke sini.”


“Kamu dapat banyak warisan, Nak?” tanya Kakek Wahid.


Risma dan ibunya muncul, Reni juga datang bersama anak-anaknya. “Ya cukuplah, Kek buat tujuh turunan walaupun aku gak kerja. Ternyata almarhum kakek dan nenek Aceh lumayan kaya sama seperti kakek dan nenek Kak Iskandar. Kak Iskandar malah dapat lebih dari almarhum ayahnya. Kaya mendadak dia, Kek. Oh, iya. Kak Iskandar juga sempat dengar dulu waktu aku akikah. Dia dengar waktu nenek bicara sama teman-temannya kalau aku juga dapat warisan. Betul itu, Kek?” Rendra tersedak minumannya sendiri. Putranya kenapa jadi matrealistis begini? Dia saja yang anak kandung tidak pernah bertanya masalah harta warisan. Ini kenapa anaknya yang sibuk?


“Kamu iri sama sama Kakakmu yang punya banyak warisan, Dek?” Gurau Pak Wahyu.


“Iri sih enggak. Cuma suka aja kalau dikasih warisan gitu. Berasa benar-benar dianggap cucu sungguhan.” Celutukan Anugrah mampu membuat sang kakek terkekeh.

__ADS_1


“Redra, ambilkan dokumen di dalam kamar Papa!” pinta Bapak Wicaksono yang membuat penghuni rumah terkejut.


Rendra pergi ke kamar sang papa lalu mengambil sebuah map tebal berisi dokumen-dokumen yang ia sendiri tidak tahu. Dia hanya tahu letak papanya menyimpan dokumen tersebut.


“Kamu kenapa tiba-tiba meminta warisan? Apa ibumu yang menyuruh?” tanya Nenek Risna.


Anugrah menatap tajam pada mereka. Terutama dua wanita berbeda usia tanpa ikatan darah dengan mereka tapi suka sekali ikut campur urusan keluarga mereka.


“Apa hubungannya dengan Mama? Punya Mama saja sudah dikasih ke aku dan kakak. Aku hanya mau lihat apa benar perkataan Kak Iskandar tentang ucapan nenek dulu benar atau tidak.”


Rendra datang lalu menyerahkan dokumen tersebut ke tangan sang ayah. Bapak Wicaksono kemudian membuka map setelah memakai kaca matanya. Sebuah map lain berwarna hijau beliau ambil lalu membuka sebentar.


“Ini coba lihat!” Bapak Wicaksono memberikan map hijau tersebut pada Anugrah tapi langsung direbut oleh Rendra. Anugrah melongo dengan tangan masih melayang seperti orang berdoa membuat sang kakek kembali terkekeh. Rendra membaca satu persatu dan ya, map ini berisi surat-surat tentang penyerahan sepetak kebun apel untuk Anugrah lalu sebuah lahan dengan tiga buah ruko di atasnya.


“Karena kamu sudah besar jadi tinggal kamu tanda tangi saja di atas namamu. Itu adalah warisan dari Kakek dan Nenek untuk menyambut kalahiranmu setelah beberapa tahun menanti. Dan untuk anak-anak Reni, kami tidak memberikan lagi karena mereka sudah mendapat dari orang tua suaminya. Hanya untuk Reni dan Riko serta Rendra yang kami berikan. Dan untuk anak Riko, kami juga memberikan hal yang sama dengan Anugrah.”


“Pa, anak-anakku masa sedikitpun tidak dapat? Mereka kan cucu Papa juga.” Protes Reni.


“Tante, jangan serakah begitu lah. Aku udah lihat gimana kayanya keluarga Om Adi. Untuk Kakak aja mereka ngasih segitu banyak apalagi untuk anak-anak Tante yang ada tiga. Aset ketiganya kalau digambungkan cukup untuk tujuh turunan. Ini masih juga sibuk minta yang tidak seberapa ini. Jangan permalukan Om Adi deh, Tante! Kalau tahu Tante begini bisa-bisa Om Adi cari istri lain di sana!” Reni langsung terdiam. Dia pergi membawa anak-anaknya dari sana. Sementara Ibu Risna dan Risma memandang tidak suka pada Anugrah.


“Kek, sekarang Papa dan Mama sudah pulang. Jadi Kakek tidak akan tinggal sendirian lagi. Tante Reni biar kembali saja ke Aceh. Kasihan suaminya tidak ada yang urus. Kalau Kakek diposisi mereka pasti Kakek marah juga kan kalau istri Kakek lama-lama di rumah orang tuanya. Biar Mama dan Papa yang jaga Kakek di sini. Kalau Kakek mau, Kakek pindah ke rumah kami aja. Di sana rame, Kakek juga tidak akan kesepian kayak di sini.”


“Yang dikatakan Anugrah benar, No. Aku juga sudah kangen rumahku. Nanti sore, kami akan kembali ke istana kami sendiri ya!”


“Makasih, Kek. Maaf karena sudah merepotkan Kakek sekeluarga selama ini.” Ucap Anugrah mengambil alih sementara papanya hanya melongo menatap sang anak yang entah kemasukan jin apa setelah galau karena gagal menikah kini jadi berubah drastis.


Risma pergi meninggalkan ruang keluarga tersebut lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Reni. “Lihatkan apa yang sudah diajarkan wanita itu pada ponakanmu? Bahkan sekarang ponakanmu telah mengusir kami secara halus dan mengusirmu juga dari rumah ini.” Risma mulai menyalakan kembali api yang hampir padam.


“Apa maksud Kakak?”


 


 


 


***


Hayooo....

__ADS_1


__ADS_2