CUT

CUT
Faisal...


__ADS_3

Melalui jendela kamar terlihat bintang berhamburan di langit malam. Pertanyaan Mae kemarin kembali mengungkit kenangan yang masih tertinggal di lubuk hati.


 


“Apa kabar dia di sana?”


 


“Bagaimana dengan ucapan Khalid?”


 


Sudah pasti dia akan baik-baik saja tapi bagaimana dengan ucapan Khalid tempo hari? Apakah perasaan bisa dikendalikan seenak hati si pemilik itu sendiri?


 


Jawabannya adalah tidak. Aku tidak bisa mengontrol perasaan tapi aku bisa menahan perasaan ini. Segala ingatan mungkin tidak pernah hilang tapi aku berusaha untuk tidak mengingatnya.


 


Aku memasrahkan diri mengikuti jalan yang terbentang tanpa berpikir apa yang akan kutemui di depan nanti. Bahagia menjalani kehidupan yang masih Allah SWT berikan sampai saat ini bersama kedua orang tua serta keponakan yang sudah mulai besar.


 


Kebahagiaan apa lagi yang harus aku kejar jika bersama mereka saja sudah lebih dari cukup. Berapa kali keadaan memaksaku meninggalkan mereka tapi Allah masih memberikan kami kesempatan untuk menjalani hari bersama kembali.


 


Sebagai orang tua, mereka hanya memiliki aku begitu juga sebaliknya. Aku menikmati hari-hari kami dengan keadaan yang cukup aman tanpa suara bedil atau bom. Ibu kota provinsi dari dulu terkenal jarang terjadi kontak senjata.


 


Hari ini kami bersama keluarga Pak Cek Amir sepakat untuk mengunjungi kuburan Razi. Hatiku bagai tersayat pisau saat menatap kuburannya yang dipenuhi dengan rerumputan hijau. Kami merapikan rumput di sekitar kuburannya lalu menaburi bunga-bunga serta menyiram air di atas pusaranya setelah selesai membaca yasin.


 


Setahun sudah berlalu namun kenangan tentang Razi masih tersimpan rapi di hatiku. Pribadinya yang sopan dengan sikap santun serta ramah menjadikannya sosok pemuda yang pantas diteladani. Namun, Allah lebih menyayanginya sehingga Razi dengan cepat kembali ke sisi sang Khalik meninggalkan kami semua.


 


Air mata jatuh tak tertahan ketika doa demi doa kami hadiahkan untuknya dengan harapan suatu saat nanti kami dipertemukan kembali di surga-Nya.


 


“Amin...” ucap kami serentak.


 


Ketika melihat kuburan Razi sudah bersih dan rapi tiba-tiba aku ingat dengan kuburan Bang Ilham dan keluarga kecilnya.


 


“Apakah kuburan mereka juga bersih seperti ini?” batinku.


 


Tidak ada yang tahu karena kami tidak pernah pulang ke sana.


 


“Kuburan Abangmu juga bersih dan rapi. Bang Muh selalu memotong rumput di sana untuk sapinya.” aku tersenyum mendengar bisikan Umi.


 


Senakal apa pun seorang anak, orang tua selalu memiliki hati yang lapang dengan kata maaf bahkan saat sang anak sudah tiada.


 


Seorang laki-laki yang sedang membersihkan area kuburan menyita perhatianku saat kami hendak keluar dari sana.

__ADS_1


 


“Khalid.”


 


Penampilannya sangat berbeda dari sebelumnya. Wajahnya dipenuhi jambang dengan topi khas petani serta sebuah handuk kecil bertengger di pundaknya. Di sampingnya ada sebuah keranjang yang sudah dipenuhi rerumputan. Dia menatap kami sekilas seraya menganggukkan kepala lalu kembali membabat rerumputan di sekitar kuburan.


 


“Assalamualaikum...”


 


Deg...


 


Pak Cek Amir mendatanginya seraya mengucapkan salam.


 


“Walaikumsalam.”


 


Aku gelisah menatap Abu dan Umi. Tiba-tiba kedua orang tuaku juga ikut mendatanginya. Pak Cek Amir mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan lalu menyerahkannya untuk Khalid.


 


Ya...aku yakin dia adalah Khalid.


 


“Terima kasih karena sudah memotong rumput di sini.” ucap Pak Cek Amir.


 


 


“Pakailah untuk membeli keperluanmu!” Abu menyerahkan dua lembar uang  ratusan ditangannya.


 


“Ayo, Cut!” ajak Abu.


 


Aku kembali mengangguk kecil saat kami bertatapan. Hatiku bertanya-tanya dengan sikap Abu.


 


“Selapang itukah hati orang tuaku? Bahkan saat mereka menjumpai orang yang telah membawa anaknya selama berbulan-bulan.”


 


Dari mereka, aku belajar bahwa tidak ada tempat untuk kemarahan dan kebencian dalam diri kita.


 


Aku bertanya bagaimana jika Pak Cek Amir atau Mak Cek Siti mengetahui jika orang yang mereka beri uang tadi adalah penembak anaknya? Apakah hati mereka bisa menerima itu? Namun, aku memilih diam.


 


“Bagaimana dia tahu kita ke sana?” tanya Abu saat kami selesai salat isya.


 


“Iya ya. Umi juga tidak menyangka jika kita akan bertemu dengan dia di sana.” jawab Umi.

__ADS_1


 


“Bagaimana Abu dan Umi bisa mengenalinya?” tanyaku ragu.


 


“Abu memang sudah tua tapi mata Abu alhamdulillah belum rabun. Kalau sekedar berjambang dengan pakaian seperti itu. Abu masih bisa mengenalinya. Yang membuat Abu penasaran sekaligus gusar adalah keberadaannya di sana tepat dengan kedatangan kita. Itu berarti selama ini dia masih mengawasi kita.” ucap Abu.


 


“Mungkin dia hanya ingin memastikan janjinya pada almarhum Bang Ilham, Abu.” jawabku.


 


“Kalau begitu, dia juga tahu bahwa kamu pernah dipinang oleh pemuda lain?” ucap Abu kembali.


 


“Dia hanya tidak mau kalau Cut menikahi tentara, Abu. Dia sangat membenci mereka makanya dia membawa Cut dulu.”


 


“Ya sudahlah. Sekarang kita hanya perlu berhati-hati karena sudah jelas dia masih mengawasi Cut. Dan kamu, Cut. Jangan dekat-dekat dengan tentara itu!”


 


“Iya, Umi. Cut juga tidak berniat untuk dekat-dekat dengan mereka.”


 


“Abu, bagaimana kalau untuk berjualan di depan kita cari orang saja? Atau kita minta Mae saja yang jualan makanan. Biar Cut yang membantu Abu?” usul Umi sedikit mengejutkanku.


 


“Mae mau, Umi.” sahut Mae yang baru keluar dari kamarnya.


 


“Ya sudah, mulai besok Mae yang jual makanan.” ucap Abu.


 


Memilih Mae untuk berjualan makanan ternyata sebuah keuntungan tapi membuat pekerjaanku menjadi sedikit bertambah. Pelanggan yang membeli makananku semakin banyak dan tentu saja membuatku harus menambah porsi makanan dari sebelumnya.


 


Kebanyakan pembeli adalah pria dan tentu saja memiliki niat lain selain membeli nasi bungkus. Setiap hari selalu saja ada surat atau salam yang mereka titipkan sama Mae. Aku hanya bisa menghela nafas berat ketika menatap surat-surat tersebut. Beberapa dari mereka ada yang langsung mengatakan niatnya pada Abu tapi semua keputusan kembali kepadaku.


 


Abu tidak memaksa begitu juga dengan Umi. Tapi ketika lamaran itu datang dari keluarga Mak Cek Siti. Abu dan Umi harus bijak menanggapi karena terkait hubungan kedua keluarga.


 


Keponakan Mak Cek Siti yang bernama Faisal baru kembali dari Medan setelah menamatkan kuliahnya di fakultas kedokteran Universitas Sumatra Utara. Faisal adalah anak dari saudara laki-laki Mak Cek Siti yang menjabat sebagai kepala dinas pendidikan provinsi Aceh.


 


Anak bungsu dari tiga bersaudara yang semuanya bergelar dokter mengikuti ibu mereka yang seorang dokter spesialis anak dan sekarang menjabat sebagai dosen di fakultas kedokteran Universitas Syiah Kuala.


 


“Bagaimana Akak, Abang? Bang Fahri meminta saya mencarikan jodoh untuk Faisal. Bagaimana kalau kita menjodohkan mereka? Faisal anak yang baik dia sama seperti Razi. Umur keduanya juga sama. Hanya saja waktu itu, Kak Laila menyuruh Faisal untuk mengambil kedokteran USU. Sedangkan saya menyuruh Razi untuk sekolah di sini. Begitulah mereka akhirnya sampai berpisah. Kalau tidak, setiap saat mereka selalu bersama. Bahkan sebagian orang mengira jika mereka saudara kandung.” cerita Mak Cek Siti saat mendatangi rumah kami bersama Pak Cek Amir.


***


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...


Maaf ya...baru update....

__ADS_1


 


__ADS_2