CUT

CUT
Nenek Garang...


__ADS_3

Di sebuah café sepasang mantan sedang duduk seraya menyesapkan minuman masing-masing. Keduanya tidak sengaja bertemu saat sama-sama ingin menikmati hari senggang dengan beban pikiran tersendiri.


“Aku pikir kamu tidak mau mengenalku lagi!” ucap Risma menaruh gelasnya.


“Kita kan masih temanan. Dan saya tidak masalah dengan itu.”


“Aku hanya tidak mau dianggap pelakor seperti dulu.”


Rendra tersenyum kecil. “Beban pikiranmu banyak sekali sepertinya.”


Sebagai seorang yang pernah hidup dengan pria yang saat ini duduk di depannya. Risma sangat tahu jika sang mantan sedang banyak pikiran.


“Rumah tangga kalau tidak bertengkar tidak seru tapi sering bertengkar juga masalah. Suka bingung sama perkataan orang-orang.” Rendra kembali terkekeh mendengar perkataan Risma.


“Oh iya, Mama bilang Iskandar akan sekolah ke luar negeri ya?” Rendra mengangguk kecil.


“Dia mendapat beasiswa di Yaman. Kalau berprestasi akan lanjut kuliah di Mesir.”


“Wah, hebat ya dia. Beasiswa penuh atau jajannya masih ditanggung wali murid?”


“Beasiswa penuh cuma kita kirim juga untuk jaga-jaga kalau dia perlu duit lebih. Duit beasiswa kan dipakai untuk beli buku dan kitab nantinya.”


“Uang jajannya dari kamu atau gimana?”


“Keluarga ayahnya masih hidup dan mereka tetap mengirim uang untuknya. Saya hanya menambah sedikit.”


Mereka terus berbincang hingga dua jam lebih. Waktu terlama yang selama ini mereka habiskan dan cukup untuk Rendra mendinginkan kepalanya. Ia kembali pulang ke rumah dan harus berhadapan kembali dengan wajah dingin sang istri. Cut merasa kecewa dan sedih namun, sebisa mungkin dia menutupinya di depan anak-anak. Iskandar yang sudah mengetahui tentang pertengkaran kedua orang tuanya hanya bisa diam seraya menghabiskan makan malamnya.


Suara salam dari arah pintu terdengar, Cut segera membuka pintu dan –


“Hai, Cut. Apa kabar?” Risma datang bersama Ibu Yetti dan Anugrah serta sebuah sepeda baru yang sedang dimasukkan oleh pak supir.


Mereka bertiga masuk, “Mama dan Mbak Risma mau ikut makan malam?” tanya Cut.


“Kami sudah makan di restoran tadi. Ini sepedanya jaga baik-baik ya, Dek. Kalau tidak main gak usah dibawa keluar nanti hilang lagi. Nenek pulang dulu, ya!”

__ADS_1


Kedua wanita berbeda usia itupun pergi meninggalkan kediaman Rendra. Cut memperhatikan sepeda baru yang masih dibungkus plastik bubble wrap dengan saksama. “Ini pasti mahal.” Batin Cut memperhatikan sepeda baru sang putra bungsu.


Sementara di meja makan, putra yang lainnya ikut merasakan luka tak berdarah dari mulut sang nenek. Setelah malam itu, Ibu Yetti sering sekali ke rumah dengan alasan kesepian karena ditinggal berkebun sama sang suami. Dan selama beliau di rumah selama itu juga baik Cut maupun Iskandar hidup dalam tekanan hingga membuat Iskandar enggan berada di rumah lalu akhirnya memilih pergi ke rumah temannya. Masa liburan bagi para anak-anak tentara memang tidak terlalu semarak karena ayah mereka tidak mengenal arti kata libur kecuali cuti tahunan. Jadi, musim liburan para anak tentara ini adalah waktu bermain sepuasnya bersama anak-anak komplek.


Sementara di rumah, sang ibulah yang harus mendengar semua perkataan ini dan itu oleh sang nenek. Sehari dua hari, Iskandar masih sanggup mendengar bagaimana neneknya mengatur segala hal di rumah mereka. Tapi, hari-hari selanjutnya ia sudah tidak tahan. Ingin membantah tapi sang ibu melarang. Jalan satu-satunya adalah pergi bermain seperti hari ini.


“Lihat anak kamu! Bukan bantuin orang tuanya malah sibuk main. Mau jadi apa dia kalau besar nanti? Kalau diingatkan marah, apa tidak tahu jika omongan orang tua itu selalu benar. Kami ini sudah hidup lebih lama dari kalian, sudah lebih dulu makan asam garam kehidupan. Kamu juga sebagai ibu, bukannya menasehati dia malah membiarkan dia begitu saja. Anak itu jangan terlalu dimanjakan nanti ngelunjak.” Khutbah sang mertua.


“Jangan pakai sepeda adikmu. Kasihan kalau harus ringsek lagi karena ulahmu.” Ibu Yetti berteriak pada sang susu sambung yang hendak ke luar rumah.


Iskandar diboncengi sama Beno tiba di taman. Teman-teman mereka sudah menunggu seperti biasa. Hari ini hanya dua orang yang tidak hadir karena mereka pulang ke kampung untuk menjenguk nenek masing-masing.


“Eh, aku tadi lihat nenek kamu Is pas lewat depan rumahmu. Niatku mau panggil kamu, eh pas liat tuh nenek. Jadi gak berani aku.” Celutuk Adit pada Iskandar yang baru tiba bersama Beno.


“Gak usah masuk aja kalau saran aku. Tadi saja aku dengar nenek dia sedang marah-marah. Ya ampun, Is. Nenek kamu makan apa sih? Kok bisa garang kayak singa.” Ucap Beno.


“Sudahlah, jangan bahas dia lagi. Aku juga bingung hampir tiap hari dia ke rumah. Sampai di sana dia asik ngatur-ngatur Mamaku ini dan itu. Mamaku pun diam saja bukannya ngebantah.” Keluhan itu keluar juga dari mulut Iskandar.


“Coba kalau nenekku seperti itu. sudah dari kemaren dia kabur kalau Mamakku sudah keluar tanduknya. Papaku aja tidak berani mendekat apalagi kalau Cuma nenek-nenek.” Beno sedang membanggakan ibunya yang sangat garang.


Mereka tertawa serentak. Begitulah hari-hari yang dilewati Iskandar bersama teman-teman kompleknya.


Mereka kembali tertawa seakan dunia mereka baik-baik saja. Kebersamaan yang akan membuat kenangan tersendiri di hati dan pikiran Iskandar. Ketika hubungannya bersama mereka terjalin dengan baik, sementara dengan sang adik justru tidak ada kemajuan. Selama neneknya sering berkunjung, Anugrah hampir seperti anak dalam ketiak ibunya. Dia tidak pernah lagi menyapa sang kakak atau sekedar mengeluh lapar padanya. Ditambah, semenjak kedapatan pergi sama sang nenek. Cut tidak pernah lagi meninggalkan mereka. Rencana yang hampir menunjukkan hasil kini harus hancur karena ulah sang nenek.


Hubungan Cut dan Rendra juga tidak menampakkan kemesraan seperti dulu. Apa yang Cut lakukan saat ini merupakan tugasnya sebagai seorang ibu dan istri termasuk saat melayani permintaan sang suami di atas ranjang. Tidak ada lagi perasaan menggebu yang bertalu-talu diantara keduanya. Hambar, itulah yang cocok untuk menggambarkan situasi ranjang mereka. Rendra mendapat tempat untuk menyalurkan keinginannya dan setelah itu selesai.


Sementara Cut hanya melakukan tugasnya sebagai seorang istri yaitu sebagai tempat untuk pelampiasan kebutuhan biologis tidak ada perasaan dan keinginan lebih. Kalaupun keinginan itu muncul, tanpa diminta langsung sirna. Akhir pekan yang seharusnya mereka habiskan di rumah atau pergi jalan-jalan hampir tidak ada. Ibu Yetti selalu di rumah bahkan sampai menginap di sana. Dan kalaupun ingin jalan-jalan, hanya Anugrah yang mendapati itu. Dia cukup meminta pada neneknya lalu dengan senang hati sang nenek akan membawanya SEORANG!!!


Bukan hal baru bagi Iskandar juga untuk sang ibu seperti hari ini dimana sang nenek kembali membawa cucunya pergi jalan-jalan, sementara di sana ada Iskandar. Jangankan diajak, ditatap padanya saja tidak.


“Kamu mau jalan-jalan? Kita pergi berdua saja, mau? Kamu juga tidak lama lagi di sini. Ayo, kita nikmati waktu sepanjang hari di luar rumah.”


Tidak perlu berpikir lama, Iskandar langsung setuju dan disinilah mereka saat ini. Berjalan bersama di sebuah pusat jajanan lalu membeli jajanan yang mereka inginkan. Mereka membahas hal-hal yang random dan sesekali tertawa bersama. Itulah yang selama ini Cut inginkan tapi tidak bisa ia lakukan.


“Ma,” panggil Iskandar saat mereka sedang duduk di salah satu bangku taman sambil menyesap minuman dingin.

__ADS_1


Cut menatap wajah sang putra yang terlihat sering berubah-ubah. “Kenapa? Kamu mau jajan lagi?” tanya Cut lembut seraya tersenyum pada sang anak.


Iskandar tahu jika ibunya tidak baik-baik saja, “Sampai kapan Mama sabar  menghadapi Nenek?”


Deg…


“Kenapa tanya begitu, hem? Nenek itu biar cerewet tapi aslinya baik kok.” Bohong Cut.


“Ma, Is bukan balita lagi. Is bentar lagi masuk SMA. Is tahu, Mama tidak bahagia kan? Tiap hari Nenek ke rumah hanya untuk ngatur-ngatur ini dan itu. Ma, itu rumah kita kenapa Nenek yang atur?”


Cut mengusap lembut kepala sang putra, “Nak, belajar yang rajin sampai di sana. Gapai tempat tertinggi untukkmu. Jika kamu sukses maka tidak ada yang bisa merendahkanmu. Bukankah ilmu yang mampu mengangkat derajat seseorang? Jadilah sukses di dunia dan akhirat! Kelak, kamu bisa bangunkan Mama rumah terindah di surga.”


Kedunya berpelukan bahkan sampai terisak. Baik Cut dan Iskandar seperti sedang mengeluarkan semua tekanan dalam bentuk tangisan yang selama ini tertahan. Cut tidak pernah menangis selama ini. Ia tidak mau anak-anaknya bertanya. Tapi, saat ini dia sangat ingin menangis dalam pelukan putranya. Selama ini dia merasa gagal menjadi ibu, apalagi mengingat ibu mertuanya yang terang-terangan pilih kasih terhadap putranya. Cut mengurai pelukannya lalu masing-masing mereka tersenyum.


“Ma, apa dulu Mama bahagia dengan Papa Is?” Cut menautkan alisnya.


“Papa Fais?” Iskandar mengangguk kecil menatap sang ibu.


Iskandar sudah melihat dan mengenal rupa sang ayah melalui foto yang ia minta dari sang nenek. Saat itu, neneknya menelepon ke pondok dan di sanalah dia meminta untuk dikirimi foto sang ayah. Untung saja, beberapa foto masih tersisa setelah gempa dan stunami.


Cut tersenyum, “Kamu adalah bukti nyata kalau Mama bahagia saat itu. Kirimkan doa untuk Papa. Kita tidak tahu apa Papa masih hidup atau sudah tiada. Hanya doa anak yang saleh yang membuat Papa tenang dan bahagia.”


“Ma, kalau misalnya Papa masih hidup. Apa Mama mau kembali sama Papa?”


Deg…


Cut tidak mungkin bercerita perihal masalah rumah tangganya terdahulu pada Iskandar. Putranya pasti tergungcang jika tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kalau posisinya kita balik bagaimana? Papa sudah menikah lagi dan Mama yang tidak ditemukan. Apa Papa akan meninggalkan anak dan istrinya yang sekarang lalu kembali sama Mama?” Cut tersenyum memandang sang putra yang kebingungan dengan pertanyaan sang ibu.


“Tidak bisa, Sayang. Hidup harus terus berjalan. Yang sudah terjadi biar terjadi. Mama tidak bisa meninggalkan Papa dan Anugrah. Mama tidak mau menyakiti hati Papa Rendra dan Anugrah. Dan kalau pun Papa masih hidup. Siapa tahu, Papa juga sudah punya istri dan anak seperti Mama.”


“Walaupun di sini hati Mama yang disakiti?”


Deg…

__ADS_1


 


***


__ADS_2