CUT

CUT
Penyuluhan...


__ADS_3

Kedatangan para mahasiswa ke Desa Wengi hari ini menyita perhatian Pak Joko dan Gendhis. Mereka yang sedang berada di kantor kepala desa langsung menghampiri Dodik yang sedang menurunkan barang-barang.


“Dik Dodik, Pak Iskandar tidak ikut?” tanya Pak Joko.


Dodik tersenyum kecil, “Tiak, Pak. mulai hari ini Pak Is tidak kemari lagi karena dipanggil oleh pihak kampus.”


“Lhoe kenapa sampai dipanggil, Dik?”


“Tidak tahu, Pak. Mungkin ada masalah karena Pak Is itu kan dosen baru dan langsung mendapat tugas jadi dosen pembimbing KKN. Mungkin ada kesalahan yang Pak Is lakukan.” Ujar Dodik.


“Waduh, kasihan sekali kamu, Mas.” Celutuk Gendhis dengan nada manja.


Setelah mengetahui Iskandar tidak ikut ke desa mereka lagi, Pak Joko maupun Gendhis sudah tidak pernah lagi memberi perhatian lebih pada mereka apalagi sampai menawari makan siang. Hubungan dengan Pak Joko hanya sebatas kepentingan program tidak ada yang lebih. Dodik menyampaikan semua perkembangan program dan situasi pada Iskandar.


“Pak, sebaiknya Bapak tidak ke sini lagi sampai hari terakhir. Apa yang kami lihat menunjukkan jika target mereka memang Bapak. Ada apa dengan Bapak sampai mereka menjadikan Bapak target guna-guna?” gurau Dodik berlakon seperti pewawancara handal.


Iskandar terkekeh pelan mendengarnya lalu, “Karena di antara kami para mahasiswa hanya Bapak yang paling tampan.” Celutuk Aji di samping Dodik.


Dodik melakukan panggilan video dengan Iskandar di kecamatan pada malam harinya. “Dosen kalian memang tampan sampai banyak lamaran dari gadis mesir untukknya dan semua ditolak. Mungkin juga, wanita desa itu tahu kalau untuk mendapatkan dosen kalian harus pakai cara-cara di luar nalar.” Celutuk Dwi di belakang Iskandar.


“Sudah janga bahas itu lagi. Nanti saya ke sana tapi hanya sebentar saja untuk melihat program kalian. Tugas itu amanah dan harus tetap dijalankan sesuai prosedur.” Jelas Iskandar.


“Lalu bagaimana dengan kalian? Apa ada yang mendekati kalian?”


“Kami tidak bisa cerita, Pak. Kami yakin Bapak tidak akan percaya mendengarnya.” Iskandar mengerutkan keningnya.


“Aman, Pak. Insya Allah.” Lanjut Dodik kembali. Setelah memberi laporan pada sang dosen, mereka kembali melanjutkan kegiatan masing-masing.


Ting…


“Assalamualaikum, Pak. Maaf mengganggu waktu istirahatnya. Ada yang mau saya katakan sama Bapak. Saya bermimpi melihat Bapak mencium ular besar beberapa malam yang lalu.”

__ADS_1


“Saya juga melihatmu memanggil nama saya.”


Deg…


“Aneh ya, Pak karena mimpi itu datang pada dua orang yang berbeda.”


“Entahlah, mungkin ini juga sebuah pertanda.”


“Pertanda? Apa saya juga menjadi target jampi-jampi selanjutnya? Tapi selama ini tidak ada pemuda desa yang mendekati saya.”


“Suka itu tidak mesti didekati tapi bisa juga dengan diperhatikan dari jauh.” Balas Iskandar.


“Bapak jangan menakuti saya! Oh iya, sarung milik Bapak malam itu masih sama saya. Nanti akan saya kembalikan kalau kita bertemu.”


“Pakai saja jika kamu perlu!”


“Baik, terima kasih. Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam.”


Tampa mereka ketahui, selama kembali ke mess kampus. Iskandar beberapa kali harus menjalani ruqiah dengan salah satu Kyai untuk menghilangkan pengaruh buruk yang mengikutinya hingga membuatnya setiap malam memimpikan wanita berkembem itu.


“Makhluk ini ingin mendapatkan keturunan dari kamu. Oleh sebab itu setiap bermimpi, kamu pasti harus mandi wajib. Setan itu sedang menggodamu untuk melakukan jimak dengannya. Alhamdulillah, Allah melindungimu melalui gadis yang memanggil namamu itu. Seandainya saat itu kamu mengikuti ajakan gadis itu ke rumahnya mungkin saat ini kamu sudah mengejar-ngejar gadis itu ke desanya.” Ujar Kyai tersebut setelah membacakan ayat-ayat suci alquran di ubun-ubun Iskandar.


“Saya harus kembali ke sana lagi, Pak Kyai. Apa yang harus saya lakukan saat bertemu dengan wanita itu nanti?”


“Insya Allah dengan izin Allah, wanita ini tidak akan mendekatimu lagi. Tapi tetap saja kamu harus waspada. Kita tidak tahu sedalam mana rasa suka seseorang kepada kita.” Iskandar mengangguk pelan.


“Apa tujuan seorang wanita melakukan pesugihan begitu, Kyai?” tanya Ari yang ikut mendampingi Iskandar bersama yang lainnya siang itu.


“Banyak alasan kenapa manusia memilih bersekutu dengan setan di antaranya kemewahan, kecantikan atau kesuksesan. Intinya, setan itu selalu satu langkah di depan manusia yang lemah dalam tiga hal itu. Oleh sebab itu, jika kalian sudah siap secara lahir dan batin maka menikahlah! Selain untuk menyempurnakan ibadah, pernikahan juga mampu menjadi benteng untuk hal-hal jahat seperti ini. Biasanya setan akan meminta pria lajang yang belum pernah menikah sebagai tumbal. Darah seorang pemuda yang belum pernah menikah masih panas dan kuat dibandingkan darah pria sudah beristri serta memiliki anak.”

__ADS_1


Selama tujuh hari Iskandar rutin mengunjungi pondok pesantren tersebut untuk meminta diruqiah. Tubuh yang sebelumnya terasa berat kini mulai ringan. Gadis berkembem itu juga tidak pernah datang lagi dalam mimpinya. Sementara di Desa Wengi, para mahasiswa ikut melakukan trik kotor buah pikiran dari Aji yang dikenal polos tapi memiliki ide yang brilian.


Suatu hari, ada acara penyuluhan dari dinas sosial tentang batas usia pernikahan karena desa tersebut termasuk dalam sepuluh desa lainnya dengan pernikahan anak dibawah umur 20 tahun terbanyak. Bukan hal aneh lagi jika anak-anak berumur di bawah 20 tahun sudah menikah dan memiliki anak bahkan ada yang sudah memiliki anak sampai tiga orang. Kesadaran akan pentingnya pendidikan dari para orang tua membuat Desa Wengi tidak ada kemajuan dalam hal pernikahan.


Para mahasiswa diminta mendata para pemuda dan pemudi yang hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka adalah sasaran dari kegiatan dari dinas sosial kali ini.


“Adik-adik janga takut dibilang gak laku hanya karena belum menikah. Lihat saja Mbak-mbak mahasiswa di sini. Umur mereka pasti sekitar 22 atau 23. Dan mereka senang-senang saja belum menikah. Berhubung ada mereka di sini. Mari kita dengar apa kata mereka tentang pernikahan. Ayo, silakan Mbak-mbak mahasiswa berbagi ilmu dengan kami!” ucap salah satu penyuluh.


“Perkenalkan, nama saya Dodik. Saya berumur 22 tahun. Dan kalau ditanya kapan menikah? Saya dengan yakin menjawab “Tidak sekarang!” karena kenapa? Menikah itu bukan untuk mencari status melainkan keyakinan kita untuk menbuktikan diri bahwa kita sudah mampu menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab serta penuh cinta kasih pada pasangan ataupun anak-anak kelak. Untuk menjadi seperti itu tentu banyak hal yang harus kita gapai sebelumnya yaitu ilmu dalam membina rumah tangga, ilmu menjadi seorang suami yang baik, ilmu menjadi seorang ayah dan ilmu-ilmu lain untuk menunjang keberlansungan rumah tangga ini nantinya. Kita pasti ingin menikah sekali seumur hidup, bukan? Jadi, kalau saya ditanya kapan menikah? Saya akan menjawab, “Tidak sekarang!” karena saya belum memiliki semua yang sudah saya katakan tadi.”


Para penyuluh dan rekan-rekan mahasiswa kompak bertepuk tangan. Kemudian, Dewi si mahasiswa paling heboh maju ke depan.


“Selamat pagi menjelang siang. Perkenalkan nama saya Dewi Puspita. Kapan kawin? Pertanyaan itu sudah sering saya dengar saat lebaran atau kumpul-kumpul keluarga dan kerabat. Lalu apa yang saya jawab?” Dewi menjeda ucapannya seraya menatap satu persatu para muda-mudi kampung yang sedang menunggu jawabannya.


“Nungguin ya?” seloroh Dewi membuat suasana semakin hidup.


“Kalau saya kawin, tanah Tante buat saya, boleh? Kalau boleh, besok saya langsung kawin. Berani tidak itu si Tante ngasih tanahnya? Ya pasti tidak lah. Dan si Tante langsung diam tidak berdaya. Sekarang nih ya, kalian diminta kawin cepat-cepat setelah itu apa? punya anak lalu setelah itu apa? anak kalian kapan kawin. Lalu setelah itu apa? Kapan kalian punya cucu? Setelah itu apa? Selesai karena kalian sudah dikubur. Sampai kapan kalian menuruti keinginan orang lain? Apa kalian tidak ingin membahagiakan diri kalian sendiri? Apa kalian tidak ingin melihat dunia luar yang sangat indah dan saang untuk kalian lewati hanya karena menuruti keinginan orang lain. Hiduplah dengan bahagia dengan cara yang baik dan benar sesuai dengan hati kalian. Remaja seumuran kalian di luar sana sedang bermain bersama teman-temannya. Menghasilkan karya dengan imajinasi dan kreativitas yang kalian miliki. Kalian memiliki itu semua, kalian punya bakat, kalian itu pintar hanya saja lingkungan yang membuat kalian terus berada di bawah padahal kalian bisa berada di atas jika lingkungan mendukung. Kalian masih muda, terlalu cepat untuk kalian melahirkan dan mengurus anak. Jadi, carilah kebahagiaan kalian dengan cara yang baik dan benar juga yang membuat kalian bahagia bukan orang lain.”


Para penyuluh dan rekan-rekan Dewi kembali bertepuk tangan. Para muda-mudi Desa Wengi juga ikut bertepuk tangan.


“Ternyata, Mbak-mbak mahasiswa saja bisa berpikir seperti itu kenapa kalian tidak? Siapa lagi yang mau maju?” tanya penyuluh tersebut.


“Saya, Buk.” Aisyah mengangkat tangan.


“Assalamualaikum semuanya. Perkenalkan, nama saya, Aisyah. Saya tidak akan mengatakan kapan kawin tapi saya akan mengatakan lelaki seperti apa yang saya inginkan untuk menjadi suami yang akan menemani saya hingga tua nanti. Kita pasti ingin memiliki suami yang kita cintai dan menikah dengannya sampai tua, bukan? Maka dari itu, penting sekali jika kita memilih pria seperti apa yang akan kita nikahi. Memang benar pria yang memilih tapi kita juga harus memilih yang sesuai dengan keinginan hati kita. Yang akan menjalani rumah tangga itu kita jadi kenapa kita harus menikahi lelaki yang dipilihkan orang lain? Perjodohan itu tidak salah tapi tidak dibenarkan juga. Contohnya begini, jika ada orang tua yang menjodohkan anak perempuannya dengan laki-laki berumur tapi juragan tanah. Apakah itu perjodohan yang benar atau salah?” Aisyah menjeda ucapannya seraya menatap satu per satu muda-mudi tersebut.


“Alasan orang tua si gadis adalah untuk menjamin hidupnya kelak karena juragan itu banyak uang jadi anak gadisnya tidak akan kelaparan. Lantas, apakah kunci kebahagian dalam pernikahan adalah uang? Belum tentu! Uang memang bukan segalanya tapi dengan uang kita bisa mendapatkan segalanya. Tapi kalau uang dijadikan alasan, di luar sana banyak laki-laki muda yang memiliki usaha dan uang dan yang pasti jika seorang laki-laki yang mencintai dan menyayangi istrinya maka laki-laki itu tidak akan membiarkan istrinya kelaparan. Dia akan berusaha mati-matian untuk bekerja supaya istrinya tidak kelaparan bersamanya. Jadi kenapa harus dijodohkan dengan juragan tanah? Karena bapak si gadis menginginkan pembagian hasil untuk dirinya sendiri bukan karena anaknya. Lain halnya jika perjodohan yang dilakukan oleh ulama-ulama besar di luar sana. Mereka akan mencarikan jodoh untuk anak gadisnya dengan melihat seberapa taat agamanya bukan sebanyak apa hartanya. Sekarang kalian mengerti kan? Perjodohan tidak selamanya baik seperti yang dijanjikan oleh orang-orang tua tidak bertanggung jawab dengan menikahkan putri mereka untuk mendapatkan harta. Sekian dari saya, terima kasih.”


“Aisyah, saya akan menjadi pria yang kamu inginkan. Apa kamu mau menunggu saya?”


***

__ADS_1


Maaf gaeyssss....TELAT.... mudah2an cpt lolos review....🙃 jangan SKIP IKLAN ya...makasih....


 


__ADS_2