CUT

CUT
Cafe...


__ADS_3

“Kenapa menatapku terus? Kamu ingin bertemu hanya untuk menatapku begitu?” Iskandar akhirnya memilih bersuara lebih dulu setelah sepuluh menit berlalu gadis di depannya ini tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dari pertama bertemu, gadis itu tidak hentinya menatap Iskandar.


“Aku menatapmu bukan karena suka tapi aku sedang mencari kesamaan wajah kita. Kalau kita memang satu ayah berarti kita memiliki bentuk wajah yang sama.” Setelah mendengar penjelasan Dita, Iskandar akhirnya membiarkan gadis itu menatapnya sementara dia memilih menyantap makanannya.


“Kamu tidak ingin melihat wajahku?”


Gleg…


Gadis ini benar-benar di luar dugaan Iskandar. “Tenang saja, aku masih yakin kalau kita memang berasal dari ayah yang sama.” Ucap Dita santai.


Iskandar terpengaruh dan dia melakukan hal yang sama dengan Dita. Mereka berdua bersitatap saling menelisik wajah satu sama lain.


“Ternyata kamu memang lebih mirip dengannya.” Ucap Iskandar kemudian. Dita tersenyum senang, ternyata selama ini dia tidak salah memberi penilaian.


“Mungkin karena cinta Papa lebih besar pada Mamaku hingga wajahnya saja lebih mirip ke aku dari pada kamu. Apa sekarang aku harus memanggilmu Kakak seperti Anugrah.”


Iskandar mengedikkan bahu, “Menurut cerita Mamaku, Mamamu datang di hari akikahku dan mengatakan pada Papa kalau Mamamu sedang hamil. Berarti umur kita hanya beda setahun kurang lebih.”


“Tapi tetap saja aku lebih muda beberapa bulan dari kamu.” Iskandar mengedikkan bahu.


“Nenek apa kabar?” Iskandar menatap lekat gadis yang sedang mengaduk-ngaduk gelasnya itu.


“Hanya beliau yang mengakuiku sebagai anak dari Papa Faisal. Beliau mengatakan jika aku adalah fotocopy Papa Faisal saat muda hanya dalam kelamin berbeda. Seorang ibu tidak akan pernah salah melihat anaknya. Dari situ, aku semakin yakin kalau ayahku pasti Papa Faisal.”


“Mamamu tidak mengatakan apa pun?”


“Ck, dia membantahnya secara terang-terangan di depan Nenek dengan mengatakan jika aku adalah anak hasil hubungan satu malam dengan pria yang tidak dikenalnya. Cih, siapa yang percaya? Mamaku seorang wanita berkelas, dia tidak akan melakukan hubungan satu malam begitu saja. Pasti ada pengaman. Mana mungkin wanita sekelas Mamaku mau membesarkan anak hasil hubungan satu malam. Coba kamu pikirkan! Menurut akal pikiranku sih tidak tapi mungkin pikiranmu berkata lain.”


“Satu-satunya cara hanya tes DNA.” Iskandar kembali menatap gadis itu lekat.


“Tenang saja, aku tidak minta kamu membayarnya. Aku akan mengumpulkan uang untuk itu dan setelah terkumpul, aku akan  menemuimu lagi.” Ucap Dita enteng.


“Setelah mengetahui jika kamu adalah anak Papa Faisal, lalu apa selanjutnya?”


“Aku mau lebih dekat dengan kamu dan kakek-nenek. Selama ini aku tidak pernah merasakan kasih sayang kakek-nenek. Setiap natal aku ikut merayakan bersama keluarga besar Papa Toni dan momen natal yang seharusnya menyenangkan tidak berlaku untukku. Kakek dan Nenek itu hanya melihat Tiara sebagai cucu tidak ada aku di dalamnya.”


“Ternyata nasib kita sama.” Batin Iskandar.


“Bagaimana dengan kakek dan nenekmu? Eh, maksudku kakek dan nenek Anugrah? Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?”


“Waktu Anugrah belum lahir, mereka masih baik terhadapku. Tapi setelah Anugrah lahir ya begitulah.”


“Terus sampai kalian besar masih begitu?” tanya Dita penasaran.


Iskandar menggelang pelan, “Nenek sudah meninggal dan-“


“Syukurlah kalau sudah meninggal. Aku turut senang mendengarnya.” Iskandar mengernyitkan kening menatap gadis yang kemungkinan adalah adiknya ini mengucap syukur setelah mendengar nenek dari Anugrah meninggal.


“Kamu kenapa? Seharusnya kamu senang karena tidak ada lagi yang jahatin kamu. Tinggal satu lagi berarti.”


“Tidak, Kakek baik sama aku. Dia juga sering ngasih duit diam-diam.”


“Wah, kalau begitu semoga Kakek panjang umur ya! Biasanya orang jahat mati duluan tapi ini malah kebalikannya. Hum, aku salut sama kamu. Hidupmu masih baik karena masih ada Mama dan Papanya Anugrah juga kelihatan baik. Sementara aku? Dari kecil ditinggal sama pembantu. Mama dan Papa Toni sibuk bekerja di kota lain. Hanya aku dan Tiara yang tinggal di sini bersama pembantu rasa orang tua.” Iskandar hanya menyimak semua penuturan gadis itu dalam diam.


“Lalu apa yang membuat Tante Julie marah sampai meneleponku supaya memberitahukan keberadaamu pada Tante Shinta?”

__ADS_1


“Ck, Tante Julie itu cerewet sekali. Pantas saja dia jadi perawan tua. Selama aku di sana, dia terus menyudutkanku. Aku balas dong, aku mengatainya perawan tua dan berbagai kata indah lainnya. Siapa dia sampai berani menghinaku. Menagatakan aku anak haram dan lainnya, aku kan marah. Bukan salahku meminta dilahirkan. Memangnya saat mereka berbuat apa pernah menanyakan dulu sama senjatanya “Apa kamu mau dilahirkan, Nak?” tidak kan? Dengan sadar sesadar-sadarnya mereka melakukan itu lalu giliran aku lahir, mereka menyalahkanku. Mengatakan aku anak haram, apa perawan tua itu bodoh? Seharusnya dia menyalahkan adiknya bukan aku.”


“Adiknya perawan tua itu, Papa kita!” jawab Iskandar membuat Dita tergelak.


“Kira-kira masih hidup gak tuh si pemilik benih yang sudah menghasilkan kita?” tanya Dita kemudian.


“Kalau masih hidup apa kamu akan membencinya?”


“Entah, aku akan lihat seperti apa reaksinya saat melihatku. Kenapa, apa selama ini kamu menyembunyikannya?”


“Kamu sehat? Aku saja terlepas dari gendongan Mamaku saat tsunami. Bagaimana caranya aku menyembunyikan dia.” Kesal Iskandar yang ditanggapi dengan senyum oleh Dita.


Bersama dengan Dita, Iskandar seperti berubah menjadi pribadi yang lain. Dia bisa berbicara dengan mudah dan langsung merasa akrab padahal baru kali ini mereka bertemu.


“Kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Apa nenek dan kakek sehat? Aku yakin mereka pasti sedih setelah jemputan paksa oleh Mamaku.”


“Nenek sempat masuk rumah sakit beberapa hari kemudian. Lebih tepatnya saat pernikahan Tiara. Malam sebelum pernikahan Tiara, Tante Julie meneleponku dan paginya aku langsung berangkat ke Aceh. Padahal saat itu aku berencana ke pesta Tiara.”


“Tante Julie sungguh tidak menganggapku keponakannya. Dia bahkan tidak mengabariku. Lalu bagaimana kondisi nenek sekarang?”


“Sudah baik bahkan lebih baik setelah melihatku pulang ke sana.”


“Apa nenek tidak menanyakanku?” Iskandar menggeleng.


“Ini pasti karena hasutan perawan tua itu.”


“Berhentilah mengatai Tante Julie. Bagaimanapun dia tetap kakak kandung Papa. Wajar saja dia meragukanmu karena Mamamu mengatakan jika anaknya dengan Papa sudah meninggal saat bayi. Kalau aku di posisi Tante Julie, aku juga tidak akan percaya begitu saja apalagi kalau modal tampang doang. Wajah mirip bukan berarti apa-apa sekarang. Setingkat artis saja banyak yang mirip apalagi kita rakyat jelata.” Dita tergelak.


Iskandar benar-benar keluar dari jalurnya saat bersama Dita. Baru kali ini dia bicara dan lawannya tertawa. “Kamu lucu. Aku semakin ingin bertemu Papa.”


“Kau tidak ingin bertemu dengannya, Kak?” pertanyaan menjurus ledekan dilontarkan oleh Dita.


“Kamu gak pernah tes DNA kan? Wah, nenek sama kakek bakal rugi besar kalau tahu salah memberi warisan.”


“Apa kamu juga menginginkan warisan itu?”


“Dih, picik sekali tuduhanmu padaku. Aku tidak serakus itu.” Dita mengeluarkan sebuah kartu kuning dalam dompetnya.


“See! Ini adalah pemberian Papa Toni. Aku dan Tiara sama-sama memelikinya. Walaupun aku bukan anak kandungnya tapi Papa Tiara menganggapku sama seperti anak kandungnya. Kurang lebih sama dengan Om Rendra padamu. Bedanya, Papa Toni itu hanya memanjakan dengan materi tapi kasih sayang kurang. Dia selalu sibuk sama seperti Mama. Dia juga dari keluarga kaya. Untung saja Mama itu dokter handal makanya keluarga Papa Toni mau menerima Mama. Coba posisinya Mama wanita kampung, mungkin nasibku sekarang bukan seperti ini. Apalagi Mama memutus hubungan dengan keluarganya setelah putus dari Papa Faisal. Mama benci sekali pada keluarganya yang tidak mau memberi restu. Padahal kalau saat itu orang tuanya mengizinkannya pindah agama, mungkin sekarang aku akan bahagia. Tapi sayangnya, Tiara harus merasakan hal yang sama seperti yang Mama alami dulu. Maunya, Dia berontak saja saat mereka melarang Tiara pindah. Eh, anak itu malah menurut. Cinta di mulut doang. Kenyataanya ada yang lebih besar mereka cintai dari pada pasangannya.”


“Kamu curhat?”


“Hah??? Ya-ya anggap saja seperti itu. Kamu tinggal di mana? Mamamu bilang kamu tidur di mess dosen. Berarti dekat dari sini.” Iskandar mengangguk.


“Boleh aku ikut? Aku penasaran karena selama aku kuliah tidak pernah melihat mess dosen.”


“Kamu kuliah di sini juga?”


Dita menggeleng, “Aku kuliah di Jogja.”


“Sekarang kerja dimana?”


“Belum, aku baru mau cari kerja. Selesai S2, aku sempat menjadi dosen di kampusku dan sekarang aku kembali jadi pengangguran.”


“Kenapa tidak lanjut mengajar?”

__ADS_1


“Tidak dibutuhkan lagi. Kemarin hanya jadi dosen pengganti. Pas dosennya balik, aku didepak.”


“Mau ngajar di kampusku?”


“Memangnya kampusmu menerima dosen kristen?”


“Kamu kan tidak mengajar pelajaran agama. Memanganya apa jurusanmu?”


“Arsitek.” Kening Iskandar berkerut. “Aku pikir kamu akan menjadi dokter juga.”


“Bukan alasan yang tepat jika seorang anak harus mengikuti jejak orang tua mereka. Aku punya bakat dan kemampuan sendiri. Kalimat tadi lebih cocok untuk kamu, kenapa tidak ikut Papa jadi dokter?”


“Aku lulusan pesantren lalu lanjut ke luar negeri dengan jurusan yang sama hingga lulus S2.”


“Murni faktor keadaan.” Jawab Dita kembali seraya geleng-geleng kepala seakan Iskandar sedang mengalami kesialan.


“Sudah sore, aku pulang dulu ya!”


“Aku ikut!” Iskandar berdiri menatap gadis itu sejenak.


“Hanya melihat!”


Dita tersenyum senang lalu segera merangkul lengan Iskandar. “Kita ini sedarah, halal bersentuhan.” Bisik Dita membuat setiap mata yang melihat seperti melihat sepasang kekasih yang sedang kasmaran.


“Belum pasti,” balas Iskandar.


Mereka keluar dari café lalu berjalan kaki menuju mess dosen. Dita tidak lagi merangkul lengan Iskandar. Ia tahu posisi Iskandar sebagai dosen bisa tercemar dengan kelakuannya.


“Jadi ini? Wah, bagus juga ya?” Dita kagum dengan mess dosen di depannya.


“Aku tidak bisa mengajakmu masuk.” Mereka duduk di teras depan.


“Kamu nginap sendiri?”


“Ada teman-temanku yang lain. Mungkin mereka lagi keluar.”


“Is, aku tidak tahu apa kau akan merindukanku atau tidak setelah ini tapi ini pertemuan kita terakhir. Aku akan ke Jakarta dalam waktu lama.”


Iskandar menatap gadis itu sesaat. Entah kenapa dia merasa keberatan mendengarnya. “Ada apa?” Dita tertawa, “Jangan bilang kamu sedih melepas adikmu pergi. Aku akan bekerja di sana. Salah satu perusahaan ingin mewawancaraiku lusa. Kemungkinan aku lolos mendekati 100%.”


“Jangan terlalu percaya diri nanti kamu kecewa kalau tidak sesuai harapan.”


“Percaya diri itu perlu supaya tidak mudah tertindas, KAKAK!”


“Kirimi aku kabarmu!” Dita tergelak, “Kalau kita bukan saudara sedarah, apa kamu akan menyukaiku, Is?”


"Apa kau mau mengikuti keyakinanku?"


***


Nah...coba tebak kira-kira Dita adik Iskandar bukan???


Waktu dan tempat dipersilakan!!!....🙃


TOLONG DIBERI BINTANG ya pembaca...

__ADS_1


Karena bintangmu merubah duniaku...😄



__ADS_2