
Ibu Yetti tidak bisa berbuat banyak karena ada sang suami di sisinya saat ini. Cut meminta maaf dan ia harus memaafkan walau hatinya tidak menerima begitu saja. Kekesalan di hatinya masih terasa karena sang menantu berani menjawabnya. Tapi apa daya, ia tidak berkutik saat sang suami mendominasinya.
“Ia, Mama terima permintaan maaf kamu. Tapi Mama harap kamu jangan mengulanginya lagi. Bagaimanapun saya ini tetap mertua yang harus kamu hormati.”
“Iya, Ma.” Lirih Cut.
“Dan satu lagi, Ma. Tolong beri pengertian pada Risma jika apa yang dia lakukan saat ini bisa membuat Rendra dipanggil ke kantor. Mama kan tahu sendiri gimana gunjingan-gungjingan ibu-ibu persit itu.”
“Iya, nanti Mama bilang ke dia.”
Perdamaian antara menantu dan mertua akhirnya selesai malam itu. Rendra kembali ke kediamannya menjelang pukul 10 malam. Ini lantaran ibunya ingin bermain dengan Anugrah. Hati Cut sedikit lega setelah bertemu dengan sang mertua. Sekarang, dia hanya akan menunggu bagaimana sang suami akan berubah sesuai dengan janjinya.
Jika hati sang menantu sudah mulai tenang dan adem. Berbeda halnya dengan hati sang mantan yang sedang panas penuh dengan emosi yang membara. Risma mengamuk di dalam kamarnya saat membaca berbagai komentar yang menyudutkannya.
“Benarkan yang aku bilang jika Mbak ini perebut suami orang. Buktinya, Pak RW sudah tidak berhubungan lagi dengan Mbak Risma. Pasti istri Pak RW sudah mengetahui permainan suaminya.” Tulis akun bernama Toni.
“Ih, gak nyangka ya. Wajah Mbak Risma yang cantik ternyata digunakan untuk merebut suami orang. Apa pria lajang sudah musnah di muka bumi, Mbak? Sampai harus merebut kali orang. Aku curiga, jangan-jangan si akun Toni ini kenalan Mbak Risma makanya dia tahu betul sepak terjang si Mbak.” Tulis komentar dari akun yang lain.
“Setuju! Aku juga paling anti sama wanita rubah yang suka merebut laki orang. Gak da usaha dikitpun buat nyari lain. Ini malah ambil hak orang. Eh, Mbak yang katanya canti tapi perilakunya buruk bahkan lebih buruk dari pada kotoran. Gak guna wajah cantik kalau laki aja hasil rebut milik orang.”
“Mbak, kalau sudah tidak ada yang mau, saya mau kok. Ayo, kita booking hotel di mana? Kalau sama saya, Mbak tidak perlu takut digrebek istri sah karena saya masih lajang. Jadi kita cocokkan?”
“Nah, itu ada lajang yang mau sama Mbak Risma. Sudah, temuin saja jangan gengsi. Iyasih, milik orang lebih berkilau tapi lebih baik tidak berkilau kan dari pada rebut milik orang. Senangnya hanya sesaat habis itu dicampakkan eh, si Masnya kembali ke istri sah kayak Pak RW.”
Dan banyak lagi komentar nyinyir yang menggangu Risma di akun media sosialnya. Tidak jarang ada yang langsung mengirim nomer ponsel mereka lewat pesan bahkan sampai mengirim foto senjata mereka dengan keterangan ukuran serta panjangnya.
“Boleh gak sih kalau kita panggil rubah? Soalnya saya suka kesal lihat wanita seperti ini. Hati-hati ibu-ibu, coba dilihat apakah suaminya juga mengikuti akun wanita rubah ini?”
“Sialan kalian. Aku pastikan kalian akan menerima karmanya.” Teriak Risma sambil memaki-maki para akun yang mengejeknya.
Tanpa Risma ketahui, Cut juga sedang membaca beragam komentar tersebut. Dia tersenyum kecil menatap satu persatu komentar pedas nan menyakitkan itu.
“Ada apa, Sayang? Tidak biasanya kamu bermain ponsel. Biasanya kalau habis olahraga langsung tidur.” Tanya Rendra yang baru keluar dari kamar mandi setelah percintaan panas mereka. Rendra menyusup dalam selimut kembali seraya memeluk pinggang sang istri yang masih polos.
Rendra menangkap apa yang sedang istrinya lihat. “Jangan bermain media sosial, Sayang. Kamu lihat sendiri bagaimana bebasnya di sana.”
Cut mendelik ke arah sang suami, “Kenapa? Takut kalau aku tahu Abang selingkuh?”
“Sayang, Abang tidak masalah kamu bermain tapi menurut Abang itu tidak perlu. Hanya menambah masalah saja. Lebih baik kamu bermain sama Abang, selain enak bisa nambah pahala.” Sebuah kerlingan nakal Rendra berikan untuk sang istri.
“Tidak mau, mulai sekarang aku akan jadi pemberontak. Biar Abang tahu seperti apa istri Abang.”
“Kalau kamu pemberontak maka sudah menjadi tugas Abang untuk menaklukkan para pemberontak. Apalagi pemberontak yang meresahkan seperti ini. Suka bikin pusing atas bawah.”
__ADS_1
“Banggghhh…” Cut tidak lagi bisa berkonsentrasi pada ponselnya saat tangan nakal sang suami sudah mempermainkan inti tubuhnya. Hanya lenguhan yang menyertai keduanya sampai tanpa sadar, Rendra sudah menjauhkan ponsel sang istri ke atas nakas.
“Abang gak cukup sekali ya?”
“Siapa suruh jadi pemberontak? Sekarang Abang sedang menjalankan tugas membasmi pemberontak. Jadi nikmati saja.”
Keduanya kembali mengulang percintaan panas hingga suara Anugrah menangis menghentikan atraksi keduanya. Cut menyambar dasternya lalu ikut berbaring bersama sang putra. Anugrah tidak bisa jauh dari ibunya karena setiap tidur, anak itu selalu memeluk dengan sebelah tangan berada di atas dada Cut.
Rendra melihat pemandangan itu hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Saat ia lagi tinggi-tingginya malah harus terhenti akibat ulah sang anak. dari atas ranjangnya, ia hanya bisa bersandar sambil menatap ke arah ranjang milik sang putra yang masih berada dalam satu kamar. Walaupun Anugrah sudah hampir berumur limaa tahun tapi Cut belum mau berpisah kamar dengan putranya. Apalagi sang putra yang tidak bisa tidur jika tidak dipeluk ibunya.
Sambil menunggu sang istri, Rendra mengambil ponsel sang istri dan ternyata aplikasi pertemanan itu masih terbuka. Rendra yang semula hanya ingin menghabiskan waktu sambil menunggu sang istri tiba-tiba raut wajahnya menjadi berubah. Satu persatu komentar di akun Risma dibaca.
“Menurutku, saat ini Pak RW sedang bersama istri sah dan Mbak Risma sedang meraung karena ditinggalkan Pak RW.”
“Menurutku juga begitu. Kasihan sekali Mbak Risma. Ayo, Mbak cari pacar baru jangan mengharapkan suami orang lagi.”
Raut wajah Rendra kembali berubah saat Risma membalas komentar mereka dengan kata-kata yang sangat panjang.
“Dear netizen yang sok tahu dan selalu merasa benar. Apa kalian tahu tentang saya dan Pak Rw? Kalian tidak usah berlagak deh, kalian itu memuakkan. Urus urusan kalian masing-masing dan jangan suka ikut campur urusan orang lain.”
“Alahhhh si Mbak, udah buat mau malah ngeyel. Mbak kayaknya harus dirukiah biar setan-setan di tubuh Mbak hilang. Atau jangan-jangan Mbak pakai susuk ya makanya bisa cantik dan percaya diri sekali. Tobat Mbak, tobat. Apa gak takut kalau besok mati gak sempat tobat?”
Rendra menutup aplikasi tersebut lalu turun menyusul sang istri. Rendra merebahkan tubuhnya di samping sang istri lalu sebelah tangannya secara perlahan mulai menyusuri tubuh sang istri dibalik dasternya. Mengusap perlahan perut rata sang sitri dengan harapan suapay apa yang sedang ia usahakan bisa menjadi hasil.
“Jangan di sini!”
Rendra menghentikan aksinya lalu turun dari ranjang Anugrah dengan langkah perlahan. Cut juga melakukan hal yang sama supaya sang putra tidak terbangun kembali.
Belum sampai di atas ranjang, sang suami langsung mendekapnya dari belakang. Cut melenguh menerima perlakuan sang suami hingga mereka kembali menikmati percintaan panas nan menggairahkan. Sama seperti sosok Risma yang sedang merasakan panas dalam dadanya karena gejolak emosi.
Keesokan harinya, Cut mulai mengurus suaminya yang hendak berangkat kerja.
“Abang pergi, Ma.”
Cup…
Setelah berpamitan dan sebuah kecupan di bibir sang istri. Rendra segera melajukan mobil menuju kantornya. Sementara di rumah, Cut kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang istri dan ibu. Saat ia sedang menyapu, suara orang memberi salam pun terdengar.
“Walaikumsalam.”
Cut membuka pintu lalu melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Cut kenal betul siapa perempuan ini.
“Ada apa ya?” wanita itu tersenyum sinis memindai wanita di depannya.
__ADS_1
“Apa kamu tidak akan mempersilakan saya masuk?” tanya Risma dengan sorot mata sisnisnya.
Seraya menghela nafasnya, Cut mempersilakan wanita itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Anugrah sedang bermain mobil-mobilan saat Risma masuk dan ia langsung memanggil Anugrah.
“Adek, apa kabar Sayang? Tante kangen banget sama kamu.” Risma mendekati Anugrah dan bocah itu pun tidak menolak.
“Silakan duduk!” Cut mempersilakan mantan istri suaminya untuk duduk. Dia sendiri berlalu ke dapur.
“Tidak perlu repot-repot membuat minuman, saya kemari bukan untuk minum kok.” Cut menghentikan langkahnya lalu kembali ke dalam dan langsung duduk di sofa ruang tamu.
Risma mengikuti sang tuan rumah. Ia mendudukkan dirinya di sofa dan dengan anggunnya ia menyilangkan kaki seraya menatap Cut.
“Ada apa? Saya tidak punya banyak waktu untuk bicara karena urusan dapur sudah menunggu.”
“Wow, santai donk. Kamu kira saya tidak punya kesibukan. Kalau tidak penting saya juga tidak sudi kemari. Saya hanya mau memperingatkan kamu supaya tidak berlebihan mencampuri urusan saya sama Rendra. Kamu bukan siapa-siapa sebelumnya.”
“Lalu saya harus bagaimana ya, Mbak? Mantan istrinya masih memajang foto pernikahan mereka di akun sosial dirinya lalu berusaha menarik simpati dari suami saya dengan kata memelas seolah sedang butuh pertolongan. Kalau dulu masih cinta kenapa selingkuh? Saat sudah ditinggal kenapa balik ke tempat semula? Mbak kira suami saya halte?”
“Cih, ternyata istri kampung yang selalu Rendra banggakan dulu karena sifatnya yang baik dan lugu hanya manipulasi semata untuk menjerat Rendra. Kasihan sekali Rendra harus mendapat istri licik seperti kamu.”
“Mbak sehat? Itu ada cermin, coba Mbak berdiri di sana dan lihat diri Mbak sendiri!”
Cut tidak mau kalah dengan rivalnya. Setelah bermain beberapa saat di media sosial ternyata tidak seburuk yang suaminya katakan. Buktinya, Cut seolah mendapat kekuatan untuk melindungi rumah tangganya dari serangan pelakor. Cut banyak membaca beberapa kasus yang suaminya direbut oleh pelakor dan dari sana juga dia mendapat dukungan untuk menumpas pelakor yang bermunculan di dekat para suami.
“Kamu pakai pelet apa sampai Rendra patuh begitu?”
“Cih, katanya Mbak orang berpendidikan tapi hari gini masih bertanya tentang pelet. Kenapa, Mbak mau pakai juga?”
Risma sudah tidak tahan, dadanya kembang kempis memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut
Cut.
“Ternyata darah pemberontak tidak akan hilang walaupun sudah dibasmi.”
“Bukankah negara ini merdeka lahir dari para pemberontak? Para mahasiswa, pelajar, tokoh agama dan para pejuang yang bergerilya untuk menumpas penjajah supaya Indonesia merdeka?”
“Sial.”
***
__ADS_1