
Kak Julie masih belum percaya apa yang sudah terjadi. Bagaimana mungkin dia berakhir di Masjidil Haram dengan status sebagai istri dari Richard Widianto. “Ini adalah doa terakhir Bapak di Kabah. Bisakah kamu mengabulkan permintaan ibu itu dan Bapak? Setelah ini, meninggal pun, Bapak sudah merasa tenang karena kamu sudah memiliki pendamping.”
“Aku tidak bisa berkata tidak, bukan? Bapak sudah menikahkanku dengannya. Bagaimana kalau ternyata dia pria tidak baik? Kita tidak mengenalnya, bagaimana kalau dia-“
“Nak, ini tempat suci. Katakanlah hal yang baik-baik dan suci supaya apa yang kamu katakan menjadi doa dan dikabulkan oleh Allah.” Kak Julie menteskan air mata. Bukan air mata kebahagiaan melainkan air mata kesedihan karena ia harus mengalami sebuah perjodohan di saat tidak terduga.
Kak Julie menangis meratapi nasibnya. Ia memeluk lutut menahan tangisnya saat sang ayah berjabat tangan dengan pria yang kini sudah berstatus sebagai suaminya dalam waktu singkat. Di dampingi oleh ibunya, Richard berjalan mendekati Kak Julie yang tertunduk lesu dengan wajah sembab. “Cium tangan suami, Nak.” Titah Pak Fahri.
Kak Julie menuruti permintaan sang ayah. Lalu, Ibu dari Richard yang bernama Anna itu mengeluarkan sebuah cincin dari tasnya. “Ini adalah cincin pernikahan Ibu dengan ayahmu dulu. Kini, cincin ini menjadi milik kalian. Semoga pernikahan kalian bahagia hingga akhir hayat. Julie, Ibu tahu kamu tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi bolehkan Ibu meminta, tolong jaga Richard selama hidupmu. Hanya dia yang Ibu punya. Ibu tidak mau dia kehilangan arah dan memilih jalan yang salah setelah Ibu pergi. Ibu sudah tua untuk menjaganya. Berjanjilah untuk menjaganya walaupun dia menolak. Ibu percayakan dia padamu, Julie.”
Kak Julie tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bebannya terlalu berat untuk menjadi seorang istri. “Richard, jaga Julie apa pun yang terjadi. Kalau dia berbuat salah, tegur dia dengan baik dan saya haramkan kamu untuk memukulnya. Ibumu yang memintanya bukan saya yang memintamu. Jadi, jangan sampai kamu menyiakan-nyiakannya. Berjanjilah jika kamu akan menjaga dan merawatnya saat suka dan duka!”
“Saya berjanji, Pak.” Ucap tegas Richard. Sisa masa umrah mereka tinggal dua hari lagi di Mekkah sebelum bertolak ke Turki selama sehari. Richard dan Madam Anna akhirnya mendapat tiket yang sesuai dengan penerbangan Kak Julie dan Pak Fahri hingga semua jamaah mengetahu jika mereka telah menikah. Sontak saja, pernikahan Kak Julie mendapat ucapan selamat dari para jamaah lain. Sesampai di Turki, Madam Anna meminta putranya untuk menginap satu kamar dengan sang istri namun Kak Julie menolak karena akan meninggalkan sang ayah. Bukan Pak Fahri namanya jika tidak membantu besannya menyatukan anak-anak mereka.
Pak Fahri meminta bantuan pada para jamaah untuk menjaga mereka karena putra putri mereka akan menikmati bulan madu di Turki. Pak Fahri membawa Madam Anna pulang bersama ke Aceh walaupun Richard sudah berusaha membujuk ibunya. Namun, sang ibu malah kekeh ingin ikut ke rumah besannya ke Indonesia.
“Kamu akan pulang ke sana seminggu kemudian!”
“Tenang saja, kami akan mengantar Bapak dan mertuamu ke rumah dengan selamat.” Ucap kepala jemaah yang merupakan ustad yang mendampingi mereka saat umrah.
Sepasang suami istri itu menikmati hari-hari di Turki dengan berkeliling berbagai tempat lalu Kak Julie juga mengajak suaminya itu bertamu ke rumah sepupunya yaitu Intan. Anak dari Mak Cek Siti yang sudah menikah dan menetap di sana bersama Dokter Guney.
Di bawah sinar bulan di samping selat Bosporus yang memisahkan Turki bagian Asia dan Eropa, dua anak manusia yang berasal dari dua benua berbeda kini telah disatukan dalam satu ikatan yang bernama pernikahan. Kak Julie manatap jauh ke arah selat dengan lampu kapal yang berkelip-kelip dari kejauhan. Di sampingnya seoran pria tengah menatap dirinya dari samping. Pria itu menelisik jauh ke wajah sang wanita yang baru saja ia persunting.
“Julie,” panggilnya.
Dua anak manusia itu saling menatap satu sama lain, “Aku ingin menjalani pernikahan ini hanya denganmu sampai akhir hayat seperti kedua orang tuaku dan orang tuamu. Maukah kau melakukan hal yang sama denganku?” manik mata Kak Julie manatap jauh ke dalam manik mata pria di depannya saat ini. Tidak ada kebohongan, hanya keseriusan yang bisa Kak Julie rasakan lalu ia terkejut saat merasakan telapak tangan pria itu tengah menggenggam tangannya lembut.
__ADS_1
“Maukah kau menjalani pernikahan ini sampai akhir hayat kita?” lama terdiam, Kak Julie akhirnya mengangguk lemah. Richard menarik tubuh wanita itu dalam dekapannya. “Terima kasih, kita menikah karena keinginan orang tua dan semoga kita berpisah seperti mereka juga. Dipisahkan hanya oleh maut di masa tua.”
“Kenapa kamu begitu mudah menerimaku?” tanya Kak Julie setelah Richard melepaskan pelukannya.
“Aku percaya pada intuisi ibuku. Dia wanita yang memiliki insting sangat tajam jadi aku langsung menyetujui keinginannya.”
“Semudah itu?” Richard mengangguk seraya tersenyum.
“Dulu, aku pernah mengenalkannya dengan seorang wanita dan aku berencana untuk menikahi wanita itu. Setelah ibuku bertemu dengan mantan pacarku itu, satu jam kemudian, Ibuku langsung memintaku untuk memutus hubungan dengan pacarku itu karena Ibuku tidak melihat ketulusan dari wajah pacarku itu.”
“Kamu mematuhinya?” tanya Kak Julie penasaran.
“Tidak sebelum aku melihat rekaman video yang memperlihatkan saat mereka bertemu. Aku langsung mematuhinya karena alasannya jelas.” Kak Julie semakin penasaran, “Dalam rekaman itu, Ibuku meminta mantan pacarku untuk menyiapkan minuman sendiri untuk mereka dan saat di dapur, mantan pacarku mendengus kesal saat melihat cangkir kotor di wastafel. Lalu, mantan pacarku dengan sikap jijiknya mencuci cangkir untuknya menggunakan sabun sementara untuk ibuku, dia hanya mencuci asal tanpa menggunakan sabun. Semua tingkah lakunya terekam jelas tanpa dia sadari.” Kak Julie molongo mendengar cerita suaminya.
“Aku masih penasaran, kenapa ibumu begitu mudah memintaku menjadi istrimu? Aku kan tidak mencuci gelas untuknya?”
“Kamu memberikannya air zam-zam saat ia kehausan.”
“Tapi kamu merawat ayahmu dengan baik, bukan? Kamu bahkan ingin mengajak ayahmu jalan-jalan.”
“Semua anak juga akan begitu.”
“Tidak! Tidak semua anak mau menghabiskan waktunya dengan orang tua mereka yang sudah sepuh.”
“Mungkin juga ini doa ayahmu dan ibuku. Makanya kita sampai menikah. Ya sudahlah, sekarang kita pikirkan rumah tangga kita ke depannya bagaimana? Aku bekerja di Kanada, apa kamu mau ikut denganku ke sana?”
“Bapakku bagaimana? Dia sudah tua dan seorang diri. Aku tidak bisa meninggalkannya.”
__ADS_1
“Kenapa harus meninggalkannya, bawa saja ke sana. Biar ibuku punya teman.” Kak Julie tersenyum lebar.
“Baiklah, aku akan mengikutimu.”
“Tapi sebelum itu, kita harus menunaikan malam pertama seperti yang mereka minta terlebih dahulu. Kalau malam ini jadi, berarti anak kita made in Turki.” Kak Julie terbahak mendengar perkataan Richard. Ia tidak menyangka jika laki-laki ini punya selera humor juga. Sesuai permintaan, mereka kembali ke hotel untuk menikmati malam pertama sesuai yang diperintahkan oleh kedua orang tua mereka.
Jika Kak Julie sudah berbahagia dengan suaminya, Di Surabaya, Teuku justru sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjai anak kecil bernama Anggia. Keesokan harinya, Teuku langsung menemui Cut dan Rendra di lantai bawah.
“Om, Tante, aku ingin melamar Anggia. Bagaimana menurut kalian?” seolah tidak terkejut dengan pertanyaan sang keponakan. “Tante dan Om ikut saja kalau kamu sudah siap. Lalu apa Anggia juga sudah mau dilamar sama kamu?”
Teuku tersenyum jahil lalu, “Aku akan bicara dengan orang tuanya terlebih dahulu,”
“Kami mendukung saja apa yang menjadi keputusanmu.” Setelah mengatakan itu, Teuku langsung menghubungi Mama Ayu. Dia akan datang ke rumah Mama Ayu untuk berdiskusi tentang rencananya. Dan seolah takdir sedang berpihak padanya, di saat Teuku mengunjungi kediaman Mama Ayu, orang tua Anggia juga berada di sana.
Setelah menyalami mereka satu persatu, Mama Ayu langsung menanyakan tentang hubungannya dengan Anggia. Angin segar seolah menerpa wajah Teuku pagi itu. “Saya ingin melamar, Anggia, Tante, Om.” Ucap Teuku tegas di depan orang tua Anggia juga Faisal dan Ayu.
“Sebenarnya kedatangan saya ke sini ingin berdiskusi dengan Mama Ayu tentang ini. Tapi karena Tante dan Om juga di sini jadi sekalian saja saya sampaikan rencana ini. Om Rendra dan Tante Cut sudah menyetujuinya, sekarang tinggal Om dan Tante.”
“Kenapa tiba-tiba kamu memutuskan untuk melamar Anggia? Sebelumnya kamu tidak seantusias ini?” selidik Papa Faisal.
“Aku sudah mengetahui isi hatinya tanpa sengaja, Om. Oleh sebab itu aku memberanikan diri untuk melamarnya. Aku tahu pasti dia akan menolak tapi sebenarnya dia hanya takut aku nikahi. Dia sudah mengatakan isi hatinya pada Aisyah waktu di Aceh. Dia mengalami sindrom menikah.” Para orang tua itu mengerutkan kening pertanda bingung dengan perkataan Teuku. Dengan perasaan risih, Teuku menjelaskan maksud dari perkataannya hingga membuat para orang tua itu tertawa. Walau harus menahan malu, Teuku harus menikahi Anggia, umur gadis itu juga sudah lebih dari cukup untuk menikah.
“Baiklah! Kapan kamu akan melamarnya? Biar Tante dan Om membuat persiapan kejutan untuknya.” tanya Ibu dari Anggia. Ia tidak menyangka alasan putrinya menolak menika karena takut malam pertama.
Setelah menentukan tanggal dan rencana kejutan bersama, Teuku pulang dari rumah Mama Ayu dengan rasa tidak sabar menunggu hari penuh kejutan untuk Anggia.
“Hai anak kecil, apa kabar?”
__ADS_1
***