CUT

CUT
Aku Merindukanmu...


__ADS_3

Aku merasa nyaman saat kakiku dipijat secara lembut. Pagi ini aku mengikuti terapi untuk pertama kalinya. Hanya ada aku, Umi serta seorang perawat perempuan yang tengah memijatku. “Apa pijatannya terasa?” tanya perawat tersebut.


“Sedikit.” lirihku.


Sebelum dipijat aku sudah dimandikan dan berganti pakaian dengan pakaian yang baru. Aku tidak perlu malu saat mandi karena Umi yang memandikanku. “Umi bersyukur karena memandikanmu dalam keadaan hidup. Andai kamu pergi, Umi tidak akan sanggup untuk memandikan jasadmu.” ucap Umi saat memandikanku tadi.


Aku merasa segar dan bersih saat ini. Seminggu lebih aku di dalam gua dengan keadaan menyedihkan. Buang air besar dan kecil di sana dengan berbekal galian tanah. Aku tidak bisa mengingat kembali bagaimana nasibku jika tinggal lebih lama lagi. Untungnya aku sedikit makan jadi buang air besarku tidak setiap hari. Tapi Rendra, hampir tiap hari dia BAB. Dan aku harus mencuci pantatnya dengan air agar dia merasa nyaman. Namun kencingnya tetap saja bau walaupun terkena tanah.


Seakan tahu keadaan yang sudah kulalui, Umi memberikan banyak sabun di badanku. Aku seperti mandi junub. Bahkan rambutku diberi sampo sangat banyak. Aku tidak tahu bagaimana Rendra, tapi aku yakin jika aku saja diperlakukan begini apalagi Rendra. Dia juga pasti dimandikan.


Jam 10 menjelang siang...


Dokter kembali masuk diikuti beberapa perawat dan satu orang laki-laki berpakaian loreng. Aku mengenalnya dan dia adalah Rendra. Dia masuk seraya menggendong Rendra kecil. Anak itu sangat tampan, wajahnya sangat berseri. Dia pasti senang mendapat perhatian lebih dari pihak rumah sakit bahkan baju yang ia pakai juga sangat bagus.


“Bagaimana Cut? Sudah siap untuk terapi selanjutnya?” tanya dokter setelah memeriksaku.


“Siap, Dokter.”


“Baiklah kalau begitu, sebentar lagi kita bertemu di tempat terapi. Nanti ada perawat yang akan membawa kursi roda kemari. Saya permisi dulu.” Dokter keluar dari ruanganku. Kini hanya tinggal Umi, dan ...


Aku bingung harus memanggil keduanya dengan nama yang sama.


“Cheche...”


Rendra kecil berusaha menggapaiku dari gendongan Rendra. Rendra berjalan mendekati tempat tidurku. “Umi, makan dulu. Biar kami yang jaga Cut.”


“Umi belum makan?” tanyaku terkejut.

__ADS_1


“Abu di kantin. Umi susul Abu ke sana. Biar saya yang jaga Cut.”


“Iya, Umi makan dulu ya! Cut tidak apa-apa.” Akhirnya, Umi pergi menyusul Abu ke kantin.


“Rendra...Cheche rindu, sini!” aku merentangkan tangan pada keponakanku yang sangat tampan. Namun, siapa sangka perkataanku menjadi bumerang untukku sendiri. Nyatanya, kedua Rendra berbeda usia itu memelukku tanpa izin dan mereka berhasil mencium pipi kiri dan kananku. Keponakanku bahagia, dia bertepuk tangan karena berhasil menciumku. Tapi, Rendra versi besar berhasil membuatku menanggung malu yang luar biasa. Dan dengan santainya dia menatapku dengan seutas senyum yang begitu mendebarkan jantung.


Aku membuang muka ke lain arah untuk menghindarinya. “Saya sangat merindukanmu. Saya selalu berdoa supaya kita bisa bertemu dan berjodoh. Semoga kali ini kamu tidak lagi menolak saya.” Aku tidak menjawab perkataannya. Aku bingung harus menjawab apa. Satu orang perawat laki-laki datang seraya mendorong kursi roda.


“Mari, Kak. Kita akan memulai terapi di luar.” perawat itu hendak membantuku turun namun, langkahnya terhenti ketika lengan ditahan oleh Rendra. “Biar saya saja.” Dia menurunkan Teuku lalu menggendongku tanpa permisi. Aku gelagapan, berada di gendongannya dengan wajah dan badan yang menyatu. Oh tuhan.... lagi-lagi aku melakukan perbuatan dosa dengan mendekatkan diri pada zina.


Tapi, ada rasa lain yang muncul saat dia menggendongku. Rasanya jantungku berdetak sangat cepat dan dadaku juga terasa sesak. Dia mendudukkanku dengan lembut.


Kami berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Rendra masih menggendong Teuku yang terlihat tenang dan bahagia. Mulutnya selalu saja mengoceh. Kami sampai di ruang khusus untuk terapi. Seorang perawat cantik datang dengan senyum yang sangat manis. Perawat tersebut langsung menghampiri Rendra dan dalam hitungan detik Teuku telah berpindah tangan lalu menghilang di balik pintu.


“Perawat tadi yang bertugas menjaga Rendra di kamar anak.” Aku hanya menganggukkan kepala.


“Kalau untuk terapi seperti ini lebih banyak perawat laki-laki, Kak. Perawat wanita tidak sanggup jika harus memapah pasien. Jika ada yang keberatan, biasanya pihak keluarga yang mengambil alih. Seperti Kakak, ada calon suami yang membantu.”


“Ayo.”


Rendra memapahku menuju tiang besi. Aku harus cepat sembuh, sampai kapan aku harus terapi dibantu sama Rendra begini. Ini sangat memalukan. Dia bisa memegangku sesuka hatinya. Aku seperti perempuan yang tidak berharga lagi jika begini. Entah sudah berapa kali dia menyentuh tanganku, pinggang, bahu dan lenganku. Terapi berlangsung selama 30 menit. Aku sangat lelah, keringatku juga sangat banyak. Rasanya aku ingin mandi lagi. Rendra kembali memapahku ke kursi roda.


“Biar saya saja yang membawa sampai ke kamar.”


“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu.” Perawat itu keluar dari ruang terapi.


Rendra mendorong kursi roda keluar dari ruang terapi. “Apa kamu lapar? Haus atau ingin tidur?” dia bertanya seraya mendorong kursi rodaku.

__ADS_1


“Aku sudah terlalu banyak tidur, sudah tidak mengantuk lagi. Apa yang terjadi pada warga kampung Uteuen? Apa saya boleh tahu?” aku sedikit ragu untuk bertanya tentang kampung Uteuen tapi aku juga penasaran terutama dengan orang tua Kak Limah. Bagaimana pun Umi Kak Limah yang menolongku. Jika saat itu aku tidak ditolong oleh Umi Kak Limah, entah bagaimana nasibku saat ini.


Kursi rodaku berhenti di sebuah taman kecil masih di dalam kawasan rumah sakit. “Mau di kursi roda atau di bangku?” jawaban yang kuharapkan ternyata tidak ia berikan. Aku kecewa, “Di sini saja.” Jawabku. Di bangku atau di kursi roda sama saja menurutku.


Dia duduk di bangku tepat di depanku. Jarak kami tidak begitu dekat maupun jauh. Hanya sejengkal batas antara lutut kami. Dia menatapku, aku gelagapan. Sekilas aku meliriknya dan tatapan itu berbeda. Dia menatapku dengan tatapan tajam serta mengintimidasi. Tatapan ini pernah kulihat sebelumnya saat aku dipanggil ke markas setelah Jannah tertangkap.


“Kenapa kamu bertanya tentang Kampung Uteuen? Ada siapa di sana sampai kamu sangat ingin tahu?” kali ini aku memberanikan diri untuk membalas tatapan matanya. “Aku hanya ingin tahu tentang Keluarga Kak Limah. Umi Kak Limah yang sudah menolongku. Bagaimana keadaan beliau?”


“Saya tidak tahu bagaimana keadaan orang yang kamu sebutkan itu. Tapi, pemilik rumah tempat kami menemukan kamu sekarang di tahan. Dia adalah mertua dari orang yang paling kami cari. Muhammad Khalid, teman dari ayahnya Rendra dan sekarang mengambil posisi yang dulu dipegang oleh Teuku Muhammad Ilham. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan? Mungkin pria yang akan menjadikanmu istri kedua?” lagi-lagi aku menatapnya.


“Apa dia sudah tertangkap?”


“Apa kamu takut jika dia tertangkap?”


Apa ini? Kenapa nada pertanyaannya sangat tidak enak didengar. “Kenapa kamu bertanya begitu? Aku hanya ingin tahu.” Kali ini aku membalas tatapannya dengan tajam. Aku kesal dengan nadanya yang tidak mengenakkan.


“Kamu akan dipanggil ke markas setelah kondisi kamu pulih. Jawablah semua pertanyaan mereka dengan jujur.”


lagi-lagi dia mengabaikan pertanyaanku sesuka hatinya.


***


LIKE...LIKE...LIKE...


Buat yang ingin tahu kisah Rahmah dan Teuku Muhammad Ilham. ada di *** App ya, kisahnya gak panjang jadi aku terbitkan di sana.


__ADS_1


__ADS_2