CUT

CUT
Pesan...


__ADS_3

Faisal yang tadinya bersuka cita tiba-tiba berubah setelah mendapat kiriman pesan dari nomor tak dikenal.


“Kenapa, Bang?” tanya Cut saat melihat raut wajah suaminya yan tiba-tiba berubah.


“Tidak ada. Sebentar ya?” Faisal meninggalkan sang istri lalu dengan segera ia menghubungi nomor tanpa nama tersebut. Beberapa kali Faisal mencoba namun tidak ada yang menjawab panggilannya di seberang sana. Kini, ketenangannya sirna dengan isi pesan tersebut lalu tanpa sadar ia mencoba menghitung dengan jarinya. “Harusnya sudah  berumur sekitar dua atau tiga bulan.”


Beberapa hari setelah pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponselnya, hidup faisal seperti jauh dari ketenangan. Ia bahkan sampai bermimpi buruk beberapa malam sampai membuat Iskandar terbangun. Perubahan sikap Faisal tidak luput dari pantauan sang istri. Cut beberapa kali sempat memergoki Faisal sedang menghubungi seseorang namun tidak pernah melihatnya berbicara.


Nomor tidak dikenal itu seperti enggan menjawab panggilan dari Faisal. Namun pesan yang dikirim tersebut mampu merembut ketenangan hidup seorang Faisal. Disela-sela waktu kerjanya, ia bahkan masih bertanya pada beberapa rekan yang dikenal dekat denga Shinta sewaktu bekerja di rumah sakit yang sama. Namun hasilnya selalu nihil, Shinta seakan mengganggunya kehidupannya saat ini dengan mengabarkan tentang keadaan bayi itu tanpa mau berbicara terlalu jauh.


“Apa maksud dari SMSmu ini? Tolong angkat teleponku!” akhirnya Faisal mengirim pesan kembali ke nomor tersebut setelah satu minggu berlalu nomor itu tetap tidak mau mengangkat teleponnya.


Ting…


Sebuah pesan masuk setelah lima menit menunggu seraya berharap. Faisal yang saat itu mendapat jatah piket malam langsung membuka pesan tersebut.


“Kamu sudah  bisa hidup tenang, dia sudah kembali ke surga. Dia tahu kamu tidak mengakui kehadirannya jadi dia memilih kembali ke surga. Dia malaikat kecilku, putri yang sangat cantik dan mirip sekali denganmu. Semoga kamu bahagia mendengar kabar ini.”


Faisal mengusap wajahnya dengan kasar, hati dan pikirannya seketika menjadi gelisah bercampur aduk. Ia kembali menelepon nomor yang tenyata milik Shinta namun lagi-lagi tidak dijawab.


Ting…


“Jangan menghubungiku! Urusan kita sudah selesai saat kamu mengingkarinya sebagai darah dagingmu.”


Lagi-lagi, Shinta hanya membalas melalui sebuah pesan. Faisal akhirnya memilih membalas pesan Shinta.


“Apa yang terjadi? Dia sakit apa?” tulis Faisal.


“Cih…untuk apa kamu ingin tahu? Bukankah kamu tidak mengakuinya?”


“Jangan membalas pertanyaan dengan pertanyaan, Shin!”


“Kamu tidak berhak tahu.”


“Lalu kenapa kamu memberitahuku jika dia masuk ICU?”


“Aku hanya ingin memberitahukanmu saja.”


“Hah…aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Sekarang jawab teleponku!”


Faisal kembali menghubungi dan kali Shinta mau mengangkat telepon itu.

__ADS_1


“Emm…” kata pertama yang keluar dari mulut Shinta saat menjawab telepon Faisal.


“Shin…”


“Emmm…”


“Apa kabar?”


“Hah, kamu bertanya kabarku? Tentu aku sangat baik, sangat bahagia bahkan sekarang aku sedang ingin minum, ke club lalu berjoget ria seperti dulu saat bersamamu.”


Faisal merasa tertampar.


“Maaf,” ucap Faisal penuh penyesalan.


“Telat, kamu sudah melakaiku dan anak kita. Hatinya begitu suci untuk kamu lukai bahkan sebelum dia melihat dunia.”


“Shin…” panggil Faisal lirih.


“Sudahlah! Berbicara denganmu hanya akan membuatku kembali terluka. Hiduplah dengan tenang bersama istri dan anakmu di sana!”


Tut….


Shinta mengakhiri panggilan itu, sedangkan Faisal hanya terdiam seribu kata dengan perasaan yang sulit dijabarkan.


Semalaman mengurus pasien korban kecelakaan di UGD membuat Faisal sangat kelelahan hingga akhirnya selesai piket ia langsung pulang kerumah.


“Assalamualaikum…” sapanya dengan wajah kelelahan.


“Walaikumsalam… ayah pulang,” ucap Cut pada sang putra yang tengah dipangku oleh neneknya.


“Ayah mandi dulu habis itu langsung tidur. Capek banget habis tangani pasien kecelakaan satu rombongan.”


Faisal tidak pernah mendekati siapapun anggota keluarganya di rumah jika dia pulang dari rumah sakit. Ia langsung menuju kamar untuk mandi lalu tidur jika sangat kelelahan seperti sekarang. Semua orang rumahnya sangat memahami termasuk Cut selaku istri. Setelah selesai menyuapi sang putra, Cut kembali ke kamarnya.


Sementara, Iskandar langsung pergi bersama kakek neneknya karena hari ini hari Sabtu.


Setiap pagi Sabtu dan Minggu, Iskandar akan berjalan-jalan bersama kakek neneknya mengelilingi komplek.


Sementara di rumah, sang ibu menghadapi pergolakan batin yan luar biasa tatkala tanpa sengaja membaca pesan yang masuk ke ponsel sang suami.


“Aku harap suatu saat kamu bisa bertemu dengannya. Kamu harus tahu jika putrimu seperti photocopy wajahmu versi perempuan.”

__ADS_1


Sebuah pesan yang baru masuk saat Cut tengah membereskan baju kotor milik sang suami. Cut mengeluarkan ponsel yang masih tersimpan dalam saku jas putih sang suami lalu muncullah pesan tersebut. Rasa penasaran dan insting seorang istri memaksa Cut untuk membuka ponsel tersebut untuk melihat lebih jauh.


Betapa terkejutnya Cut saat membaca semua pesan yang masuk dan keluar dari ponsel sang suami. Darah Cut seakan mendidih, ia menatap Faisal yang terlelap karena kelelahan. Hati dan pikiran Cut ingin meragukan semua itu namun dari apa yang mereka tulis rasanya itu mustahil untuk diragukan.


Cut mengambil ponsel tersebut lalu membawa keluar kamar.


“Emmm…kenapa kamu meneleponku sepagi ini? Apa kamu sangat ingin tahu tentang wajah putrimu?”


Deg…


Pertanyaan itu langsung keluar saat teleponnya dijawab. “Suara wanita” batin Cut.


“Assalamualaikum, maaf ini siapa ya?” tanya Cut dengan harapan ini nomor salah sambung.


“Walaikumsalam, apa kabar Cut? Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabar Iskandar? Pasti sekarang dia sudah besar dan tampan seperti ayahnya. Apa kamu sudah tidak mengingatku? Padahal waktu Iskandar akikah, aku ikut hadir walaupun tidak membawa kado untuknya tapi aku membawa kado untuk ayahnya. Tapi sayang, Faisal tidak menerimanya.”


“Kak Shinta?” tanya Cut ragu-ragu.


“Iya, ini aku Shinta. Mantan kekasih gelap suami yang sangat kamu banggakan itu. Kemana dia? Apa sedang tidur karena dari semalam kami terus berkirim pesan.”


“Boleh aku tahu maksud SMS Kak Shinta?”


“Yang mana? Oh…soal putri kita? Atau wajahnya mirip dengan Faisal?”


“Iya.”


Perasaan Cut mulai kacau, ia hampir rubuh jika tidak berpegang pada dinding.


“Apa Faisal tidak mengatakan apapun padamu? Aku yakin tidak. Karena kamu sudah bertanya, baiklah akan aku jawab.”


Shinta mengatakan semuanya secara gamblang tidak ada satupun yang ia tutupi dari pertama bertemu Faisal saat masih kuliah hingga apa yang mereka lakukan sampai hubungan gelap mereka sat bekerja di rumah sakit yang sama saat Faisal sudah menikah dengan Cut dan saat hari akikah Iskandar ia datang untuk memberitahukan Faisal tentang kehamilannya.


Bug…


“Cutttt.”


Suara teriakan Kak Julie yang baru keluar dari kamar menggema ke seluruh rumah hingga membangunkan Adi dan membuat kedua orang tuanya yang sedang berada di luar ikut terkejut.


***


Like...komen...share ke teman kalian ya...

__ADS_1


makasih banyak yang udah setia sama CUT dan jangan lupa mampir dikarya terbaru aku, DENDAM SI PETUGAS PAJAK klik tanda love, like dan komen.


Makasih....love kalian banyakin🥰🥰🥰


__ADS_2