
Selepas kepulangan teman-teman arisannya, Ibu Yetti langsung menginterupsi seluruh keluarganya untuk berkumpul. Cut sendiri sudah paham kemana arah dari pembicaraan ini nantinya.
“Ada apa ini, Ma?” bisik Anugrah pada ibunya. Ia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan neneknya saat ini.
“Ada apa, Ma?” tanya Rendra santai.
Ibu Yetti menatap sang putra penuh kekesalan. “Kenapa Anugrah sampa terkena kasus video tidak senonoh dengan temannya?”
Deg…
Anugrah terkejut karena neneknya sudah tahu akan video tersebut.
“Video apa, Ma?” tanya Bapak Wicaksono bingung.
Ibu Yetti memperlihatkan video tersebut pada sang suami. Lalu, beliau kembali merepet panjang x lebar tanpa henti dan seperti tadi. Sasaran amukannya adalah Cut dan Rendra. Ibu Yetti benar-benar tidak memperdulikan sekitar hingga Rendra yang ingin menjawab pun tidak mendapat kesempatan. Lelah merepet, Ibu Yetti diam dengan sendirinya. Terlihat sekali bagaimana dadanya kembang kempis setelah itu.
“Sudah, Ma? Sekarang giliran Papa yang bicara.” Bapak Wicaksono mengambil alih dan sasarannya langsung pada sang putra.
"Jelaskan pada kami sekarang!” titah sang kakek.
Rendra menjelaskan tak kalah panjang x leber melebih omelan ibunya. Dan seperti yang Bapak Wicaksono duga jika cucunya memang tidak bersalah. Sebagai seorang pensiunan tentara, beliau masih jeli dalam menilai seberapa akurat suatu fakta dilihat berdasarkan sebuah video.
“Sekarang Mama paham? Anugrah tidak salah.” Tanya sang suami.
“Mulai besok, Anugrah biar Mama yang rawat. Anugrah pindah kemari dan tinggal sama kami. Kalian berdua tidak becus menjaga anak. Kalau di sini, dia akan Mama didik seperti Mama mendidik papanya dulu.”
“Gak, aku gak mau pindah sama Nenek. Apa-apaan Nenek ini main perintah-perintah. Memangnya aku patung apa.” Anugrah menyahut sambil menatap tajam neneknya.
“Ma, aku sama Cut masih sanggup mengurus Anugrah. Ini bukan kesalahan Anugrah melainkan siswi tersebut. Dia juga sudah mengakui perbuatannya pada kepala sekolah. Dan lagi, berhentilah bersikap berlebihan seperti ini. Aku tahu Mama sayang sama Anugrah tapi tidak seperti ini juga. Aku juga pernah mencium pacarku waktu SMA dulu. Ini hal yang wajar untuk anak-anak seumuran Anugrah.”
Kini, Rendra harus bersiap menerima tatapan tajam dari setiap mata yang ada di ruangan itu. Menyesal juga sudah terlambat. Bagaimana mungkin dia kelepasan bicara di depan orang tua, istri bahkan yang paling fatal adalah anaknya sendiri.
“Jadi Papa pernah cium perempuan juga? Wah…berarti sifat Papa turun ke aku dong???”
Kata-kata yang keluar sudat tidak bisa ditarik. Hanya menyesal yang mungkin bisa dilakukan serta meminta maaf pada sang istri yang mungkin akan marah karena pengakuan tersebut.
Keesokan harinya…
“Kak, aku diskors selama tiga hari.” Isi pesan Anugrah untuk Kakaknya.
Dia selalu menceritakan semua yang terjadi baik di rumah maupun di sekolah pada sang kakak. Hanya dengan begitu, komunikasi antara keduanya dapat terjalin.
“Kali ini masalah apa? Terus reaksi Mama gimana?” balas Iskandar yang baru selesai makan. Anugrah mengirim videonya bersama Mauren kepada sang kakak.
Uhukkk….
Iskandar yang sedang minum ikut tersedak melihat adegan ciuman sang adik dengan seorang perempuan berseragam SMA. Dia langsung menelpon sang adik saat itu juga. Anugrah tersenyum penuh kemenangan saat nama sang kakak muncul di ponselnya.
“Assa-“
“Apa yang kamu lakukan? Kamu mau membuat Mama malu dan-“
__ADS_1
Keluarlah khutbah sang kakak yang ternyata lebih lama dari khutbah jumat. Omelan sang nenek yang oanjangnya sulit diukur juga kalah dengan khutbah sang kakak.
“Ini zina, aku kan sudah bilang….-“
Di saat sang kakak memberi khutbah, sang adik justru sedang menahan senyum karena kakaknya begitu protetif dalam hal pergaulannya. Padahal mereka hidup terpisah tapi saat Iskandar memberi khutbah. Anugrah seperti merasakan kehadiran sang kakak yang begitu dekat dengannya.
“Kamu dengar yang aku bilang? Jangan hanya iya-iya aja. Kalau kamu tidak menjaga diri dari sekarang bagaimana nanti kamu bertemu jodohmu. Ingat, jodoh itu cerminan dirimu. Jadi, kalau kamu baik ya jodohmu insya Allah baik. Kalau kamu sekarang saja suka cium-cum cewe gimana kalau jodohmu juga suka cium-cium cowo. Apa kamu mau?”
Iskandar diam, meresapi apa yang sudah ia katakan pada sang adik. Dan untuk sesaat ia paham jika sudah terlalu banyak menasehati dan mungkin saja tidak satupun dari nasehatnya yang masuk dan diaplikasikan oleh sang adik. Iskandar juga menyadari jika ia belum mendengar penjelasan sang adik.
“Kakak sudah makan? di sana siang kan?” tanya Anugrah santai.
“Iya, berapa lama diskors?” tanya Iskandar.
“Gak lama hanya tiga hari doang.”
“Setelah itu?”
“Tunggu hasil rapat dewan guru. Kakak tenang saja, aku gak salah dan Kak Mauren juga sudah ngaku. Tapi ya gak tau apa bisa membantu atau tidak dengan pengakuannya.”
“Nenek pasti marah besar.”
“Sudah pasti sampai minta aku pindah ke rumahnya. Aku ya gak mau lah. Mana enak tinggal sama nenek-nenek. Udah ceramahnya hampir sama panjang kayak Kakak. Lebih enak tinggal di rumah sendiri, Mama sama Papa adem gak banyak ngomel.”
Iskandar terkekeh. Orang tuanya memang jarang mengomel hanya saja kalau sudah marah tidak tanggung-tanggung.
“Papa sama Mama gak marah melihat video ini?” tanya Iskandar memastikan.
Iskandar hanya bisa diam mendengar cerita sang adik hingga suara sang mama terdengar memanggilnya.
“Dek, ada kawan kamu di depan!” ucap Cut yang sudah berdiri di depan pintu kamar sang anak.
“Oke, Ma. Bentar lagi keluar. Kak, udah ya! Temanku datang.”
Setelah mengakhiri panggilan telepon bersama sang kakak. Anugrah langsung keluar menyapa temannya. Ia meminta Doni untuk miminjamkan catatan untuknya.
“Eh…” Anugrah terkejut karena di sana juga ada Tiara.
“Ada elo, Ra.” Sapa Anugrah sekedarnya.
“Rumah kami searah. Jadi sekalian saja.” Jelas Doni sementara Anugrah hanya menganggukkan kepala. Matanya terus menatap buku catatan milik Doni.
“Apa loe jadi dikeluarin, A?” tanya Doni.
“Gak tahu, lihat nanti. Kalau dikeluarin berarti kita tidak ketemu lagi. Kalau masih ya berarti lusa aku sudah sekolah lagi.” jawab Anugrah santai.
“Aku gak nyangka Kak Mauren agresif banget sama loe.” Celutuk Doni kembali.
“Otaknya rada geser,”
Setelah berbincang sebentar, Doni kembali melajukan motornya meninggalkan rumah Anugrah masih dengan membonceng Tiara. Sebuah mobil sedan mengikuti mereka dari belakang. Tiara sengaja menebeng bersama Doni menuju rumah Anugrah. Harapannya untuk emndekati Anugrah seperti hilang ditelan bumi.
__ADS_1
“Kamu suka ya sama A?” tanya Doni setelah menurunkan Tiara di depan halte karena Tiara akan menaiki mobil jemputannya kembali.
“Kelihatan banget ya?” tanya Tiara malu.
“Semua anak-anak di kelas juga tahu. Dari cara loe natap dia aja udah ketahuan.”
“Tapi sepertinya dia tidak tertarik sama aku, Don. Lihat aku aja tidak apalagi tertarik.” Keluh Tiara.
“Kita baru kelas satu dan masih sama-sama anak baru belum saling mengenal. Lebih baik jalani saja dulu seperti ini. Entar juga elo eneg pas udah kenal lama.” Tiara mengangguk lalu berpamitan karena dia akan menaiki mobilnya. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing.
“Itu pacarnya, Non.” Tanya Si Mamang di dalam mobil.
“Bukan, Mang. Itu teman sekelas. Tiara kan sudah bilang tadi.
“Iya…iya…Mamang percaya kok. Kalau pun pacar juga tidak masalah. Yang penting, Non harus bisa jaga diri. Jangan mudah percaya sama kata-kata manis laki-laki. Mereka tidak semuanya benar. Apalagi jaman sekarang. Banyak laki-laki yang suka mengumbar janji manis setelah pasangannya hamil baru sibuk nyari tempat aborsi. Apa salah anak itu sampai harus dibuang bahkan saat belum dilahirkan.” Begitulah Mamang yang menyayangi Tiara sepenuh hatinya. Mereka sudah menikah belasan tahun tapi belum memiliki anak. Kehadiran Tiara lah yang membuat suami istri itu serasa memiliki buah hati.
Mereka sudah merawat Tiara sejak anak itu bayi. Makanya, Mamang sangat menyayangi Tiara bahkan saat gadis itu ditinggal sendiri karena kedua orang tuanya sibuk bekerja di luar kota.
Sementara itu, di sebuah rumah yang cukup besar. Para muda mudi sedang larut dalam hentakan suara musik di salah satu kamar. Kamar kedap suara milik Mauren membuat para tentangga tidak terganggu dengan aktifitas mereka. Kaleng soda serta beberapa bungkusan camilan berserakan di lantai. Mereka adalah Mauren cs dan Arash cs.
“Gimana rasanya mencium anak ingusan, Ren?” goda Arash setelah meneguk minuman sodanya.
“Tidak sepanas ciuman kita lah.” Jawab Mauren tidak kalah menggoda dengan kerlingan nakalnya.
Arash cs sering bertemu di rumah Mauren karena rumah Mauren yang besar tapi tidak ada penghunginya. Ibu Mauren kadang jarang pulang sedangkan ayah Mauren juga sering keluar negeri. Mauren hanya ditinggal bersama pembantu.
Bukan hal aneh lagi untuk mereka melihat Mauren dan Arash bergelut. Keduanya sering sekali bergelut bahkan tanpa malu-malu melakukannya di depan mereka.
“Apa kita pindah kamar?” tanya Arash dengan seringai nakalnya.
“Kalian gak mau liat siaran langsung?” goda Mauren pada teman-temannya.
Mauren mengajak Arash ke kamar mandi dan suara-suara keduanya justru memicu teman-temannya untuk menyusul. Mereka bergulat bergantian dengan pengaman yang sudah tersedia di atas nakas. Kehidupan Mauren yang bebas membuatnya dengan meudah melakukan hal yang masih dianggap tabu bagi sebagian orang.
“Tapi gue masih penasaran sama itu anak. Gimana rasanya main sama yang belum pro seperti dia? Celutuk Mauren setelah bergulat dengan Arash.
“Kamu yakin dia belum pro? Pendiam bukan jaminan dia tidak pro. Bisa jadi loe bukan tipenya.”
Mauren menatap tajam Arash yang sedang menatapnya memakai pakaian. “Gue bisa bantu menuntaskan rasa penasaran loe.”
“Caranya?”
***
Up jam 03.48 pagi....
jam brpa lolosnya???? jgn lupa LIKE, VOTE & KOMEN
__ADS_1
makasih....🙃