CUT

CUT
Ulah Abdul...


__ADS_3

Malam itu selepas magrib, Aisyah kembali mengajar ngaji anak-anak. Dia mengabaikan perkataan Abdul lalu kembali fokus membimbing anak-anak yatim itu supaya pintar mengenal huruf al-quran. Hanya Abdul yang malam ini bertingkah dengan tidak mau mengaji dengan Aisyah. Bocah itu memilih mengaji dengan Om Imam di shaf pria. Aisyah membiarkan Abdul mengaji dengan pria yang belum ia lihat itu tapi dari suaranya ia tahu jika pria itu adalah Iskandar. Walau hatinya sanksi apa benar Iskandar akan menyusulnya ke sini. Tapi mengingat karakter kakaknya, sudah pasti Rendra yang sekarang dipanggil Teuku akan memberitahukan keberadaanya pada Iskandar.


Selama ini ponselnya sudah dimatikan untuk menghilangkan jejak tapi nyatanya saat ini Iskandar berhasil mencarinya.


"Om Imam, kenapa aku tidak bisa baca qur’an seperti Om Imam tadi? Kalau begini, aku sama seperti sedang belajar dengan Ummi Aisyah.” Gerutu Abdul. Iskandar tidak menyangka jika bocah ini sangat kritis dan teguh terhadap keinginannya.


“Sekarang ikuti Om Imam!” titah Iskandar lalu membaca bismillah dengan irama yang biasa dibawakan saat menjadi imam. Nafas Iskandar tentu panjang karen dia sudah didik untuk itu sementara Abdul harus kecewa karena tidak bisa mengimbangi suara Iskandar.


“Om Imam saat seusia kamu juga tidak bisa tapi karena Om Imam belajar terus tanpa henti. Akhirnya, Om bisa menjadi seperti sekarang. Kamu juga begitu, tidak bisa langsung mau langsung jadi. Semua ini ada prosesnya. Bahkan katak saja harus menjadi berudru dulu baru setelah itu berubah menjadi katak dengan muncul kaki, tangan sampai lengkap hingga terlihat jelas seperti katak. Kamu juga begitu, sekarang kamu belajar yang rajin lalu setelah kamu besar nanti kamu akan mendapatkan hasilnya. Suaramu akan bagus dan nafasmu akan panjang lalu dengan itu kamu bisa mengumandangkan azan dengan baik, benar dan indah seperti sahabat di zaman nabi.”


Abdul tersenyum, ternyata Iskandar mampu membuatnya paham akan makna berproses. Sementara di balik tirai, seorang wanita sedang tersenyum manis dengan hati berbunga-bungan ketika mendengar perkataan sang calon suami.


"Kamu, bapakable banget sih, Mas!” batin Aisyah.


“Astagrfirullah, apa yang aku pikirkan? Dia kakakku bagaimana aku masih menginginkannya sebagai suami?” Aisyah merutuki dirinya sendiri. Ia larut dalam manisnya perasaan cinta pada Iskandar hingga tidak menyadari jika Iskandar adalah kakaknya. Pikiran seperti itu yang selalu muncul saat Aisyah mengingat Iskandar. Lalu setelah itu dia akan bermuram durja karena gagal menikah.


Dreet…


“KAKAK…fix, kita sedarah!” Iskandar tersenyum kecil lalu kembali menyimpan ponselnya. Iskandar kembali melihat jam dan ternyata sudah memasuki waktu isya. Setelah meminta izin pada Pak Imam, Iskandar langsung menuju mikrofon dan mengumandangkan azan isya.


“Buk, itu jelas bukan suara Pak Imam. Bapak mau ke masjid mau lihat siapa pria itu. Bapak yakin dia pasti bukan orang sini. Mana ada orang sini yang anaknya pintar agama?” Suami Buk Kades langsung menyiapkan diri menuju masjid untuk salat isya sambil mencari tahu siapa pemilik suara indah itu.


Buk kades ikut menyusul suaminya, dia sedikit gusar mendengar perkataan suaminya tadi. “Anak desa ini mana ada yang sekolah tinggi. Paling tinggi mereka hanya sampai SMA. Aku tidak akan membiarkan desa ini ditinggali oleh orang-orang yang akan merugikanku.” Batin Buk Kades.


Saat suami ibu kades datang para jamaah sudah berdiri rapi hingga ia tidak sempat lagi berbicara dengan Iskandar hingga suara Iskandar mengucapkan takbir menandakan salat dimulai. Bu Kades yang berdiri di shaf perempuan ikut menyimak bacaan merdu pria yang belum ia kenal itu. Setelah salat selesai lalu dilanjutkan dengan zikir, doa dan salawat akhirnya mereka saling bersalaman dan di sanalah untuk pertama kalinya suami dari Buk Kades berjabat tangan dengan Iskandar.


“Nak, perkenalkan ini suaminya Buk Kades.” Ucap Pak Imam ramah.


Iskandar mengangguk kecil lalu menyambut tangan suami Buk Kades yang bernama Seno itu. Buk Kades datang dari shaf wanita untuk menemui Iskandar. Saat Buk Kades mengulurkan tangannya, Iskandar langsung merapatkan tangannya di depan dada pertanda dia tidak berjabat tangan dengan wanita.


“Suaramu bagus sekali, Nak. Kamu tinggal di mana? Kami tidak pernah melihatmu sebelumnya.” Ucap Buk Kades basa-basi.


“Saya ke sini untuk menjemput calon istri saya, Buk, Pak. Setelah ini saya akan pulang kembali ke kota.” Buk Kades tersenyum lebar.


“Hem, siapa calon istrimu itu, Nak? Apa dia gadis desa sini?”


“Ini calon suaminya Ummi Aisyah, Buk Kades.” Jawab Pak Imam membuat Buk Kades dan suaminya terlihat senang dan memberikan selamat untuknya.


“Kalau begitu saya mohon diri dulu, Pak, Buk.”


“Silakan, Nak.”


Setelah meninggalkan mereka, Iskandar langsung turun untuk menemui Aisyah di depan masjid namun sayang, di sana sudah  tidak ada lagi orang. Iskandar langsung menyusul ke rumah yatim dan benar saja. Aisyah sedang menyiapkan makan malam bersama anak-anak. Mereka terlihat bahagia begitu juga dengan Aisyah.


“Om Imam!” teriak Abdul langsung lari menuju pintu.

__ADS_1


“Masuk Om! Kami lagi makan, Om belum makan kan? Ayo, kita makan sama-sama. Ummi Aisyah tadi memasak banyak makanan enak untuk kami.” Abdul terus berceloteh sambil menarik tangan Iskandar ke dalam lalu mengajaknya duduk di sebuah tikar besar.


“Kami tidak punya meja makan, Om. Jadi kita makannya di atas tikar begini.” Aisyah hanya melirik Iskandar sekilas lalu kembali sibuk mengurus anak-anak.


“Ummi, minta piringnya untuk Om Imam!”


“Sabar, Abdul.”


Aisyah menghampiri Iskandar lalu menyerahkan piringnya ke tangan Iskandar. “Om, jangan melirik Ummi Aisyah terus. Ummi sudah punya Abi.” Seketika mata Iskandar membulat. Ia menatap Abdul penuh tanya, “Abi? Abi siapa?”


Abdul yang ditanya hanya mengedikkan bahu dan itu sukses membuat Iskandar dilanda penasaran. “Anak-anak, siapa yang akan membaca doa makan kali ini?” tanya Ummi Aisyah.


“Om Imam,” Abdul sudah mengangkat tangan Iskandar ke atas. Akhirnya, Iskandar mendapat giliran untuk membaca doa makan untuk mereka malam ini. Saat hendak makan, Abdul kembali memanggil Aisyah, “Ummi, piring Om Imam kok kosong? Ummi, kita kan gak boleh pelit-pelit nanti kuburnya sempit.”


“Iya, Abdul. Ummi lupa. Makanlah! Biar Ummi yang mengisi piring untuk Om Imam.” Aisyah melirik tajam ke arah Iskandar. Ia bangun dari duduknya lalu mengambil piring kosong di depan Iskandar dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk.


“Terima kasih,”


Aisyah tidak menjawab, ia langsung kembali ke tempatnya dan saat ia hendak duduk, Abdul kembali memanggil. “Ummi, nasi untuk Om Imam kenapa sedikit? Om Imam kan besar, makannya pasti besar juga. Perut kita kan mengikuti badan kita, Ummi.”


“Sudah Abdul, Om tidak makan banyak saat malam.”


“Kenapa?” tanya Abdul kembali.


“Nanti Om jelaskan, sekarang kamu makan dulu!” Iskandar kembali melirik sang kekasih hati yang terlihat ketus sekali malam ini terhadapnya.


“Malam ini, Om Imam yang akan bercerita.” Ucap Abdul membuat Iskandar mau tidak mau mengikuti permintaan bocah tersebut. Iskandar memilih bercerita tentang kisah seorang anak yang tidak punya apa-apa tapi anak tersebut tidak perna putus asa. Dia selalu berdoa dan berusaha hingga saat anak itu tumbuh besar ia mendapatkan hasil dari usahanya. Anak itu berhasil menjadi orang sukses dengan semua ilmu yang ia dapat dalam perjalanannya menjadi dewasa.


Satu persatu anak-anak mulai menguap dan pengurus mereka mulai mengajak mereka menuju kamar mandi dan setelah itu masuk ke kamar masing-masing. Kini tersisa Abdul yang sudah tertidur dalam pangkuan Iskandar. Bocah itu terlalu capek di siang hari hingga ia begitu cepat tertidur kala malam. Aisyah datang hendak mengangkat Abdul lalu tiba-tiba Iskandar menahan tangannya.


Mata keduanya bertemu dalam diam. Aisyah memberanikan diri menatap Iskandar karena sudah halal baginya melihat atau menyentuh Iskandar yang ternyata kakaknya tanpa ia tahu kebenaran yang sesungguhnya.


“Saya mau bicara setelah ini!”


“Sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Aku sudah tahu semuanya. Tolong, aku mau menidurkan Abdul dulu.”


“Biar aku saja.” Iskandar mengangkat Abdul lalu membaringkan di atas tempat tidurnya. Dan saat Iskandar akan beranjak dari sana, Abdul langsung memeluk Iskandar seperti memeluk guling. Aisyah tersenyum melihat keterkejutan Iskandar sementara sang pelaku justru terlelap bersama mimpi indahnya.


“Dia menyukaimu.” Ucap pelan Aisyah lalu keluar dari kamar Abdul.


Aisyah masuk ke kamar setelah memeriksa semua pintu dan jendela. Ia terlelap sampai suara azan subuh berkumandang dan ia tahu sekali siapa pemilik suara indah tersebut. “Sadar, Aisyah! Dia itu kakakmu sendiri.” Untuk menghilangkan pikiran kotornya, ia langsung pergi ke kamar mandi. Air pagi bisa menjernihkan pikirannya yang terus memikirkan tentang sang kakak.


“Ya Allah, hilangkanlah rasa cinta kasih hamba sebagai seorang wanita kepada pria yang tak lain adalah kakak kandung saya sendiri. Ya Allah, jangan biarkan cinta terlarang ini hadir dalam hati dan pikiran hamba. Ya Allah, hilangkan tanpa sisa semua perasan di hati hamba. Pertemukan hamba dengan jodoh hamba yang akan membuat hamba melupakan kakak kandung hamba.” Aisyah berdoa dengan khusuk di subuh itu. Air matanya sampai luruh saat pikiran-pikirannya tentang masa depan dengan Iskandar muncul begitu saja.


“Bagaimana hamba bisa rela dan ikhlas melihatnya menikah dengan gadis lain jika hati hamba masih menyimpan cinta terlarang untuknya?” Aisyah berzikir sangat lama untuk menenangkan hatinya hingga suara satu persatu anak-anak di luar kamar mulai terdengar.

__ADS_1


Aisyah dan beberapa pengurus bergulat di dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka. “Ummi, Om Imam ke mana?” tanya Abdul panik.


“Di luar mungkin.” Jawab Aisyah sekenanya.


“Tidak ada, mobilnya juga tidak ada.”


Aisyah langsung menhentikan kegiatannya lalu bergegas keluar. Benar saja mobil Iskandar tidak ada lagi di depan rumah. “Baguslah, aku tidak perlu melihatmu lagi. Semakin jarang kita bertemu maka semakin mudah untukku melupakanmu.” Gumam Aisyah lalu ia kembali ke dapur.


Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Aisyah membantu pengurus lain mencuci pakaian di belakang. Sementara seorang pengurus di tempatkan di dalam menemani anak-anak menggambar dan membaca buku. Suara mobil membuat Abdul langsung keluar dengan senyum mengembang di wajahnya.


“Om Imam, dari mana? Kenapa Om Imam pergi tidak bilang-bilang?” protes Abdul begitu Iskandar keluar dari mobilnya dengan senyum lebar saat melihat wajah imut bocah itu yang sedang protes padanya.


Wajah Iskandar terlihat lelah, ia membawa Abdul masuk ke dalam lalu segera menuju dapur. Air dingin menjadi pilihannya. Abdul sampai melongo melihat betapa hausnya Iskandar sampai menghabiskan air putih sebanyak lima gelas besar.


“Om habis ngapain? Kenapa kelihatan capek begitu?”


Suara mobil kembali terdengar di luar sana dan bukan hanya satu melainkan beberapa mobil. “Ayo, kita lihat hadiah untuk kalian!” ajak Iskandar menggenggam tangan Abdul.


Mendengar ada keributan di depan, para pengurus termasuk Aisyah ikut keluar dan betapa terkejutnya mereka saat melihat berapa banyak barang yang sedang diturunkan oleh truk barang di depan. Aisyah langsung menatap Iskandar.


Setelah lepas dari jerat Abdul semalam, Iskandar bangun lalu keluar menuju satu ruangan yang bertuliskan kantor Ummi. Ia masuk ke sana lalu mencoba mencari apa yang menjadi tujuannya. Sebuah dokumen dalam laci menjadi pilihannya. Ia menbaca dengan saksama hingga menemukan daftar nama donatur di sana. Hanya ada tiga donatur yang tidak lain adalah Papa Faisal, Ibu Ayu Saraswati dan dr. Rendra.


Iskandar juga memeriksa laporan keuangan dan kebanyakan uang itu dipakai untuk belanja harian anak-anak dan membayar gaji pengurus. Makanya Aisyah tidak bisa membeli perlengkapan lain dari uang yang diberikan oleh donatur. Bahkan untuk meja makan saja, Aisyah kehabisan dana. Ia lebih memilih menyediakan cukup makanan untuk anak-anak dari pada membeli perabotan yang tidak perlu lalu anak-anak hanya makan telor ceplok setiap hari. Aisyah tidak mau itu, ia ingin anak-anak itu makan enak dan bergisi setiap saat walaupun duduknya harus di atas tikar.


“Kenapa Mas membeli ini semua?” Akhirnya Aisyah berbicara juga dengan Iskandar.


Iskandar mengambil dompet lalu menyerahkan bukti pembayaran setiap barang yang ia beli tadi. “Ini masukkan dalam laporan keuangan. Saya tahu kamu sangat profesional. Tidak usah tulis nama saya!”


“Terima kasih!” ucap Aisyah mengambil kertas tersebut dari tangan Iskandar namun Iskandar langsung menghindar hingga tangan Aisyah hanya menggapai angin. “Setelah ini ikut saya pulang! Urusan kita belum selesai!”


“Ck, jadi ini sogokan?”


“Tanpa memberi ini semua, kamu tetap harus pulang sama saya!”


“Kenapa kamu jadi pemaksa begini? Aku sudah besar dan berhak menentukan pilihanku sendiri. Sana, kamu pulang saja. Toh di sana sudah ada gadis yang akan kamu nikahi.”


Iskandar mengernyit heran menatap Aisyah, “Aku tahu, kemarin dia datang menggunakan kebaya ke rumah sakit. Aku tahu kita sedarah tapi kamu bisa kan peduli sedikit sama perasaanku. Begitu tahu kita sedarah kamu malah langsung membawa gadis lain pada keluargamu tanpa mempedulikanku. Kamu pikir aku patung? Aku ini punya perasaan, ISKANDAR!!!” Aisyah terisak sendiri sementara Iskandar hanya menatapnya santai. Ia malah tidak peduli dengan Aisyah yang sedang terisak. Dalam hatinya, Iskandar sedang tertawa riang melihat Aisyah menangisi hubungan mereka.


“Maafkan saya karena tidak tahu kalau kamu secinta itu sama saya.”


“Brengsek, aku benci kamu!”


“Kamu mau dipeluk sama saya?” tanya Iskandar seolah tanpa beban dan, -


Bugh…

__ADS_1


***


Coba tebak, Aisyah itu anak siapa???


__ADS_2