
Bapak Wicaksono mengajak keluarga besannya untuk langsung ke rumah mereka. Pertama kali menginjakkan kaki di rumah mertuanya, Cut mulai dihinggapi rasa minder. Ternyata, mertuanya orang kaya dan dia semakin tidak percaya diri.
“Ada apa?” bisik Rendra saat mendapati istrinya berdiri dengan lesu.
Cut tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Rendra menggenggam sebelah tangan Cut lalu mengajak ke kamarnya. Kamar yang sudah lama tidak ia tinggali karena sudah memiliki rumah sendiri. Ibu Yetti meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk mengantar para tam uke kamar masing-masing yang sudah mereka siapkan sebelumnya sebelum pulang dari Aceh.
Reni mengajak Intan untuk tidur di kamarnya karena dia butuh informasi tentang sosok yang sudah mengganggu hidupnya. Sedangkan Bang Adi diantar ke kamar tamu bersama Faris. Iskandar sendiri dibawa oleh Mak Cek Siti bersamanya karena Mak Cek Siti menyadari jika keponakannya butuh waktu berdua dengan sang suami.
Selama enam bulan Iskandar tumbuh bersama Mak Cek Siti tidak pernah sekalipun ia rewel tidak jelas. Bayi gembul itu memang sangat mengerti keadaan di mana ibunya belum ditemukan lalu masa itu adalah masa-masa sulit pasca gempa dan tsunami. Air minum serta bahan makanan kurang. Pakaian juga tidak ada sampai akhirnya bantuan dari berbagai negara dan daerah datang.
Iskandar bisa bermain dengan siapa saja karena terbiasa sewaktu di tenda ataupun saat mereka pindah ke rumah salah satu kerabat.
Rendra membuka pintu kamarnya dan mempersilakan Cut untuk masuk. Cut manatap kamar mengedarkan pandangan ke berbagai sudut.
“Sebenarnya, saya ingin membawamu ke rumah pribadi saya tapi karena Papa mengajak ke sini ya sudah. Sekaalian juga saya persiapkan kamar kita di sana untuk malam pertama kita, ya kan?”
Rendra tersenyum memandang wajah Cut yang mulai terlihat gusar. Kata-kata Rendra tentu sesuatu yang bukan lagi baru di telinganya. Tapi tetap saja, dia tidak mampu membayangkan semua itu saat ini. Jantungnya berdegup kencang apalagi pria yang sudah resmi berstatus sebagai suami ternyata sudah memeluk pinggangnya.
Cup…
Sebuah kecupan mendarat di kening Cut.
“Saya sangat bahagia. Akhirnya, penantian saya berakhir juga.”
Cut menunduk malu. Berada begitu dekat seperti ini sungguh membuat jantungnya berdegup semakin kencang.
“Istirahatlah! Saya mau keluar dulu. Tidak apa-apa kan saya tinggal sendiri?” Cut menggeleng pelan.
“Itu kamar mandinya kalau kamu mau mandi. Airnya baru diisi juga begitu kita mendarat di sini jadi kamu bisa mandi dengan nyaman. Tidur saja kalau kamu mengantuk atau kalau kamu mau baca buku, di rak itu banyak buku-buku bagus. Saya keluar dulu ya!”
__ADS_1
Cup…
Rendra kembali menghadiahi kecupan untuk sang istri di pipinya. Bukan tanpa alasan Rendra keluar kamar apalagi sudah hampir malam. Dia akan ke dapur untuk membuatkan sang istri makanan dan minuman. Dia tidak mungkin meminta asisten rumah tangganya tengah-tengah malam saat para asisten sudah tidur.
Rendra memasukkan beberapa biskuit, roti dan omelet yang ia buat sendiri. Lalu sebotol air mineral dan satu gelas teh hangat untuk sang istri. Sebelum pulang ke rumah, mereka sudah lebih dulu makan di luar berhubung sudah memasuki jam makan malam. Sesudah menyelesaikan semuanya, Rendra kembali ke kamar dan tampaklah sang istri yang terlihat serius membaca buku sambal duduk di sofa yang terletak di pinggir jendela.
“Baca apa, Sayang?” tanya Rendra mendatangi Cut di sofa.
Cup…
Rendra kembali berhasil mencari ciuman di pipi sang istri. “Wangi, kalau begitu aku mandi dulu ya?”
Rendra meninggalkan sang istri lalu ke kamar mandi sementara Cut mencoba menenangkan hatinya yang dibuat tak karuan oleh sang suami.
Ceklek…
“Eh…”
Cut terkejut kala Rendra sudah berada di dekatnya seraya menyerahkan secangkir teh ke tangan sang istri. “Minum dulu supaya kamu santai tidak perlu tegang begini. Kita tidak akan berperang kok.” Gurauan Rendra sama sekali tidak berpengaruh padanya saat ini.
Bagaimana Cut tidak tegang jika Rendra duduk di sampingnya tanpa memakai pakaian dan hanya menggunakan celana pendek selutut. “Minumlah, itu saya buat khusus untuk kamu.”
Cut mengangguk pelan lalu mengambil cangkir teh dan meminumnya sedikit. “Bagaimana? Apa lebih tenang?”
Cut kembali mengangguk. Selama mereka duduk di sofa tidak sedikitpun Rendra memalingkan wajahnya dari sang istri. Gemas, rindu, sayang dan segala rasa lain yang sulit untuk diungkapkannya saat ini. Cut bingung harus melanjutkan membaca bukunya atau –
“Terima kasih.”
Cut menatap sang suami lembut. “Terima kasih sudah menerima saya.”
__ADS_1
Cut tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak menyangka jika Rendra akan mengucapkan terima kasih padanya. Padahal dialah yang harus mengucapkan terima kasih karena sudah menerimanya yang cacat ini. Tidak terasa air matanya kembali tumpah.
“Kenapa menangis? Apa saya berbuat salah?”
Cut menggeleng pelan, kedua belah tangan Rendra menagkup wajah sang istri untuk melihatnya. “Saya yang harusnya berterimakasih karena sudah mau menikahi janda cacat ini.”
Cup…
Cut yang sedang menangis dibuat terkejut saat menerima kecupan kilat di bibirnya. Sesuatu yang tidak ia prediksi sebelumnya. Rendra tersenyum karena berhasil menghentikan tangis sang istri.
“Jangan pernah katakana itu lagi. Kamu adalah harapan dan hidup saya. Kalau kamu menolak saya lagi kemarin. Maka, hidup saya akan rusak dan kamu akan melihatnya sendiri. Saya tidak main-main dengan perkataan saya.”
“Saya malu, minder. Kenapa Abang menikahi wanita seperti saya? Masih banyak yang lebih dari pada saya di luar sana. Kenapa saya?”
“Karena kamu jodoh saya! Kita tidak pernah bisa menolak jodoh yang sudah ditakdirkan oleh sang pencipta. Dan saya juga berharap kalau kamu memang jodoh saya. Bahkan saya pernah berkata jika saya tidak bisa mendapatkanmu saat gadis. Maka, saya tunggu jandamu. Dan ternyata doa saya dikabulkan.”
Rendra tertawa lalu menarik sang istri dalam pelukannya. “Jangan malu dengan kondisimu. Jangan dengarkan kata orang. Saya tidak bisa menjanjikan semua akan baik-baik saja setelah kita menikah. Karena tidak setiap manusi itu baik. Tapi satu hal yang harus kamu tahu kalau kamu itu istri saya, rumah untuk saya kembali. Jadi kalau kamu rapuh maka orang-orang akan menjelekkan saya karena saya tidak kuat membangun fondasi. Jadilah wanita kuat supaya saya juga kuat, oke?” Rendra mengurai pelukannya lalu menatap sang istri dengan tatapan tegas penuh keyakinan.
“Bagaimana jika saya tidak cukup kuat untuk Abang?”
“Maka, pegang tangan saya. Kita akan menghadapinya bersama. Kita buktikan pada siapa saja bahwa kita kuat dan mereka tidak mampu menghancurkan kita.”
***
__ADS_1