
Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Ibu Yetti menolak mentah-mentah ususlan Rendra untuk memasukkan sang anak ke pondok tempat Iskandar menimba ilmu sebelumnya.
“Apa kalian sudah tidak sanggup menjaga anak sampai harus kalian masukkan ke pondok?” Ibu Yetti berdumel sendiri tapi masih bisa didengar oleh Rendra. Saat ini, ia sedang berada di rumah sang ibu hanya untuk memastikan perkataan istrinya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Cut tidak melesat sedikitpun.
“Lalu kenapa dulu Mama menyuruh Iskandar masuk pesantren? Apa karena dia bukan cucu Mama?”
Gleg…
“Apa kamu lupa, berapa kali kamu dipanggil ke sekolah gara-gara dia berkelahi? Wajar kalau saat itu Mama menyuruh kalian memasukkannya ke pesantren. Kamu jangan menyamakan Iskandar dengan Anugrah. Walaupun satu ibu tapi kepribadian keduanya berbeda.”
Rendra memutuskan pulang ke rumahnya setelah mampir sebentar ke rumah sang ibu. Sesampai di rumah, Cut terlihat sedang berbicara serius dengan Anugrah.
“Assalamualaikum, ada apa ini kok tegang begitu?” ucap Rendra lalu mencium pipi sang istri dan sang putra bergiliran.
“Anak laki-laki Papa ini bertanya apakah Kakaknya itu bukan cucu nenek?” jawab Cut.
“Kamu menguping?” tanya sang ayah dan Anugrah langsung mengangguk.
Cut dan Rendra saling tatap lalu kemudian mereka menceritakan semua asal usul kakaknya hingga Anugrah mengerti. Mereka memang harus menceritakan ini semua walupun masa lalu malas untuk dikenang tapi hasil dari masa lalu itu sendiri hadir di masa depan mereka.
“Sekarang kamu sudah tahu, jadi apa kamu akan membenci kakak karena dia berasal dari ayah lain?” tanya Rendra.
Anugrah menggelengkan kepalanya, “Tapi kan lahirnya tetap dari perut Mama.” Jawabnya polos.
“Bagus, Jagoan Papa memang pintar.”
Rendra memeluk putranya lalu tersenyum menatap sang istri. Hubungan keduanya mulai berangsur membaik. Cut mulai menerima keadaan dan mengurangi rasa cemburunya. Ia mencoba percaya pada sang suami, mengingat kembali bagaimana Rendra berjuang untuk menikahinya. Apalagi, ada anak di antara mereka dan anak itu pula yang menjaga ayahnya dari godaan wanita-wanita nakal di luar sana.
Cut menyadari bahwa tidak semua bagian dari masa lalu harus ia benci. Kedekatan keluarga Risma dengan keluarga suaminya yang terjalin jauh sebelum dirinya hadir membuat Cut harus berlapang dada. Kenyataan bahwa ia datang setelah itu adalah sesuatu yang harus ia terima. Cut juga tidak bisa memaksakan keinginannya pada Rendra. Ia hanya bisa memberi kepercayaan pada sang suami. Dan Anugrah yang akan mengawalnya.
Banyak perubahan yang Cut lihat dari sang suami sejak malam itu. suaminya tidak pernah lagi merespon Risma secara berlebihan. Dan apabila ia datang bersama Ibu Yetti ke rumah, Anugrah akan berulah dan menempeli ayahnya hingga tidak ada kesempatan untuk Risma mendekati sang ayah. Begitu juga dengan sang nenek yang selama ini dengan bebas mengatur menantunya. Selama Anugrah beranjak remaja, ia selalu membela ibunya saat sang nenek sedang kumat. Anugrah juga sering menolak ajakan sang nenek jika ibunya tidak diajak. Alhasil, Ibu Yetti tidak pernah lagi mengunjungi rumah mereka karena kelakukan Anugrah yang membuatnya terlihat buruk.
Peristiwa yang membuat Ibu Yetti sulit tidur adalah saat acara arisan di bulanan di rumahnya. Seperti biasa, Cut datang bersama suami dan anaknya. Di sana juga ada Risma dan keluarganya. Dan sudah menjadi tugas Cut untuk membantu di dapur bersama asisten rumah tangga di rumah sang mertua. Betapa murkanya Ibu Yetti saat dengan lantangnya sang cucu melarang sang ibu bekerja di rumah neneknya.
__ADS_1
“Ma, biar bibik saja. Mama nanti kecapean.” Larang Anugrah yang membuat semua perhatian para ibu-ibu arisan terpatri padanya.
“Tante Risma juga ada kenapa tidak bantu? Tante Risma kan sudah dianggap keluarga, harusnya kalau ada acara begini, bantuin dong. Jangan lihat aja!”
Cut bingung lalu ia menyuruh sang putra untuk meminta maaf namun jiwa pemberontak Anugrah mulai bermunculan. Dengan wajah sangar nan imutnya ia justru menyeret sang ibu untuk duduk lalu mengambil piring mengisi nasi berserta lauk pauk kemudian meletakkan di depan sang ibu.
“Mama makan dulu! Jangan nenek-nenek itu aja yang dipedulikan. Kalau Mama sakit, mereka juga tidak peduli. Kenal saja tidak.”
Wajah Ibu Yetti semakin tidak memerah, Cut sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
“Lihatlah cucumu, Jeng. Anak SMP tapi perkataannya sudah seperti itu. Didikan seperti apa yang diajarkan oleh ibunya.”
Bertambah marahlah Anugrah mendengarnya, “Nenek tenang saja, Mama mendidikku dengan baik.”
“Ya ampung Jeng Yetti, cucumu bijak sekali. Aku salut mendengar ucapannya. Mantumu sukses besar mendidik anaknya.”
Anugrah ingin kembali menyahut tapi tangan sang ibu sudah menyentu lengannya. Cut menggeleng pelan seraya menatap sang putra. Anugra kesal lalu pergi ke taman belakang menemui ayahnya.
“Pa, ayo kita pulang!” Rendra terkejut apalagi melihat wajah sang anak yang memarh seperti menahan marah.
“Ayo, pulang! Kasihan Mama dari tadi harus jadi pembantu buat nenek-nenek itu.”
Rendra mengernyit heran diikuti para kakek-kakek yang ikut penasaran dengan perkataan sang cucu.
“Ada apa, Cucu Kakek kok ngambek begitu?”
“Pa, ayo pulang! Kasihan Mama dari tadi mondar mandir mengerjakan pekerjaan di sini. Mama itu anak atau pembantu di rumah ini?”
“Anugrah!!!” Rendra menaikan satu oktaf suaranya.
“Kalau Papa tidak mau pulang, aku yang akan bawa Mama pulang.” Anugrah berjalan memasuki rumah kembali.
“Ayo, Ma. Kita pulang!”
__ADS_1
Cut sendiri tdak menolak. Dan dengan berat hati, Rendra harus meninggalkan rumah ibunya untuk mengantar anak dan istrinya pulang. Sepanjang perjalanan, ayah dan anak itu terus berdebat sementara Cut hanya bisa menahan isak di kursi belakang. Anak yang masih ia anggap kecil itu telah menjelma menjadi seorang remaja yang mulai protektif menjaganya. Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Papa tidak kasihan sama Mama? Mama udah kayak pembantu di sana.”
Perdebatan tidak berakhir hingga mereka sampai di rumah. “Kamu tidak boleh bersikap begitu di depan tamu-tamu Nenek. Nenek pasti malu dengan tingkah kamu begini.” Sang papa juga tidak mau kalah.
Ayah dan anak ini ternyata memiliki sifat keras kepala juga jika sudah berdebat. Tidak ada yang mau mengalah hingga suara Cut terdengar di telinga keduanya.
“Sampai kapan kalian berdebat begini? Mama mau tidur, Jangan ada yang ribut!”
Hari-hari selanjutnya dalam pernikahan Cut berubah menjadi penuh drama. Dimana sang putra yang sudah cerdas dalam menanggapi setiap kejadian dan pandai menganalisa keadaan dengan sang ayah yang tetap tegus dengan pendirian. Dua laki-laki di samping Cut yang susah untuk mengalah dalam segala hal.
Seperti saat ini, Anugrah akan mengambil kegiatan ektrakurikuler di sekolahnya. Ada beberapa pilihan yang bisa dipilih dan setiap siswa hanya boleh memeilih satu. Sang ayah menyuruh putranya untuk mengambil eskul karate tapi Anugrah justru mengambil pelajaran komputer. Hampir 24 jam mereka berdebat mempertahankan argumen masing-masing lalu akhirnya pilihan tetap jatuh ke tangan Anugrah karena satu kalimat.
“Setiap warga negara termasuk anak-anak berhak menentukan pilihannya tanpa intervensi siapapun.”
Gleg…
Rendra KO!!!
Hari berlalu tanpa terasa sudah tiga tahun waktu berjalan dengan berbagai kejadian mengiringi setiap langkah anak manusia.
Anugrah sudah menjadi siswa sekolah kejuruan pilihan sang ibu. Kali ini, baik Anugrah maupun sang ayah kompak menyetujui pilihan sang ibu. Sementara di belahan bumi yang lain, seorang siswa sedang menarik kopernya menuju bus yang bertuliskan ‘Indonesia’ di Kairo International Airport.
Wajah bahagia terpatri indah di sana saat menerima uluran tangan dari salah satu panita yang bertugas menjemput mereka.
Mereka???
“Is, tunggu kami!” teriakan ketiga sahabat till jannah terdengar seraya berlari kecil menyusul Iskandar yang sudah berjalan lebih dulu.
“Selamat datang di Kairo, kota seribu menara.”
***
__ADS_1
up jam 04.09 pagi....