CUT

CUT
Kejutan Kamar Sebelah...


__ADS_3

Seperti mendapat angin segar, Shinta langsung memeriksa jadwalnya dan ternyata kabar bahagia yang dia terima tidak didukung oleh alam. Dalam sebulan ini, jadwalnya begitu padat. Untuk sekedar terbang ke Bali pulang pergi masih memungkinkan tapi waktunya terlalu mepet antara jadwal praktiknya.


Shinta sudah menghubungi asistennya untuk mengosongkan waktu di awal bulan untuknya. Dia harus menyelesaikan masalah dengan sang putri secara langsung.


“Saya minta pantau dia selama sebulan karena saya tidak bisa menjemputnya dalam waktu dekat. Tenang saja, saya bukan orang yang mudah melupakan jasa orang lain.” Dika tersenyum sinis menatap layar ponselnya. Lalu ia menarik nafas dalam-dalam kemudian bersiap untuk masuk kerja.


Dita cepat memahami profesinya saat ini hingga membuat para senior senang namun sayang, wajahnya yang cantik alami dan banyak mendapat perhatian dari para tamu termasuk para karyawan membuat rasa iri muncul dari beberapa karyawati lain.


“Tebar pesona sekali anak itu. Aku harus mempermalukannya.” Ucap Desi di balik dinding.


“Benar, aku dengar manajer kita juga menyukainya.”


“Em. Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuatnya tidak betah di sini?”


“Setuju!” dua ular betina berseragam sama tersenyum licik di balik dinding menatap Dita yang penuh semangat melayani setiap tamu yang datang.


Hari ini, Dita bekerja bersama Irma. Irma lebih awal 4 bulan bekerja di sana sebelum Dita. Mereka cukup kompak dalam bekerja dan sangat santun. Sebagai orang dengan latar pendidikan tinggi, Dita sangat mengetahui letak kepuasan pada pelanggan dalam bidang ini. Sehingga ia selalu menampilkan senyum ceria dan penuh sopan santun.


Pandangan Dika tiba-tiba berhenti pada seorang laki-laki yang saat ini tengah melintas di depannya. Laki-laki itu adalah Dika, pria yang sedang ia perjuangkan. Namun sayangnya, sikap Dika begitu berbeda dari hari terakhir mereka bertemu. Dika sangat cuek seolah mereka tidak saling kenal. Setelah menekan absensinya, Dika langsung bergegas masuk ke dalam tanpa menyapa Dita terlebih dahulu.


“Kak Dika kenapa ya?” tanya Irma pada dirinya sendiri.


“Kak Dika?” tanya Dita.


“Iya, itu yang baru saja lewat namanya Dika. Aku  biasa memanggilnya Kak Dika karena dia enam tahun lebih tua denganku.”


“Kalau begitu kamu juga harus memanggilku, Kak Dita. Kita beda lima tahun.” Mata Irma membulat.


“Serius? Kok tidak tampak?” Dita tersenyum lebar.


“Ini rahasia antara kita saja ya!” Irma mengangguk patuh.


“Kak Dika itu tampan. Apa dia sudah punya pacar?” tanya Dita pura-pura tidak kenal pada sosok Dika.


“Kemarin sih sempat heboh di grup saat foto-foto pernikahannya muncul di salah satu akun media sosial tapi setelah itu foto-foto tersebut dihapus lagi. Kak Dika juga bilang kalau saat itu dia lagi memainkan peran sebagai pria yang baru menikah untuk menghibur temannya.”


“Oh begitu? Jadi dia belum punya pacar?”


“Belum. Tapi yang suka  banyak. Bahkan dia sudah dilamar oleh anak manajer hotel ini tapi tetap tidak mau. Aneh kan? Padahal kalau dia mau, jabatannya saat ini pasti sudah tinggi bukan lagi karyawan biasa seperti kita.”


“Lain orang lain prinsip. Kamu sendiri suka tidak sama Kak Dika?” ditanya begitu, Irma jadi tersipu.


“Tidak perlu dijawab!” lanjut Dita jengah.


Ternyata pria taksirannya cukup terkenal di kalangan gadis-gadis di sini. Dita mulai tidak yakin untuk membuat Dika menjadi miliknya.


“Anak pemilik rumah kos Kak Dika saja menyukainya. Eh, kenapa kamu bertanya tentang dia? Apa kamu juga menyukainya? Tidak heran sih, banyak yang jatuh cinta saat melihatnya pertama kali.” Ujar Irma.


“Aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama. Kenapa kamu sampai tahu tentang anak ibu kos?”


“Aku kan kos di tempat yang sama dengan Kak Dika. Cuma aku maklum juga sih alasan Kak Dika tidak membalas perasaan anak ibu kos itu. Bagaimana mungkin Kak Dika memacari anak remaja yang baru lepas 2 SMP?” kelakar Irma.


“Padahal Maknya juga suka sama Kak Dika. Tiap hari pakai baju seksi Cuma buat pamer lemak sama Kak Dika.” Dita melongo. Ini hari pertamanya bekerja untuk mengejar cinta Dika tapi apa yang dia dapat? Irma menceritakan semuanya secara gamblang membuat Dita semakin panas hatinya.


“Kalau malam minggu atau malam libur, kami sering kumpul di salah satu cafe pinggir laut sambil bakar-bakar jagung. Kalau kamu mau gabung juga boleh.”


“Kalian sering keluar bersama ya?”


“Kami kan satu tempat kerja dan satu tempat kos. Bukan hanya aku ada beberapa teman lainnya yang kos di situ. Kamu sendiri tinggal di mana? Kalau kosmu jauh, kos di tempatku saja biat kita bisa pergi kerja bareng.”


Binggo...


Dita mendapat satu lagi kemudahan untuk memperlancar aksinya. “Aku sepertinya memang harus pindah ke situ supaya bisa memantau Dika lebih dekat. Aku tidak mau kalau ibu kos itu mengambil kesempatan untuk mendekati calon suamiku.” Batin Dita.


“Tolong sewakan aku kamar di tempatmu ya! Kalau ada yang mudah kenapa harus dipersulit.” Irma hanya menganggul karena sejujurnya ia juga tidak mengerti dengan keseluruhan kalimat yang Dita lontarkan.


Setelah perbincangan itu, keduanya kembali disibukkan dengan menyapa para tamu yang datang silih berganti. Sampai saat makan siang, mereka berdua menuju restoran hotel dan Dita kembali dikejutkan dengan pemandangan yang membuat emosinya seketika ingin meledak seperti bom Hiroshima.


Dika tengah menyantap makan siang dengan seorang wanita cantik dan seksi. “Siapa gadis itu?” tanyanya pada Dita.


“Itu anaknya manajer hotel yang aku bilang. Dia selalu makan siang di sini dan selalu meminta Kak Dika untuk menemaninya dengan alasan tidak bisa makan sendiri.”


“Terus si Dika itu mau-mau saja?” Ketus Dita.


“Kak Dika tidak mungkin menolak permintaan manajernya. Aku pernah bertanya soal ini dan Kak Dika selalu mengatakan kalau hanya makan siang dan dirinya juga makan siang. Kenapa mesti menolak.”


“Cih, sok baik banget dia.” Dita mencibir Dika lalu menatapnya dengan tatapan sinis.

__ADS_1


“Sudah, ayo kita makan saja. Kenapa aku merasa kalau kamu lagi cemburu?”


Deg...


Dita seolah lupa akan hal itu. Kemudian ia tersenyum sangat manis ke arah Irma. “Aku bukan cemburu. Hanya saja, karakter Kak Dika kamu itu terlalu menjijikkan. Jadi laki-laki kok murahan begitu. Pakai prinsip baru jantan.”


“Kenapa kamu menghinanya?”


“Salah lagi gue.” Batin Dita.


Uhukkk....


Ketika Dita dan Irma tengah menikmati makannya, mereka kembali dikejutkan dengan aksi romantis tidak jauh dari meja mereka. Anak manajer tadi tiba-tiba memberikan ciuman mesra di sudut bibir Dika.


Walaupun hanya kecupan tapi tetap saja itu sangat memuakkan bagi Dita. “Cih, murahan sekali.” Batin Dita melirik dengan ekor matanya.


Wanita tadi pergi dengan menggandeng lengan Dika. Mereka berjalan dengan santai di depan Dita bahkan Dika sama sekali tidak melirik Dita yang tengah menatapnya.


Emosi Dita semakin membuncah. Ingin sekali ia mencakar wajah pria itu sekarang.


“Ma, minta nomor ponsel ibu kosmu!” Dita menyerahkan ponselnya pada Irma. Dengan sigap Irma menyimpan nomor tersebut lalu Dita segera menghubungi nomor ponsel ibu kos itu.


“Selamat siang, apa benar ini dengan Mbak Silvia pemilik rumah kos?” tanya Dita dengan mode seramah mungkin.


“Iya, dengan saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?”


“Begini, Mbak. Teman kerja saya yang namanya Irma kos di situ. Saya kebetulan baru kerja di tempat yang sama dengan dia. Jadi saya ingin kos juga di tempat Mbak. Irma bilang masih ada kamar, apa benar?”


“Irma anak hotel Royal ya?”


“Iya, Mbak.”


“Kamarnya ada. Mau masuk kapan? Biar saya siapkan?”


“Nanti malam bisa, Mbak?”


“Bisa banget. Masih banyak waktu. Baiklah akan saya siapkan kamarnya dulu.”


“Untuk pembayaran nanti langsung saja saat kita bertemu ya, Mbak?”


“Baik, Mbak. Terima kasih.”


Setelah panggilan terputus, Dita baru teringat sesuatu. “Ir, kosnya bagus kan?”


“Bagus. Aku juga tidak akan betah kalau tidak bagus dan jorok. Cuma aku heran sama satu hal, kamu tidak tanya harga dulu?”


Dita menepuk jidatnya sendiri, “Aku lupa. Tapi kalau sesuai dengan ceritamu berapa pun harganya tidak masalah. Ada uang ada kualitas, kan?”


“Sepertinya kamu anak orang kaya ya? Wajahmu saja seperti terawat begitu. Produk kecantikanmu pasti tidak kaleng-kaleng kan?” tebak Irma.


“Produk kecantikan memang tidak menggunakan kaleng, Ir. Mereka semua menggunakan botol.” Seloroh Dita lalu mengajak Irma untuk kembali bekerja.


Hotel tempat Dita bekerja cukup terkenal. Hingga banyak tamu dari dalam maupun luar negeri yang memilih menginap di sana. Selain karena pemandangan lepas pantai yang indah, pelayanan dan paket yang mereka sediakan cukup beragam dengan berbagai pilihan harga.


Dika beberapa kali melewati mereka tapi tidak sekalipun ia menyapa atau melirik ke arah Dita. “Kak Dika kenapa ya? Hari ini dia bersikap sangat aneh.” Keluh Irma.


“Kenapa?”


“Kak Dika kalau lewat meja resepsionis selalu menyapaku tapi hari ini jangankan menyapa, melirik saja tidak.”


“Mungkin karena ada aku.”


“Memangnya kenapa dengan kamu? Apa kalian saling kenal?”


Deg...


“Salah lagi.” Batin Dita.


“Bukan begitu. Mungkin saja dia tidak ingin terkesan sok dekat karena ada anak baru yaitu aku. Mungkin juga dia takut jatuh ke dalam pesonaku yang paripurna ini.” Dita mengibas anak rambutnya yang hanya beberapa helai itu.


Setelah jam kerjanya selesai, Irma langsung mengajak Dita ke rumah kosnya. Di sana, Ibu kos yang bernama Silvia itu sudah menunggu untuk menunjukkan kamar untuk calon penghuni baru.


“Selamat sore, ini pasti Dita ya?”


“Iya, Mbak. Ah untung saya tidak salah panggil tadi. Saya pikir pemiliknya ibu-ibu tua ternyata pemiliknya Mbak-mbak seksi.” Goda Dita.


Irma hampir tidak percaya pada teman kerja barunya itu. “Ternyata dia pandai menjilat juga.” Batinnya melirik sinis ke arah Dita yang seakan tidak peduli dengan lirikannya.

__ADS_1


“Terima kasih lho kamu sudah bilang saya seksi. Kamu juga cantik pasti umurmu sama kayak Irma ya?”


“Iya, Mbak. Anggap saja begitu. Kalau tua tidak mungkin saya diterima kerja di hotel kan?”


“Ayo, saya tunjukkan kamarmu.”


Mbak Silvia mendahului mereka berjalan di depan. “Kamu pintar juga menjilat.” Bisik Irma membuat Dita tersenyum penuh arti padanya.


“Ini kamar kamu, bagaimana?” mereka masuk lalu melihat-lihat. Hanya muat tempat tidur single, lemari kecil satu buah meja kecil dan kamar mandi. Cukup rapi dan bersih untuk ukuran anak kos.


“Bagus, bersih dan rapi. Untuk harga, Irma pasti sudah memberitahumu kan?”


“Tidak ada diskon ya, Mbak?”


“Saya harus adil. Kalau saya diskon kamu nanti Irma sama penghuni yang lain juga minta diskon.”


Dita menyerahkan sejumlah uang pada ibu kos tersebut. “Di samping kamar saya ada orang?” tanyanya saat keluar dari kamarnya.


“Ada. Mereka juga kerja di hotel yang saka dengan kalian.”


“Ini kamarnya Kak Dika dan Kak Andi.”


“Mereka berdua? Kenapa? G-gay?”


Mbak Silvia tergelak seraya memegang perutnya. “Kamu itu lucu juga ya? Kamar ini agak besar jadi muat dua tempat tidur dan kebetulan juga mereka satu tempat kerja. Mereka bukan gay, Andi punya pacar kok.” Irma mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Mbak Silvia.


“Terus kamar kamu yang mana?”


“Aku di atas. Aku suka lihat laut kalau pagi makanya aku pilih kamar atas.”


“Kenapa, kamu mau kamar atas juga?” Dita menggeleng cepat. Mana mungkin dia meminta kamar atas jika sarangnya ada di bawah.


“Tidak, Mbak. Saya tidak sanggup naik turun tangga.”


“Saya setuju tapi naik turun yang lain sanggup kan?” seloroh Mbak Silvia seraya tertawa kecil.


“Ini kuncinya dan kamu sudah bebas menempatinya. Saya pergi dulu ya!”


“Terima kasih, Mbak.”


“Sama-sama.”


Setelah kepergian Mbak Silvia, Dita berpamitan pada Irma untuk mengambil barang-barangnya. Walaupun hanya baju yang dia punya dengan jumlah yang tidak banyak tapi tetap saja dia harus mengambil pakaian sekalian berpamitan pada penjaga rumah milik Papa Toni.


“Tunggu kejutanku, Mas Dika!”


Jam sepuluh malam...


Dita turun dari taksi lalu membawa sebuah tas ranselnya langsung ke dalam kamar. Ia juga tidak menyapa Irma karena sudah malam dan badannya juga sudah lelah serta mengantuk. Dita langsung memejamkan mata begitu melihat ranjang yang sudah tersedia di kamarnya. Ia sengaja membeli ranjang baru sebelum pulang ke rumah ayahnya tadi sore jadi begitu ia sampai seperti sekarang, ia langsung bisa menikmatinya.


Keesokan harinya...


Pagi yang indah dengan matahari bersinar cerah. Suara ketukan pintu membuat Dita terkesiap. Ini pertama kalinya ia bekerja tanpa ada yang membangunkan dan sudah bisa dipastikan jika ia akan terlambat pagi ini karena telat bangun.


“Irma?” gadis itu terkesiap menyaksikan pemandangan indah pagi-pagi. Seorang pria tampan baru keluar dari kamarnya dengan rambut masih basah, baju kaos dan celana pendeknya.


“Eh, Kak. Maaf ya kalau suaraku mengganggu Kakak.”


“Kamar ini sudah ada yang isi?” tanya Dika melirik le arah pintu.


Ceklek...


Seorang gadis keluar dengan senyum terindahnya dengan penampilan rapi dan wangi.


“Aku pikir kamu belum bangun. Eh iya. Ini Kak penghuni kamar sebelah Kakak.” Ucap Irma.


“Hai!” Dita menjulurkan tangannya ke depan Dika.


Dengan sedikit perasaan tidak enak, Dika menerima uluran tangan itu. Setelah menjabat tangan Dita sekilas, Dika langsung masuk ke kamarnya lagi.


“Apa cuma perasaanku saja kalau tiap kali Kak Dika melihatmu dia terkesan menghindar dan tidak peduli?”


***


2000 aja dulu ya...jangan lupa VOTE, LIKE, KOMEN


Makasih...

__ADS_1


__ADS_2