CUT

CUT
Gempa...


__ADS_3

Abu dan Umi  terdiam seribu kata begitu mendengar semua penjelasan dari besannya. Bagai petir yang menyambar di siang hari begitulah tepatnya untuk menggambarkan suasana hati kedua orang tua tersebut. Cut sendiri berusaha untuk tidak menangis walaupun hatinya sakit. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana mengobati hati kedua orang tuanya yang ikut terluka dengan kejadian ini.


“Saya mohon dimaafkan sebesar-besarnya walaupun saya merasa tidak pantas untuk dimaafkan.”


Abu menyentuh pundak sang besan, “Ini semua cobaan untuk kita. Sabar dan ikhlaskan. Kita sebagai orang tua hanya bisa berencana tapi Allahlah yang maha mengetahui. Jangan membebani diri dengan masalah ini. Pasrahkan semua kepada Allah, karena hanya Allah yang maha mengetahui segala yang baik dan tidak terhadap anak-anak. Dan mengenai masalah perceraian, kami mengikuti saja seperti yang Cut inginkan. Dia sudah besar, setiap keputusan pasti ada risiko dan saya yakin, Cut juga sudah memikirkan matang-matang.”


Abu memeluk sekilas besannya dengan hati yang lapang. Mereka berdua hanya orang tua yang sedang menerima ujian untuk menyempurnakan kesabarannya sebagai orang tua. Malam kian larut, bapak Fahri menyandarkan kepalanya di jok mobil dengan mata menerawang keluar jendela. Beliau merasa kesedihan yang amat sangat apalagi saat mencium cucunya sebelum meninggalkan kediaman Abu.


“Maafin Adi, Pak.”


“Apa kamu juga melakukan kesalahan besar? Kalau iya, katakanlah sekarang supaya Bapak dan Ibu bisa memikirkan solusinya secara bersamaan.”


“Adi tidak melakukan kesalahan seperti Fais, Pak. Adi dan Julie hanya tidak menuruti keinginan Bapak untuk menikah. Adi minta maaf untuk itu.”


“Bapak tidak akan memaksa kalian lagi untuk menikah. Menikahlah jika kalian ingin dan jadikan permasalahan Faisal sebagai pembelajaran berharga untuk kalian nanti.”


“Langit malam ini seperti ada yang aneh. Suasananya juga terasa berbeda. Kenapa ya, Pak?”


Pak Fahri menatap ke luar jendela lalu berkata, “Wallah hua’lam”


Mobil terus melaju memecahkan keheningan malam sampai mereka tiba di depan rumah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan setelah kejadian tadi. Ibu Murni memilih tidur di kamar Julie karena marah pada sang suami yang telah mengusir Faisal. Mereka sudah leleh berdebat. “Bapak mau sesuatu? Biar Adi buatkan.”


“Tidak usah, Bapak mau istirahat saja.”


Kedua laki-laki berbeda usia tersebut akhirnya memilih untuk menenangkan diri di kamar masing-masing.


***


 


Azan subuh berkumandang membangunkan setiap insan yang masih terlelap. Adi yang sejak tadi malam merasa khawatir melihat ayahnya langsung bangun lalu pergi ke kamar sang ayah. “Kamu mau ke mana bangun sepagi ini?”


Pak Fahri langsung menyodorkan pertanyaan saat ia membuka pintu, sang anak sudah berhenti di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


“Bapak mau ke masjid? Aku ikut ya?” bukannya menjawab, Bang Adi malah bertanya balik. Dan pertanyaan tersebut berhasil membuat Pak Fahri terkejut namun berusaha ia tutupi.


“Ayo!”


Bang Adi mengikuti sang ayah layaknya anak bebek mengikuti induknya. Perbuatan Bang Adi tidak luput dari perhatian Kak Julie. Sudut bibir Kak Julie tertarik kecil saat melihat hal yang selama ini hampir mustahil terjadi pada adik keduanya.


“Pak, subuh ini terasa aneh ya?” ucap Adi pada sang ayah ketika mereka pulang dari masjid.


“Aneh bagaimana? Kamu saja yang jarang bangun subuh.”


“Si Bapak, lihat saja burung-burung banyak sekali di langit.”


“Mereka bangun pagi untuk mengejar rezeki bukan seperti kamu asik tidur saja apalagi kalau hari minggu.”


“Pak, kita minum kopi di warung depan mau gak? Nasi gurih di sana juga enak. Sesekali kita sarapan di luar gitu untuk meringankan tugas pembantu.”


Pak Fahri berhenti lalu menatap sang putra yang sudah lama tidak pernah sedekat ini dengannya. “Kamu sehat?”


Ditanya seperti itu membuat Adi menghela nafasnya dengan kasar, “Orang sakit tidak bisa ke masjid, Bapak Fahri yang terhormat.”


Keduanya menikmati kopi dan nasi gurih di depan masjid dengan santai. Pak Fahri hampir tidak pernah menyambangi warung tersebut sebelumnya karena ia selalu mengutamakan sarapan dengan keluarga. Apalagi semenjak ada Iskandar, Bapak Fahri selalu ingin bersama cucunya tersebut.


Namun, Bang Adi seperti menemukan cara yang tepat untuk meringankan beban sang ayah. Pak Fahri seperti lupa dengan masalah tatkala bertemu teman-teman satu komplek.


Sambil makan, mereka berbicara banyak hal dan sesekali candaan demi candaan terlontar dari mulut bapak-bapak yang lain. Bang Adi hanya merasa bahagia melihat ayahnya tersenyum bahkan sampai tertawa mendengar candaan-candaan tersebut.


Waktu di hari libur memang terasa cepat berlalu. Tidak terasa hampir dua jam mereka duduk di warung kopi tersebut. Bang Adi yang biasanya pergi ke tempat fitnes setiap pagi minggu kini malah lupa dengan jadwal tersebut. Ia memilih membahagiakan sang ayah walau hanya dengan menemaninya minum kopi.


Sebuah guncangan maha dahsyat dari perut bumi tiba-tiba menjatuhkan berbagai isi dalam warung hingga atap bagian depan ikut roboh oleh guncangan yang maha dahsyat tersebut. Para pengghuni warung panik lalu berlarian ke luar mengghindari beberapa barang yang sudah berserakan di lantai.


“Allahuakbar, astagrfirullah,subhanallah,”


Takbir dan tahmid terucapa tanpa henti di setiap mulut warga yang ketakutan bahkan ada yang sampai menangis saat mereka merasakan bagaimana kuatnya gempa yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

__ADS_1


Bang Adi menarik tangan bapaknya lalu mencari tempat aman di pinggir jalan. Para pengendara ikut panik lalu beberapa warung di sekitar sana juga ikut roboh. Dalam beberapa detik, gempa dahsyat itu berhasil merobohkan banyak bangunan dan membuat para warga panik. Bang Adi menyerahkan uang sebesar 30 ribu kepada pemilik warung. Ia bahkan tidak mengambil uang kembalian karena si pemilik warung itu sendiri masih kaget dengan gempa dadakan itu.


“Bapak baik-baik saja? Ada luka?"


“Baik, Bapak baik. Ayo kita pulang!”


“Gempanya besar sekali tadi.”


Beberapa rumah di sepanjang komplek ada yang roboh walaupun tidak semuanya. Para warga masih berhamburan di depan rumah termasuk keluarga Pak Fahri.


“Bapak dari mana? Kami ketakutan mikirin Bapak. Pergi salat tapi gak pulang-pulang,” Kak Julie mengomel sementara sang ibu hanya duduk dengan raut wajah ketakutan serta kegelisahan memikirkan sang putra bungsu. Melihat sang istri, Pak Fahri ikut duduk di samping Ibu Murni walau tidak bicara sedikitpun.


“Kayaknya udah berenti, Pak. Apa kita masuk saja?” tanya Julie.


“Tunggu sebentar lagi!” jawab Pak Fahri singkat.


“Apa Fais baik-baik saja?” pertanyaan tersebut keluar dari mulut Ibu Murni sambil menahan tangis.


“Selepas ini kita coba hubungi Fais.”


Jawaban Bapak Fahri seketika membuat Ibu Murni mendongak menatap suaminya. Ia tersenyum lega karena sang suami seperti sudah memaafkan putra bungsunya.


“Air laut naik…..”


“Air laut naik….”


“Air laut naik….”


***


Makasih buat yang masih setia bersama CUT...


mampir ke karya baru aku ya... DENDAM SI PETUGAS PAJAK

__ADS_1


beri dukungan kalian dengan favoritkan, like dan komen...terima kasih...😊


__ADS_2