CUT

CUT
Kemenyan...


__ADS_3

Tok…tok…


“Permisi,”


Ceklek


“Cari siapa?” Doni memperhatikan gadis di atas kursi roda di depannya dengan saksama.


“Maaf, cari siapa?” pertanyaan Wulan membuyarkan lamunan Doni.


“Maaf, Mbak. Saya mau ketemu Tante Cut. Apa beliau ada? Saya, Doni temannya Anugrah. Tadi saya ke rumah sana tapi kata mereka, Tante Cut sudah pindah kemari.”


“Orang yang kamu cari sudah pergi sama Bibik ke pasar. Kalau mau tunggu silakan.” Ketus Wulan.


“Em, maaf. Apa kamu punya nomer ponsel Anugrah?”


“Tidak. Kamu bilang teman tapi tidak punya nomer ponselnya. Apa kamu sedang berbohong? Atau jangan-jangan kamu ini mau menipu ya?” Wulan menatap Doni penuh curiga.


“Eh, aku bukan mau menipumu. Aku ke sini mau mengantar ini saja.” Doni menyerahkan selembar kertas tebal terbungkus plastik kaca dengan ikatan pita berwarna emas.


“Tolong kasih ini pada Tante Cut. Aku permisi dulu ya. Tutup pintu baik-baik. Eh, kamu siapa?”


“Tidak perlu tahu.”


Bum…


Wulan menutup pintu lalu menguncinya. Ia membuka undangan yang menurutnya cantik itu.


“Doni Suhendra dan Tiara Andini”


Wulan meninggalkan undangan tersebut di meja makan. Ia kembali ke kamarnya sampai Cut bersama si bibik pulang dari pasar.


“Nak, ini undangan siapa yang kasih?” tanya Cut yang sudah berdiri di depan pintu kamar Wulan.


“Namanya Doni katanya teman SMA anakmu.”


Cut pergi meninggalkan Wulan begitu saja. Dia sudah tahu siapa yang memberikan undangannya tapi nama mempelai wanita membuat Cut sedikit terganggu. Lantas ia kembali ke dapur bersama si bibik. Jam makan siang pun tiba. Seperti biasa, sebelum pulang Anugrah akan membeli berbagai makanan ringan dan minuman kemasan lalu meletakkannya di dalam kulkas.


Cut tidak lagi melarang mereka memakan mie instan setelah Anugrah dan Iskandar dewasa. Cut juga tidak aneh lagi mendapati berbagai camilan dan minuman soda di dalam kulkas. Ia bukan tipikal emak-emak bawel pada anak-anaknya.


Sepasang mata melihat isi kantung belajaan yang ditenteng oleh Anugrah melalui jendela kamarnya. Wulan seketika kaget karena baru menyadari jika camilan dan minuman yang selama ini ia curi tengah malam adalah milik Anugrah.


“Apa selama ini dia tahu aku mengambil makanannya?” gumam Wulan.


Anugrah langsung menuju dapur setelah memasuki rumah. Dia menyusun semua camilan dan minuman di tempat biasanya. Dari celah pintu, Wulan sedang mengintip kegiatan Anugrah diam-diam. Ia ingin memastikan apa benar jika semua camilan yang selama ini ia makan adalah milik pria yang paling ia benci.


“Den, makin hari jajannya makin banyak tapi badan Aden masih gini-gini aja.” Ucap si Bibik yang baru datang.


Anugrah tersenyum kecil, “Karena makanan ini bukan untuk menambah berat badan, Bik. Tapi untuk menjaga hati supaya tetap senang dan otak tetap waras.” Jawab Anugrah. Sementara Wulan yang berada di balik pintu merasa tersindir dengan ucapan pria itu.


“Eh, Den. Tadi ada undangan. Kayaknya yang terima istri Aden,”


“Undangan apa, Bik?”


“Undangan pernikahan. Kalau tidak salah Bibik lihat tadi dari Doni Su-su.”


“Suhendra?”


“Nah, iya Den. Doni Suhendra.” Jawab Bibik.


“Undangannya mana, Bik?”


“Sama Ibu, Den.”


Anugrah menutup kulkas lalu menaiki tangga mencari sang ibu.


“Ma,” Cut sedang melaksanakan salat ashar. Anugrah memasuki kamar ibunya lalu mengambil undangan yang terletak di atas meja. Ia membuka undangan tersebut dengan pikiran galau. Hatinya mendadak sakit apalagi di sana ada foto mereka berdua dalam pose yang romantis menurut Anugrah.


“Apa mereka yang akan menikah, Nak?” Anugrah mengangguk pelan seraya menunduk. Cut mendekati anaknya lalu memeluknya penuh sayang. Putranya pasti merasa sakit menerima kenyataan ini. Sahabatnya menikahi pacarnya.


“Acaranya hari minggu ini. Kalau kamu tidak mau datang, tidak apa-apa.” ucap Cut.


“Aku sudah bilang, Ma. Aku sendiri yang meminta Doni untuk mengirimkan undangan jika mereka menikah.”

__ADS_1


“Kamu sudah tahu?” Anugrah mengangguk pelan.


“Ya sudah, kita akan pergi bersama. Bagaimanapun, Doni adalah sahabatmu dan Mama juga sudah menganggapnya anak. Kita akan pergi bersama termasuk Wulan.”


“Mama akan mengajaknya?”


“Iya. Sesekali biar dia tidak bosan.”


“Lalu kalau ada yang tanya dia siapa, Mama mau bilang apa?”


“Mama bilang saja menantu. Kenapa?”


“Tidak,”


Hanya tinggal beberapa hari lagi menuju pernikahan Tiara. Shinta dan Toni sudah kembali ke Surabaya untuk menyiapkan acara pernikahan putri mereka. Sementara di Aceh, Kak Julie sedang mengamuk besar karena sepeninggalan Dita, Ibunya syok hingga harus masuk rumah sakit dan harus mendapat perawatn intensif di ruang ICU.


“Semua ini gara-gara anak perempuan itu. Tidak bosan-bosannya dia menghantui keluarga kita.” Keluh Kak Julie pada Bang Adi. Saat ini mereka sedang menjaga ibunya di rumah sakit. Sementara Bapak Fahri berada di rumah bersama keluar Mak Cek Siti.


“Apa kita hubungi Iskandar?”


“Entahlah, aku tidak bisa berpikir.”


Bang Adi menghubungi Iskandar yang sudah tidur karena besok dia harus menghadiri sidang skripsi yang di dalam daftar mahasiswa sidang juga tertera nama Aisyah.


“Assalamualaikum,” ucap Iskandar dengan suara seraknya.


“Walaikumsalam, Is. Ini Om. Maaf kalau menggangumu tidur. Om hanya ingin mengabarkan jika nenekmu masuk rumah sakit dan dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekarang nenek sudah di ICU.”


Iskandar langsung bangun dari duduknya, “Besok Is pulang, Om.”


Setelah mengakhiri panggilannya, Iskandar langsung menghubungi sang papa untuk menyampaikan berita tersebut. Dan yang lebih mengagetkan Iskandar adalah besok hari pernikahan Tiara dan Doni.


“Apa Anugrah akan datang, Pa?” tanya Iskandar.


“Kami berencana hadir. Toh, kita semua mengenal Doni dengan baik untuk apa dipermasalahkan. Memang sudah takdirnya Tiara berjodoh dengan Doni. Tapi bagaimana ini ya? Apa kamu sudah memesan tiket?”


“Aku saja dulu yang pulang ya, Pa. Nenek pasti ingin ketemu aku.”


“Iya, nanti kabari kami kalau ada apa-apa.”


“Besok saya harus berangkat ke Aceh. Nenek saya masuk ICU. Semoga sidangmu berjalan lancar. Jangan lupa berdoa.”


Keesokan paginya, Iskandar sudah berada di bandra. Dia juga sudah menghubungi pihak kampus untuk meminta izin. Semua terjadi begitu cepat sampai dia hanya bisa mengirim pesan pada sang adik saat hendak menaiki pesawat.


“Kamu harus ikhlas. Semua sudah Allah atur. Tersenyumlah pada mereka dan sampaikan maafku dan salamku pada Doni!”


“Insya Allah. Kabari kami kalau sudah sampai.”


Suasana di acara pernikahan Doni dan Tiara sangat meriah. Tapi di salah satu ruang, Tiara yang sedang dikunjungi oleh teman-teman SMAnya mulai merasa sedih lantaran mendengar banyak hal yang selama ini tidak ia ketahui.


“Jadi suamimu satu kantor dengan Anugrah?”


“Iya. Aku juga kaget saat tahu kondisi Anugrah dari suamiku. Kebetulan, dia yang menerima surat pemindahan tugas Anugrah. Dia pasti baca lah isi surat dan seluruh berkas-berkas penunjang kepindahannya termasuk laporan rumah sakit.”


“Apa separah itu?” tanya yang lain.


“Ya parahlah. Kalau sudah dipindahkan dari lapangan ke kantor itu artinya ada yang sudah berubah dari badan dia. Dan suamiku bilang kemungkinan beberapa tulangnya tidak bisa kembali seperti dulu.”


“Tapi dia masih normal kan? Maksudku tidak cacat atau pincang?”


“Dia masih seperti biasa cuma tidak bisa ikut latihan tempur lagi. Kalian ngerti kan gimana beratnya latihan mereka di lapangan? Nah, Anugrah tidak bisa seperti itu lagi. Tapi dia masih sangggup untuk berjalan, lari atau sekedar olahraga ringan.”


“Apa kamu mengundangnya, Ra?” tanya salah satu dari mereka pada Tiara yang sejak tadi hanya dia saja.


“Doni mengundangnya.”


“Yang sabar ya, Ra. Kalian kan bukan berpisah karena saling menyakiti tapi takdir yang memutuskan. Kalian hanya manusia, bisa apa selain menerima dengan lapang dada.”


“Ra, jawab jujur! Apa kamu masih mencintainya?” Tiara menatap teman-temannya.


“Dia selalu punya tempat tersendiri di hatiku dan Doni tahu itu. Doni sendiri sudah mengatakan saat pertama kali mengajakku pacaran. Dia tidak akan memintaku melupakan Anugrah. Karena kalau dia jadi aku, dia juga tidak akan  bisa melakukannya. Apalagi alasan kami putus karena beda keyakinan bukan kerena yang lain.”


“Salut sama Doni. Dari dulu dia selalu bijaksana walaupun agak cupu.”

__ADS_1


“Eits, Doni yang sekarang sudah berubah, Gaiesss. Gantengnya dan berduit.”


“Ini pasti karena Tiara.”


“Salah satunya. Mana mungkin dia begitu terus padahal uang ada di tangan. Sudah pasti berproses lah. Kita-kita juga gitu kan?”


Mereka langsung berhenti saat seorang petugas WE meminta Tiara untuk bersiap-siap menuju Altar bersama sang ayah. Acara pemberkatan dan resepsi diadakan di satu tempat untuk menghemat tenaga.


Sementara di rumah, Cut sedang membujuk Wulan supaya mau ikut untuk membeli pakaian. Cut baru sadar jika Wulan tidak memiliki gaun pesta.


“Aku tidak mau ikut ke pesta jadi berhenti mengajakku.”


“Ayolah, Nak. Sesekali kita perlu melihat suasana luar supaya tidak bosan.”


“Aku tidak mau! Pergi sana jangan bicara lagi padaku.”


“Bibikkkk, apa kamu sudah beli kemenyan? Ingat malam ini harus ada kemenyan di kamar Mama sama di dekat tangga.” Teriak Rendra di depan kamar Wulan.


“Bunganya bagaimana, Pak?”


“Seperti biasa, bunga melati sama mawar merah dan kamboja. Yang penting kemenyan aja dulu. Bunga juga harus yang segar. Kamu belum lupa kan kejadian tahun lalu karena kamu salah beli bunga dan tidak menaruh kemenyan di dekat tangga?”


“Baik, Pak. Tapi, Pak. Setelah membakar kemenyan, saya langsung pergi ya! Bapak sama ibu akan pergi, saya tidak mau di rumah sendirian.”


“Iya, kamu nginap di hotel saja nanti saya kasih uangnya.”


“Di hotel juga saya tidak berani, Pak. Saya nginap di rumah teman saya saja. Majikan dia juga sudah tahu tentang rumah ini. Jadi selalu menerima kalau saya tidur di sana.”


“Em, baiklah. Terserah kamu. Beli terus sekarang sekalian dengan kami. Satu lagi, anak-anak jangan sampai tahu.”


“Baik, Pak.”


Tok…tok…


“Ma, jadi cari baju? Ayo, pergi sekarang sekalian sama Bibik.”


“Iya, Pa.”


“Nak, kamu mau ikut?” tanpa menjawab, Wulan langsung mendorong kursi rodanya ke luar kamar.


Di belakang Wulan, Cut tersenyum manis pada sang suami. Rendra mencium gemas pipi sang istri di belakang Wulan lalu menarik pinggang sang istri mesra menyusul Wulan yang sudah lebih dulu sampai ke teras depan.


Anugrah sudah menunggu di depan mobil. Mereka bersitatap sekilas lalu kembali membuang muka masing-masing.


“Buk, tunggu saya.” Panik si bibik dari belakang.


Setelah mengunci pintu, para wanita duduk di belakang. “Sudah ada kabar dari kakakmu?” tanya Rendra.


“Belum, Pa. Kalau sudah sampai pasti dihubungi. Semoga nenek baik-baik saja ya?” ucap Anugrah.


“Amin. Kenapa, kamu merindukan mereka?”


“Iya. Walaupun mereka bukan kakek nenekku tapi aku sayang sama mereka.”


“Doakan saja semoga beliau kembali sehat.”


“Apa aku boleh menyusul kakak?”


“Sepertinya susah untuk mendapat izin. Lebih baik kamu di sini saja. Papa belum bisa melepas kamu jauh-jauh. Kondisimu belum cukup pulih.” Jelas Rendra.


“Bik, beli bunga di pasar apa?”


“Bunga? Bunga apa, Bik?” tanya Anugrah penasaran.


“Bungan kembang buat Bibik mandi, ya kan Bik?” ucap Rendra yang disetujui oleh bibik. Sementara Wulan terus saja berpikir yang aneh-aneh tentang keluarga itu.


“Dasar, sudah jaman modern masih percaya tahayul.”


***


Up jam 03.09 dini hari.... WOW...


 

__ADS_1


 


__ADS_2