CUT

CUT
Perubahan Anugrah...


__ADS_3

Hari menjelang magrib, suasana rumah sudah kembali seperti semula. Wulan duduk di kursi rodanya setelah dibantu oleh Bibik. Ia diajak ke ruang tengah di mana ada Nenek dan Kakek di sana. Rendra dan Cut sudah pergi berbelanja untuk esok hari. Sementara Kak Julie sibuk dengan laptop dan ponselnya. Untuk Anugrah, tidak ada yang tahu keberadaanya saat ini. Bibik sudah mencarinya ke kamar dan sayangnya kamar tersebut terkunci lalu Rendra juga memeriksa CCTV dan terlihat jika Anugrah sudah keluar sesaat sebelum mereka tiba di rumah.


“Nak, kamu masih muda dan cantik. Kamu harus semangat untuk sembuh ya!” Ibu murni berkata lembut pada Wulan.


Kemudian beliau menceritakan bagaimana beliau begitu bersemangat untuk sembuh saat mendengar Iskandar akan mengajaknya untuk melamar seorang gadis. “Kamu juga harus bersemangat seperti itu supaya kamu cepat sembuh. Cari sesuatu yang membuatmu termotivasi dengan begitu semangatmu pasti akan bangkit dan secara alamiah akan mensugesti saraf-saraf dalam tubuhmu.”


“Nenek tahu banyak. Nenek dokter ya?” Ibu Murni mengangguk pelan lalu tersenyum. “Nenek dulu dokter anak.”


“Nenek turut bersedih mendengar kisah hidupmu. Kisah hidup kita ternyata sama. Nenek kehilangan ayah Iskandar dalam peristiwa stunami. Kamu pasti sudah tahu kan?” Wulan kembali mengangguk.


“Tapi, bukan itu yang membuat Nenek sedih sampai sekarang. Nenek menyesal, seandainya malam itu kami tidak mengusirnya maka sampai saat ini kami masih bersamanya. Tapi yang namanya penyesalan selalu datang terlambat kan?” Wulan tersenyum getir.


“Bagaimana hubunganmu dengan almarhum ibumu? Ibumu pasti wanita hebat karena telah merawatmu dengan baik. Terlihat sekali kalau kamu memang anak yang baik dan beradab. Apa ada yang masih mengganjal di hatimu tentang beliau?” Wulan menatap wanita tua di depannya ini. Baru kali ini ia mau berbicara tentang ibunya pada orang lain.


“Ibu itu segalanya untuk aku, Nek. Kami hanya hidup berdua, kemana-mana selalu berdua sampai tidurpun berdua. Nenek bisa bayangkan betapa dekatnya kami?” Ibu Murni mengangguk.


“Malam itu, aku hendak kembali ke rumah sakit setelah pulang untuk mandi dan membereskan pakaian kotor. Ternyata malam itu kondisi Ibu sempat drop dan perawat langsung menghubungiku. Karena panik dan gelisah, malam itu aku melajukan motor cukup kencang karena aku takut tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali. Dokter sudah mengatakan jika kondisi Ibu tidak berjalan baik. Aku diminta untuk siap dengan segala kemungkinan bahkan yang terburuk sekalipun. Dokter tidak mau memberikan harapan palsu padaku. Maka dari itu, aku sangat takut jika tidak bisa melihat kepergiannya dan ternyata ketakutanku benar. Aku kecelakaan dan tidak bisa melihat saat-saat terakhirnya.” Luruh sudah air mata Wulan, Bibik juga ikut merasa sedih mendengarnya.


“Yang sabar!” ucap Ibu Murni seraya mengusap lembut punggung Wulan.


“Nenek tahu pasti tidak akan mudah untukmu. Sampai detik ini, Nenek juga tidak bisa menghapus penyesalan dan kesedihan dari diri Nenek. Bahkan tiap malam, Nenek berdoa supaya Allah mempertemukan Nenek dengan putra Nenek tapi tidak sekalipun Nenek berjumpa dengannya. Nenek sangat merindukannya, Nak. Andai waktu bisa terulang Nenek dan kamu pasti memiliki keinginan yang sama kan?” Wulan mengangguk seraya terisak. Ia menggengam erat tangan wanita tua itu. Mereka saling mencurahkan kesedihan hatinya. Dua wanita dengan usia berbeda tapi memiliki kesedihan yang sama. Sama-sama ditinggal oleh orang tersayang.


Kak Julie yang tadinya sibuk dengan ponsel dan laptop akhirnya meninggalkan barang-barang tersebut lalu memeluk sang ibu.


“Sudah, Buk. Ikhlaskan Fais, Buk. Biarkan dia tenang di sana.” Suasana tampak hening, hanya isakan yang terdengar dari kedua wanita berbeda usia itu. Ibu Murni menghapus air matanya lalu berkata, “Tapi sekarang kamu sudah menjadi seorang putri di rumah ini. Ibu mertuamu juga wanita yang baik. Kamu pasti sudah tahu jika ibu mertuamu pernah menjadi menantu kami. Nenek sangat menyayanginya saat menjadi menantu dikeluarga kami. Hanya karena sebuah kesalahan dari putra nenek maka ibu mertuamu memilih pergi. Belajarlah darinya tentang pernikahan. Ibu mertuamu sudah melalui banyak hal dalam hidupnya termasuk pengkhianatan dari suaminya terdahulu yang tak lain adalah putra Nenek sendiri.” Ibu Murni tersenyum.


“Kamu sangat beruntung karena dinikahi Anugrah. Anak itu pasti mengikuti ayahnya. Sosok yang setia dan bertanggung jawab. Tidak mudah untuk papa mertuamu menikahi ibu mertuamu sampai ke titik ini. Rintangan hubungan mereka bukan berasal dari keluarga papa mertuamu saja tapi dari konflik di daerah kami. Berapa banyak luka dan bahaya yan dilalui oleh papa mertuamu untuk bisa menikah dengan ibu mertuamu. Kamu tidak akan sanggup menghadapinya jika jadi mereka. Tapi begitulah perjuangan. Bahkan, walaupun ibu mertuamu sudah janda, papa mertuamu masih menyayanginya.”


“Anugrah baik padamu?” Wulan mengangguk. Dia tidak mungkin berbohong pada wanita tua di depannya ini.


"Baguslah. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai akhir hayat.”


Tidak ada kata amin yang terucap dari bibir Wulan. Dia tidak pernah berpikir untuk melanjutkan pernikahan ini sampai akhir hayatnya.


Sementara di tempat lain, para sahabat till jannah sedang berkumpul menunggu azan di pelataran masjid.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kenapa adikku begitu ingin menikah denganmu. Ini sangat aneh.” Keluh Ari di hadapan teman-temannya.


“Lalu kenapa ibumu menjodohkannya terlalu cepat? Apa kamu tidak mencegahnya?” tanya Dwi.


“Aku harus apa? Mamaku dan Mama dokter itu sudah berjanji sejak lama dan akhirnya mereka memilih sekarang waktu yang tepat untuk merealisasikan keinginan keduanya karena menurut Mamaku. Orang tua dari Dokter itu sudah pingin punya mantu tapi si dokter malah asik ngurus pasien. Dan si dokter itu juga berencana ikut organisasi amal dengan ikatan dokter international yang akan bertugas di daerah Ukraina. Dokter itu tidak bisa berangkat jika statusnya sudah menikah. Karena prosedurnya harus dokter lajang untuk menimalisir keadaan yang tidak menentu di sana. tahu sendiri keadaan kedua negara bagaimana.” Ujar Ari panjang lebar.


“Tidak etis kalau harus memaksa mereka menikah hanya karena alasan itu. Kita sebagai pria yang mengerti agama seharusnya tidak mendukung itu. Bagaimana kalau Anggia ternyata tidak bahagia dengan pria itu? Aku tidak tega melihatnya menikah dengan pria yang tidak ia cintai.” Ucap Reski.


“Lalu kamu mau adikku menikah dengan Iskandar? Apa kabar Aisyah?” protes Ari.


“Kan bisa poligami.” Celutuk Reski kembali membuat ketiga sahabatnya melotot.


“T-tidak. Aku tidak mampu. Jangan ngawur kalian!”


“Ya Allah, kasihan sekali kisah cinta Anggia. Gadis bercadar itu harus menjadi istri dari pria dewasa yang pantas dipanggil Om.” Keluh Dwi.


“Lalu maksudnya dia mengirimiku pesan begini apa?” tanya Iskandar memperlihatkan isi pesan yang Anggi kirimkan.


Ari mengacak-ngacak rambutnya, ia kesal dengan tingkah adiknya yang seperti itu. “Mamaku yang akan menjelaskannya nanti!” Diskusi mereka terhenti begitu azan magrib berkumandang.


Melihat Anugrah turun dari mobil, Wulan hanya bisa menatapnya dari jendela. Tangannya ingin mendorong kursi roda keluar kamar tapi ego menahannya. Semua kata-kata Anugrah masih terngiang jelas di pikirannya. Penampilan Anugrah sangat berantakan seperti orang habis berolahraga. Kancing baju kemejanya sudah terbuka dan menampakkan baju dalamnya. Dari cahaya lampu, keringat di tubuhnya  terlihat mengkilap, rambutnya acak-acakan dan langkahnya begitu gontai seperti orang kehilangan semangat.


“Apa yang terjadi padanya?” gumam Wulan.


Anugrah memasuki rumah dan langsung pergi ke kamarnya. Sementara Wulan hanya bisa mengintip dari balik pintu. Wulan masih menunggu kedatangan Anugrah ke dapur tapi sayanganya nihil. Anugrah langsung tertidur di kamarnya dalam keadaan penuh keringat.


“Kenapa aku menunggunya?”


“Untuk apa aku penasaran dengan keadaannya?”


Wulan menggerutu lalu kembali ke sisi ranjang. “Kali ini jangan sampai terjatuh. Aku harus semangat seperti kata Nenek. Aku tidak mau lagi bergantung pada orang lain.”


Wulan bisa manaiki tempat tidur walaupun terasa berat saat menarik kaki. Tapi karena dia sudah berniat untuk segera sembuh maka dari itu dia harus berusaha maksimal kali ini. Dia ingin keluar secepatnya dari rumah ini.


Keesokan harinya…

__ADS_1


Suasana rumah begitu ceria karena akan kedatangan calon cucu mantu. Ibu Murni dan Pak Fahri sudah bersiap satu jam yang lalu untuk menyambut sang mantu. Kak Julie hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat antusiasme dari orang tuanya. Hanya Wulan yang tetap diam seraya sesekali melirik ke arah lorong menuju kamar Anugrah.


“Apa dia belum bangun?” batin Wulan.


“Den Anugrah belum bangun, tadi Bibik sudah ke kamarnya dan ternyata di kunci.” Ucap si Bibik membuat Wulan gelagapan karena ketahuan.


“Dia tidak tidur sama kamu? Katanya, dia mau tidur di kamar kamu makanya Mama tidak tidur lagi di kamar kamu.”


Akhirnya ketahuan juga, Wulan melirik si Bibik kesal namun ya begitulah mulut si Bibik yang sulit di rem.


“Assalamualaikum,” ucap sepasang pemuda begitu memasuki ruangan tersebut. Iskandar langsung memperkenalkan semua anggota keluarganya termasuk Bibik dan Wulan.


“Cantik sekali cucu mantu Nenek. Cepetlah lamar dia, biar Nenek bisa ikut.” Aisyah hanya bisa menunduk malu. Ini pertama kalinya dia mengunjungi keluarga Iskandar setelah Iskandar melamarnya secara pribadi.


“Orang tuamu sudah tahu tentang hubungan kalian, Nak?” tanya sang nenek.


Aisyah melirik Iskandar, “Belum, Nek. Mama sama Papa sedang mempersiapkan lamaran kakak. Aisyah tidak berani mengatakan ini sekarang.”


“Nek, kami tidak mau buru-buru. Lagian dia juga belum wisuda. Is mau semua berjalan perlahan tapi pasti.” Jawaban tegas Iskandar membuat mereka tidak lagi bertanya tentang waktu.


“Orang tuamu masih ada?” tanya Rendra. Kali ini, aura kebakan tiba-tiba menghinggapi Rendra.


“Pa, dia bukan pemberontak. Tanyanya biasa aja.” Protes Iskandar membuat penghuni rumah tergelak.


Di saat yang sama, Anugrah yang masih menggunakan pakaian semalam terlihat keluar dengan santainya menuju dapur. Semua penghuni rumah menatap heran pada tingkahnya. Wulan yang sedang ditatap oleh Iskandar seakan mengerti lalu ia menggelengkan kepalanya. Hanya helaan nafas yang bisa ia lakukan melihat adiknya bertingkah di luar dugaan. Satu botol air mineral di tangan lalu Anugrah kembali ke kamarnya tanpa menyapa siapapun.


“Dia adikku, lagi ada masalah sedikit. Harap maklum ya!” Aisyah mengangguk kecil mendengar bisikan dari Iskandar.


Tidak ingin memperlihatkan masalah pada calon menantu, Cut segera mengajak Aisyah menuju meja makan. Di saat mereka menikmati makan siang, Anugrah kembali ke luar dalam keadaan rapi lalu pergi meninggalkan rumah tanpa berpamitan. Cut dan Rendra saling menatap dengan sejuta pertanyaan di benak keduanya.


“Dek, ada apa ini?”


***


LIKE, VOTE, KOMEN dan bagikan di grup baca kalian...terima kasih...

__ADS_1


JANGAN SKIP IKLAN ya!!!....


__ADS_2