CUT

CUT
Sah...


__ADS_3

“Saya terima nikah dan kawinnya Anggia Putri binti Bapak Dermawan dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat 150 gram dibayar tunai.”


“Sah!!!”


Dalam satu tarikan nafas, Teuku sudah resmi berganti status dari lajang menjadi suami bagi gadis kecil bernama Anggia Putri yang sedang dituntun menuju meja akad untuk menandatangani buku nikah mereka.


Setelah momen bertamasya berdua di pinggir pantai, Anggia sudah tidak lagi ketakutan untuk  menikah dengan pria yang sering dipanggil paman itu. Mereka menghabiskan waktu tamasya dengan bercerita banyak hal tentang keluarga, saat-saat remaja hingga saat Teuku menjalani kehidupan di luar negeri saat menempuh pendidikan kedokteran. Entah apa yang Anggia rasakan saat itu, yang jelas ia merasakan kehangatan yang menjalar dalam lubuk hatinya. Setelah tamasya, Teuku kerap kali mengirimi Anggia pesan-pesan sederhana atau sekedar bercerita tentang kejadian-kejadian lucu di rumah sakit. Anggia tanpa sadar merasa nyaman dengan semua yang terjadi antara dirinya dan juga Teuku hingga tidak menyadari jika hari-hari menjelang akad nikah sudah semakin dekat.


Orang tua Anggia memang tidak mengatakan banyak hal pada putrinya termasuk kapan akad nikah akan berlangsung dan Anggia sendiri tidak bertanya. Ia malah lebih fokus pada pesan-pesan yang Teuku kirimkan untuknya. Sampai pagi kamis itu dia dibangunkan lebih pagi dari biasanya.


“Belum subuh, Ma.” protesnya.


“Iya, Mama tahu tapi kamu mandi dulu lalu setelah salat bisa langsung dirias.”


“Dirias?” tanya Anggia. Matanya sudah terbuka sempurna.


“Iya, hari ini pernikahanmu. Masa kamu lupa?” lagi-lagi Anggia terkejut dengan mata melebar.


“Ha-hari ini? Menikah?” tanyanya tergagap.


“Iya,” niatnya ingin bertanya lebih jauh tapi tangan sang ibu sudah menyeretnya ke kamar mandi.


Segenap keluarga yang mengetahui kejadian pagi tadi hanya bisa tersenyum melihat wajah mempelai wanita yang sedikit murung. Bagaimana tidak murung jika dia tidak melakukan acara apa-apa sebelum menikah khas anak-anak muda masa kini.


Teuku menyematkan cincin pernikahan ke tangan sang istri setelah sebelumnya menyerahkan mahar. Mereka saling menyematkan cincin di jari satu sama lain lalu Anggia mencium tangan suaminya penuh takzim.


“Ada apa?” tanya Teuku setelah semua prosesi berakhir termasuk sungkeman dengan keluarga.


“Aku melewati bridal shower dengan teman-temanku.” Teuku tersenyum kecil.


“Ya sudah, nikmati saja dulu yang sudah ada. Jangan sampai foto pernikahan tidak bisa kita pajang gara-gara wajahmu ditekuk begitu.”


“Tidak ada yang tahu, aku kan pakai cadar.” Ucap Anggia lalu mereka kembali berfoto untuk dokumentasi pernikahan.


Setelah semua tamu pergi, Teuku yang sudah sah menjadi suami Anggia langsung membawa gadis itu pergi menuju salah satu kamar yang sudah direservasi. Seketika Anggia mulai resah memikirkan apa yang akan terjadi kemudian. Dia masih takut membayangkan akan melakukan malam pertama dengan pria bergelar suaminya tersebut.


Ceklek…


“Tadaaaaaa”

__ADS_1


Mata Anggia terbelalak saat pintu kamar terbuka lalu menampilkan apa yang sejak tadi membuatnya sedih. “Ini ide kamu?” tanyanya pada Teuku.


“Hem, Nikmati pesta lajangmu. Setelah itu jangan mengeluh lagi, oke!” Anggia mengangguk lalu melangkah masuk di mana teman-temannya menunggu namun langkahnya terhenti saat tangan sang suami menahan lengannya.


“Aku pergi dulu nanti Mama yang jemput kamu untuk resepsi nanti malam.”


“Kamu mau pesta lajang juga? Di mana? Sama siapa? Ada perempuan juga?” Teuku terkekeh geli.


Cup…


“Jangan kebanyakan nonton film. Aku mau pesta lajang di rumah sakit sama pasienku.” Ucap Teuku setelah mencium pipi sang istri. Entah kenapa, ia sangat gemas dengan pipi wanita bercadar itu. Setelah meninggalkan sang istri bersama teman-temannya, Teuku langsung menuju rumah sakit. Dia harus bertemu pasien rawat jalannya sebelum melakukan resepsi nanti malam. Dan begitu kakinya menginjak lobi rumah sakit, ia sudah disambut dengan ucapan selamat tapi banyak juga yang bertanya tentang kehadirannya di rumah sakit setelah mengucap ijab kabul yang hanya dibalas dengan senyum serta gurauan semata.


Sementara di dalam gedung, para keluarga masih berada di sana untuk sekedar beristirahat sambil berbincang. Cut dan Rendra sedang berbincang dengan orang tua Anggia. Sesekali ia melirik ke arah pasangan lain yang sejak tadi menyita perhatiannya. Ya, Faisal dan Ayu turut hadir di sana lalu Cut juga melihat bagaimana perhatian Faisal pada sang istri yang tengah hamil tersebut.


“Ma, jangan buat Papa cemburu.” Bisik Rendra di telinga istrinya.


Cut tersadar lalu menatap wajah suaminya seraya tersenyum. “Ayu hamil di saat usinya sudah tidak muda lagi. Itulah yang membuat Faisal begitu menjaga Ayu seperti yang kalian lihat.” Ujar Mama dari Anggia.


“Rezeki mereka yang sudah sabar dan selama ini merawat seorang anak yatim.” Sahut Rendra.


“Aku ingin memberi selamat, Apa Papa mau menemaniku?” tanya Cut pada suaminya.


“Pak Rendra cemburu pada Faisal!” bisik Mama Anggia pada suaminya setelah melihat bagaimana Rendra merangkul pinggang Cut mesra saat berjalan menghampiri Faisal dan Ayu.


“Wajar Pak Rendra cemburu, dia harus bertaruh nyawa untuk menikahi besan kita.” Balas Pak Darmawan seraya terkekeh.


Sementara di meja yang tidak jauh dari sana, dua pasang suami istri sedang duduk bersama. “Selamat ya, Kak atas kehamilannya.” Ucap Cut lembut.


“Terima kasih. Ini sungguh tidak terduga.” Jawab Ayu.


“Selamat, Bang.”


“Terima kasih, Cut, Pak Rendra.” Jawab Faisal.


“Bapak pasti senang sekali begitu tahu Kak Ayu hamil ya?”


“Iya, Cut. Kata Kak Julie, ini salah satu doa Bapak waktu umrah kemarin selain mendoakan Kak Julie supaya bertemu jodohnya dan alhamdulillah doa Bapak langsung dijabah. Kak Julie menikah dan istriku hamil.” Cerita Faisal menggebu-gebu. Raut wajah bahagianya sulit disembunyikan.


“Alhamdulillah.” Jawab Cut.

__ADS_1


“Cut, sekali lagi maafkan kesalahanku dulu padamu.” Sepertinya, rasa penyesalan Faisal terlalu dalam hingga sampai saat  ini ia masih menyimpan rasa itu ketika melihat mantan istrinya.


“Bang, aku sudah memaafkan Abang jauh-jauh hari. Kita sudah menjalani kehidupan yang baru dan lebih baik kita fokus dengan masa depan dari pada terus mengingat masa lalu. Aku sudah bahagia dengan keluargaku, Kak Shinta juga dan Abang juga harus bahagia apalagi setelah itu akan ada bayi di antara kalian. Fokus ke istri dan anak Abang saja. Iskandar dan Dita juga sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri. Lebih baik mulai saat ini, Abang fokus pada Kak Ayu dan calon bayi kalian.” Faisal mengangguk pelan. Setelah berbincang sesaat, Cut dan Rendra berpamitan pada keduanya dan juga pada besan karena mereka akan pulang untuk beristirahat di rumah sebelum acara resepsi diselenggarakan nanti malam.


Malam harinya di hotel tempat acara resepsi. Anggia dan Teuku berjalan menyusuri jalan yang sudah ditaburi bunga. Wajah keduanya terlihat bahagia walaupun wajah Anggia tertutupi oleh cadar tapi aura kebahagiannya jelas terpancar dari mata sang mempelai wanita. Sementara Teuku jangan ditanya, senyumnya mengembang sempurna apalagi ketika melewati rekan kerja yang bersorak riuh di bangku tamu.


“Kamu bahagia?” tanya Teuku pada Istrinya. Saat ini mereka tengah berdansa bersama beberapa pasangan lain. Konsep acara yang mengusung tema modern tersebut memang sengaja dibuat Teuku karena saat akad, acaranya bertemakan formal tapi untuk resepsi ia memilih tema modern dengan tamu-tamu yang lebih banyak rekan kerja, sahabat serta taman-teman Anggia.


“Terima kasih untuk bridal showernya.” Ucap Anggia.


“Asal kamu senang. Mau bulan madu ke mana?”


“Eh,” Anggia terkejut. ia belum memikirkan itu. Apalagi memikirkan malam pertama. Ia belum sanggup membayangkan.


“Harus ya?” lirihnya.


“Ya kalau kamu mau. Kalau tidak ya tidak apa-apa juga. Aku hanya tidak mau dibilang suami pelit karena tidak mengajakmu bulan madu.” Tukas Teuku yang terlihat biasa saja.


“Tapi aku pasti akan membawamu ke Aceh. Aku ingin mengajakmu ziarah ke kuburan orang tua dan Abangku. Apa kamu mau ikut?” tanya Teuku kali ini ia menatap istrinya.


Anggia mengangguk menatap suaminya. “Baiklah, kita akan pulang Aceh bersama kerabatku.”


Setelah itu mereka tidak lagi punya kesempatan untuk bicara karena sesi menerima ucapan dari tamu sudah dimulai. Satu persatu teman, sahabat, rekan kerja dan teman-teman kampus Anggia datang memberikan ucapan selamat.


“Akhirnya, kami bisa mencicipi menu pesta di pernikahanmu.” Seloroh teman-teman Anggia kompak. Mereka berfoto bersama dalam berbagai gaya.


Di saat yang sama di belahan bumi yang lain, seorang pria tengah tersenyum menlihat meriahnya acara pernikahan sepupunya melalu video yang dikirimkan oleh Iskandar. “Kamu merindukan mereka?” tanya Dokter Merlyn.


Anugrah mengangguk lalu tersenyum kecil, “Apa kamu juga merindukan mantan istrimu?” Anugrah menatap Dokter Merlyn lekat lalu tersenyum kecut. “Jawaban apa yang kamu harapkan?”


Cup…


Dokter Merlyn tiba-tiba mencium sudut bibir Anugrah hingga membuat pria itu terpaksa pendorongnya kasar. “Jangan melewati batasmu, Dokter!”


“Ck, ternyata kamu masih mencintai mantan istrimu. Kenapa kamu lari ke sini? Apa kamu terlalu pengecut untuk mengakuinya?”


***


VOTE, LIKE DAN KOMEN...

__ADS_1


Makasih...


__ADS_2