
Keesokan harinya...
Pagi ini sekitar jam 10 kami memutuskan kembali ke kampung. Beberapa warga yang baru kembali dari kecamatan mengatakan jika situasi di sana sudah aman. Beberapa jalan masih dilakukan pemeriksaan KTP Merah Putih dan jika kita memilikinya maka tidak perlu takut.
Satu hal yang sangat jarang terjadi di masa konflik. Razia dilakukan hanya untuk memeriksa KTP Merah Putih bukan untuk memeriksa SIM ataupun surat-surat kelengkapan berkendara lainnya. Kami melalui satu persatu kampung sampai akhirnya sampai di kecamatan. Mata kami terbelalak saat melihat deretan ruko yang sudah hangus terbakar.
Lafaz tasbih terus terucap di bibir kami saat melewati deretan ruko yang terbakar. Mobil yang kami tumpangi akhirnya berhenti. Lebih tepatnya dihentikan oleh aparat keamanan.
Suara mereka terdengar menakutkan di telingaku. Kami mengeluarkan KTP Merah Putih seperti yang mereka inginkan. Mereka juga memeriksa barang bawaan kami dengan kasar. Apa yang sebenarnya terjadi? Banyak tanya dalam benakku tentang semua kejadian yang terjadi kemarin tapi harus bertanya sama siapa?
Seraya memeriksa KTP mereka juga bertanya tujuan kami. Bang Yusuf selaku sopir sedikit gemetar tatkala menyebut nama kampung kami. “Kampung Sagoe.” Mata tentara itu menatap Bang Suf dengan tajam. Siapa yang tidak tahu kampungku. Kampung dengan pusatnya para pemberontak, cuak, serta salah satu wilayah hitam bagi para tentara. Mereka juga bertanya tentang tujuan kami ke daerah pesisir dan kenapa sampai menginap di sana. Setelah mendapatkan jawaban yang cukup kami diperbolehkan kembali melanjutkan perjalanan menuju kampung.
Begitu banyak pos-pos tentara yang baru dibangun di sepanjang jalan menuju kampungku. Setiap melewati pos-pos tersebut kami maupun warga lain yang melintas harus berhenti untuk diperiksa identitas serta barang bawaan setiap warga. Perjalanan kami kembali ke kampung memakan waktu lebih lama dari biasanya. Menjelang sore kami baru sampai di kampung. Sampai di kampung tidak serta merta kami bisa bernafas lega dengan pulang ke rumah lalu mandi air sumur yang menyejukkan tapi begitu sampai di pos pemeriksaan kami harus turun untuk ditanya-tanya kembali.
“Ya Rabbi, aku lelah dengan semua ini.” Batinku. Rendra tertidur dalam gendonganku tanpa terganggu sedikit pun.
__ADS_1
Hampir satu jam kami di sana, barang-barang kami juga sudah dibongkar semua oleh mereka. Tidak ada yang bisa melarang. Semua hanya bisa melihat dengan pasrah.
Jam 5 sore, kami semua sudah sampai di rumah masing-masing. Aku memandikan Rendra yang sudah bangun karena lapar dan tidak nyaman akibat kain penahan pipis sudah penuh. Aku menitipkan Rendra pada Abu yang sedang berbaring melepas lelah sambil menunggu magrib di balai depan rumah.
“Banyak tentara yang meninggal kemarin di kecamatan.” Ucap Abu saat kami sedang melepas lelah setelah makan malam.
“Abu tahu dari mana?” Tanyaku.
“Separah apa, Abu? Sampai banyak kedai yang terbakar.” Tanyaku kembali.
“Ada iring-iringan truk tentara yang melewati jalan di pasar kecamatan. Rupanya para pemberontak sudah menunggu mereka di atas bukit. Dan saat truk tersebut berada tepat sasaran, para pemberontak tersebut menembakkan bazoka serta menyerang dengan senjata dan melempar granat. Para tentara yang tidak menduga arah tembakan jadi kalang kabut dan melepaskan senjata mereka ke berbagai arah sehingga menyebabkan banyaknya korban jiwa di kecamatan. Kedai-kedai tersebut juga ikut terkena tembakan bazoka yang melesat dari target para pemberontak.”
Aku terdiam, ternyata separah itu kejadian kemarin. “Ya Rabbi, andai kemarin kami tidak dicegah untuk pulang oleh tentara di kampung Leut Man. Entah seperti apa nasib kami saat itu. “Alhamdulillah, terima kasih ya Alllah atas pertolonganmu kepada kami.” Batinku.
__ADS_1
“Untuk sekarang kita bisa sedikit tenang karena si Min bilang, setelah kejadian kemarin semakin banyak dibangun pos tentara dan di satu kampung saja sudah lebih dari lima pos dan di atas bukit juga sudah dibangun pos mereka. Termasuk di atas bukit pembantaian di kampung sebelah. Dari kemarin sampai tadi malam mereka terus melakukan pengejaran terhadap para pemberontak. Setiap rumah diperiksa dan setiap ada orang baru akan dibawa ke pos untuk dimintai keterangan. Si Min bilang, semalam banyak pesawat yang terbang di atas kampung kita. Mereka menembakkan bom ke tempat-tempat yang diduga markas para pemberontak. Di kaki bukit pembantaian setelah beberapa kali menembakkan bom dari pesawat, baru para tentara naik dan mendirikan pos di atas sana serta di kaki bukit. Menurut si Min, para pemberontak sepertinya sudah masuk hutan untuk memasuki kabupaten sebelah. Kamu tau rawa-rawa yang sangat luas dan sering diceritakan oleh orang-orang tua dulu tempatnya raja jin yang suka memberi piring-piring cantik untuk warga sekitar?”
“Paya Nie?” Jawabku. Paya adalah sebutan untuk rawa dalam bahasa Aceh. Nie sendiri adalah nama dari rawa tersebut. Konon katanya penunggu rawa tersebut bernama Nie atau sering dipanggil Nek Nie oleh para warga sekitar rawa. Menurut cerita, setiap warga yang hendak mengadakan acara pesta atau dalam bahasa Acehnya disebut khenduri. Maka dari rawa tersebut akan keluar piring-piring cantik yang sangat khas serta tidak dijual di pasar. Piring-piring tersebut diberikan begitu saja dengan syarat setelah dipakai harus dikembalikan ke rawa. Namun, setelah beberapa kali warga sekitar mendapatkan barang-barang tersebut, ada satu warga yang ternyata serakah dengan tidak mengembalikan piring tersebut ke tempat semula. Setelah itu, penunggu rawa menjadi marah dan tidak lagi memberikan piring-piring tersebut lagi kepada siapa pun.
Paya Nie sendiri sangat luas terbentang antara bukit yang satu dengan bukit yang lain. Selain kisah Nek Nie tadi, ada juga yang mengatakan jika di dalam paya Nie juga terdapat ular naga yang sangat besar namun tidak ada fakta yang jelas mengenai berita yang menyebar di masyarakat tersebut secara turun temurun.
“Paya Nie juga ikut diledakkan dari udara semalam. Si Min bilang, langit tadi malam seperti ada bintang jatuh. Belum ada warga yang berani keluar dari kampung. Para tentara di sini juga sudah mengingatkan warga kemarin untuk tidak pergi ke ladang atau keluar kampung. Jika ada hal yang mendesak maka harus membawa KTP Merah Putih.”
Aku tertegun mendengar cerita yang Abu dapatkan dari Bang Min. Aku mengingat warga yang menjadi korban di kecamatan. Sungguh naas nasib mereka. Lagi-lagi aku hanya bisa menyebut nama sang pencipta di dalam hati. Memohon keselamatan untuk diriku serta keluargaku tentunya. Dan lagi-lagi aku menjadi manusia yang serakah dengan meminta lebih. Meminta pada sang pencipta alam yang maha luas ini untuk melindungi kami semua, warga kampungku, orang-orang yang tidak bersalah, mereka hanya berada di waktu dan tempat yang salah. Namun, semua sudah memiliki jalan hidup masing-masing. Hidup mati sesungguhnya sudah ditetapkan, hanya kita saja yang tidak tahu kapan.
***
LIKE...LIKE...LIKE...
__ADS_1