
Seminggu setelah pembakaran rumah Cek Wan yang berprofesi sebagai penjual kopi di sebuah kedai yang terletak di samping jalan menuju kecamatan. Kedai kopinya termasuk laris dan banyak pelanggan. Kami juga sering duduk di sana jika mau ke kecamatan. Bisa dibilang jika kedai kopi Cek Wan adalah pangkalan untuk warga menunggu angkutan menuju kecamatan.
Beberapa warga bersepakat untuk menjenguk Cek Wan di rumah salah satu kerabatnya di kecamatan. Abu bersama Umi juga berencana ikut dan tentu saja aku dan Rendra ikut bersama mereka. Aku sudah menyiapkan semua perlengkapan Rendra dalam tas. Para warga menyewa mobil pick up yang biasa kami gunakan sebagai angkutan di hari pekan menuju kecamatan.
Angkutan tersebut hanya beroperasi di hari pekan, jika di hari lain hanya untuk mengangkut barang. Mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang karena jalannya juga tidak terlalu bagus. Aspalnya sudah berlubang dimana-mana. Menurut Abu, jalan ini sudah begini selama Abu besar. Sebagian orang kampung malah mengatakan jika jalan ini adalah peninggalan Belanda dan belum pernah diperbaharui oleh pemerintah.
Kendaraan yang kami naiki tiba-tiba berhenti. Di tempat yang sama saat aku dan kedua orang tuaku diturunkan dulu. Aku ketakutan begitu juga dengan semua warga kampung yang berada di dalam angkutan tersebut. Dua orang wanita lalu angkutan kami kembali berjalan. Tidak ada yang bicara setelah kedua wanita itu naik. Siapa mereka dan apa tujuannya? Mungkin pertanyaan tersebut terbesit di kepala setiap warga kampung termasuk aku.
Kendaraan terus melaju sampai ke kecamatan. Da Maneh, salah satu kerabat Cek Wan duduk di depan bersamaku sebagai penunjuk jalan. Aku sendiri diminta duduk di depan karena ada Rendra kecil. Mereka tidak mau Rendra terkena panas jika duduk di belakang.
Mobil melewati jalan kecamatan lalu memasuki jalanan yang kiri kanannya di penuhi oleh tambak serta dapur garam. Da Maneh mengatakan jika Leut Man, adik dari Cek Wan adalah seorang pekerja tambak dan pembuat garam.
Aku melirik kedua wanita yang tadi naik di tengah jalan. Mereka duduk seraya menatap ke depan dengan tatapan tajam. “Jangan dilihat!” Da Maneh berbisik melarangku.
“Siapa mereka? Kenapa ikut sama kita?” Aku kembali berbisik pada Da Maneh.
“Sepertinya mereka pasukan ‘Inong Balee’.” Aku menatap Da Maneh dengan tatapan menuntut penjelasan.
“Kamu belum pernah mendengar ‘inong balee’?” Aku menggelengkan kepala.
“Nanti Da ceritain, Kita mau sampai.”
__ADS_1
Mobil berhenti di sebuah rumah semi permanen. Di seberang jalan terdapat dapur garam dan tambak yang berpetak-petak. Sayup-sayup masih terdengar bunyi ombak dari lautan. Aku ingin melihat laut, seumur hidup aku belum pernah melihat laut. Rumahku jauh dari laut dan tidak ada tradisi dari keluarga kami untuk pergi ke laut. Laut di daerah kami tidak dijadikan sebagai tempat wisata melainkan hanya untuk nelayan mencari ikan dan sesekali tempat untuk mayat tidak bertuan dibuang.
“Da, Cut ingin melihat laut. Apa masih jauh?”
“Nanti kita tanya sama orang kampung dulu, kita orang luar tidak bisa pergi begitu saja.” Aku menganggukkan kepala lalu kami semua masuk ke rumah Leut Man. Kedua wanita tersebut juga ikut turun dan bergabung bersama kami. Istri Cek Wan menyambut kami bersama istri Leut Man. Ternyata selama di sini, Cek Wan ikut membantu adiknya di tambak dan dapur garam.
Hal pertama yang aku lakukan adalah meminta izin untuk ke kamar mandi. Aku harus memproses Rendra kecil. Dengan dibantu Umi, aku membawa Rendra ke kamar mandi lalu membuka pakaiannya. Terakhir aku membuka plastik segitiga yang di dalamnya terdapat lipatan handuk kecil. Aku memakaikan handuk kecil yang aku lipat menyesuaikan bentuk bagian bawahnya yang lumayan berisi. Rendra tidak buang air besar karena sebelum berangkat dia sudah melakukannya di rumah. Tapi kain lipatan itu terasa berat oleh pipis Rendra yang entah sudah berapa kali. Umi memandikan Rendra sementara aku mencuci kain yang sudah dipenuhi pipis Rendra.
Aku menjemur kain tersebut di tali jemuran berharap cepat kering dan tidak lupa untuk kubawa pulang kembali. Setelah memandikan Rendra, Umi mengganti baju dan kembali memakaikan kain lain untuk menghindari Rendra yang pipis di sembarang tempat. Aku memakaikan ini saat kami pergi jauh, tapi jika di rumah atau ke sawah aku tidak pernah memakaikannya.
Kami dijamu dengan sangat ramah. Dari kampung, warga membawa kelapa, pisang, beras, mangga dan rambutan yang memang lagi musim di kampung kami. Abu juga membawa satu karung berukuran lima belas kilo yang isinya rambutan semua. Abu juga membawa beberapa buah pepaya yang sudah masak. Semua yang kami bawa adalah hasil dari kampung kami sendiri. Para warga kampung yang perempuan termasuk Umi ikut membantu memasak di dapur. Sementara aku hanya mengurus Rendra dan duduk bersama Abu, Bang Yusuf yang membawa mobil serta kedua wanita tadi.
“Terima kasih Abu, Bang Suf dan yang lain karena sudah jauh-jauh datang kemari.” Ucap Cek Wan.
“Kita saudara, sudah sepantasnya saling menjenguk saat ada saudara yang terkena musibah.” Jawab Abu.
“Kami rindu kopi Cek Wan.” Seloroh Bang Yusuf.
Cek Wan tertawa getir. “Mungkin kedai itu akan saya jual.” Ucap Cek Wan dengan nada lesu.
__ADS_1
“Kenapa? Apa kamu tidak akan balik ke kampung?” Tanya Abu.
“Tidak, Abu. Untuk sementara saya akan tinggal di sini dulu membantu si Man. Kampung kita sudah sangat rawan, Abu.” Abu melirikku dan aku mengerti maksudnya. Kedua wanita yang tidak berbicara sedikit pun itu hanya duduk saja dari tadi.
Jika raut wajah lesu menghampiri penghuni ruang tamu maka lain halnya dengan kondisi di dapur di mana para ibu-ibu sedang memasak sambil bercerita ria seakan mereka hidup di daerah yang aman dan damai.
Tertanya misi Da Maneh kemari adalah memasak sayur ‘Plik Ue’. Hal tersebut terbongkar ketika Da Maneh mengeluarkan karung yang dia bawa. Bahan-bahan untuk membuat sayur plik ue khas Aceh yang sangat terkenal. Leut Man datang membawa satu ember kecil yang berisi ikan bandeng yang baru diambil di tambak mereka. “Kita panggang saja gimana, Da?” Tanya istri Leut Man.
“Iya, panggang saja karena sudah ada sayur ‘Plik Ue.” Jawab Da Maneh.
Leut Man menghampiri kakaknya, “Da, siapa dua wanita di depan?” Bisik Leut Man.
“Inong Balee.”
“Apa???”
***
*Inong Balee adalah panggilan untuk pasukan pemberontak perempuan. Mereka umumnya terdiri dari wanita korban konflik dan membenci aparat keamanan dikarenakan ada anggota keluarga atau suami mereka yang meninggal di tangan para tentara.
LIKE...LIKE...LIKE...
__ADS_1