
Acara pesta yang tadinya berjalan tenang kini berganti dengan ketegangan di mana Bang Adi sebagai terdakwa disuruh duduk mengahadap sang purnawirawan TNI Bapak Wicaksono bersama istrinya, Ibu Yetti. Kehebohan yang ditimbulkan Bang Adi tentu saja sampai ke telinga orang tuanya juga Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir yang sedang menyambut tamu.
“Papa, jangan dipermasalahkan. Toh, bukan satu dua laki-laki yang mengatakan suka sama anak kita kan?” Ibu Yetti berusaha mencegah sang suami untuk menimbulkan kericuhan gara-gara ulahnya yang keceplosan tadi hingga membuat sang suami ingin berhadapan langsung dengan pria tersebut yang tidak lain Bang Adi.
Kak Julie sebagai kakak tidak tega melihat adiknya di sidang dadakan hingga ia bergerak mencari orang tuanya yang kebetulan berada di dekat Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir.
“Ada apa ini, Adi?” tanya Ibu Murni yang baru datan bersama sang suami.
“Jadi ini anak laki-laki Ibu?” tanya Bapak Wicaksono. Sementara sang objek, Reni terus berlindung dibelakang saudara kembarnya. Selama ini, Reni tidak pernah berurusan dengan pria walaupun banyak yang menyukainya karena dia anak perempuan satu-satunya dan dia sudah diperingatkan jika ada pria yang mengajaknya pacaran.
Maka, ia harus membawa pria tersebut ke rumah. Karena itu juga sampai sekarang dia tidak memiliki pacar gara-gara pria yang mengajaknya pacarana selalu saja menolak untuk bertemu dengan ayahnya.
“Anak laki-laki ibu ini menyukai putri saya. Istri saya dengan jelas mendengar saat dia mengatakan kalau dia menyukai putri kami. yak an Ma?”
Ditanya begitu, Ibu Yetti hanya mengangguk kecil diiringi malu karena suaminya malah membuat suasana menjadi canggung.
“Adi, benar yang dikatakan oleh mertua Cut?”
Bang Adi menarik nafas dalam lalu menghembuskan pelan. Ia menatap kedua orang tuanya lalu menatap Bapak Wicaksono.
“Saya menyukai putri Bapak.”
Deg…
Riko, Reni, Kak Julie bahkan hingga Faris dan Intan yang menyaksikan ikut terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin seorang Bang Adi yang mereka kenal sangat tidak menyukai wanita kini malah menyukai wanita.
“Bang Adi sehat?” bisik Intan pada Faris.
“Entah. Apa karena dia melihat Kak Cut dan Bang Rendra? Jadi ingin nikah juga secara dia sudah cukup umur untuk nikah.” Celutuk Faris.
“Mungkin.” Balas Intan.
__ADS_1
Ibu Murni yang tadinya terkejut kini berjalan lalu memeluk anaknya penuh haru. “Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya pintu hati anak hamba terbuka juga. Kini dia sudah menyukai seorang gadis.”
“Kamu tidak menyukai gadis?” pertanyaan absurd dari Ibu Yetti tentu saja membuat semua mata menatap Bang Adi.
“Tidak, Buk. Anak saya normal hanya saja dia tidak mau menikah setiap kali saya minta. Saya bersyukur sekali karena ternyata dia bisa menyukai putri Ibu. Semoga kita bisa berbesanan.”
“Oh tidak begitu aturannya, Ibu. Kami punya adat dan tradisi sendiri sama seperti di sini. Jika dia menyukai putri kami dan serius ingin menikahinya. Maka, silakan datang ke alamat ini!” bapak Wicaksono memberikan selembar kartu nama pada Bang Adi.
“Bukan sambilan seperti ini.” lanjut Bapak Wicaksono kembali.
“Baik. Saya akan datang setelah Bapak kembali ke sana. Tapi sebelumnya, bolehkah saya meminta nomer telepon putri Bapak?”
Reni dan Riko kompak membulatkan mata. Mereka tidak menyangka jika Bang Adi punya nyali besar dalam menghadapi orang tuanya.
“Untuk apa? Urusan kamu sama saya.”
“Benar, tapi yang saya nikahi nanti putri Bapak. Saya tidak mau berjuang jika orang yang saya perjuangakan tidak menginginkannya.”
“Set…tajam banget lidahnya depan Papa. Apa jadinya kalau Papa punya menantu tipikal begini? Pasti sakit kepala tiap hari. Tapi yang dia bilang benar juga sih. Ngapain dia perjuangin kamu kalo ternyata kamu tidak mau.”
Reni terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut pria itu. Kenapa dia harus bertemu dengan lelaki tanpa tak bergestur seperti ini.
“Ko, apa aku pernah menyakiti hati orang di masa lalu?” lirih Reni.
“Kenapa?” tanya Riko balik tapi malah tidak dijawab oleh Reni.
Setelah pertemuan dua keluarga secara dadakan itu. Baik Bang Adi maupun Reni justru terlibat perang dingin. Bang Adi yang sudah mengantongi nomer ponsel Reni berusaha menghubunginya tapi saying, Reni tidak mau menjawabnya.
Setelah kejadian tadi, Bang Adi dan Kak Juli sudah meninggalkan pesta karena harus bekerja. Sementara kedua orang tua mereka masih di sana dan yang lebih mengejutkan adalah orang tuanya dan orang tua Reni malah terlibat pembicaraan panjang. Sementara Reni dan Riko justru terjebak dalam lingkaran Faris dan Intan.
Riko bahagia karena bisa berdekatan dengan Intan sementara Reni justru kesal karena menjadi bahan gunjingan mereka.
__ADS_1
“Malam ini saya tidak tidur di sini ya. Kamu pasti Lelah, saya tidak mau kamu kelelahan jadi lebih baik saya kembali nanti setelah makan malam.”
Cut menelan salivanya dengans susah. Pesta sudah berlalu, ia dibantu oleh penata rias sedang membuka riasan kepalanya. Sementara Rendra sudah selesai berganti baju lalu ia memilih untuk keluar menemui keluarganya yang masih berada di sana.
Rendra mendekati sang adik yang tengah duduk sendiri dengan wajah tidak bersahabat. Bibirnya tertutup rapat sedikit dimajukan ke depan. Rendra tahu betul apa yang sudah terjadi karena tadi, Intan sudah menceritakan semuanya.
“Panas-panas begini, makan es krim enak kayaknya.”
“Em…”
“Kenapa kamu marah sama Kakak? Memangnya Kakak buat salah sama padamu?”
Merasa menyesal dengan sikapnya, “Maaf, bukannya marah sama Kakak tapi marah sama keadaan.”
Rendra merangkul sang adik dalam dekapannya.
“Selesaikan dengan kepala dingin. Kalau tidak suka katakana tidak jangan beri harapan hingga dia pergi ke sana. Tolak saja sekarang dengan jelas dan lantang supaya dia mengerti.”
Tanpa terasa air mata Reni berjatuhan bagai rintik hujan yang lama kelamaan turun menjadi deras. “Cowo yang aku suka justru tidak berani menghadap Papa. Kenapa, cowo yang tidak kusuka justu berani melakukannya? Aku kesal, Kak. Aku juga ingin marah, tapi tidak tahu harus meluapkannya bagaimana? Masak iya, aku harus teriak-teriak sama Papa? Marah sama Papa karena udah buat aturan seperti ini khusus untuk aku. Kenapa sih, Kak.”
Rendra menghela nafasnya, papanya memang memasang dinding kokoh tak kasat mata untuk adik perempuanya. Ancamannya juga tidak main-main hingga membuat Reni tidak berani melanggar peraturan tersebut.
“Setiap orang tua punya cara berpikir sendiri dalam mendidik anak-anak mereka. begitu juga nanti kalau kamu sudah menjadi orang tua. Apa yang pernah kamu alami di kala muda akan kamu jadikan pelajaran hingga ketika kamu memiliki anak nanti. Tanpa kamu sadari, kamu akan melakukan hal yang sama dengan yang Papa lakukan saat ini padamu? Nantinya, anakmu juga akan protes sama seperti yang kamu lakukan. Tapi begitulah hidup.”
“…”
Reni diam tidak menjawab sampai sebuah pertanyaan membuatnya bergeming.
“Jika dia menyukaimu lalu apakah kamu juga menyukainya?”
***
__ADS_1