CUT

CUT
Wulan Sang Penyanyi...


__ADS_3

Tiara memasuki kamarnya dengan perasaan gelisah setelah melihat kakaknya sedang melakukan gerakan salat lengkap dengan mukena di atas sehelai kain bali.


“Ada apa sih, Ma? Kamu seperti habis melihat hantu saja. Sudah ajak Kak Dita makan?” Tiara terkejut lalu tersadar jika dia yang tadinya ingin mengajak kakaknya makan malah melihat fenomena lain.


“Pa,-“ Tiara memanggil suaminya.


“Ada apa?” Doni ikut gelisah melihat tingkah istrinya.


“Aku melihat Kak Dita salat.” Mata Doni seketika melebar. “Salat?” Tiara mengangguk.


“Pakai mukena?” Tiara kembali mengangguk.


“Seperti kolega kita di kantor?” Tiara kembali mengangguk. “Iya, apa jangan-jangan Kakak memang sudah pindah agama sebelum ke sini? Aku tambah khawatir ini, bagaimana kalau Mama tahu?”


“Kita tanya saja dulu sama Kak Dita sebelum Mama tahu.” Usul Doni. Mereka pun pergi menuju kamar Dita.


Tok…tok…


Kali ini, Tiara memilih mengetok pintu. Berbeda saat tadi ia memergoki Dita yang sedang salat. Saat itu, Tiara tidak teringat untuk mengetok pintu hingga terlihatlah fenomena asing di rumahnya.


“Ada apa?” tanya Dita dengan posisi menelungkup di tempat tidur.


“Kak, aku mau bicara serius.” Ucap Tiara seraya melirik suaminya.


“Apa?”


“Kakak udah pindah agama ya? Aku melihat Kakak salat tadi?” tanya Tiara dengan suara hampir menyerupai orang berbisik.


“Kalau iya kenapa? Kamu mau mengadu sama Mama?” Tiara mencebikkan bibirnya lalu duduk di dekat sang kakak.


“Kalau Kakak marah sama Mama ya sama Mama saja jangan aku dibawa-bawa. Aku kan tanya baik-baik. Kalau memang benar juga tidak apa-apa buatku. Selama ini aku dan Doni selalu mendukung Kakak, jadi berhentilah menyudutkanku. Aku ini pendukung Kakak bukan musuh Kakak.”


“Aku belajar dari apa yang selama ini aku lihat, dengar dan rasakan. Kakak Iskandar pernah mengatakan jika salat bisa meringankan beban seseorang dan membuat orang tersebut tenang. Jadi aku salat dan berdoa memohon diberikan ketenangan dan kemudahan menghadapi ujian ini.” Ucap Dita membuat Doni dan Tiara melongo.


“Sejak kapan Kakak jadi bijak begini?” sindir Tiara lalu memeluk kakaknya yang masih rebahan di tempat tidur.


“Kakak tidak berniat menelpon Kak Dika?” goda Doni.


“Kamu lagi pura-pura bodoh ya? Ponselku sudah disita bagaimana bisa menghubungi dia.”


“Ponsel kami kan tidak disita.” Ucap mereka kompak membuat Dita segera bangkit dari tidurnya lalu mengambil ponsel Tiara.


“Mas, kamu di mana?” tanya Dita panik begitu Dika menjawab panggilannya.


“Ada apa?”


“Aku mau ketemu kamu sekarang.” Tiara dan Doni panik. Ia tidak menyangka jika Kakaknya akan mengajak Dika untuk bertemu.


"Jangan temui aku lagi, Dit. Aku tidak mau kamu jadi anak durhaka.”


“Berikan lokasimu atau aku akan mencarinya sendiri!”

__ADS_1


“Jangan nekat, Dita!”


“Kamu tahu, hal terbodoh yang dilakukan Mamaku dulu? Dia tidak berani menentang orang tuanya lalu saat Mamaku diusir karena hamil, Mama malah pergi dengan tenang. Aku tidak akan mengulang kisah mereka. Aku akan membuat kisahku sendiri sama kamu. Apa kamu mau menerimaku?”


“Dita, jangan membuatku terlihat buruk di depan orang tuamu. Kita tidak bisa bertemu, sebentar lagi pesawatku akan lepas landas.”


“Apa? Kamu mau kemana, Mas? Oh aku lupa pasti cutimu sudah habis. Baiklah, kita akan bertemu di Bali. Tunggu aku!”


“Dita, aku mohon! Hiduplah dengan tenang, jangan berbuat masalah apalagi membuat Mamamu murka. Aku tidak sanggup menanggung dosamu karena menjadi anak durhaka. Aku memang ingin bersatu denganmu tapi kalau harus berseteru dengan Mamamu, aku pilih mundur.”


“Hanya segitu rasa cintamu, Mas? Kamu tidak ingin memperjuangkanku?”


“Dita, kalau aku tidak memperjuangkanmu, aku tidak akan melamarmu langsung tapi nyatanya aku ditolak. Lalu aku harus berjuang apa lagi? Andai Mamamu meminta menantu kaya mungkin aku masih bisa memberi harapan dengan berusaha sekuat tenaga supaya menjadi kaya tapi ini keyakinan. Aku tidak bisa mengadaikan keyakinanku hanya karena cinta. Aku memang mencintaimu tapi cintaku pada tuhanku adalah hal utama.”


“Mas, kamu semakin mencari alasan untuk menjauhiku. Baiklah karena kamu tidak ingin berhubungan denganku lagi maka kamu juga tidak perlu memikirkan apa pun lagi tentangku. Semua yang aku lakukan untuk hidupku ke depan tidak ada hubungannya dengan kamu. Ternyata perpisahan itu sesakit ini. Selamat tinggal, Mas!”


Tutt….


“Katakan pada Mama kalau dia telah sukses mengulang masa lalunya  lagi. Jangan lupa berikan selamat.” Dita tersenyum getir seraya menyerahkan ponsel ke tangan Tiara.


“Kak, yang sabar ya!” mendengar itu Dita hanya tersenyum sinis.


“Keluarlah! Aku ingin istirahat.” Usir Dita pada adik dan adik iparnya itu.


“Kak, apa Kakak tidak mau minta bantuan sama Kak Iskandar?” tanya Tiara sebelum beranjak dari sana.


“Ini masalahku, masalah keluargaku untuk apa dia ikut campur. Kamu mau Mama semakin mengamuk?” Tiara menggeleng cepat lalu keluar dari kamar kakaknya.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Di saat semua orang terlelap, Dita membuka matanya lalu mengambil tas ransel ukuran sedang yang sudah ia siapkan sebelumnya. Seraya mengendap-ngendap, Dita keluar dari kamar dan langsung berlari menuju pintu hingga ia berhasil keluar dari rumah Tiara. Beruntung, ia sudah mengevaluasi semuanya sebelum melakukan aksi kabur tersebut.


“Ma, aku sangat menyayangi Mama bahkan pria yang aku cintai juga rela menjauhiku demi menjaga perasaan Mama. Tapi kali ini aku tidak mau mengulang kebodohan yang sama seperti Mama di masa lalu. Pria yang kucintai menjauhiku maka aku akan mencari pria mana saja yang mendekatiku. Mama pernah bilang kalau aku adalah anak hasil hubungan satu malam kan? Maka aku akan membuat perkataan Mama itu menjadi nyata. Selamat tinggal, Ma. Terima kasih sudah melahirkan dan merawatku hingga sebesar ini. Maaf karena aku tidak bisa membalas semua yang Mama lakukan karena aku terlanjur kecewa dengan keputusan Mama tentang masa depanku.”


Shinta meremas kertas itu lalu menatap suaminya, “Kamu memberikannya uang?”


“T-tidak, kenapa kamu bertanya begitu?”


“Kalau kamu tidak memberikannya uang berarti dia masih di sini. Baiklah, kita bisa menghubungi polisi setelah 2x24 jam.” Tiara menatap sang ayah dengan tatapan berbeda. Dia sangat tahu bagaimana sifat ayahnya yang terlihat tenang tapi menyimpan banyak rencana.


“Ma, aku takut Kakak akan melakukan hal nekat.” Keluh Tiara.


“Kamu pikir masuk kelab malam bisa sembarangan?” sinis Shinta.


“Jangan meremehkan anak yang sedang kabur, Ma. Daya bertahan hidupnya lebih kuat dari gelandangan.” Ujar Toni menyadarkan Shinta jika pemikirannya tentang Dita bisa menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


Setelah semalam menginap di sebuah hotel, keesokan harinya Dita langsung pergi ke bandara. Kota tujuannya adalah Bali. Dia akan mencari tahu seberapa besar perasaan Dika untuknya. Sementara di kantornya, Papa Toni sedang tersenyum membaca pemberitahuan dari salah satu kartu kredit miliknya.


“Semoga sukses, putri kecilku!” ucapnya tersenyum lalu segera menghapus pesan-pesan tersebut.


Di saat Dita keluar dari pintu kedatangan, Iskandar dan Aisyah baru masuk dari pintu keberangkatan menuju Surabaya. Iskandar sudah menemukan cintanya dan sekarang giliran Dita yang mengejar cintanya.


“Selamat datang kembali, Bali. Semoga kali ini aku bisa bertemu denganmu, Cintaku!” ucapnya sebelum menaiki sebuah taksi yang sudah menunggu di depan bandara.

__ADS_1


Sementara itu di sebuah rumah sakit militer, Anugrah bersama lima puluh orang prajurit lainnya sedang menajalani pemeriksaan kesehatan sebelum bertugas ke luar negeri. Mereka juga akan diberikan beberapa vaksin tambahan untuk meningkatkan kekebelan tubuh saat bertugas di kamp pengungsian. Setelah dari sana, mereka akan diberikan beberapa pengarahan sesuai dengan SOP misi. Di saat mereka sedang menunggu hasil laboratorium, sebuah tayangan berita menyita perhatian Anugrah.


“Penyanyi baru yang sedang naik daun bernama Wulan berhasil menjadikan lagu pertamanya melejit hingga menggeser lagu milik penyanyi terkenal sekelas Mawar.” Anugrah memperhatikan penampilan Wulan yang begitu cantik dengan pakaian pilihannya kala itu. Wulan masih berpakaian tertutup dengan menggunakan kerudung hingga berita negatif tentangnya tidak pernah sekalipun muncul. Belum setengah tahun kemunculannya tapi pendukung Wulan sudah begitu banyak. Lahunya juga sukses besar hingga ia sering diwawancarai oleh media maupun diundang oleh beberapa acara TV hingga podcast sebuah aplikasi besar.


Mereka memang sudah bercerai tapi semenjak kemunculannya, Anugrah selalu mengikuti berita tentang Wulan. Bukan apa-apa, ia hanya ingin memastikan jika Wula baik-baik saja dan mantan istrinya itu bahagia setelah mereka berpisah.


Saat ini, Wulan hadir di salah satu acara taklshow di sebuah stasiun TV swasta. “Jadi, Dek Wulan ini sudah punya kekasih belum?” tanya salah satu pelawak yang memiliki kegemaran merayu setiap tamunya.


“Sudah, Kang.”


“Nah, pemirsah yang budiman. Paham kan sekarang kalau ternyata Dek Wulan ini sudah memiliki kekasih dan kekasih rahasianya itu adalah saya!” suara riuh penonton menyahut ucapan pelawak tersebut. Wulan hanya membalas dengan sebuah senyuman.


“Boleh saya tahu Dek Wulan, siapa pria beruntung itu? Yang pasti bukan teman saya ini, kan?” tanya salah satu pelawak yang lain.


“Adalah! Seseorang yang spesial pastinya.” Jawab Wulan diplomatis. Ia sengaja mengatakan jika dirinya sudah memiliki kekasih untuk meminimalisir keadaan yang membuat beberapa orang ingin mendekatinya. Saat ini hanya Danu yang berada di dekatnya sekaligus menjadi asisten dan manejernya. Danu orang pertama yang memperkenalkan dirinya dengan seorang prodeser musik saat ia masih mengamen di café Danu. Berbekal persahabatannya dengan Anugrah, Danu juga yang menawarkan diri untuk menjadi pendampingnya saat ke Jakarta.


“Ra, sini!”


“Ra, sini! cepat!”


“Apa sih, Pa? Kamu kayak baru dapat bonus saja.”


“Lihat itu!” Doni menunjuk ke arah televisi.


Tiara menoleh lalu matanya melebar, “Itu Wulan, istrinya Anugrah?”


“Iya, berarti mataku tidak salah lihat. Tunggu, itu Danu?” Fokus Doni teralihkan pada pria di samping Wulan.


“Kita harus hubungi Danu,” ucap Tiara lalu segera menghubungi Danu tapi sayangnya, Danu tidak menjawab atau membalas pesan mereka hingga menjelang malam, pria itu baru membalasnya.


“Sorry, Ra. Aku rada sibuk belakangan ini. Kalau aku tidak salah tebak, kalian pasti akan bertanya tentang Wulan kan?” Doni dan Tiara terkesiap.


“Kok kamu bisa tahu?”


“Kalian orang kesekian yang bertanya tentang Wulan. Dan itu memang benar seperti dugaan kalian. Dia Wulan, mantan istri dari teman kita, Anugrah.”


“Jadi hubungan mereka benar-benar kandas?” tanya Tiara sedih.


“Hanya hubungan yang kandas tapi hati keduanya masih terpaut. Mungkin perlu waktu untuk mereka sadar dengan perasaan masing-masing. Kita doakan saja semoga mereka bisa sadar secepatnya.”


“Kalau Wulan sadar lebih cepat lebih baik sebelum Anugrah pergi untuk selamanya.” Celutuk Doni.


“Apa maksudmu?”


“Anugrah akan ikut misi kemanusiaan bersama PBB dan mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk dia kembali ke Indonesia. Aku harap Wulan mau menurunkan egonya lalu menghentikan Anugra pergi.”


“Wulan tidak akan menghentikan Anugrah!”


 


***

__ADS_1


Up jam 03.51 pagi...jam berapakah akan lolos???


Happy weekend....pembaca


__ADS_2