CUT

CUT
Penampakan...


__ADS_3

Iskandar memilih diam di biliknya. Ia bahkan tidak berniat berbicara dengan teman-teman sebilik dengannya walapun mereka sudah berkenalan satu sama lain saat tadi pertama masuk.


“Ustad, saya titip putra kami ya! Tolong dibimbing supaya menjadi lebih dewasa.”


“Insya Allah. Saya harap Bapak dan Ibu juga berdoa karena doa orang tua khususnya ibu yang sangat mustajab dan cepat dikabulkan oleh Allah SWT.”


“Amin. Kalau begitu kami mohon pamit dulu. Assalamualaikum,”


“Walaikumsalam.”


Mobil melaju meninggalkan sang putra yang tengah bergejolak dengan emosi. Dia berjalan ke luar mencari tempat sepi. Tidak jauh dari belakang bilik adalah pagar pembatas pondok dan area persawahan. Iskandar duduk di sana sendiri lalu tiba-tiba air matanya luruh membasahi pipi.


“Mama jahat, Papa jahat. Kalian semua jahat!”


Iskandar terisak dalam kesendiriannya sampai suara langkah seseorang membuatnya tersadar dan langsung menghapus air matanya.


“Kamu anak baru ya? Siapa namamu?”


Iskandar tidak menjawab. Dia tidak peduli dengan siapapun di sini. Baginya, tempat ini adalah neraka. Tempat pembuangan untuknya.


“Hamparan sawah yang hijau membuat kita tenang, benar kan? Saya juga sering ke sini kalau lagi ada masalah atau lagi marah pada orang. Saya akan berteriak kencang menyebut nama orang tersebut lalu setelah itu baru hati saya tenang. Apa kamu sudah mencoba trik itu? Semoga saja trik saya berhasil di kamu ya? Selamat mencoba!” pria itu pergi meninggalkan Iskandar.


Tidak jelas seperti apa rupa pria yang berbicara tadi karena Iskandar sendiri tidak berniat menatap atau berbicara dengan pria itu. Lelah menangis dan perut juga butuh diisi, Iskandar bangkit menuju biliknya. Bilik itu sudah sepi, Iskandar sekilas mendengar banyak suara dari salah satu ruang tapi dia juga tidak berniat ke sana. Iskandar membuka tas lalu mengambil bekal yang disiapkan ibunya. Ia makan dengan lahap lalu setelah kenyang, ia langsung tertidur.


“Hei, hei, bagun sudah magrib.”


Lengan Iskandar digoyang oleh salah satu penghuni bilik. Iskandar mengerjab lalu ia bangun masih dengan kemarahan di dadanya.


“Buruan mandi sebentar lagi kita salat magrib berjamaah.”


Iskandar masih duduk santai melirik mereka yang sedang sibuk sendiri.


“Kamar mandi di mana?” semua rekan satu biliknya tiba-tiba berhenti dari kegiatan mereka lalu menatap Iskandar.


“Di-di belakang bilik kuning.”


Iskandar mengambil handuk dan satu kerangjang kecil berisi sabun, sampo, odol dan sikat gigi yang sudah disiapkan mamanya. Iskandar tersenyum kecut, “Ternyata kalian memang berniat membuangku.”


“Baiklah, mulai sekarang aku tidak punya keluarga lagi. Aku akan hidup sesukaku.”

__ADS_1


Iskandar berjalan dengan santai menuju kamar mandi dan betapa terkejutnya dia saat melihat pemandangan di depannya. Ternyata kamar mandi yang di dalam kepalanya berbeda dengan kenyataan. Satu ruangan mandi bersama, Iskandar kembali teringat teman-temannya. Dia mulai merindukan mereka.


Seraya menghela nafas, ia melakukan ritual mandinya dengan santai sementara teman-temannya yang lain terlihat terburu-buru. Ia tidak ambil pusing, “Cepetan mandi nanti kamu kena hukum kalau sampai azan magrib tidak sampai di mesjid.”


“Dia anak baru.” Bisik salah anak laki-laki yang lain.


Setelah mandi kilat, mereka langsung keluar dari sana. Tinggallah Iskandar sendiri menikmati mandinya. Rasa kesal dan marah masih menggrogoti hati dan pikirannya. Entah kenapa ia merasa senang saat mengguyur badannya dengan air.


Selesai mandi, Iskandar kembali ke bilik dan melihat suasana semakin sepi. Tidak ada anak satu pun baik di bilik maupun di luar. Iskandar masih santai berjalan sambil memperhatikan setiap sudut hingga sorot matanya menatap sesuatu di antara gudang dan kelas. Bulu kuduk Iskandar berdiri, dia semakin mempercepat langkah menuju bilik. Masuk ke dalam bilik lalu dengan cepat menutup pintu. Saat Iskandar hendak mengunci pintu ternyata pintu bilik tidak dibekali dengan kunci. Hingga dia hanya bisa menutunya saja.


Iskandar langsung bersembunyi dalam selimut hingga setengah jam baru terdengar suara orang memasuki bilik.


“Kamu tidak ikut salat magrib?”


Iskandar hanya menggeleng kecil.


“Kami mau makan, kamu mau ikut?”


Iskandar langsung mengiyakan ajakan temannya. Dia memakai pakaian lengkap lalu mengikuti teman-temannya.


“Sekalian bawa qur’an. Setelah makan kita akan ke masjid untuk baca qur’an.”


Pondok pesantren tersebut hanya membolehkan santrinya mengambil nasi tapi untuk laup pauk, pihak pengurus yang membagikan agar merata. Makanannya pun tidak ada yang istimewa. Nasi, sayur, ikan goreng atau ikan sambal dan sesekali di sediakan ayam dan daging. Tanpa banyak bicara, mereka menyantap makan malamnya dengan lahap. Begitu azan isya berkumandang, mereka langsung pergi ke masjid untuk salat berjamaah. Teman-teman Iskandar kembali terkejut saat salah satu dari mereka mengajaknya secara basa basi malah diiyakan oleh Iskandar.


Dan malam itu menjadi malam di mana Iskandar kembali merasakan memiliki teman. Mereka cukup baik bagi Iskandar dan tidak jahil. Setelah salat Isya, mereka melanjutkan dengan mengaji alquran bersama yang dipandu oleh beberapa ustad tiap kelompok. Satu ustad untuk satu bilik. Pengajian berlangsung sampai jam 11 malam. Mereka pulang sambil bersanda gurau tapi berbeda dengan Iskandar. Dia diam sambil sesekali melirik ke tempat tadi. Ia mencoba melihat kembali sosok berbaju putih tersebut tapi sayang. Dia tidak menemukannya di sana.


“Kalian sudah lama di sini?”


Semua temannya kembali terkejut. “Aku penghuni pertama bilik kita. Aku sudah tiga tahun di sini.”


Untuk pertama kalinya Iskandar mengulurkan tangan pada sesama penghuni bilik. Jika tadi siang mereka berjabat tangan dengan seorang Iskandar yang masih diliputi amarah tapi sekarang, mereka sedang berjabat tangan dengan penuh kehangatan dan awal yang baik.


“Ari.”


“Dika.”


“Reski.”


“Dwi.”

__ADS_1


“Iskandar.” Ucapnya terakhir.


Malam ini, suasana hati Iskandar mulai sedikit tenang. Kehadiran teman-temannya mampu mengusir gejolak amarah yang dari tadi terus menghujam dadanya. Saat mereka hendak tidur, tiba-tiba mereka terkejut mendengar pertanyaan Iskandar.


“Apa kamu melihatnya?” tanya Dika tak kalah tegang.


Iskandar mengangguk kecil, “Aku dengar dari beberapa anak memang ada juga yang melihat itu. Tapi aku belum pernah melihatnya. Kamu Ri?” ujar Dwi.


Ari juga menggeleng. “Kenapa kalian membahasnya saat ini. Kita kan mau tidur.” Ujar Reski yang mulai ketakutan.


“Ya sudahlah. Ayo tidur! Jangan lupa baca doa lanjut surat-surat pengusir setan.” Ajak Reski kembali.


“Bangunin aku besok ya!” pinta Iskandar pada teman-temannya.


Para penghuni bilik kompak melafalkan beberapa surat pendek dan doa-doa hingga satu persatu suara mulai meredup memasuki alam mimpi. Berbeda dengan Iskandar, berhubung tadi sore dia tertidur cukup lama membuatnya kesusahan untuk tidur saat ini. Dia menyembunyikan diri dalam selimut mencoba memejamkan mata mengikuti teman-temannya. Usahanya tidak berhasil, hingga suara-suara aneh kembali terdengar saat jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.


Iskandar mencoba memanggil Ari yang berada tidak jauh darinya namun anak itu malah tidak terbangun. Ari justru memunggunginya karena rasa kantuk yang amat sangat. Iskandar menyerah lalu dia ikut membaca semua doa-doa dan ayat-ayat yang dia bisa hingga tidak terasa matanya mulai menutup.


“Is, Is, bangun! Katanya mau ikut salat subuh.”


Walaupun masih mengantuk, ia tetap bangun karena tidak mau ditinggal sendiri dalam bilik apalagi langit masih gelap. Ditambah dengan suara-suara yang didengarnya tadi malam.


Mereka mandi jam setengah lima pagi lalu melaksanakan salat subuh berjamaah. Tanpa Iskandar sadari, dia mulai mengikuti apa saja kegiatan di pondok tanpa diminta oleh pengurus.


“Beberapa pengurus tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Iskandar bergabung dengan teman-temannya salat berjamaah.”


Begitulah cara pondok dalam menaklukan santri-santrinya. Tidak ada yang tahu mahkluk jenis apa yang mereka lihat tapi yang jelas, mereka sangat ketakutan. Pondok pesantren ini lebih terkenal dengan sebutan tempat penampungan anak-anak nakal. Namun, alangkah ajaibnya pondok itu karena seberapapun nakal anak-anak yang dimasukkan ke sana tidak akan bertahan lama. Kenalan mereka bisa runtuh dalam semalam.


Pagar yang digunakan untuk memagari sekeliling pondok juga pagar biasa yang terbuat dari batu bata setinggi dada anak-anak lalu di atasnya dililit kawat besi sentengah meter. Untuk melarikan diri sebenarnya sangat mudah tapi sejauh pondok ini berdiri, tidak ada satupun santri yang melarikan diri.


Iskandar mulai menikmati hari-harinya di pondok apalagi dia tidak perlu mendengar atau melihat Anugrah yang paling ia benci. Dia hidup bersama teman-temannya dalam didikan pesantren. kesehariannya juga sangat menyenangkan sehingga lambat laun semua amarah dalam dadanya telah berguguran tanpa sisa.


Di saat Iskandar sudah menemukan dunianya, sang ibu justru sedang bersedih hati serta tertekan lantaran belakangan ini ibu mertuanya terlalu ikut campur dalam urusan mendidik Anugrah.


“Kamu harus mendidiknya dengan baik jangan sampai dia seperti Iskandar!”


Gleg…


***

__ADS_1


__ADS_2