CUT

CUT
Om Imam...


__ADS_3

Fais menatap Dita yang sejak tadi duduk diam tanpa sepatah kata di dekat Wulan. “Apa kabar ibumu? Apa dia sudah menikah lagi?”


“Mama baik, sehat sejahtera. Mama sudah menikah lagi dan memiliki satu putri namanya Tiara. Dulu, Tante Cut sudah pernah melamar Tiara ke rumah. Dari sana aku tahu ada sesuatu antara Mama dan Tante Cut. Makanya aku meminta alamat Nenek di Aceh untuk mencari tahu tentang ayah kandungku. Baru beberapa hari di sana, Mama datang menjemput karena ulah Tante Julie yang memberitahukan Mama tentang keberadaanku di sana.” Fais menatap kakaknya sekilas, “Wajar saja aku menghubungi Shinta, dia datang dengan modal tampang. Siapa yang percaya? Apalagi Shinta sendiri membantah secara terang-terangan di depan semua orang.” ujar Kak Julie.


“Baiklah kalau begitu kita tunggu saja hasil tes DNAnya sebentar lagi akan di bawa oleh perawat.”


“Pa, aku pamit mencari Aisyah dulu. Dari kemarin dia belum membalas pesanku.” Pamit Iskandar bingung menatap dua laki-laki berstatus ayahnya.


“Iya, hati-hati!”


“Kamu tahu harus mencarinya ke mana?” tanya Dokter Rendra. Iskandar terlihat berpikir, sejujurnya ia juga tidak terlalu tahu tentang Aisyah. “Cari dia ke desa ijo! Di sana ada sebuah rumah tempat menampung anak-anak yatim. Dia biasa ke sana.” Fais dan Ayu menatap penuh tanya pada Dokter Rendra. “Sudah lama dia bergabung menjadi pengasuh di rumah yatim itu.” Jawab Dokter Rendra tanpa menunggu pertanyaan dari kedua orang tuanya.


“Nenek, cepat sembuh ya! Nenek belum melamar Aisyah untuk Iskandar.” Ucapnya mencium punggung tangan sang Nenek.


“Bawa pulang Aisyah, ya! Nenek akan melamarnya setelah dia pulang.” Iskandar mengangguk lalu berpamitan pada para orang tua yang masih duduk di sana.


“Aku sama Wulan juga pamit ya, Sudah waktunya Wulan terapi.” Kini di ruangan tersebut tinggal Dita yang masih muda. Beberapa menit kemudian, dua orang perawat datang. Mereka menyerahkan sebuah amplop pada Faisal. Dengan tangan gemetar, Faisal membuka amplop itu lalu membaca dengan teliti apa yang tertulis di sana.


Dita merasa gugup hingga tidak sabar menunggu calon ayahnya bicara. Ia segera berlari menuju Fais untuk merebut surat itu tapi saat tangannya hendak menggapai lembaran surat itu tubuhnya sudah ditarik lebih dulu oleh Fais dalam pelukannya.


“Maafkan, Papa. Sekarang kamu bisa mengatakan pada siapa pun kalau kamu anak Papa. Bahkan Ibumu tidak akan mengatakan lagi kalau kamu anak hasil cinta satu malam. Kamu punya Papa walaupun secara agama dan negara status kita tidak diakui.”


“Terima kasih, Pa. Aku tidak butuh pengakuan siapapun. Aku hanya butuh kebenaran bahwa aku punya Papa.” Dita terisak dalam pelukan Fais.


“Kenapa Shinta mengatakan jika anaknya sudah meninggal?” tanya Kak Julie bingung.


“Mungkin itu caranya membuat kita merasa bersalah karena melarang mereka berhubungan.” Sahut Pak Fahri. Ibu Murni tersenyum senang melihat bahwa gadis yang dulu datang ke rumahnya tiba-tiba itu ternyata benar-benar cucunya.


“Nenek, akhirnya ketahuan kan kalau aku the real cucu Nenek dan Kakek.” Ucap Dita lalu memeluk tubuh renta itu.


“Tante Julie dan Om Adi tidak berniat minta maaf gitu sama aku?” sindiri Dita melirik Kak Julie dan Bang Adi. Mereka serentak menghela nafas lalu, “Maafin kami!” lirih keduanya.


Pak Fahri dan Ibu Murni tergelak, mereka seakan sedang de javu sama keadaan di mana dulu keduanya sering membuat masalah dengan Fais hingga mereka diminta untuk meminta maaf pada Fais.


“Pa, aku kirim foto ini ke Mama ya?” Fais mengangguk. Dia tidak ingin merusak kebahagian putrinya dengan egonya terdahulu. Lagi-lagi, Fais tertangkap basah sedang menggenggam tangan sang istri mesra. Rendra juga tidak mau kalah, ia merekuh pinggang Cut hingga istrinya menempel erat dalam pelukannya.


“Pa, aku tidak bisa nafas ini. Peluknya biasa aja, Pa. Tidak ada yang akan menculik wanita tua ini.” Bisik Cut membuat Rendra terkekeh. “Ren,” panggil Fais membuat kedua Rendra menoleh bersamaan.


Fais terkekeh, “Sepertinya kita harus merubah panggilanmu jadi Teuku, bagaimana?” tanya Fais pada Dokter Rendra.


Dokter Rendra tidak menjawab pasti dia hanya bingung dengan situasi saat ini. Semua kenyataan ini begitu tiba-tiba hingga membuatnya kesulitan.


“Tenang saja, kami tidak akan memaksamu menerima kami seperti dulu. Kami paham kalau kamu butuh waktu untuk menerima semua ini.” Ujar Cut pada Teuku.


“Dan soal perjodohanmu dengan Anggia, kami juga tidak akan memaksamu lagi. Keluargamu sekarang adalah mereka bukan kami.” Lirih Ayu. Wanita yang sejak tadi diam saja mulai bersuara. Hatinya sedih karena sebentar lagi dirinya akan kehilangan kedua anak yang selama ini ia rawat dan besarkan penuh cinta.


“Ma, Pa, apa aku masih boleh memanggil kalian dengan panggilan itu?” tanya Teuku terbata-bata. Bukan hal yang mudah untuk merubah kebiasaan apalagi mereka sudah hidup bersama puluhan tahun.


Air mata Ayu tumpah, hatinya bahagia karena sang anak yang dulu ia besarkan tidak melupakannya begitu saja. “Kalian tetap anak kami!” ucap Ayu lalu Teuku memeluk wanita yang sudah tidakk lagi muda itu erat.


“Aku tetap ingin melanjutkan perjodohanku dengan Anggia, Ma.” Ayu menatap manik hitam sang putra.


“K-kenapa?” tanyanya pada Teuku.


“Aku suka sama gadis itu, Ma.” Ucap Teuku seraya tersenyum jahil ke arah sang ibu. Cut melihat interaksi yang terjalin antara Teuku dengan wanita lain membuat hati Cut tidak nyaman. Wanita yang seharusnya dipeluk oleh Teuku adalah dirinya tapi sampai saat ini, pria itu jangankan memeluknya, mencium tangannya saja tidak apalagi menanyakan kabar? Seperti apa ayahnya? Teuku seolah hanyut dalam kasih sayang yang Fais dan Ayu berikan.

__ADS_1


Ponsel Dita berdering, “Hallo, Ma.” Ucap Dita.


“Lagi di mana kamu? Apa-apaan itu? Kenapa kamu tes DNA? Dapat uang dari mana kamu, heh?” Shinta tidak memberi kesempatan pada putrinya untuk menjelaskan. Fais berdiri di depan Dita lalu meminta ponselnya.


“Dita, jawab Mama!”


“Apa kabar, Shin?”


Deg…


Shinta yang berada di balik telepon terkejut mendengar suara pria di seberang sana. “Siapa kamu? Di mana Dita?”


“Kapan kita bisa bertemu? Aku tahu, kamu pasti tahu dengan siapa kamu bicara sekarang. Hasil tes DNA sudah menunjukkan dengan siapa Dita menjalani tes tersebut, bukan?”


“Apa-apaan kamu, Fais? Untuk apa kamu melakukan tes DNA? Aku bisa menuntut kamu karena melakukan itu tanpa persetujuanku.” Shinta murka. Ia yang baru selesai dari ruang operasi kini malah dibuat pusing oleh foto hasil tes DNA milik putrinya dengan Faisal.


“Ck, Dita sudah dewasa untuk memutuskan hal seperti ini. Dia sendiri yang menginginkan dan aku juga ingin mengabulkan permintaannya tanpa ada keraguan. Walaupun aku sudah yakin sejak awal begitu melihatnya dia memang anakku. Anak yang kamu bilang sudah meninggal ternyata masih hidup. Tega sekali kamu menyiksaku dan keluarga, Shin. Aku mencarimu kemana-mana untuk bertanggung jawab tapi kamu malah menghilang setelah merusak rumah tanggaku. Sekarang kamu puas?”


Shinta tertawa sinis, “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikan Dita padamu!”


Tuttt….


Setelah memutuskan saluran teleponnya, Shinta langsung menghubungi salah satu rekannya di rumah sakit tempat Dita melakukan tes DNA. Setelah siang, ia langsung bergegas menuju ke Surabaya setelah sebelumnya menghubungi sang suami untuk menemaninya bertemu dengan masa lalu. Toni adalah pria baik dan dia juga mengetahui semua masa lalu Shinta dengan pacarnya terdahulu.


“Pa, tolong kamu paksa Dita untuk pulang ya! Aku tidak mau anak itu semakin dekat dengan keluarga mereka.” keluh Shinta pada suaminya.


“Ma, kamu harus tenang. Jangan membuat tingkah yang dapat mempermalukan diri Mama sendiri. ingat, sebentar lagi kita bakal punya cucu. Apa kamu tidak mau dipanggil Nenek oleh anak-anak Tiara nanti?” Shinta terdiam. Dia sedang memendam marah pada Dita karena sudah berani melakukan tes DNA tanpa sepengetahuannya. Ditambah lagi dengan hadirnya Faisal saat ini. Ia tidak mau Dita berdekatan dengan keluarga Fais.


“Kita langsung ke Surabaya?” tanya Toni pada istrinya yang masih duduk di dalam mobil. Entah apa yang Shinta pikirkan hingga ia begitu enggan untuk menemui Faisal. Jika bukan karena Dita, sampai mati pun ia tidak sudi menemui keluarga itu.


Di tempat terpisah, Iskandar sedang menuju tempat yang Teuku berikan. Mobil berhenti di sebuh rumah sederhana di samping area persawahan. Perjalanan cukup panjang untuk Iskandar hingga dia harus beberapa kali berhenti untuk menanyakan alamat tersebut pada warga yang melintas. Hari sudah sore dan rumah tersebut kelihatan sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan hingga seorang warga berhenti karena melihat Iskandar.


“Saya cari Aisyah, Pak. Tapi sepertinya rumah ini kosong.” Jawab Iskandar.


“Ouh, Neng Aisyah. Jam segini mereka semua berkumpul di masjid. Setelah salat isyah baru kembali ke sini. Kebetulan saya juga mau ke masjid, mau ikut sekalian?” Iskandar mengangguk lalu mereka berjalan kaki menuju masjid dengan jarak tempuh hanya 250 meter saja.


Sepanjang jalan mereka terlibat obrolan kecil, “Jadi ini siapanya Neng Aisyah?” tanya Bapak tersebut.


“Nama saya Iskandar, Pak. Saya calon suaminya.”


“Oh calon suaminya. Pantas saja Neng Aisyah menolak lamaran dari Pak RT ternyata calon suaminya ganteng begini. Kalah jauh dari anaknya Pak RT.”


“Aisyah dilamar anak Pak RT? Kapan, Pak?”


“Kemarin, mereka sudah mengenal lama tapi Neng Aisyah sudah lama tidak kemari. Nah, waktu Pak RT tahu Neng Aisyah datang lagi kemari, beliau langsung gerak cepat tapi sayangnya malah ditolak dengan alasan Neng Aisyah sudah bertunangan dengan pria lain. Ternyata pria itu, Nak Iskandar.” Hati Iskandar berbunga-bunga mendengar penuturan bapak tersebut.


“Nah, ini masjidnya!” Iskandar memperhatikan dari arah luar dengan saksama. Ia tersenyum kecil saat melihat calon istrinya sedang mengajari anak-anak belajar salat.


“Kamu tidak bisa lari lagi setelah ini, Ai!”


Iskandar masuk tanpa menemui Aisyah. Ia berjalan melihat-lihat keadaan masjid. Ada beberapa bagian yang perlu direnovasi termasuk toilet dan tempat wudhu. Iskandar kembali mendatangi bapak tadi yang sedang menyapu lantai. Antara shaf wanita dan pria dibatasi oleh kain panjang.


“Pak, masjid ini dibangun tahun berapa?” bapak tersebut tersenyum.


“Masjid ini sudah lama, Nak. Harap maklum kalau kurang terawat. Walau dirawat tetap saja kelihatan tidak terawat karena beberapa bagian dari masjid memang perlu direnovasi sehingga kelihat baru dan rapi. Tapi ya begitulah, keadaan ekoomi warga tidak mendukung untuk itu.”

__ADS_1


“Apa tidak ada bantuan dari pemerintah?”


“Tidak tahu, Nak. Semua itu urusan Ibu Kepala Desa, kami tidak pernah tahu tentang bantuan atau semacamnya. Tapi Ibu Kades pernah mengatakan saat rapat dulu kalau beliau sudah mengajukan proposal untuk pembangunan masjid tapi belum ada tanggapan dari pusat.”


“Nak Iskandar kuliah atau kerja?”


“Saya pengajar di kampus Islam Surabaya, Pak.”


“Wah, pasti pintar ngaji ya!”


“Alhamdulillah,”


“Nak Iskandar jadi Imam salat magrib ya!” Iskandar tidak terkejut dengan permintaan itu karena dia sering melakukannya tapi secara etika dia tidak mau mendahului sesepuh desa tersebut.


“Maaf, Pak. Saya tidak bisa kalau sudah ada imam desa di sini.”


“Saya imamnya, Nak.”


Magrib itu terasa berbeda bagi setia makmum di dalam mesjid tersebut. Suara imam membaca ayat-ayat Al-quran terasa sekali sampai menyentuh hati setiap jamaah tidak terkecuali Aisyah. Ia merasa tidak asing dengan suara imam tersebut. Lantunan merdu suara Iskandar sampai membuat warga yang tidak ke masjid ikut bertanya-tanya. Melalui pengeras suara, ayat-ayat Al-quran yang Iskandar baca sampai ke telinga para warga yang rumahnya tidak jauh dari masjid.


“Buk, sepertinya itu bukan suara Pak Imam kita ya?” tanya suami Buk Kades.


“Iya, suaranya lebih lantang dan jelas. Siapa ya?”


“Alah, mungkin saja ada pemuda lewat terus diminta jadi imam. Bapak tahu sendiri kelakukan Pak Imam masjid kita.” Ujar Bu Kades berapi-api dengan dasternya.


“Iya juga ya, tapi Bapak penasaran. Setelah ini Bapak mau ke masjid.”


“Bapak tidak malu? Jangan buat Ibuk malu dengan kelakuan Bapak. Ke masjid buat salat ini malah buat lihat imamnya. Ada-ada saja.”


Biasanya setelah salam, para jamaah yang tidak seberapa itu langsung bubar. Kali ini berbeda, Iskandar langsung menyambungnya dengan zikir, doa dan mengakhiri dengan selawat. Para jamaah merasa malu saat bersalaman dengan Iskandar termasuk Pak Imam setelah selesai selawat. Mereka tidak pernah berzikir atau membaca doa karena ilmu Pak Imam hanya sedikit berbeda dengan Iskandar yang dari kecil sudah ditempa di pesantren.


Di shaf perempuan, Aisyah kembali memikirkan suara imam yang menurutnya tidak asing itu, “Apa dia ke sini? Tidak mungkin! Aku tidak sanggup menjadi adiknya. Membayangkan saja tidak bisa apalagi harus menjalani. Kalau benar dia menyusul untuk membawaku pulang, lebih baik aku pergi lebih jauh sampai dia tidak bisa menemukanku. Aku tidak mau hidup serumah dengannya. Kakak rasa pacar. Iii….” Gumam Aisyah seraya melipat mukenanya. Ia akan kembali mengajar mengaji anak-anak sebelum memasuki waktu isya.


Seorang anak laki-laki menghampiri Iskandar, “Gimana caranya baca Qur’an seperti Om? Tolong ajari aku!” Iskandar menunduk untuk mensejajarkan dirinya dengan bocah itu.


“Nama kamu siapa?”


“Abdul!”


“Orang tuamu mana?” bocah itu menggeleng, “Ummi Aisyah bilang orang tuaku sudah bahagia di surga.”


“Abdul ini salah satu anak penghuni rumah yatim itu, Nak.” Ucap Pak Imam. Iskandar mengangguk paham, “Ummi Aisyah tidak mengajari membaca Qur’an seperti tadi?”


Abdul menggeleng, “Ummi Aisyah hanya mengajari iqra’ tidak mengajari baca Qur’an seperti tadi.”


Sebuah ide jahil muncul di benak Iskandar, “Ouh, kalau begitu bilang sama Ummi Aisyah untuk belajar ngaji sama Om dulu biar Ummi Aisyah pintar seperti Om.”


Anak itu langsung berlari menuju shaf perempuan, “Ummi Aisyah,” Aisyah melihat Abdul langsung tersenyum manis.


“Ummi belajar lagi ngaji sama Om imam biar bisa mengajari kami membaca Al-qur’an seperti Om Imam.” Senyum Aisyah seketika sirna.


 


***

__ADS_1


Ini panjang ya...LIKE, KOMEN DAN VOTE


Makasih....


__ADS_2