
Perdebatan kedua emak-emak itu berakhir tatkala sang komandan bersuara.
“Apanya yang salah, Pak?” tanya kepala sekolah.
Para dewan guru sendiri sudah memutuskan untuk mengeluarkan mereka setelah melihat video tersebut. Tapi, keputusan final tetap ada di kepala sekolah.
“Coba Bapak perhatikan dan Ibu juga!” pinta Rendra pada Ibu dari Mauren.
“Fokus pada tangan Anugrah dan tangan siswinya! Di sini jelas-jelas tangan Mauren menarik kerah baju Anugrah. Sementara tangan Anugrah memegang bahu Meuren seperti ini.” Rendra memperaktekkan pada kepala sekolah. Meletakkan tangannya sama seperti yang Anugrah lakukan.
“Biar saya contohkan biar Bapak dan Ibu mengerti.”
Rendra lalu mengajak Cut berdiri berhadapan dengannya di depan kepala sekolah dan ibu dari Mauren.
“Mama tarik kerah baju Papa seperti yang siswi itu lakukan!” pinta Rendra pada sang istri.
Cut menurut demi nasib sang anak. Ia menarik kerah seragam sang suami. “Yang kuat, Ma. Pura-pura Mama seperti siswi itu.” ucap Rendra kembali.
Cut menarik lebih kuat kerah baju sang suami hingga Rendra sedikit terdorong ke depan. “Tangan anak saya seperti ini.” Rendra meletakkan tangannya seperti yang Anugrah lakukan dalam video.
“Kalau seperti ini letak tangannya, berarti dia menolak dicium oleh Mauren. Di sini, Mauren lah yang memaksa untuk mencium Anugrah dengan menarik kerah seragam Anugrah.” Ucap Rendra memperagakan letak tangannya.
“Kalau Anugrah yang memaksa, dia akan menarik Mauren dan tangannya akan seperti ini.” Tunjuk Rendra kembali seraya memperagakan di depan kepala sekolah dan Ibu dari Mauren.
“Kalau mereka sama-sama menginginkan adegan ini maka tangan Mauren bukan menarik kerah baju Anugrah tapi akan melingkarkan tangannya di leher anak saya. Dan tangan Anugrah akan berada di tengkuk Mauren atau di pinggangnya. Satu lagi point yang paling penting, Mauren bisa saja menghindari ciuman Anugrah jika terpaksa karena tangan Anugrah tidak mengunci wajah Mauren untuk tetap menghadapnya seperti ini. Sekarang Bapak dan Ibu mengerti kan? Dan bagaimana kalau kita mendengar pernyataan keduanya untuk memastikan siapa yang berbohong?” tanya Rendra sementara posisinya masih melingkarkan tangan di leher sang istri.
Cup…
Kepala sekolah dan Ibu dari Mauren hanya bisa menatap satu sama lain dengan hembusan nafas dari keduanya. Sementara Cut sudah melotot mendapat serangan mendadak dari sang suami. Ia begitu malu sementara Rendra terlihat santai menatap kepala sekolah saat mereka sudah duduk kembali.
“Sepertinya anda sudah pro sekali ya?” sindir ibu dari Mauren pada Rendra.
“Oh tentu. Pria sejati harus pro apalagi untuk istrinya.” Balas Rendra melirik sekilas pada wanita di depannya.
Akhirnya, kepala sekolah memutuskan untuk memanggil mereka dan menggelar rapat dadakan di aula dan tentu saja kedua orang tua yang bersangkutan ikut hadir.
“Bakal lama ini.” Ucap Rendra melihat jam tangannya.
__ADS_1
“Dulu menghadapi kenakalan anak-anak. Sekarang menghadapi kenakalan remaja. Hidup kita keren banget ya, Ma.” Seloroh Rendra tersenyum ke arah sang istri yang sedang kesal lantaran aksi ciuman di depan kepala sekolah tadi. Walau hanya kecupan tapi tetap saja itu perbuatan memalukan untuknya.
“Jaman sekarang kalau cuma kecupan seperti itu biasa, Sayang. Gak perlu kesel gitu lah.”
“Tapi gak di depan kepala sekolah juga, Pa. Abang tuh suka kelewatan.” Sela Cut sampai mereka tiba di Aula untuk menyidang para pelaku.
Seluruh siswa mulai berisik lantaran semua guru menghadiri acara rapat dadakan di Aula. Mereka sudah menduga jika masalah darurat ini adalah karena video mesum Anugrah dan Mauren. Guru BK membawa keduanya ke depan para guru dan orang tua masing-masing.
Anugrah menatap kedua orang tuanya yang terlihat berbeda. Ayahnya melemparkan senyum hangat lalu mengangguk kecil sementara sang ibu malah terlihat gelisah menatapnya.
“Ada apa dengan mereka?” gumam Anugrah lalu matanya tanpa sengaja bersitatap dengan Ibu dari Mauren yang juga tengah menatapnya. Tatapan Ibu Mauren malah biasa saja sementara Mauren sendiri juga terlihat santai menghadapi persidangan ini.
“Baru juga kecupan tapi hebohnya bukan main. Apa kabar mereka yang berbuat lebih tapi tidak ketahuan?” celutuk Mauren santai. Anugrah mengernyit heran sementara guru BK yang berada di depat mereka justru menatap Mauren penuh tanya. Sidang pun dimulai dengan agenda mendengar secara keseluruhan cerita dari kedua tersangka.
Mauren memang berbeda, dia mengakui jika dirinyalah yang memaksa untuk mencium Anugrah. Sementara Anugrah hanya bisa menghela nafasnya saat Mauren menjelaskan alasannya mencium Anugrah secara paksa.
“Saya lagi puber, Pak. Wajar kalau saya penasaran bagaimana rasanya mencium pria yang saya sukai. Apalagi pria itu adalah Anugrah. Saya menyukainya, Pak, Buk. Apa saya salah? Saya kan lagi puber. Kalau ada yang harus disalahkan, maka salahkan rasa puber yang dialami semua anak-anak SMA seperti saya.” Ucap Mauren santai.
Dewan guru serta kepala sekolah hanya bisa menggelengkan kepala masing-masing mendengar ucapan Mauren.
“Pesona anak Papa memang luar biasa.” Cut mencibir ucapan sang suami yang menurutnya terlalu narsis.
“Saya minta maaf tapi saya tidak mau disalahkan. Karena saya tidak melakukannya atas keingain berdua melainkan karena saya dipaksa. Dan video itu tidak sepenunya direkam. Mereka tidak merekam bagaimana saya mendorong Kak Mauren setelah itu. Tidak adil untuk saya jika saya kalau harus menaanggung kesalahan yang Kak Mauren lakukan. Dan Kak Mauren sendiri sudah mengakuinya di depan Bapak dan Ibu semua. Sekali lagi saya minta maaf tapi saya tidak mau dikeluarkan dari sekolah ini!”
“Baiklah, kita semua sudah mendengar keterangan dari kedua siswa dan selanjutnya para dewan guru akan berembuk untuk menbuat keputusan yang patut untuk ke dua siswa tersebut. Keputusan akan diumumkan lusa dan untuk siswa Mauren dan Anugrah akan dikenakan skor selama tiga hari ke depan.”
“Yahhh, skor lagi.” desah Anugrah.
“Bagaimana kalo kita ketemu di café nanti sore?” Anurah menatap sinis kakak kelasnya lalu pergi meninggalkan Mauren yang menunggu jawaban dari mulutnya.
“Cih, kamu seputus asa itu sampai menggoda adik kelasmu?” sindir Ibu dari Mauren.
“Mama lihatkan wajahnya? Dia itu menggemaskan. Aku pengen membawanya atas ranjang.” Ibu dari Mauren segera meninggalkan anaknya.
Di lorong menuju tempat parkir, Rendra berjalan di samping sang putra. Ia menepuk pundak Anugrah sekali. “Apa ini menggangumu? Kita bisa pindah kalau dia terlalu mengganggu.”
Usulan sang ayah harusnya melegakan tapi mengingat ia harus beradabtasi kembali dari awal membuat Anugrah memilih tetap bersekolah di sini walaupun keputusan dari pihak sekolah belum keluar.
__ADS_1
Berita menghebohkan itu sampai juga ke telinga sang nenek berikut dengan videonya. Siapa lagi yang menyebarkan kalau bukan Risma si tante girang. Arisan bulanan yang digelar di rumah Ibu Yetti menghadirkan Risma beserta keluarganya. Cut juga sudah hadir dari pagi bersama anak dan suaminya untuk membantu segala persiapan mulai dari masak-masak dan membereskan rumah.
Semuanya masih terkendali sampai akhirnya saat sedang berbincang-bincang, Risma memperlihatkan video yang masuk ke ponselnya.
“Bukannya ini Anugrah, Ma?” tanya Risma pura-pura bodoh sambil menunjukkan video tersebut pada sang mantan mertua.
Terkejutlah Ibu Yetti saat melihat sosok yang terdapat dalam video tersebut. Ia segera bangkit lalu menemui Cut yang sedang berbenah di dapur.
“Apa ini? Kenapa Anugrah sampai melakukan tindakan tak senonoh seperti ini? Bagaimana kamu mendidiknya selama ini?” Ibu Yetti seperti nenek-nenek kesurupan. Beliau terus menberondong Cut dengan rentetan pertanyaan tanpa memberikan waktu untuk Cut menjawab terlebih dahulu.
Risma datang di belakang Ibu Yetti seraya tersenyum sinis kearahnya. Risma tahu Cut bukan tipe wanita pengadu jadi dengan senang hati Risma bisa bertindak sepuasanya untuk menghasut karena tahu Cut tidak akan mengadu pada siapapun. Ibu Yetti berkata sangat pelan supaya para tamu arisannya tidak ada yang mendengar.
Setiap kata yang diucapkan secara pelan itu justru seperti gergaji yang sedang mengiris hati Cut. Di depan mantan menantu serta pembantunya, Ibu Yetti menghardik serta memarahi Cut dengan berbagai kata yang cukup menyakitkan.
“Saya percayakan cucu saya kamu rawat tapi baru kelas satu dia sudah melakuakn perbuatan tidak senonoh ini? Apa saja yang kamu lakukan di rumah, heh? Anugrah itu sudah besar, kamu harus mengajarkan banyak hal padanya. Bahkan hal-hal yang boleh dan tidak saat berinteraksi dengan lawan jenisnya. Inilah gunanya kalau seorang ibu tidak berpendidikan. Maka, anaknya ya akan seperti ini. Tidak ada yang akan memberitahukannya berbagai ilmu yang tidak diberikan di sekolah.”
“Saya menyesal menerima kamu sebagai menantu. Baik itu tidak cukup dalam berumah tangga kalau tidak ada ilmu. Mau jadi apa anakmu nanti kalau ibunya bodoh seperti ini. Anugrah itu baru mengalami masa puber, disinilah peran kamu sebagai ibu. Jangan-jangan dia sudah sering menonton film dewasa tanpa kamu ketahui. Atau jangan-jangan dia juga sudah melakukan –“ Ibu Yetti panik, ia tidak sanggup lagi melanjutkan dugaanya terhadap sang cucu.
“Untung Anugrah hanya sendiri. gimana jadinya kalau dia punya adik? Apa video ini sudah diketahui pihak sekolah?”
Cut mengangguk pelan, “ Terus bagaimana tanggapan sekolah?”
“Masih dalam pertimbangan pihak sekolah. Sementara ini dia diskor selama tiga hari.” jawab Cut.
“Saya akan minta Anugrah untuk pindah kemari supaya saya bisa mendidiknya dengan cara saya. Kamu itu tahunya cuma beranak saja tanpa tahu cara merawat dan mendidiknya. Ibu macam apa kamu ini? Saya tidak habis pikir kenapa anak saya nekat menikahimu? Jangan-jangan kamu sudah memeletnya sampai dia bertekuk lutut seperti ini.”
“Ma….” Cut tidak menyangka jika ibu mertuanya akan semurka ini tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu.
“Ma, ayo kita kembali ke dalam. Tidak enak para tamu menunggu Mama terlalu lama.”ajak Risma dan Ibu Yetti langsung menurut.
“Yang sabar, Buk!”
***
__ADS_1
UP jam 11.55, entah jam berapa lolosnya ini. sering lama lolosnya sekarang entah kenapa???