CUT

CUT
Tanda Lahir...


__ADS_3

Acara resepsi berakhir dengan lancar dan tenang walaupun ada beberapa kerabat dan tetangga yang mencibir Pak Fahri karena mengabaikan masa duka dengan menggelar pesta pernikahan terlebih lagi yang menikah itu adalah cucu haramnya. Namun, seolah tuli. Pak Fahri menutup rapat telinganya dari pandangan kerabat dan tetangganya.


“Pak, kenapa Bapak melakukan ini? Saya tahu kalau keluarga Bapak keberatan dengan pesta pernikahan Dita.” Tanya Toni.


Mereka tengah menikmati bubur sumsum setelah acara resepsi selesai tepat jam satu karena tamu yang diundang tidak banyak. Saat ini, Toni dan Rendra sedang duduk bersama Pak Fahri. Sementara Shinta dan Cut sedang membantu Dita melepas pernak-perniknya bersama seorang penata rias.


“Anggaplah Dita orang lain maka Bapak anggap ini sebagai sedekah untuknya yang baru memeluk Islam. Tapi karena dia memiliki darah dari Bapak maka ini lebih dari sekedar sedekah. Ini adalah hadiah yang tidak bisa kami berikan saat dia lahir seperti Kakaknya.” Ujar Pak Fahri membuat Toni Rendra tersenyum bahagia.


Pria tua di depan mereka adalah sosok yang bersahaja dengan pemikiran yang sederhana. “Kami harus belajar banyak dari Bapak.” Ucap Rendra kemudian. Toni pun mengangguk setuju.


“Terima kasih karena Bapak sudah menerima Dita dan keluarga saya di sini dengan baik. Saya bahagia berkesempatan bertemu dengan Bapak.” Ucap Toni kembali.


Wajah Dita tidak henti-hentinya tersenyum ketika melihat ibu dan wanita di masa lalunya terlihat sibuk membantu penata rias. Lalu Dita mengambil ponsel miliknya kemudian memotret pantulan dirinya di depan cermin lengkap dengan Shinta dan Cut yang sedang membantu melepaskan hiasan kepalanya. Dita dengan bangga mengirim foto itu le Papa Toni, Papa Faisal, Om Rendra, Iskandar, suaminya, Tante Juli, Mama Ayu dan terakhir adalah Kakek Fahri.


Mereka yang menerima foto kompak terkekeh melihat aksi Dita ditambah dengan keterangan di bawah foto yang bertuliskan, “Move On yang sebenarnya ya seperti ini.”


“Ma, Tante, makasih ya! Aku bahagia sekali hari ini.” Shinta dan Cut tersenyum serentak.


“Tante juga bahagia, semoga pernikahanmu selalu langgeng ya. Sekarang kamu harus lebih dewasa dan jangan pernah berhenti belajar untuk menjadi seorang istri dan ibu buat anak-anak kalian kelak.”


“Makasih, Tante.” Dita melirik sang ibu yang terlihat diam tanpa menanggapi pembicaraan mereka sedikit pun.


“Em, Ma, makasih ya untuk semuanya. Aku tidak akan pernah bisa membalas semua yang Mama lakukan untukku.”


“Balas saja dengan menjaga suamimu dengan baik. Dengarkan apa katanya jangan membantah kalau diingatkan.”


“Iya, Mama. Em, tapi aku mau cerita boleh?” Shinta dan Cut kompak menghentikan aksi mereka lalu menatap Dita melalui pantulan cermin.


Dita dengan lugas dan gamblang menceritakan tentang apa yang terjadi di Bali pada kedua wanita itu. “Nanti Mama yang akan bicara dengan Dika. Lebih baik kalian tidak tinggal lagi di Bali.” Ujar Shinta.


“Tante juga setuju sama Mama Shinta. Lebih baik mencegah dari pada mengobati. Wanita yang kamu ceritakan bisa jadi duri dalam pernikahan kalian apalagi ayahnya adalah atasan Dika di hotel. Pasti sulit untuk Dika jika tidak menuruti keinginan atasannya. Bagaimana kalau kalian memulai usaha sendiri? Bukankah lebih indah jika kalian memulai sesuatu berdua dari nol. Dan kalau Papa Toni dan Mama Shinta membantu dengan merekomendasikan Dika, Tante takutnya Dika merasa rendah diri. Bagi laki-laki, ia akan lebih merasa dihargai jika hasil usaha sendiri tanpa campur tangan orang tua atau pun mertua. Apalagi dengan karakter Dika yang sudah hidup mandiri dari dulu. Dia pasti lebih senang membangun usahanya sendiri. Maaf, Shinta. Aku tidak bermaksud mengatur rumah tangga putrimu tapi aku pernah berada di posisi Dika. Kami sama-sama susah dan membangun usaha sendiri dan hasilnya lebih memuaskan.”


“Aku mengerti!” ucap Shinta mengangguk paham.


Sementara di sebuah warung kopi, para sahabat till jannah sedang menikmati kopi mereka sambil berbincang hal-hal ringan bersama.


“Jadi adik iparmu akan mengejar Ari dan Dwi?” tanya Iskandar pada Reski.


“Aku sudah dijodohkan!” ucap Ari membuat mereka semua terkejut karena Ari belum menceritakan masalah ini pada siapa pun kecuali Anggia, sang adik.


“Sama siapa?” tanya mereka serentak.


“Anaknya sahabat Mama. Baru lulus dari Kairo juga.”

__ADS_1


“Kamu sudah melihatnya?” Ari mengangguk pelan, “Dua hari yang lalu bersama keluargaku. Keluarganya mengundang kami makan malam dan saat itulah kami dikenalkan lalu orang tuaku dengan orang tuanya langsung menyampaikan niat terselubung mereka pada kami.”


“Lalu?” mereka kembali bertanya membuat Ari terkekeh. “Aku setuju.”


“Dia?” Ari mengangguk kembali.


“Kamu yakin?”


“Yakin apanya?”


“Kamu yakin dia menerimamu?”


“Kami diberi waktu untuk bicara berdua sebelum memberi keputusan pada keluarga. Lalu dia mengajakku bicara di taman belakang rumahnya.”


“Terus?”


“Sabar, Mas Bro!” ucap Ari dengan senyumnya.


“Visi misi kami sama dan tujuan kami juga sama jadi apalagi yang ditunggu. Kami sepakat untuk menikah dan soal rasa, kami yakin akan timbul karena terbiasa. Bukankah pacaran akan lebih indah jika dilakukan setelah halal. Apa ada wanita yang tidak akan jatuh hati setelah kita mendekatinya selama 24 jam tanpa henti ditambah lagi dengan kontak fisik. Wanita mana yang tidak akan jatuh cinta? Bahkan, Dika saja bisa langsung menikahi Dita setelah mencium istrinya.” Kata-kata terakhir Ari membuat Dika tersedak kopinya sendiri. Ia langsung melirik sang kakak ipar yang tengah melirik sinis padanya.


“Kalau tidak mengingat dia sudah jadi suami adikku, entah apa yang akan terjadi dengan wajahnya.” Balas Iskandar.


“Kalau bahasa anak sekarang DP dulu, Is.” Celutuk Dwi membuat Ari dan Reski terkekeh.


“Kalau Ari sudah bertemu jodohnya, bagaimana dengan kamu, Dwi?” tanya Dika kali ini.


“Sudah kamu periksa asal usulnya?” tanya Ari.


“Sudah. Ayahnya seorang kepala sekolah dan ibunya seorang guru. Aku juga sudah mengobservasi keluarganya ke daerah tinggalnya dan hasilnya juga bagus.” Ujar Dwi.


“Mereka tidak curiga? Nanti kamu dikira intel.”


Dwi kembali menggeleng, “Banyak cara bijak untuk mendekati keluarganya tanpa membuat mereka curiga. Aku juga sudah berkenalan dengan kakek dan neneknya. Mereka sendiri yang memintaku menjadi calon suami untuk cucu mereka.” Cerita Dwi.


“Kamu ke sana sebagai apa?”


“Sebagai dosen. Aku tidak ingin memulai sesuatu dengan kebohongan apalagi menyangkut jodoh. Aku mengataka jika sedang melihat lokasi untuk penempatan mahasiswa kerja bakti. Jadi sebelum penempatan, aku ditugaskan oleh kampus untuk memeriksa terlebih dahulu kampung yang akan menjadi tempat bakti mahasiswa. Saat mengetahui itu, orang tua gadis itu langsung mengatakan jika anak mereka juga kuliah di sana.”


“Kamu memang cerdik. Lalu apa gadis incaranmu masih sendiri atau sudah punya kekasih?”


“Itu yang aku tidak tahu.” Dwi mendadak lesu.


“Apa perlu bantuanku?” tanya Ari menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


“Adikku bisa membantumu. Dia itu hobinya menjodohkan orang. Apalagi kalau dia tahu kamu sedang mengincar mahasiswimu. Dia pasti membantu.”


“Boleh. Aku sangat butuh bantuan Anggia untuk ini.”


“Dia suka menjodohkan orang. Lalu apa kabar sepupu Iskandar? Apa orang tuamu masih menjodohkannya dengan Kak Teuku?” tanya Reski.


“Jalan di tempat sepertinya.” Ari menghela nafasnya.


“Nanti aku tanyakan sama sepupuku.” Ucap Iskandar.


“Jangan ikut campur, Is. Sepupumu laki-laki bukan banci. Biar dia sendiri yang mengurus Anggia. Aku sebagai kakaknya ingin melihat laki-laki seperti apa sepupumu. Apakah dia sanggup menghadapi adikku yang kalian sendiri tahu bagaimana wataknya, bukan?” ujar Ari.


“Benar juga yang dikatakan Ari, Is. Laki-laki memang harus berusaha jika dia benar-benar menginginkan Anggia seperti teman kita ini.” Ucap Reski seraya merangkul Dika.


“Bro, aku ada masalah serius.” Ucap Dik membuat semua sahabatnya terdiam menatap dirinya.


Dika menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Jenny di Bali. Sahabatnya kompak menggelengkan kepala mendengar penuturan Dika.


“Kamu liar juga ya? Apa jadinya istrimu nanti?” Celutuk Dwi.


“Maaf karena imanku tidak sekuat kalian.” Keluh Dika.


“Kami juga belum tentu sekuat itu jika berada di posisimu.” Ucap Reski.


“Apa kamu akan terus bekerja di sana? Jujur saja setelah mendengar ceritamu, aku sedikit cemas memikirkan adikku. Bagaimana kalau kamu keluar dan tinggal di Surabaya atau di mana saja asal jangan di sana. Kamu bisa mencari kerja di tempat lain atau membangun usaha sendiri. Aku yakin Dita akan setuju dengan itu. Dia itu tidak memandang harta, dia itu memilihmu karena perasaannya nyaman berada di dekatmu. Jadi apa pun yang kamu miliki dia pasti tidak akan mengeluh.” Ujar Iskandar panjang lebar.


“Benar, Dik. Wanita itu paling anti sama wanita lain. Istriku saja langsung mengatakan jika dia tidak siap di poligami sesaat setelah ijab kabul. Bayangkan saja betapa menakutkan poligami bagi mereka. Mencegah lebih baik dari mengobati.” Reski ikut memberi nasehat untuk Dika.


“Terima kasih. Aku akan membicarakan ini dengan Dita. Semoga dia setuju.”


“Aku yakin 100 persen dia akan meloncat ke pelukanmu kalau tahu kamu memilih keluar dari hotel karena menjaga perasaannya.” Sahut Ari.


Setelah puas berbincang, mereka memilih kembali ke rumah. Sementara di kamar Faisal, Ayu sedang menerima telepon yang ke sekian kalinya setelah ia memasang foto Aisyah di koran.


“Bukti apa yang ibu punya kalau bayi itu anak Ibu yang hilang?” tanya Ayu.


“Dia memiliki tanda lahir di dekat pusar berwarna hitam dan di bawah ketiaknya juga ada dua bulatan kecil berwarna hitam. Saat kejadian tsunami, dia memakai kalung kain berwarna hitam yang terbuat dari kain. Dia juga memakai baju berwarna putih dengan gambar anak itik berwarna kuning di seluruh badan.”


Deg...


 


***

__ADS_1


Bantu CUT dengan TIDAK SKIPP IKLAN


terima kasih...


__ADS_2