
Para warga semakin banyak berdatangan ke sepetak tanah milik almarhum Abu. Iskandar memimpin doa seperti sebelumnya sementara sang ayah sambung beserta sang adik masih tetap fokus menyorot tiap sudut yang dianggap mencurigakan. Jiwa tentara melekat kuat dari ayah dan anak itu.
“Pak Komendan, apa kabar?” sapa seorang pria paruh baya.
Pria itu masih mengingat dengan jelas wajah pria yang dulu bertugas di kampung mereka. Para warga tahu jika Cut telah menikah dengan komandan yang bertugas di kampung mereka dulu dari mulut Mae saat ia pulang kampung sebelum menikah. Saat itu, Mae mencari kerabatnya untuk melamar wanita yang sekarang menjadi istrinya.
Rendra berjabat tangan dengan pria paruh baya tersebut padahal anak dan istrinya sedang khusuk berdoa. Tangan Anugrah mengadah seakan sedang berdoa tapi matanya tidak sedikitpun menyoroti tiap sudut sesuai permintaan sang ayah. Setelah membaca yasin dan berdoa, Cut menyapa warga yang sudah berkumpul di lahan bekas rumah mereka dulu. Para warga menyalami satu persatu keluarga Cut dengan penuh suka cita.
Setelah merasa cukup, Cut mengajak Mae untuk mengunjungi keluarga almarhum Miftah. Mae sudah mendengar jika ibu dari Miftah sudah lama sakit tidak bisa bangun lagi. Semenjak ayah dari Miftah meninggal, ibunya mulai sakit-sakitan hingga akhirnya tidak bisa bangun lagi. Beliau di rawat oleh salah satu kerabat. Cut meminta putranya untuk menurunkan beberapa sembako yang tadi ia beli. Cut memang sudah berniat untuk mengunjungi Ibu dari sahabatnya itu.
“Ini Cut, Mak Cek. Apa Mak Cek ingat?” ucap Cut mulai menitikkan air mata di depan wanita tua renta yang sedang terbaring tak berdaya di atas selembar kasur lusuh.
“Cut anak Bang Din di Banda?”
“Iya, Mak Cek.” Jawab Cut lembut.
Anugrah bersama sang kakak menurunkan sekarung beras, gula, minyak dan telur untuk keluarga Miftah.
“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?” tanya Rendra pada kerabat yang menjenguknya.
“Rumah sakit jauh, Pak. Saya juga tidak punya biaya untuk membawa Mak Wa berobat.
“Bukannya sekarang berobat itu gratis?” tanya Faris yang tahu sedikit masalah pengobatan di rumah sakit.
Sang kerabat masih berdalih dengan berbagai alasan. Rendra menatap kurang senang pada kerabat dari almarhum Miftah ini. Setelah berbincang selama kurang lebih satu jam, Cut bersama keluarganya memohon pamit untuk pulang. Air mata wanita renta yang sedang terbaring itu sungguh menyesakkan dada Cut. Sebelum manaiki mobil, ia menghampiri kuburan sang sahabat yang berada di samping rumah tersebut.
“Assalamualaikum, Miftah. Maaf karena baru sekarang aku datang mengunjungimu. Kini gampong kita sudah aman. Aku bisa leluasa pulang ke sini walaupun suamiku yang dulu bertugas di sini sedikit takut. Aku harap kamu bahagia di sana seperti janji kita dulu. Kita akan terus bahagia walaupun tidak bersama.” Cut menghapus air matanya saat tangan sang suami merengkul bahunya.
“Dia pasti bahagia di sana dan semoga mereka berdua bertemu kembali.” ucap Rendra.
Saat di perjalana pulang, Rendra menceritakan bagaimana salah satu anggotanya gugur saat membalaskan dendam pada para pemberontak yang telah membunuh calon istrinya. “Kisah cinta yang luar biasa. Ternyata seserem itu para pemberontak di kampung Mama dulu. Berarti Abang dari Mama itu juga serem ya? Kan pemberontak juga.” Celutukan Anugrah membuatnya harus menahan nyeri saat bahunya dipukul oleh sang ayah.
Mereka sampai di kota Banda menjelang magrib. Setelah makan malam, mereka berbincang sebentar. Tentu saja yang akan dibicarakan oleh Pak Cek Amir ini adalah sesuatu yang penting yaitu soal warisan dari almarhum Abu. Mae sendiri sudah kembali ke rumahnya. Pak Cek sudah memintanya untuk kembali lagi esok karena akan membicarakan sesuatu hal yang penting.
__ADS_1
“Selagi kamu masih berada di sini maka seperti yang Pak Cek bilang sebelumnya. Selesaikan masalah waris ini jangan sampai anak-anakmu tidak mendapat haknya. Selesaikan saat Pak Cek masih ada.”
“Tapi itu masih ada hak Rendra, Pak Cek.”
“Papa dapat warisan, Kak?” bisik Anugrah pada sang Kakak.
“Bukan Papa, tapi anak dari kakaknya Mama. Bayi yang Papa kita kasih nama itu. Kan udah diceritakan, masa kamu lupa?” dengus kesal Iskandar yang dibalas santai oleh sang adik.
“Ya sudah, Cut ikut aturannya saja, Pak Cek. Cut juga tidak mengerti soal warisan.” Balas Cut.
“Pembagian seperti apa yang kamu mau? Apa sesuai aturan atau bagaimana?” tanya Pak Cek Amir kembali.
“Seperti kami, kami mewarisi rumah untuk Intan dan ruko untuk Faris karena dia kepala keluarga jadi dia butuh tempat untuk mencari nafkah. Sementara Intan hanya menerima nafkah dari suaminya jadi dia tidak butuh ruko. Karena dia berada di Turki jadi rumah ini ia ijinkan untuk ditempati oleh Faris sekalian untuk menjaga kami. Sedangkan tanah kami bagi rata. Sementara untuk almarhum Razi, kami sudah memberikan haknya berupa sepetak tanah kami wakafkan untuk balai pengajian.”
Cut tampak berpikir sesaat, “Tanah bekas rumah itu biar menjadi milik Rendra karena di dalamnya ada kuburan orang tua serta abangnya. Dan biarkan saja seperti itu, Pak Cek. Cut tidak mau mengambilnya.”
“Ruko dan tanah serta rumah di atasnya? Ladang dan sawah di kampung bagaimana?” tanya Pak Cek kembali.
“Bagaimana kalau ruko itu diberikan saja untuk Mae? Dan untuk rumah, kita tanya saja apa dia mau menyewa rumah tersebut atau tidak? Bagaimana?”
“Ruko dan rumah lebih mahal Ruko, Cut. Coba pikirkan kembali. Benar kalau dia sudah seperti anak bagi Abu dan Umi tapi dia bukan ahli waris. Dan tidak diangkat anak oleh orang tuamu.” Jelas Pak Cek Amir. Jika dibagi sesuai aturan syariat maka Pak Cek yang akan menerima bagian lebih besar karena Pak Cek wali dari kamu karena tidak ada Rendra. Seandainya ada Rendra maka bagian dia lebih besar karena dia keturunan laki-laki dari anak laki-laki.”
Cut pusing dengan pembagian warisan. Akhirnya dia memutuskan untuk mempercayakan pembagian warisan pada Pak Cek Amir sepenuhnya.
Keesokan harinya, Mae beserta istrinya sudah datang ke rumah Pak Cek Amir. Di sana juga sudah datang seorang ustad yang sengaja diundang oleh Pak Cek Amir untuk menjelaskan pembagian warisan tersebut. Setelah mengumpulkan semua aset yang menjadi milik Abu dan Umi maka ustad tersebut mulai menghitung berapa persen yang akan di dapat oleh masing-masing anak.
“Teungku, anak dari almarhum abangnya belum ditemukan. Jadi bagaimana?” tanya Pak Cek Amir.
“Kalau begitu maka yang berhak mendapat bagian lebih besar adalah Pak Cek karena Pak Cek adik dari Abu.”
Setelah kepulangan ustad tersebut, Pak Cek sama Cut sepakat untuk membagi dengan cara mereka saja.
“Mae, karena ruko dan rumah menjadi milik Pak Cek maka Pak Cek ingin menjual ruko tersebut untuk kamu tidak untuk yang lain. Apa kamu berniat membelinya?” tanya Pak Cek Amir.
__ADS_1
“Berapa, Pak Cek?”
“20 juta saja! kalau pasarannya saat ini mungkin sekitar 50 juta. Tapi karena kamu sudah berjasa membangun ruko itu maka Pak Cek ingin memberikan harga rendah hanya untuk kamu. Sementara untuk rumah yang kamu tinggali, Pak Cek izinkan kalian tinggal di sana selama 10 tahun. Pak yakin kalau kamu hemat dan bekerja keras, tidak sampai 10 tahun kamu sudah bisa membeli tanah dan membangun rumah. Apalagi penghasilan dari ruko itu cukup banyak.”
“Baik, Pak Cek. Tapi untuk uang dua puluh juta, Mae belum punya sebanyak itu.” lirih Mae.
Pak Cek melirik ke tangan istri Mae sekilas, “Mae, ruko itu bisa menghidupimu seumur hidup. Kamu tidak akan rugi untuk membelinya apalagi harganya di bawah harga pasar. Jual saja dulu emas yang kamu beli untuk istri dan anak-anakmu. Kelak, hasil dari ruko bisa kamu beli emas lagi bahkan lebih banyak dari sekarang.”
“Iya, Mae. Abang sepemikiran dengan Pak Cek Amir. Dalam berbisnis kamu harus pandai mencari peluang. Ruko itu tidak pernah sepi karena letaknya ada di dalam pasar. Kalau kamu tidak beli maka Abang jamin kamu akan menyesal seumur hidup.” Ucap Rendra mencoba membuat mata Mae terbuka.
Mae tampak terpengaruh dengan perkataan Rendra. Ia melirik sang istri yang juga sedang meliriknya. “Istri yang baik itu yang mendukung suaminya. Begitu juga istri kamu. Dia pasti mendukungmu untuk lebih sukses dan mandiri. Selama ini kalian sudah menikmati hasil dari ruko tampa Pak Cek minta sedikitpun. Bukankah waktunya sudah cukup untuk kalian mengumpulkan uang? Dan sekarang harusnya kamu sudah siap untuk membeli ruko tersebut dengan uang yang selama ini kamu simpan dalam bentu emas pada istrimu.” Ucapak Pak Cek sepertinya tajam sekali jika melihat reaksi Mae dan istrinya.
“Bagaimana, Marlina? Kalau kamu tidak memberikan emas itu untuk modal Mae membeli ruko maka bisa jadi ke depannya emas yang kamu pakai itu akan kamu jual juga saat kalian tidak punya rumah dan penghasilan.” Lanjut Pak Cek.
“Kalian bukan keluarga kami tapi dengan seenak hati menyuruh ini dan itu. Apa hak kalian ikut campur urusan rumah tangga kami! Keluargaku saja tidak ikut campur urusan kami. Ayo Bang, kita pulang!!!”
“Baiklah kalau kamu berkata begitu. Maka mulai besok, pindahlah dari sana!” ucap Pak Cek Amir emosi pada Istri Mae. Padahal dulu, dia lah yang menjadi orang tua dari pihak Mae untuk melamarnya tapi sekarang mengatainya.
“Mae, berpikirlah sebagai laki-laki dewasa! Daun pintumu sudah rusak, carilah yang baru!” ucap Pak Cek Amir lalu pergi meninggalkan Mae yang masih terpaku di sana.
“Ayo, Bang! Kalau tidak aku pulang sendiri ini.” Teriak istri Mae dari luar.
Mae menatap Cut dan Rendra bergantian. “Harusnya tidak hanya jiwa dagang Abu yang kamu pelajari tapi cara berumah tangga serta memilih istri juga kamu pelajari sehingga kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Benar kata Pak Cek Amir, daun pintumu sudah rusak. Sebaiknya kamu ganti dengan yang baru.”
Mak Cek Siti berujar pelan menatap sendu pada Mae. Dia tidak pernah sekalipun melihat suaminya dihina seperti itu di depan umum. Sekalipun tidak suka harusnya tidak langsung dijawab dengan penuh emosi.
“Hubungannya daun pintu sama masalah ini apa, Kak?” tanya Anugrah pada Iskandar yang masih berada di sana.
“Itu kiasan orang tua pada anaknya. Itu juga salah satu kisah di zaman nabi. Kalau istrinya sudah tidak baik maka orang tua akan berkata pada anak laki-lakinya seperti itu. Yang berarti carilah istri baru karena istri lama sudah tidak bisa dijadikan istri.”
***
Like jangan lupa gaeyysss....
__ADS_1