CUT

CUT
Datang dan Pergi...


__ADS_3

Matahari yang tadinya terik telah terbenam meninggalkan pulau dalam gelap dengan cahaya bulan sabit serta lampu-lampu mulai dinyalakan oleh penghuni rumah. Ke tiga istri Khalid sudah kembali ke rumah masing-masing. Para tentara sudah mengantongi semua informasi yang dibutuhkan. Termasuk keseharian Khalid selama berada di sana.


“Bang Khalid setiap hari ke ladang.” ucap Mala pada para tentara.


Pulau sudah terkepung, para tentara semakin banyak berdatangan. Mereka menyusuri bukit untuk mencari sosok Khalid. Hingga menjelang tengah malam, suara tembakan bersahutan terdengar hingga ke daerah pemukiman.


Dor....dor...


Ke tiga istri Khalid hanya bisa berdoa supaya sang suami baik-baik saja, tapi pada kenyataannya memang Khalid baik-baik saja. Dia adalah pria cerdas yang memiliki banyak akal hingga aparat sulit untuk menangkapnya selama ini. Terlebih lagi, wajah Khalid tidak pernah diketahui jelas oleh mereka. Hanya sketsa yang mereka miliki untuk mengenal sosok bernama Khalid.


Hingga fajar menyingsing, suara ayam berkokok bersahutan Khalid belum juga kembali. Pulau sudah dikuasai oleh aparat keamanan. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Khalid bahkan, pondok di atas bukit yang ia bangun sudah di bakar oleh para tentara semalam.


“Dia sudah tahu kita datang, Dan.” salah satu tentara yang baru turun dari atas bukit memberikan laporannya.


“Cari terus! Pulau ini sudah dikepung, dia tidak bisa keluar.” titah komandan tersebut.


Hari berlalu berganti hari namun Khalid belum juga tertangkap. Para tentara terus mengawasi gerak gerik ke tiga istrinya. Termasuk Mala yang saat ini hendak ke kota bersama Bang Mayed.


“Kamu tidak dibolehkan ke luar pulau!” seorang tentara menghampirinya yang hendak menaiki bot Bang Mayed.


“Saya perlu membeli beberapa kebutuhan dan itu hanya bisa di dapat di kota. Selama ini juga saya selalu pulang pergi ke kota.” sanggah Mala.


Ia sangat tidak menyukai keadaan di pulau selama kehadiran para tentara. Keinginannya untuk sekedar jalan-jalan di kota untuk melepas penat dan bosan karena pergerakannya yang mulai sempit. Ia ingin menikmati segelas es campur atau sepiring mie caluek di kota, namun semua itu sirna sudah. Keinginannya kali ini hanya akan jadi angan-angan semata selama Khalid belum ditemukan.

__ADS_1


Hari berganti bulan hingga akhirnya persalinan yang ditunggu datang juga. Kedua kakak beradik kini sedang berada di rumah Keuchik Banta bersama seorang dukun beranak. Nek Bit merupakan seorang perempuan sepuh yang dikenal sebagai dukun beranak di pulau tersebut. Tari dan Ceudah dibaringkan dalam satu kamar, di sana juga ada Mala dan istri Keuchik Banta.


“Ambilakan dua gelas air!” pinta Nek Bit.


Mala bergegas mengambilkan apa yang diminta Nek Bit. Dua gelas air tersebut di letakkan di depan Nek Bit. Lalu, mulut Nek Bit langsung berkomat-kamit mengucap beberapa doa yang hanya dia dan tuhan yang tahu. Kontraksi yang dirasakan oleh Tari dan Ceudah sudah cukup lama namun, bayinya belum juga keluar.


“Minumkan ini!”


Mala mengambil gelas beris air yang sudah didoakan tersebut lalu memberikannya pada Tari yang sudah terlihat kelelahan dengan keringat bercucuran. Sedangkan sang ibu mengambil gelas lalu memberikannya pada Ceudah yang terlihat sangat lemah.


Ceudah yang selama kontraksi hanya bisa menangis dalam diam lain halnya dengan Tari yang terus memanggil-manggil nama Khalid. Mulutnya tidak berhenti berbicara dan sesekali ia juga menjerit kesakitan akibat kontraksi.


Setelah 20 menit meminum air doa tadi, bayi Ceudah dan Tari lahir bersamaan dengan suara tangisan yang cukup kencang. Kedua bayi tersebut berjenis kelamin laki-laki. Karena lahir bersamaan, Mala mendapat tugas untuk menyambut bayi Tari dengan tangannya. Mala bergetar melihat bayi merah itu keluar dari rahim Tari sambil menangis. Tanpa terasa, air matanya menetes sambil tersenyum bahagia.


Mala, gadis yang Khalid nikahi beberapa bulan ini belum juga mendapat tanda-tanda akan kehadiran malakat kecil dalam hidupnya. Sehingga, ia sering merasa sedih ketika melihat dua madunya menjalani kehamilan. Khalid sangat mengerti akan kesedihan sang istri sehingga, sering kali ia menyelinap diam-diam ke rumah Mala untuk menghiburnya. Mala yang sering menangis di tengah malam membuat Khalid tidak tega membiarkannya sendiri.


Sore itu seharusnya menjadi sore yang membahagiakan untuk keduanya namun, suara tembakan justru terdengar kembali dalam waktu yang lama. Tari yang tadinya hendak tidur kembali membuka mata. Mala mendekap erat bayi mungil milik Tari dengan mata basah. Mulutnya terus berucap doa-doa supaya sang suami selamat.


Menjelang isya, suara tembakan telah berhenti dan diganti dengan jeritan seorang wanita yang baru melahirkan.


Sesosok mayat dengan lumuran darah di badan dan kepala dibawa ke rumah mereka untuk dimintai konfirmasi.


“Bang Khalid....” teriakan Tari yang masih susah berdiri di depan jenazah sang suami.

__ADS_1


Sementara Mala hanya bisa meneteskan air mata seraya mendekap erat bayi merah yang belum diberi nama tersebut. Ceudah memberikan bayinya pada sang ibu lalu dengan tertatih ia berjalan mendekati jenazah sang suami. Tangannya menyeka wajah sang suami untuk memastikan apakah jenazah ini suaminya atau bukan.


Khalid terlihat kurus dengan bulu-bulu lebat di dagunya.


“Maafkan semua kesalahan Ceudah dan Ceudah juga sudah memaafkan Abang. Anak kita sudah lahir, laki-laki pemberani seperti ayahnya. Dia juga tampan seperti Abang. Kami ikhlas melepas Abang pergi. Semoga kita bertemu lagi di surga.” ucap Ceudah lalu mencium kening sang suami penuh takzim.


Lalu dengan bahasa isyarat, ia meminta sang ibu untuk membawa bayinya mendekat. Ceudah memperlihatkan bayinya di dekat jenazah Khalid, sebelah tangan bayi itu bergerak menyentuh wajah ayahnya yang sudah tiada.


Di saat yang sama, Tari menjerit sekuat tenaga. Keuchik Banta berusaha menenangkan putrinya namun sia-sia. Mala mendekati jenazah Khalid bersama bayi Tari.


“Maafkan semua kesalahan Mala dan Tari juga ya, Bang. Ini anak Abang dan Tari, dia laki-laki dan tampan seperti Abang. Kelak dia yang akan menjaga Tari. Kami sudah mengikhlaskan kepergian Abang. Tunggu kami di surga.” Mala melakukan hal yang sama seperti Ceudah. Mendekatkan bayi itu ke wajah ayahnya.


Para warga tak kuasa menahan tangis.


Malam itu, di saat kedua bayi merah itu datang ke dunia, ayah mereka justru pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Para warga berbondong-bondong hadir ke rumah Keuchik Banta untuk menyiapkan pemakaman yang akan dilakukan esok hari. Kedua bayi itu dibaringkan di samping ayahnya yang sudah dimandikan.


Tari jatuh pingsan, sementara Ceudah dan Mala duduk berdampingan di dekat jenazah sang suami. Kedua bayi tersebut tertidur nyenyak di samping sang ayah yang sudah dikafankan.  


***


LIKE...KOMEN...SHARE...


Terima kasih masih setia menunggu CUT.

__ADS_1


mampir juga ke karya aku yang baru ya.



__ADS_2