CUT

CUT
Karena Kita Berbeda...


__ADS_3

“Kenapa bisa sampai begini, kamu balapan dimana?” tanya Rendra memperhatikan sang putra.


“Sebentar lagi kamu berangkat tapi kondisi kamu malah seperti ini. Ya ampun, Is. Kamu niat berangkat tidak sih?” giliran sang mama menimpali.


“Ini diobati sama Mama Adit?” Iskandar mengangguk pelan.


“Jangan balapan lagi kalau mau berangkat atau Papa batalkan semuanya. Sekarang makan dulu baru setelah itu kamu tidur.” Pada akhirnya Iskandar hanya bisa menurut perintah sang ayah yang sudah berubah ke mode tentara.


Setelah memastikan Iskandar tidur, Cut dan Rendra kembali ke kamar mereka. Kali ini, Cut yang berkeluh kesah mengenai sikap mertuanya.


“Rencana kita gagal total.” Keluh Cut.


“Hmmm, apa boleh buat. Mama sudah tahu dan besoknya pasti akan datang kembali untuk memastikan jika kita tidak mengulang rencana itu lagi.”


Cut bersandar di dada sang suami, “Padahal Adek udah yakin jika mereka akan akur jika kita tinggalin berdua. Bang, Adek ngerasa kalau Mama tidak menyukai Iskandar.”


“Jangan berburuk sangka! Mama hanya tidak suka dengan rencana kita. Apalagi sampai melihat Iskandar terluka begitu. Mama itu sangat menjaga anak-anaknya. Makanya, Mama rela berhenti kerja untuk bisa menjaga dengan baik saat Papa tugas.”


Keduanya menghabiskan waktu dengan membahas berbagai masalah serta mencari solusi untuk mengakrabkan kedua putra mereka kembali tanpa menyalahi aturan sang mertua. Dan keesokan paginya, Ibu Yetti kembali datang ke rumah mereka. Di sana sudah ada Rendra yang sedang memperbaiki sepeda Anugrah sementara Cut hanya duduk menemani sang suami. Anugrah sendiri sedang menonton televisi bersama Iskandar.


Begitu mendengar suara neneknya di luar, Iskandar langsung kembali ke kamar.


“Apa masih bisa diperbaiki? Kalau tidak, jua saja biar Mama beli yang baru untuk Anugrah.”


“Tidak usah, Ma. Ini masih bisa dipake sampe dia lulus SMP.” Ucap Rendra.


Ibu Yetti langsung masuk ke dalam untuk melihat sang cucu.


“Cucunya Nenek, lagi ngapain?” Ibu Yetti menghampiri sang cucu dengan senyum hangat.


“Nonton, Nek.”


“Nenek  beli sepeda baru, mau?”


Ditanya begitu tentu saja Anugrah mau. Dia memang selalu dimanjakan oleh neneknya dan dia senang. Berbeda dengan kedua orang tuanya.


“Ayo!”

__ADS_1


Anugrah keluar rumah berpamitan pada Mama dan Papanya. “Adek pergi dulu ya Ma, Pa.”


“Mau ke mana?” tanya sang ayah.


“Nenek mau beli sepeda baru.”


Cut dan Rendra tidak lagi mengatakan apa-apa. selepas kepergian mereka, Cut duduk dengan pandangan kosong memikirkan banyak hal yang selama ini menganggunya.


“Mama tidak begitu dengan Iskandar. Ini membuktikan jika Mama hanya menyayangi Anugrah karena Anugrah cucunya bukan Iskandar.”


“Ma, kita sudah bahas ini. Jangan sampai gara-gara masalah sepela, kita yang ribut.”


“Pa, Mama bukan sekedar merasa tapi pada kenyataannya Mama memang lebih perhatian sama Anugrah dari pada Iskandar. Seperti saat ini. Mama terlalu memanjakan Anugrah dan nanti kita sebagai orang tua yang repot. Anak dua pengasuh itu susah diatur. Saat kita tegur, dia akan lari ke tempat neneknya. Kapan Anugrah  bisa dewasa kalau neneknya selalu memanjakan.”


“Sayang, biar saja. Tidak perlu marah-marah. Mama begitu karena hanya Anugrah cucunya. Andai kita punya anak lagi, tentu Mama akan terpecah perhatiannya. Tidak melulu hanya Anugrah.” Sahut Rendra.


“Ya, karena Mama tidak menganggap Iskandar juga cucunya. Aku tidak buta, aku tahu Mama kamu berubah begitu Anugrah lahir. Dulu Mama kamu baik sama Iskandar tapi begitu ada Anugrah, semuanya berubah. Masih juga kamu bilang Mama kamu tidak pilih kasih? Orang buta juga bisa lihat.”


Brak…


Tanpa mereka ketahui, sepasang telinga tengah mendengar semua percakapan mereka. Ya, dia adalah Iskandar. Anak itu berdiri tidak jauh dari mereka dan dengan jelas telinganya menangkap semua pembicaraan tersebut. Ia kembali ke kemar dengan berbagai perasaan berkecamuk dalam dadanya.


Rendra membersihkan diri lalu dengan motornya, ia pergi meninggalkan Cut yang juga lagi tersulut emosi. Cut duduk di teras rumahnya hingga suara beberapa orang anak kecil terdengar memberi salam.


“Iskandar ada Tante?” tanya Adit sedikit was-was.


Cut memaksakan diri tersenyum pada anak-anak itu. “Ada, masuk saja! Sebentar, Tante panggil dulu ya. Tapi jangan diajak main ya! Isnya masih sakit.”


“Gak, Tante. Kami kemari mau menjenguknya.”


“Oh iya, Tante sampe lupa. Kalian balapan sepeda di mana kok sampai jatuh?”


Adit pun menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpa Iskandar dan Deni.


“Besok-besok jangan balapan lagi ya, Is kan mau berangkat. Takutnya malah gak jadi nanti gara-gara balapan.”


“Maaf, Tante.” Lirih mereka serentak.

__ADS_1


Cut tersenyum kecil, “Tidak apa-apa. Tante senang karena Iskandar bisa berteman dengan kalian. Dan kalian juga mau berteman dengan dia. Terima kasih ya!”


“Kami juga senang berteman dengan Iskandar, Tante.


“Ya sudah, Tante panggil dulu.”


Tok…tok…


“Nak, di luar ada teman-teman kamu.”


Iskandar yang sedang berbaring langsung bangun menemui teman-temannya. Senyuman teman-temannya sedikit melegakan hati Iskandar saat ia keluar kamar. Melihat betapa perhatian mereka padanya membuat emosi Iskandar yang sempat meledak-ledak kini mulai tenang. Amarahnya berganti dengan kebahagiannya apalagi Adit datang membawa sebuah kota makanan yang isinya tentu saja menggiurkan untuk orang sakit.


“Mamaku buat ini untu kamu dan Deni. Tadi kami sudah ke rumah Deni lebih dulu baru sekarang ke rumah kamu.” Ucap Adit menyerahkan kota berisi bubur ayam special buatan ibunya.


“Kata Mama, ini bagus buat kamu yang lagi sakit.” Lanjut Adit kembali.


“Tapi, kami juga dapat tadi di rumah Adit.” Sela Beno.


Begitulah Mama Anita memanjakan teman-teman Adit dengan makanan dan perhatian hingga anak-anak ini sampai sudah mau masuk SMA tetap tidak berubah. Jika bermasalah di rumah, mereka akan lari ke rumah Mama Anita untuk sekedar curhat. Anak-anak ini juga tidak sungkan membantu Mama Anita jika sedang kerepotan di rumah. Mulai dari menyapu hingga membantu mencuci piring jika Mama Anita sedang di rumah sakit. Selama ada Adit di rumah, maka mereka bisa bebas bergerak membantu pekerjaan rumah bersama Adit tentunya.


“Wah, ada bubur ayam. Mama Adit yang bikin ya?” tebak Cut.


“Iya, Tante. Mama bilang bagus untuk orang sakit.”


“Mau makan sekarang, biar Mama ambil sendoknya?” Iskandar mengangguk kecil.


“Sampaikan terima kasih Tente untuk Mama Adit ya!” ucap Cut sebelum kembali ke dalam.


“Mama sama Papa kamu tidak marah, Is?”


“Nenekku semalam marah besar karena sepeda Anugrah rusak.”


“Apa???”


 


***

__ADS_1


__ADS_2