
Anugrah menatap Wulan yang sudah siap dengan es batu dan obat merah. Sebelumnya ia sudah menghubungi sang ibu untuk memberitahukan bahwa mereka akan menginap di rumah dinas dengan alasan banyak pekerjaan. Anugrah tidak ingin ibunya melihat dan bertanya-tanya dengan lebam di wajahnya hasil perkelahian dengan sepupu durhaka.
“Sudah hubungi Kakak?” tanya Wulan.
“Sudah, katanya sebentar lagi sampai di rumah.” Wulan menyerahkan kantung es ke tangan Anugrah. “Apa yang kalian bicarakan malam itu?” tanya Anugrah. Dia belum sempat bertanya apa-apa tentang malam itu saat mendapati Wulan dan ibunya tidur bersama.
“Kami bercerita hal-hal lucu dan ringan sambil makan camilan. Dan ternyata Mama sangat menyukai camilan walaupun setelah makan dia akan berdoa semoga camilan dalam perutnya akan menjadi kotoran semua di keesokan hari.” Anugrah tersenyum kecil menatap manik mata gadis itu. Tatapan lain dari biasanya.
Wulan langsung mundur saat Anugrah secara perlahan mendekat ke arahnya. “Maaf,” ucap Anugrah tersadar dengan apa yang sudah ia lakukan.
“Aku ke kamar dulu.” Ucap Wulan lalu mencoba bangkit dari duduknya. Anugrah reflek bangun untuk membantu tapi Wulan langsung menolak dengan mengangkat tangannya. “Biarkan aku berusaha supaya kakiku tidak terlalu nyaman dipapah olehmu terus.” Anugrah mengangguk lalu dia berjalan di samping sang istri bahkan menurukan ritme jalannya menjadi sangat pelan layaknya siput.
Begitu sampai ranjang Wulan justru terjatuh dan Anugrah yang hendak menangkap tubuh Wulan malah terjatuh di atas tubuh Wulan karena kurang keseimbangan. Keduanya bersitatap beberapa detik sebelum Wulan membuang mukanya. Tapi satu hal yang Anugrah rasakan saat itu adalah dada Wulan yang menempel erat padanya membuat Anugrah sedikit merasa nyaman dan penasaran dengan benda itu.
“Ehem…” Wulan berdehem menyadarkan Anugrah yang terlalu nyaman berada di atasnya.
“Maaf,” ucap Anugrah lalu bangkit berdiri dan keluar dari kamar dengan perasaan canggung. Bukan sekali dua mereka dalam kondisi seperti itu tapi entah apa yang membuat Anugrah tiba-tiba berpikir ke arah sana. Selama ini bahkan Anugrah sudah melakukan lebih dari itu seperti membantu Wulan memakaikan celana hingga meresleting gaunnya. Bahkan mandi bersama pun pernah mereka lakukan saat Anugrah tiba-tiba dipanggil ke kantor sementara ia sedang memandikan Wulan. Untuk menghemat waktu, ia membuka kaosnya lalu mandi bersama di bawah guyuran shower.
“Jangan ke kamar mandi sendiri!” ucap Anugrah di balik pintu.
Setelah kecanggungan yang terjadi, Wulan memilih tidur sementara Anugrah kembali ke ruang tamu untuk mengalihkan pikirannya dengan menonton TV. Sementara di kediaman Rendra, Iskandar baru tiba di rumah.
“Assalamulaikum,”
“Walaikumsalam,” jawab Bibik tapi Cut? Wanita itu menjawab dalam hati. Bahkan ia sama sekali tidak melirik putranya yang sudah merebahkan diri dalam pangkuannya. Seperti itulah trik Iskandar untuk meluluhkan hati sang ibu. Melihat itu, si Bibik langsung meninggalkan majikannya. Iskandar sudah mengetahui perihal kegalauan sang ibu dari adik terkasihnya.
“Ma, jalan yok!”
“Sudah lama kita tidak jalan-jalan berdua kayak dulu. Mama ingat gak waktu dulu kita jalan sebelum aku ke Yaman terus kita lihat Papa sama Tante Risma. Siapa tahu kalau kita keluar sekarang kita akan melihat Papa sama Tante itu atau tante-tante lainnya.”
Plak…
“Kok Mama pukul aku? Aku cuma mengenang masa lalu yang sayang kalau dilupakan begitu saja. Aku juga lapar, sekalian kita makan di luar habis itu kita ke rumah dinas Anugrah. Kita kasih kejutan untuknya. Kalau bisa sekalian saja kita menginap di sana. Kita bikin repot mereka.” Ide yang tiba-tiba tercetus begitu saja yang akan membuat adiknya celaka.
“Mama ambil tas sama baju dulu.”
“Kok cepat banget siapnya, Ma?” goda Iskandar yang mendapat tatapan tajam dari sang ibu.
“Kemana, Ma, Is?” tanya Rendra yang baru pulang.
“Mau jalan-jalan berdua, Pa.” Jawab Iskandar.
“Kemana? Terus Papa bagaimana?”
“Ini waktunya ibu dan anak, Pa.” Jawab Iskandar seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Papa sendiri dulu ya! Mama pengen rasain gimana jalan sama brondong kayak di sinetron.” Cut mencium pipi sang suami lalu berjalan menuju mobil Iskandar.
Sementara di sebuah café, Anggia sedang menertawakan wajah pria yang dipanggil ‘paman’ dengan sangat puas hingga membuat Teuku kesal.
“Wah, Kak Anugrah hebat juga ya sanggup ngalahin Paman. Aku harus kasih selamat untuk Kak Anugrah.” Teuku menatap tajam gadis bercadar di depannya ini.
“Kamu temani aku bertemu orang tua Iskandar ya!”
Tawa Anggia tiba-tiba berhenti, “Paman, jangan kayak anak kecil deh. Baru dipukul begitu saja sudah lapor orang tua. Paman sudah besar jadi nggap saja ini cobaan hidup lalu lupakan!” Anggia dengan santainya menanggapi kekesalan sang paman.
“Ck, baik Ustazah. Aku anggap kamu mengiyakan ajakanku.”
“Kapan mau pergi?”
“Besok!”
“Oke!”
Merasa tidak ada pembahasan lain, Anggia kembali berselancar di dunia maya. Dia adalah selebram bercadar yang cukup terkenal dan sudah bercentang biru di aplikasi garam tersebut. Anggia tidak tahu jika salah satu pengikutnya adalah pria yang duduk tepat di depannya saat ini.
“Assalamulaikum, Ukhti…” Anggia tersenyum manis membaca sebuah pesan yang masuk dalam aplikasi garam tersebut.
“Walaikumsalam, Akhi…” balasnya tanpa peduli orang sekitar.
__ADS_1
“Lagi ngapain, Ukhti?”
Anggia tiba-tiba memotret gelas minumannya, “Mau ngapain kamu?” tanya Teuku tiba-tiba.
“Gak usah ngarap, Paman! Nyatanya gelas ini lebih menarik dari wajah Paman.” Ketus Anggia lalu kembali larut dengan ponselnya.
“Sama siapa?” balas akun itu lagi.
“Sama orang dong. Gak mungkin kan aku sama kamu?”
“Aku aminkan ya Uhkti!!!! Semoga Ukhti bisa sama aku.”
“???”
“Kok gak dibalas amin, Ukhti?” tanya akun itu kembali.
“Dibelum siap diaminkan!” balas Anggia.
“Ayo pulang!” ajak Teuku tiba-tiba membuat Anggia terkejut lantas mengikuti Teuku menuju parkiran.
Sementara di seberang café, Cut dan Iskandar tidak menyangka gurauannya akan menjadi kenyataan. Mereka melihat Teuku dan Anggia keluar dari café bersama. Iskandar menyesal dengan perkataannya. Karena pria itu lebih memilih bertemu dengan pacarnya dari pada dengan wanita yang sudah menjaganya saat bayi.
“Ma, kita lanjut lagi yok!” Cut mengangguk lalu keduanya kembali berjalan menyusuri trotoar.
“Ma, beli itu yok! Waktu aku kecil makanan begini belum ada.” Iskandar mengajak ibunya berhenti di depan pedagang bakso bakar dan telur gulung.
“Anaknya ya, Buk?” tanya bapak penjual pada Cut.
“Iya, Pak. Tidak mirip ya?” tanya Cut kembali.
Penjual itu tersenyum, “Hidungnya mirip Ibu, mancung!”
“Dia mirip keluarga ayahnya, Pak.” Bapak penjual itu mengangguk lalu, “Zaman sekarang suka bingung, Buk. Kadang saya sering salah kalau melihat pasangan seperti Ibu sekarang. Beberapa kali saya mendapat tatapan marah karena ternyata mereka bukan ibu dan anak melainkan pasangan kekasih.” Iskandar menggeleng kepalanya seraya tersenyum kecil.
Mereka duduk di bangku atas trotoar sambil menikmati jajajanan. “Enak ya, Ma?”
Cut mengangguk. “Bagaimana perasaan Mama sekarang?” tanya Iskandar pelan.
“Jangan memendam semua sendiri, Ma. Mama punya aku, Anugrah sama Papa. Biarkan saja orang lain tidak menghargai Mama tapi kami selalu ada untuk Mama.”
Iskandar menjeda ucapannya sesaat, “Papa Fais memang papaku tapi tanpa Mama aku tidak bisa seperti ini. Aku lebih membutuhkan Mama dari pada Papa! Jadi, Mama jangan takut kalau aku akan pergi ke rumah Papa lalu meninggalkan Mama. Mama itu segalanya bahkan kalau Mama tidak merestui aku dengan Aisyah. Aku akan tetap terima.” Cut menatap putranya tidak percaya.
“Kamu serius?”
“Kalau Mama tidak menyukai kepribadian Aisyah aku akan terima dengan ikhlas tapi kalau Mama menolak Aisyah karena dia dibesarkan oleh Papa maka aku akan menerima tanpa keikhlasan. Aisyah tidak memilih untuk dirawat oleh siapa? Dia hanya bayi tanpa dosa yang kebetulan nyaman dalam gendongan Papa saat itu. Apakah kita akan berlaku kejam dengan menolaknya karena dia besar dalam didikan Papa Fais.
“Kamu mencintainya?” Iskandar mengangguk.
“Saat ini dia belum tahu kalau kami bukan saudara kandung. Dia ada di rumah yatim miliknya di sebuah kampung tidak jauh dari sini.”
“Rumah yatim?” Iskandar mengangguk.
“Rumah yatim itu ia dirikan saat umurnya 20 tahun. Donatur tetap rumah yatim itu adalah keluarganya sendiri. Papa Fais, Buk Ayu dan Teuku.”
“Menikahlah jika kamu sudah yakin dengannya. Mama hanya bisa merestui dan mendoakan. Kamu lebih tahu siapa yang pantas mendampingimu kelak.” Iskandar mencium pipi ibunya tiba-tiba hingga membuat beberapa pengunjung sekitar melirik mereka dengan lirikan aneh.
“Ini ibu kandung saya, Mas, Mbak. Wanita hebat yang telah melahirkan dan membesarkan saya.” Ucap Iskandar seraya menatap satu persatu para pengunjung yang melirik mereka.
“Ayo pulang! Mama bisa dikira Tante Girang pecinta brondong dengan ulah kamu itu.”
“Kita jadi ke rumah Anugrah?” tanya Iskandar memastikan.
“Jadi, Mama sudah bawa baju satu setel. Kita beli makanan dulu sebelum ke sana.”
“Siap, Madam!”
Jam 10 malam mereka tiba di rumah dinas Anugrah. “Mama pengen nostalgia kembali ya?” tanya Iskandar saat mobil hendak melewati pos pemeriksaan. Iskandar menurunkan kaca mobilnya saat tiba di depan pos.
“Selamat malam, Bapak, Ibuk. Maaf mau kemana ini?”
__ADS_1
“Malam, Pak. Kami mau ke rumah Pratu Anugrah. Saya kakak dan ini ibunya.”
“Boleh kami minta KTPnya?” Setelah memeriksa KTP, mereka langsung diperbolehkan masuk dalam komplek.
Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat di depan rumah Anugrah sudah terparkir motor milik sang komandan.
“Papa tidak bisa jauh dari Mama kayaknya.” Celutuk Iskandar.
Begitu tiba di depan pintu, mereka memberi salam dan pintu terbuka menampilkan Anugrah yang tengah tersenyum jahil pada kakaknya tapi tatapan sang ibu dan kakaknya justru berbeda.
“Muka kamu kenapa?” Cut sedikit panik lalu mengikuti ke dalam.
“Aku pukul!”
Deg…
Rendra menjawab ucapan sang istri dan tentu saja semakin membuat Cut dan Iskandar bingung.
“Kami berlatih di atas ring tidak pakai pengaman wajah jadinya begini. Siapa suruh dia meragukan kekuatan ayahnya. Mentang-mentang dia lebih muda dia pikir ayahnya tidak mampu lagi menghajar orang.”
“Sudah diobati kok, Ma. Tidak ada yang serius.” Sela Wulan.
“Kalian ini kenapa sih pake latihan begini? Kamu juga, Pa. Masak tega mukul anak sendiri sampai babak belur begini. Aku tidak melahirkan dia untuk kamu pukul ya!” protes Cut.
“Papa tidak memukulnya, Ma. Itu murni latihan. Biarpun anak, latihan tetap harus profesional.” Sahut Rendra.
“Sudah, jangan berantem lagi. Ini rumah dinas, dindingnya nyatu sama rumah tetangga. Kalau mau berantem pulang ke rumah sana!” Iskandar menengahi.
“Mama bawa camilan?” tanya Wulan membantu sang kakak.
Cut melirik Wulan lalu mengambil satu plastik camilan. “Ayo, kita makan di kamar!”
“Ma, kami?” Anugrah memelas namun sayang aksinya tidak mempan untuk sang ibu. Di saat para wanita masuk ke dalam, para pria memilih duduk di taman depan.
“Siapa yang kamu hajar?” tanya Iskandar begitu mereka duduk di taman depan rumah. Anugrah dan Rendra mengeluarkan rokoknya.
“Sejak kapan kalian merokok? Bukannya Papa sudah berhenti?” lagi-lagi Iskandar yang bersuara.
“Kamu mau?” Rendra malah menawari Iskandar dan itu sukses membuat Anugrah tergelak.
“Anugrah menghajar sepupumu!” ucap Rendra membuat Iskandar terkejut.
“Sepup-, Teuku?” tanyanya tidak percaya.
Rendra dan Anugrah kompak mengangguk. “Kenapa?”
“Aku marah karena dia sudah menyakiti ibuku. Jadi aku hajar saja dia.” Jawab Anugrah santai.
“Ck, ibumu juga ibuku.”
Mereka kompak membahas tentang perkelahian itu sementara di kamar Wulan dan Cut sedang menikmati camilan mereka dan Cut mulai bercerita banyak hal tentang dirinya pada sang menantu.
“Mama hebat! Tetap begitu ya, Ma? Jangan terlalu dipikirkan apa yang sudah terjadi. nikmati dan tanggapi sesantai mungkin.”
“Terima kasih ya! Entah kenapa Mama merasa nyaman bercerita denganmu. Ternyata kamu manis juga kalau tidak galak.”
Wulan tertawa kecil mengingat masa-masa buruknya dulu. “Bagaimana kondisi kakimu?”
“Alhamdulillah banyak kemajuan. Mama lihat sendiri tadi, aku sudah bisa berjalan tanpa dipapah lagi.”
Cut tersenyum, “Mama yakin almarhum ibumu sudah bahagia di sana. Kamu juga harus bahagia! Hidup ini singkat jadi nikmatilah dengan produktif dan bersemangat.”
“Terima kasih, Ma.”
“Cari pria lain jika kamu tidak bahagia dengan Anugra!”
Gleg…
***
__ADS_1
Nah...apa ini maksudnya???