CUT

CUT
Hancur...


__ADS_3

POV CUT...


 


Air mata sulit tertahan, dadaku masih terasa menyesakkan. Berbagai pertanyaan muncul silih berganti di kepala tentang sebab musabab yang menimpa Razi. Di saat kehadirannya mampu membuatku tertawa lepas, kini dia pun pergi. Kenapa secepat ini dia pergi? Masih banyak yang ingin aku bicarakan dengan dia.


 


Kehadirannya selama ini sangat membantuku untuk melupakan masa lalu yang begitu menakutkan. Dulu, Jannah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata, kini dia juga pergi secara tiba-tiba tanpa kata. Siapa yang menembak Razi? Apa kesalahannya sampai Razi harus meregang nyawa seperti ini?


 


Ya Rabbi... kenapa mereka sangat kejam? Apakah mereka tidak punya hati sampai dengan mudahnya mengambil nyawa seseorang? Kepalaku berat dan ...


 


“Cut...”


 


“Cut....”


 


“Cut, bangun.”


 


Tepukan tangan seseorang di pipi membuatku mengerjap. Aku masih merasakan kepedihan di hati. “Umi, Cut mimpi buruk. Dalam mimpi Cut, Razi meninggal, Umi. Dia ditembak orang.”


 


“Dia baik-baik saja kan, Umi? Ini pasti cuma mimpi.” aku tidak sabar menunggu jawaban Umi.


 


“Benar, ini hanya mimpi. Kita tinggal di kota, Cut sampai lupa kalau kita tidak lagi tinggal di kampung. Alhamdulillah, ternyata cuma mimpi. Umi, Cut tidak bisa membayangkan jika Razi atau keluarga kita yang lain mengalami kejadian buruk seperti orang-orang di kampung. Cut takut, Umi. Cut takut.”


 


Aku kembali menangis, meraung seakan ini semua nyata. Hatiku sakit seperti disayat pisau. Dalam pelukan Umi, aku meluapkan perasaanku berupa tangis yang sulit kukendalikan lagi.


 


Sudah cukup lama aku memendam semua kesedihan, kepahitan dan kekesalan ini. Sumpah serapah, rasa marah dan pemberontakanku selama ini terpendam jauh di dalam hati, kini entah mengapa sangat ingin aku keluarkan.


 


Aku menangis sambil sesekali memukul dadaku yang kali ini sangat menyesakkan sehingga membuatku sulit bernafas. Umi memelukku lebih erat seakan mengerti dengan apa yang aku rasakan.


 


“Nak, tenanglah! Kalau begini kamu hanya akan membuat arwah Razi tidak tenang. Allah lebih menyayanginya dia sehingga mengambilnya lebih cepat. Dia sudah tenang, kita hanya perlu mendoakan saja sebagai bentuk kasih sayang kepadanya.”


 


Aku tidak mendengar jelas perkataan Umi. Yang aku tahu, hati dan perasaanku saat ini sangat sakit. “Umi, Cut mau bertemu Razi. Hari ini kayaknya dia tidak ke kampus.” Tangan Umi tiba-tiba menarik tanganku yang sudah berdiri. Umi menatapku dengan air mata berderai di pipinya.


 


“Umi, kenapa menangis?” tanyaku seraya duduk kembali di depannya.


 


Umi kembali memelukku. Sepertinya Umi juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. Seorang ibu kehilangan anaknya tentu bukan hal sepele. Selama ini Umi selalu menyembunyikan kesedihan hatinya pada kami. Bahkan, Umi sanggup memandikan jenazah anak menantunya di saat para orang tua yang lain mungkin akan menjerit atau pingsan.


 


“Nak, tenangkan dirimu. Kamu harus kuat seperti dahulu. Kalau kamu lemah, Intan dan Faris tambah lemah lagi karena kakaknya juga tidak kuat apalagi mereka.” aku menatap Umi dengan perasaan bingung dan aneh. Dan ...


 


Seperti suara petir menyambar tiba-tiba, aku berusaha mencerna satu persatu perkataan Umi. “Kamu pingsan saat jenazah Razi dimasukkan ke liang kubur. Mak Cek Siti juga pingsan di rumahnya saat jenazah Razi hendak dibawa ke mesjid.”


 


Tenggorokanku mengering dan suaraku rasanya tercekat di sana. “Jadi ini bukan mimpi?” aku bertanya dalam hati. “Istirahatlah, Umi mau ke rumah Mak Cek Siti dulu. Ada Mae yang menemani kamu di sini bersama Rendra.”

__ADS_1


 


 Kurebahkan kembali tubuhku dengan hati yang hancur tak bersisa di atas tempat tidur. Air mata terus berurai tanpa henti. Bahagiaku hanya sesaat kemudian kembali pergi meninggalkanku dengan kesedihan dan kehancuran.


 


Aku seorang gadis bernasib paling menyedihkan yang pernah ada di dunia ini. Kehidupan tidak membiarkanku bahagia terlalu lama. Di saat aku sudah bahagia, kehidupan kembali merenggutnya. Kehidupan ini sangat kejam. Apakah mati lebih baik? Aku juga tidak tahu.


 


kiranya mati lebih baik dari pada hidup, tentu orang-orang akan memilih mati. Dan tidak ada yang menangis jika mati. Razi, hidupnya cukup bahagia. Sehingga kehidupan mengambil kebahagiaannya terlalu cepat. Bahkan, dia belum mendapatkan gelar dokter yang selama ini ia impikan.


 


Para pura-puraku sudah pergi kembali ke tempat yang sudah ditakdirkan oleh sang pencipta. Kelak aku juga akan kembali ke sana. Tapi, bolehkan jika aku ingin kembali sekarang saja? Aku takut menemui kebahagiaan lagi setelah ini. Aku takut jika kehilangan ini terus berulang setiap kali aku bahagia.


 


Lebih baik aku jauh dari kebahagiaan jika harus bahagia tapi sementara dan berakhir dengan kepedihan serta kehancuran. Mulai sekarang tidak ada lagi kebahagiaan dalam hidupku. Wahai kehidupan, sebanyak apa pun kebahagiaan yang akan menghampiriku. tidak satu pun aku terima. Aku membenci kehidupan ini, aku membenci semua perasaanku saat ini.


 


Berapa banyak lagi kehidupan menyiksaku?


 


“Kak Cut... bangun, sudah zuhur.” suara Mae membangunkanku dari tidur panjang.


 


“Mae, Razi betul meninggal?” tanyaku untuk memastikan. Siapa tahu jin sedang mengganggu tidurku sehingga membawa alam sadarku ke mana-mana.


 


“Betul, Kak Cut. Bang Razi sudah meninggal. Tadi pagi sudah dikuburkan.” rupanya benar terjadi. Aku kembali merebahkan badan lalu memejamkan mata.


 


“Kak Cut...Kak Cut... Kak Cut sudah salat?” suara Mae kembali terdengar. Kepalaku rasanya berat  untuk bangun.


 


 


“Maeeee...berisik.” teriakku.


 


Ah...rasanya lega bisa membalas teriakannya. Aku tertawa sendiri, rasanya sangat menyenangkan bisa membalas Mae.


 


Aku turun ke bawah mencarinya dan ternyata dia sudah tidak ada. Aku kembali ke atas lalu mencari makanan karena perutku sudah lapar.


 


Sambil makan aku kembali berteriak memanggil namanya.


 


“Mae....”


 


“Mae....”


 


“Mae...”


 


Ah...ternyata dia sudah pergi.


 


“Hahahahah.....”

__ADS_1


 


 


***


 


POV AUTHOR...


 


Di rumah Mak Cek Siti...


 


Mae datang sambil menggendong Rendra. Wajahnya menyiratkan ketakutan. Abu dan Pak Cek Amir sedang menerima tamu. Mae mencari Umi ke berbagai sudut rumah juga tidak tampak. Faris dan Intan juga berada di kamar mereka. Ada beberapa kerabat yang suda tiba dari kampung serta kerabat dari keluarga Mak Cek Siti yang juga sudah hadir di sana.


 


“Cari siapa, Mae? Tanya Bang Ridwan yang merupakan salah satu pekerja di toko Pak Cek Amir.


 


“Umi, Abang lihat tidak?”


 


“Umi lagi mengantar makanan buat Mak Cek Siti ke kamar. Sebentar lagi juga keluar. Kenapa? Kamu seperti ketakutan. Ada masalah?”


 


Saat Mae hendak menjawab, Umi terlihat keluar dari kamar Mak Cek Siti. “Umiiii...”


 


Suara teriakan Mae cukup mengagetkan para tamu termasuk Abu. Mae langsung berlari menemui Umi dengan Rendra yang masih dalam gendongannya.


 


“Ada apa, Mae? Kenapa kamu teriak-teriak?”


 


“Umi, Kak Cut teriak dari atas toko.”


 


“Ada apa sama Cut, Mae?” tanya Abu panik.


 


“Coba ceritakan pelan-pelan biar kami paham.” ucap Ridwan yang ikut mendengarkan.


 


“Tadi Mae membangunkan Kak Cut untuk salat. Kak Cut tidak bangun, terus Mae teriak dari bawah.”


 


“Terus?” tanya Ridwan.


 


“Kak Cut menjawab Mae dengan berteriak juga Abu, Umi. Mae jadi takut. Kak Cut tidak pernah berteriak sebelumnya.”


 


Abu dan Umi saling menatap kemudian tertawa kecil. “Dia sedang mengerjai kamu. Makanya jangan suka teriak-teriak. Giliran dibalas kamu malah ketakutan begini.”


 


 


***


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...

__ADS_1


__ADS_2