CUT

CUT
Penculikan Lagi...


__ADS_3

Suami Dokter Widia mengusap wajahnya beberapa kali setelah mendengar pengakuan sang istri.


 


“Ma... Apa yang harus Papa bilang ke pihak berwajib? Bisa-bisa Papa juga akan diperiksa kalau begini.” sang suami tidak habis pikir dengan apa yang sudah istrinya lakukan.


 


“Maaf, Pa. Mama tidak membantu pemberontak, Mama hanya membantu seorang pemuda yang sedang memperjuangkan cintanya. Polisi harus bisa membedakan antara membantu untuk melanggar hukum atau membantu untuk cinta seseorang.”


 


“Sekarang, apa yang harus Papa katakan pada para penyidik di depan? Mereka pasti curiga sama Mama.”


 


“Karena ini kesalahan Mama, biar Mama yang bicara dengan mereka.” ucap Dokter Widia mantap.


 


Sepasang suami istri itu akhirnya keluar lalu menemui para penyidik. Wajah sang suami terlihat kusut sedangkan sang istri berupaya untuk kuat.


 


“Pak, ada yang harus saya katakan.”


 


Pihak berwajib harus menghela nafasnya setelah mendengar semua cerita Dokter Indah. “Dokter tidak takut? Dia salah satu pimpinan pemberontak yang sangat dicari. Dia bisa saja menyakiti atau membunuh Dokter.”


 


“Tapi dia tidak melakukannya karena cinta. Dia mencintai pasien saya sehingga dia tidak akan menyakiti saya. Saya yakin itu!”


 


“Saya sudah mencegahnya untuk bertemu karena hari ini pasien saya sudah bertemu dengan pria lain, tapi saya tidak menyangka jika ia nekat untuk membawa kabur Cut.”


 


“Satu lagi, jangan libatkan suami saya karena ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Saya melakukannya sebagai bentuk terapi supaya pasien saya sembuh. Siapa tahu, dengan kehadiran pemuda itu kembali membangkitkan rasa emosional dari pasien saya.”


 


“Tapi, Dokter bersalah karena sudah melindungi seorang musuh negara. Dokter bisa dihukum untuk itu.”


 


“Saya tidak tahu kalau dia musuh negara. Dia tidak mengatakan bahwa ia seorang anggota pemberontak. Saya pikir hanya pria yang tidak mendapat restu.”


 


“Tadi Dokter mengatakan jika sudah tahu semua latar belakang pasien Cut. Itu berarti. Dokter juga tahu kalau itu dia.”


 


“Nama Khalid kan banyak bukan cuma dia. Lagian dia hanya ingin memperjuangkan cintanya. Kalau pun dia pemberontak tapi dalam kasus ini saya hanya membantu seorang pemuda yang sedang jatuh cinta. Apa itu melanggar hukum?”


 

__ADS_1


“Tapi tetap saja perbuatan Dokter itu sudah melanggar hukum karena melindungi seorang penjahat.”


 


“Saya tidak melindunginya, Pak. Saya tidak memberikannya tempat tinggal ataupun uang. Saya hanya memberikan informasi tentang gadis yang dicintainya. Apa itu melanggar hukum. Perbuatan saya baru bisa dikatakan melanggar hukum jika saya sudah mengetahui kalau dia pemberontak tapi malah membantunya bersembunyi. Atau memberikan fasilitas lain untuk melancarkan aksinya.”


 


Tamu yang tidak disangka hadir tengah malam itu juga. Dia adalah Rendra bersama beberapa anggotanya. “Bagaimana kejadiannya, Dok?” tanya Rendra panik tanpa menghiraukan beberapa penyidik yang masih berada di TKP.


 


“Ini, pemuda satu lagi?” tanya si penyidik yang diangguki oleh Dokter Widia.


 


“Kenapa dengan saya, Pak? Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan saya tadi?” tanya Rendra pada Dokter Widia.


 


“Khalid cemburu sehingga berbuat nekat dengan menculik Cut.” Jawab Dokter Widia.


 


“Khalid di sini? Dia tahu saya kemari? Kenapa Dokter tidak memberitahukan saya? Dokter tahu kan Khalid itu manusia seperti apa? Dia sudah pernah menculik Cut dan sekarang Dokter malah membantunya menculik Cut kembali.”


 


“Itulah yang sedang kami pertanyakan pada Dokter Widia.” Sahut penyidik.


 


 


“Bagaimana dengan penjaga? Apa tidak ada satu pun yang melihat Khalid keluar?” tanya Rendra kembali.


 


“Ada penjaga yang melihat pria berpakaian perawat keluar, saat ditanya pria tersebut ingin membuang sampah medis sekalian membeli kopi.” Jawab penyidik.


 


“Itu pasti dia. Kamu di mana sayang?” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Rendra tanpa peduli banyak orang yang masih berada di sana.


 


Beberapa petugas kembali setelah memeriksa berbagai sudut rumah sakit. “Bagaimana?” tanya polisi.


 


“Hanya baju bekas ini yang kami temukan di ruang ganti perawat. Kami sudah menanyakan pada perawat dan ini bukan milik mereka.”


 


Rendra bersama anggotanya keluar dari area rumah sakit. Dengan senjata lengkap ia sudah menghubungi markas untuk mendapat pasukan tambahan. Beberapa truk tentara datang dan melakukan penyisiran ke berbagai tempat di seluruh jalan, hingga lorong-lorong kecil. Anggota brimob juga ikut diturunkan untuk membantu.


 


Bukan karena Cut merupakan wanita yang Rendra cintai tapi alasan yang Rendra berikan  ke markas pusat membuat bantuan lebih cepat datang.

__ADS_1


 


“Ini satu-satunya kesempatan kita untuk menangkap Khalid yang sudah lama buron.” Dengan alasan itu, bantuan tiba dengan cepat untuk membantu mencari rute yang digunakan Khalid. Anjing pelacak juga ikut diturunkan untuk mengendus bau Khalid berdasarkan baju yang tertinggal di rumah sakit.


 


Sementara di rumah sakit, Dokter Widia sedang berbicara dengan beberapa perawat piket. “Maaf, Dok. Kami lalai menjalankan tugas.”


 


“Sudah, semua ini bukan salah kalian melainkan kesalahan saya. Seharusnya saya bisa memprediksi apa yang akan dilakukan oleh pria itu atau setidaknya saya berusaha melakukan pencegahan sebelum semua terjadi seperti ini.”


 


Para perawat hanya bisa diam tanpa tahu harus berbicara apa. Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Pengamanan untuk setiap ruang inap pasien sangat terjaga. Apalagi ruang inap pasien dengan kategori berat. Perawat atau staf yang berada di rumah sakit tidak menyangka kejadian penculikan seperti ini akan terjadi. Jika biasanya seorang pasien hilang, itu bukan karena penculikan. Melainkan karena pasien tertidur di ruang tertentu atau menyendiri di beberapa sudut.


 


Namun, pasien seperti Cut yang bukan kategori orang dengan gangguan jiwa parah penjagaan tidak terlalu ketat. Cut yang biasa bersosialisasi dengan berbagai orang dianggap tidak berbahaya untuk ditinggal sendiri. Selama ini Cut juga tidak pernah pergi jauh-jauh dari area rumah sakit. Baginya rumah sakit adalah rumah paling nyaman dalam hidupnya.


 


“Jika kamu membawa kabur anak orang, kira-kira kamu akan bawa ke mana?”


 


“Hah???” jawaban bingung sekaligus terkejut dari salah satu perawat laki-laki.


 


“Oh itu, hmmm... kalau tidak direstui ya kawin lari.” Jawab si perawat.


 


“Nah, kawin lari. Dia pasti membawa Cut ke orang yang bisa menikahkan mereka.”


 


“Berarti ke KUA, Dok.” Jawab seorang suster.


 


“Memangnya KUA buka 24 jam?” pertanyaan nyeleneh yang keluar dari mulut Dokter Widia yang disambut senyum beberapa perawat.


 


Dokter Widia menemui sang suami yang tengah berbicara dengan para polisi serta tentara yang masih berjaga di sana. “Pa, sepertinya dia akan mengunjungi orang yang bisa menikahkan mereka.”


 


“Mama yakin?”


 


“Khalid sangat ingin menikahi Cut. Mama yakin dia sekarang sedang menuju ke salah satu rumah orang yang bisa menikahkan mereka.” Melihat keyakinan di mata sang istri, suami Dokter Widia langsung menghubungi markas untuk melakukan pencarian ke rumah-rumah yang mungkin menjadi tujuan Khalid.


***


LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...

__ADS_1


__ADS_2