
Seorang gadis bergamis hitam berlari menuju salah satu kelas di mana ini adalah mata kuliah dengan dosen yang terkenal garang. Ia tergopoh-gopoh hingga menabrak seorang pria di depannya. “Astagrfirullah,” gadis ini terlonjak saat buku-buku dalam dekapannya berjatuhan setelah menabrak punggung seseorang.
“Maaf, saya buru-buru.” Ucap gadis itu seraya mengutip buku-bukunya lalu kembali berlari menuju ruang kelasnya.
Sebuah buku catatan kecil tergeletak di dapan pria tersebut. Sepertinya saat tabrakan tadi buku kecil itu terpelanting ke depan hingga luput dari mata gadis bergamis hitam tersebut.
“Anggi, sini!” teriak salah satu teman seraya melambaikan tangan.
Ya, gadis bergamis hitam itu adalah Anggia adik dari Ari sahabat Iskandar. Seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi Islam di Surabaya tempat Iskandar mengajar.
“Dosennya belum sampai kan?” tanya Aisyah pada dua temannya.
“Belum, mungkin bentar lagi.” jawab Lastri salah satu teman Aisyah.
“Waktunya belum teng pun ini.” Sahut Putri seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
Sementara di ruang salah satu dosen, Iskandar yang baru bergabung mendapat tugas untuk menjadi dosen pembimbing untuk para mahasiswa yang akan melakukan kegiatan KKN di salah satu desa. Dosen yang seharusnya menjadi pembimbing kelompok tersebut tiba-tiba berhalangan karena hamil muda. Alhasil, Iskandar lah yang dipilih menjadi pengganti walaupun ia baru bergabung di kampus tersebut.
Sebuah bus sudah menunggu kelompok mahasiswa yang akan mengantar mereka ke desa tujuan. Mereka akan mengabdi selama tiga bulan di desa tersebut.
“Dengar-dengar dosen baru yang menggantikan Buk Suci lulusan Kairo ya?” tanya Dewi yang sedang bersiap-siap dengan camilan dan sekotak air mineral.
“Iya, semoga dosennya baik ya kayak Buk Suci.” Sahut Nuri.
“Aminnnn.” Jawab Aisyah.
Tiga mahasiswa itu terkikik sendiri lalu satu persatu mulai mendata nama di absen yang sudah diedarkan.
“Pak Ketua, hari ini kita hanya berkunjung dan survei aja kan?” tanya Aisyah pada pada Dodik sang ketua kelompok.
“Iya, semoga tempatnya tidak terlalu terpencil ya! Aku takut kita mendapatkan desa seperti Desa Penari.” Keluh Dodik.
“Hus, jangan nyebut-nyebut itu. Kita juga serem.”
“Tapi Mbah google map bilang desa ini tidak terlalu jauh.” Ujar Aisyah.
“Kalo pake map ya semua dekat. Lihat nanti aja lah dari pada bertanya-tanya gak pasti.” Dodik mengakhiri perbincangan lalu aksi saling sikut mulai terjadi saat dari arah belakang Dodik terlihat seorang pria sedang berjalan dengan tatapan datar menuju bus mereka.
“Itu dosennya? Gak salah? Kayaknya gak pernah makan ikan asin.” Bisik Dewi membuat teman-temannya menatap bingung.
“Mana ada pria rupawan begitu makan ikan asin, ah kalian suka lambat loading.” Gerutu Dewi kembali.
“Selamat pagi menjelang siang, ini dengan kelompok –“ Iskandar melihat spanduk yang sudah terpasang di badan bus lalu melihat kertas yang sedang dipegang.
“Ya, benar. Perkenalkan nama saya Iskandar. Kalian pasti sudah mendapat kabar jika Ibu Suci tidak bisa menjadi pembimbing kalian selama kegiatan KKN di desa Wengi selama tiga bulan ke depan dengan alasan kesehatan. Jadi selama itu, saya yang akan mengambil alih tugas Ibu Suci untuk membimbing kalian. Saya harap kerja sama kalian semua untuk menyelesaikan kegiatan ini dengan baik sampai selesai. Mahasiswa yang namanya saya panggil silakan menaiki bus.”
Satu persatu mahasiswa menaiki bus sesuai dengan nama yang dipanggil oleh Iskandar. “Dodik, kamu ketua kelompok?” tanyanya pada mahasiswa terakhir yang ia panggil.
“Iya, Pak.” Iskandar mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Dodik.
Hal kecil yang membuat Dodik canggung juga kagum karena dosen muda di depannya ini tidak memandang rendah mahasiswa.
“Tolong bantuannya, ya!” ucap Iskandar saat mereka berjabat tangan.
“Kami juga mohon bimbingannya.” Balas Dodik. Ke duanya tersenyum.
__ADS_1
Interaksi ke dua laki-laki di bawah sana menyita perhatian semua mahasiswa yang berada di dalam bus tidak terkecuali Aisyah. Gadis cantik berkerudung merah muda itu ikut tersenyum dengan pandangan penuh kekaguman pada pria yang menjadi dosennya itu. Dua laki-laki itu duduk di samping sopir bus. Mereka berbincang banyak hal dalam perjalanan. Dodik memang tidak salah dipilih sebagai ketua kelompok. Para mahasiswa di belakangnya dibuat melongo mendengar Dodik memaparkan secara langsung program-program mereka pada Iskandar.
Dua orang mahasiswa laki-laki datang dari arah belakang. Mereka menyerahkan tiga botol air mineral plus tiga kotak kue yang sudah disipkan sebelumnya. Iskandar sendiri sudah menyediakan air mineral dalam ranselnya.
“Simpan saja, saya masih ada dalam tas!” tolak Iskandar. Ia mengambil botol air milik pak supir, “Saya bukan boleh, Pak?” tanya Iskandar.
“Boleh, Pak. Saya malah gak enak sama Bapak.”
“Biasa saja, Pak.” jawab Iskandar lalu menyerahkan botol minuman yang sudah terbuka ke tangan Pak Supir.
Makin bertambah kekaguman para mahasiswa yang melihat tindakan Iskandar termasuk Dodik yang notabene seorang mahasiswa laki-laki tapi ia juga terkesima dengan adab dan tingkah laku Iskandar.
“Pak, maaf sebelumnya. Kami dengar-dengan Bapak lulusan Kairo ya?” pertanyaan itu datang dari Dewi yang tidak tahan lagi ingin bertanya pada dosen yang sudah membuatnya terkesima pada pandangan pertama.
“Iya,”
“Bapak sudah menikah?” pertanyaan lain muncul dan inilah yang membuat Iskandar tidak suka.
“Sudah!”
“Wah, gagal sebelum berkembang.” Ledek salah satu mahasiswa laki-laki.
Dodik dapat menangkap aura tidak suka pada dosennya itu. Ia hanya bisa menghela nafasnya lalu mencoba merebahkan punggungnya. Perjalanan selama dua jam setengah ini memang sangat melelahkan.
Dreet…
“Assalamualaikum, Kek.”
“Walaikumsalam, Kakek baru baca pesan kamu. Apa kamu sudah berangkat?” tanya sang kakek melalui saluran telepon.
“Sudah, Kek. Bagaimana dengan desa yang Is tanya tadi?”
“Kalian menginap di mana?” lanjut sang kakek.
“Di kantor kepala desa. Kebetulan di sana juga berdekatan dengan rumah bidan desa. Nanti kami akan coba bicara dengan bidan tersebut apa membolehkan jika mahasiswi menginap di sana. sementara para mahasiswa bisa menginap di kantor kepala desa.”
“Baiklah, ingatkan terus untuk hati-hati pada mahasiswamu.”
“Baik, Kek. Terima kasih. Kekak sudah makan?”
“Sudah, Mamamu memasak makan Aceh. Kakek jadi gak berhenti makan gara-gara keenakan.” Sang kakek terkekeh pelan lalu pembicaraan antara keduanya berakhir.
Iskandar menghela nafas lalu menatap Dodik yang juga tengah menatapnya dengan tatapan serius. Para mahasiswa di belakang juga ikut khawatir setelah mencuri dengar pembicaraan dosennya.
“Pak, jangan menakuti kami ya!” celutuk Dewi dari belakang.
“Insya Allah kita akan baik-baik saja. Kalau desa itu tidak aman, kampus sudah lebih dulu mencoretnya dari daftar kegiatan KKN. Kita hanya perlu menjaga sikap dan tingkah laku. Jangan ikut campur urusan mereka dan jangan penasaran serta jangan melanggar apa pun aturan di sana. Kalian paham kan?”
“Paham, Pak.”
“Kalian perempuan jangan terlalu dekat berinteraksi dengan para pemuda ataupun para lelaki di desa itu begitu juga sebaliknya. Saya sudah mengingatkan ini sekarang jadi selebihnya kalian sendiri yang bertanggung jawab untuk diri dan keselamatan kalian.” Ucap Iskandar yang sudah berdiri di depan menghadap para mahasiswanya.
“Berarti benar cerita mahasiswa tahun lalu, dia langsung menikahi gadis desa tersebut saat KKN di sana padahal mahasiswa itu sudah punya pacar yang sangat cantik di kampusnya.” Celutuk salah satu mahasiswi.
“Itu sudah jodoh ya! Jangan kaitkan dengan hal-hal gaib. Semua yang terjadi sudah Allah takdirkan jadi jangan berpikir macam-macam.” Tegas Iskandar.
__ADS_1
Dreet…
Iskandar mengangkat sebelah tangannya, lalu menjawab panggilan dari sang papa.
“Assalamualaikum, Pa.”
“Kamu sudah berangkat?” Rendra panik sampai lupa menjawab salam.
“Walaikumsalam, kamu sudah sampai?” tanyanya lagi.
“Belum, Pa. Ini masih di bus.”
“Papa sudah menghubungi pihak koramil sana untuk meminta bantuan mereka supaya menyediakan tempat untuk kalian menginap. Jangan menginap di desa itu!”
Iskandra menghela nafasnya melirik Dodik. “Kalau kami menginap di tempat yang teman Papa sediakan kami harus mencari akomodasi untuk perjalanan setiap hari menuju desa itu.”
“Kita bisa sediain, Pak.” sahut Dodik cepat.
Para mahasiswa yang lain ikut menganggukkan kepala. Mereka ketakutan jika harus menginap di desa tersebut.
“Baik, Pa. hari ini kami hanya akan melihat dulu. Besoknya baru akan berangkat ke sana.”
“Hati-hati, ya! Tetap datar dan dingin seperti sebelumnya. Kalau bisa lebih dari sebelumnya. Papa belum siap punya mantu orang desa itu.” Rendra terkekeh namun bisa dipastikan jika dia sedang panik memikirkan sang putra. Apalagi Rendra tahu dari teman-temannya yang bertugas menjadi kepala koramil di daerah tersebut.
“Keluarga Bapak perhatian banget ya!” celutuk Nuri namun Iskandar kembali ke mode awal.
“Bagaimana masalah akomodasi?” tanya Iskandar pada Dodik.
Dodik bangun dari duduknya, “Siapa dari kalian yang punya mobil?” beberapa dari mereka mengankat tangan.
“Kita bawa lima mobil saja, gimana?” tanya Dodik karena dari 20 mahasiswa yang ada dalam bus, hampir 10 orang memiliki mobil.
“Tapi barang-barang kita selama tiga bulan bagaimana?” tanya salah satu mahasiswa.
“Kita akan kembali ke kota dua bulan sekali untuk membeli bahan makanan dan yang lainnya.” Jawab Iskandar.
“Pak, bagaimana kalau satu mobil kita isi khusus barang-barang. Barang-barang kita selama dua minggu pasti banyak untuk masuk dalam satu mobil.” Saran dari salah satu mahasiswa yang terlihat dia cukup ribet dalam hal bepergian. Ini terlihat dari bantal leher, bantal guling serta selimut juga kaca mata juga satu plastik camilan.
“Kalian atur saja bagaimana baiknya.” Ucap Iskandar seraya menghela nafasnya. Berurusan dengan perempuan selalu lama dan merepotkan. Hanya ibunya saja yang tidak ribet soal bepergian mungkin karena ibunya sudah terlatih hidup dengan tentara yang cepat dan disiplin.
Iskandar kembali duduk lalu merebahkan diri di sandaran bangku. Baru saja ia ingin menutup mata getaran telepon kembali membuatnya membuka mata.
“Assalamualaikum, Kakak tersayang.”
“Walaikumsalam, ada apa?”
“Kakek dan Papa kena serang panik saat tahu Kakak mau ke desa Wengi. Emang serem banget ya?” tanya Anugrah.
“Tidak tahu, kami belum sampai. Tidak ada yang penting lagi kan? Aku mau istirahat. Assalamualaikum,”
Tuuutttt….
“Pak Is itu kayaknya anak kesayangan, deh.”
__ADS_1
***