CUT

CUT
Membuat Bayi...


__ADS_3

Sebuah hunian mewah, nyaman dan romantis dengan view langsung menghadap laut menjadi daya tarik tersendiri bagi pasangan suami istri yang baru memasuki kamar mereka. Sayangnya, kedatangan mereka di sana sudah malam hingga yang terdengar hanya suara ombak di lautan.


“Bersihkan dirimu lalu kita akan bicara!”


“Dari kemarin kamu selalu mengatakan kita akan bicara tapi yang kamu katakan hanya setengah-setengah. Kenapa, Mas? Aku punya salah sama kamu? Kenapa kamu tega sekali sama aku?” Air mata yang mengering itu kembali luruh.


Iskandar mengambil telepon lalu memesan makanan untuk mereka. Dengan keadaan saat ini, ia yakin tidak akan ada makan malam romantis. Aisyah langsung merebahkan dirinya di sofa. Ia sudah lelah menangis dari tadi. “Kita makan dulu lalu setelah itu kita akan bicara dan kali ini saya tidak akan bicara setengah-setengah sama kamu.”


“Aku capek, Mas. Berbuat saja sesuka hatimu! Aku sudah tidak peduli.” Lirih Aisyah lalu memejamkan matanya seraya memeluk bantal sofa.


“Kamu menyerah? Bukannya kamu berniat membalaskan dendammu untuk mengerjai saya?” Mata yang tadinya terpejam tiba-tiba terbuka. Aisyah langsung terduduk sementara Iskandar tersenyum kecil menatap istrinya.


“Kamu tahu dari mana, Mas? Aku hanya mengikuti saran Anggia.”


“Jangan bawa-bawa dia! Anggia hanya memberikan saran tapi keputusan kan ada di tanganmu. Ibarat setan yang menggoda manusia. Mereka hanya menggoda tidak memaksa. Tapi manusia dengan senang hati menuruti godaan mereka jadi siapa yang salah di sini? Bukankah kita diberi akal untuk berpikir?”


Gleg…


“Kamu jangan mengalihkan topik, Mas.”


“Saya tidak mengalihkan topik. Justru saat ini saya ingin memperjelas apa yang sudah kamu mulai. Kamu berniat mengerjai saya dengan mendiami saya lalu mematikan ponselmu dan tidak mau menerima panggilan dari saya melalui ponsel Mama. Kamu melalukankannya dengan sengaja, Aisyah Sayang!” Iskandar menekankan kata-kata terakhirnya.


“Pantaskan kalau aku sedikit mengerjaimu? Kamu membuat pesta pernikahan yang aku impikan menjadi kandas gara-gara dramamu dengan Dita. Aku masih belum menerima pernikahan ini apalagi kamu sudah menikah lagi.”


Tok…tok…


Seorang pelayan datang membawakan makanan pesanan Iskandar. Setelah memberikan tip pada pelayan itu, Iskandar langsung mengunci pintu lalu menatap tajam pada wanita yang sudah membuat mukanya dicoreng oleh seluruh penumpang wanita dalam pesawat.


“Tuh kan, kamu tidak mengelak saat aku menyebutkan tentang pernikahan keduamu.” Gerutu Aisyah. Iskandar sudah lelah, dia mengambil handuk lalu peri ke kamar mandi. Aisyah kembali merebahkan tubuhnya dengan air mata kembali berjatuhan. Hidupnya begitu menyedihkan tapi perutnya juga tidak memberikan toleransi. Hingga bau makanan di atas meja membuat Aisyah kembali bangun dan mendekati makanan tersebut dengan nikmat diiringi air mata yang terus membanjiri pipinya.


Ceklek…


Iskandar tersenyum kecil saat melihat istrinya sedang makan sambil menangis. Ia memakai celana pendek dan sebuah kaos lalu mendekati meja makan.


Deg…


Aisyah terpaku untuk sesaat ketika melihat wajah suaminya dengan rambut basah yang belum tersisir. “Selesaikan makanmu setelah itu baru menatap saya!”


Deg…


Jantung Aisyah mulai tidak normal. Berkali-kali ia menelan dahaganya saat melirik Iskandar yang dengan santainya menikmati hidangan makan malam mereka. Setelah menghabiskan makan malamnya, Aisyah masih belum beranjak dari sana sampai tangan Iskandar menariknya untuk duduk di teras kamar mereka. Di sana ada sebuah sofa yang menyerupai ranjang.


Iskandar menatap manik mata istrinya lekat. “Kamu kalah, Sayang!” Aisyah yang tadinya menunduk kini menatap sang suami.


“Saya tidak menikah lagi. Yang kamu dengar itu baru setengah. Makanya jangan marah-marah dulu sebelum mendengar semuanya dengan jelas. Saya sengaja mendiamkan kamu sebagai bentuk balasan saya karena kamu sudah mendiamkan saya saat saya mengantar Abah ke pondok. Saya juga tahu kalau kamu berniat mengerjai saya makanya saya membalas kamu dengan melakukan hal yang sama.”


Aisyah meremas tangan Iskandar kuat membuat si empunya tertawa. “Kamu jahat, Mas!”


“Kamu lebih jahat. Satu penumpang mengatai saya gara-gara kamu.”


“Berarti kita impas bukan kalah.” Mata Iskandar menyipit menatap Aisyah yang mulai tertawa.


“Jadi sudah beres kan masalah kawin lagi?”


“Tapi aku tetap tidak akan mentolerir jika kamu kawin lagi, Mas.”


“Kawin saja? Kalau nikah bagaimana?”


Sebuah cubitan mendarat di pinggang Iskandar. Kini, mata keduanya bersitatap dan perlahan tapi pasti Iskandar kembali mengulang kejadian seperti sebelumnya.


“Mas, aku belum mandi.” Cegah Aisyah saat ciuman sang suami sudah menjalar ke lehernya.

__ADS_1


“Aku ke kamar mandi dulu ya!” Iskandar hanya mengangguk kecil lalu membiarkan Aisyah pergi dari hadapannya. Jika pengantin baru sedang meneguk indahnya malam pertama mereka berbeda lagi dengan mantan pengantin yang saat ini baru mengaktifkan kembali ponselnya. Banyak pesan yang dikirim dari adik, adik ipar, papa dan yang paling banyak adalah mamanya. Dita mengabaikan semua pesan itu lalu ia mengirimp pesan pada Dika.


“Hai, sudah tidur?”


“Sudah selesai bersemedi?” balas Dika.


“Ya begitu lah. Lagi ngapain? Masih di Surabaya?”


“Lagi balas pesan teman-teman. Masih di rumah Tante Cut. Kamu tidak kemari?”


“Buat apa?”


“Buat ketemu aku! Besok keluar, mau?”


“Oke. Besok aku jemput.”


“Oke!”


“Mama memanggil”


Deg…


Dengan ragu-ragu, Dita menjawab panggilan ibunya.


“Hallo, Ma.”


“Em, bagus. baru sekarang kamu menjawab panggilan Mama. Apa kamu tidak ingin melihat keponakanmu?”


Dita terdiam sejenak, “Tiara sudah melahirkan?”


“Makanya aktifkan ponselmu biar tidak ketinggalan berita. Kapan kamu mau  menjenguknya?”


Setelah memutuskan panggilannya, Dita kembali mengirim pesan untuk Dika. “Sorry, Dik. Kayaknya harus batal buat besok.”


“Kenapa?”


“Aku mau ke Jakarta. Adikku baru saja melahirkan.”


“Boleh aku ikut? Aku tidak punya teman yang bisa aku ajak berlibur di sini.”


“Baiklah. Aku pesan tiket dulu. Bye!”


Setelah berpamitan pada orang tua Iskandar, Dika langsung keluar menuju taksi yang sudah dipesan. Dia sudah berjanji untuk bertemu dengan Dita di bandara. Dita langsung melambaikan tangannya saat melihat Dika keluar dari taksi. Setengah jam menunggu pesawat yang mereka tumpangi langsung lepas landas dari Surabaya.


“Di sana ada Mama dan Papaku. Apa kamu tidak takut?” tanya Dita saat mereka menaiki sebuah taksi menuju rumah sang adik.


“Untuk apa aku takut? Orang tuamu juga manusia kalau setan baru aku takut.”


“Aku juga sering komunikasi dengan adikmu dan suaminya.” Dita menoleh menatap Dika.


“Serius? Kalian bahas apa?”


“Tidak ada. Awal mulanya kami berkomunikasi saat foto-foto isengmu di media sosial sampai mengaitkan ke akun media sosialku. Mereka mengirim pesan lalu memberikan nomer ponselnya. Karena aku merasa tidak bersalah ya aku tanggapi saja permintaan mereka sampai sekarang tapi malasah adikmu melahirkan aku tidak tahu.”


Taksi berhenti di sebuah rumah minimalis yang tidak terlalu besar. “Ayo dan jangan lupa baca doa!”


Mereka keluar dari taksi lalu memasuki pekarangan rumah tersebut. Setelah mengetuk beberapa kali, pintu rumah Tiara terbuka dan yang menyambut kedatangan mereka adalah Doni.


“Dika ya?” mereka berjabat tangan ramah lalu Doni mempersilakan Dika masuk. Di ruang tengah sudah ada Mama Shinta dan Papa Toni  yang sedang menggendong putri Tiara.


“Hai, ponakannnn. Tante data-“ saat Dita hedak berlari menuju keponakannya. Tiba-tiba ada yang menarik tas ranselnya dari belakang.

__ADS_1


“Bersihkan dirimu dulu baru pegang bayi!” ucap Dika membuat semua penghuni rumah takjub dengan pria tersebut. Dita langsung berhenti lalu bertanya letak kamar tamu buatnya mandi dan berganti baju.


Setelah kepergian Dita, Dika mengangguk ramah pada Shinta dan Toni. “Maaf, Tante, Om, aku belum cuci tangan.” Ucap Dika canggung.


“Taruh saja dulu tasmu, Dik. Kalau mau cuci tangan bisa ke kamar mandi samping.” Tunjuk Doni. Dika mencuci tangan dan wajahnya lalu kembali bergabung dengan keluarga Dita.


“Kamu mau mandi?” tanya Dita sudah keluar dari kamar. Ia sudah mandi dan berganti pakaian.


“Nanti saja.” ucap Dika.


“Ma, Pa, maaf ya karena aku bawa Dika ke sini. Dia masih ada sisa cuti jadi minta ikut ke sini. Kasihan juga kalau harus tinggal di rumah Tante Cut. Temannya Cuma Anugrah itupun kalau Anugrah tidak kerja.” Ujar Dita panjang lebar.


“Anugrah apa kabar?” tanya Doni pada Dika.


“Tidak baik! Dia baru bercerai dengan istrinya.”


“Apaaa???” Tiara dan Doni sangat terkejut mendengar apa yang Dita katakan.


“Kenapa?”


Baik Dika mau Dita hanya mengedikkan bahunya. Dita segera menghampiri keponakanannya. “Mama jangan marah-marah di depan cucu. Tidak baik bagi psikologisnya.” Ujar Dita lalu mencoba menggendong bayi itu.


"Hati-hati! Dia masih lembek.” Shinta memperingatkan.


“Iya, tahu. Aku bisa kok.” Dita membawa bayi itu duduk di dekat Dika. “Hai Om, lihatlah, aku cantik kan?” ucapnya meniru suara anak kecil.


“Iya, cantik seperti tantenya.” Balas Dika dengan suara sangat pelan. Dita menatap wajah Dika yang saat ini sedang menikmati pemandangan indah nan suci. Wajah bayi baru lahir yang masih suci dan bersih.


“Kita buat satu mau gak?” Dita balas bisik.


“Oke? Kapan?” Dika tidak mau kalah. Sementara Shinta dan Toni dari tadi memperhatikan putri sulungnya dengan perasaan berbeda.


Ehemmm…


“Dika, silakan minum dulu!” ucap Tiara memecahkan suasana.


“Terima kasih. Em, sekalian aku kesini buat minta maaf sama Tante dan Om tentang membantu Dita kabur dari Bali. Tapi soal foto-foto pernikahan itu, jujur saja aku tidak tahu kalau foto itu akan diunggah ke media sosial.” Dita mencibir aksi Dika yang sok jujur di depan orang tuanya.


“Tidak apa-apa. Kami memaklumi keisengan Dita. Kami justru minta maaf karena unggahan Dita pasti membuat teman-teman dan mungkin saja kekasihmu jadi merespon lain.” Ujar Toni.


“Dia belum punya kekasih, Pa.” Jawab Dita cepat.


“Tapi teman-teman dan keluarganya pasti terkejut melihat foto-foto yang kamu unggah itu.”


“Iya sih, Om. Mereka justru memberikan selamat dan menyiapkan kado berupa paket bulan madu di hotel tempatku bekerja selama tiga hari.” Ucap Dika tersenyum menatap Toni.


“Kamu mau gendong?” tanya Dita tiba-tiba.


Dika gelagapan, “Aku tidak berani.”


“Ishh, kamu harus membiasakan. Nanti kalau punya anak sendiri kamu sudah berani. Anggap saja buat percobaan.”


“Eitss, enak saja anakku dijadikan bahan percobaan kalian. Kalau mau buat sendiri sana.” Kesal Tiara lalu meminta Doni untuk mengajarkan Dika cara menggendong bayi.


“Aku juga tidak berani saat pertama lahir. Setelah itu aku mulai terbiasa dan sekarang sudah pro.” Doni terkekeh seraya mengatur letak telapak tangan Dika yang begitu kaku saat menggendong bayinya.


“Benar kata Dita, kalian bisa buat satu jika mau.”


***


Pagi....LIKE DAN KOMEN...MAKASIH

__ADS_1


__ADS_2