
Iskandar memasak seadanya dengan bahan yang tersedia di kulkas. Ia menangkap sesuatu yang mencurigakan dari kejadian hari ini. Ditambah lagi dengan keadaan Wulan dan Anugrah saat ini tengah duduk di meja makan sambil melahap masakan buatannya. Anugrah melirik ke arah sang kakak yang tengah memperhatikan keduanya dalam diam.
“Aku harap rasanya tidak bikin kalian sakit perut.” Ucap Iskandar menyudahi makannya. Ia langsung membawa pring dan gelas kotor ke wastafel. Anugrah juga melakukan hal yang sama, ia juga mengambil piring dan gelas kotor milik Wulan.
“Letakkan di situ saja biar aku yang cuci.” Anugrah menepuk bahu sang kakak pelan, “Makasih, Kak.” Lalu membuka kulkas untuk mengambil minuman kemasannya dan-
“Mamaaaaa….” Teriak Anugrah membuat Iskandar dan Wulan ikut terkejut. Sementara di salah satu pondok, Cut sedang bercengkrama riang sambil membuka minuman kemasan dari dalam kantong plastik.
“Mama ambil punya Anugrah?” bisik Rendra.
“Sesekali, Pa. Lagian dia udah dibilangin masih saja bandel. Dia itu harus makan makanan sehat. Minumnya air putih bukan minuman seperti ini. Bibik juga! Bukannya melarang malah membantu menyembunyikan ini dari kita.”
Si Bibik yang sedang minum ikut tersedak gara-gara amukan sang majikan. “Saya sudah menasehati, Buk. Tapi Den Anugrahnya kelewat bandel. Saya kan tidak mungkin memeriksa dia 24 jam apalagi masuk ke kamarnya tanpa izin. Bisa ditembak saja nanti.” Ujar Bibik.
“Sudah, jangan marahin Bibik. Dia itu kan bestienya Anugrah. Biar kita marah juga percuma.” Ledek Rendra.
“Tapi Aden makan apa ya siang ini? Kasihan kalau Den Anugrah sama Non Wulan bangun terus gak ada makanan.” Bibik mulai khawatir.
“Tuh kan benar apa Papa bilang. Kalau udah bestie memang susah.” Seru Rendra.
“Biarkan saja! Anugrah tahu apa yang harus dia lakukan. Kita hanya perlu mengawasi saja.” lanjut Rendra kembali.
"Tapi Mama masih penasaran kenapa mereka tiba-tiba akrab ya? Ini sangat mencurigakan.” Selidik Cut.
“Mungkin saja waktu beli kemenyan kemarin, Bibik menambahi jimat untuk merekak.” Celutuk Rendra membuat wajah Bibik menegang. Rendra tergelak, “Bapak jangan asal menuduh. Saya tidak main begituan.”
Ibu Murni dan Pak Fahri datang bersama Kak Julie. Mereka barus selesai salat dan memang agak lama karena faktor usia. Jika di kebun suasana terlihat tenang tapi berbeda dengan di rumah. Anugrah sibuk memeriksa beberapa tempat persembunyiannya.
“Ada apa ini?” tanya Iskandar melihat Anugrah seperti mafia yang akan digrebek aparat.
“Mama melarang dia memakan makanan dan minuman kemasan.” Jawab Wulan.
Eh…sejak kapan dia berbicara dengan Iskandar? Setelah kejadian aksi bunuh diri yang gagal terus Iskandar memberikan khutbah panjang kali lebar. Tidak pernah lagi mereka berbicara, baru ini mereka kembali berbicara karena melihat Anugrah yang sibuk mencari makanannya.
“Istirahatlah, kamu pasti capek. Biar aku yang bicara dengan dia.” Ada makna lain dari ucapan Iskandar menurut insting Wulan tapi dia enggan menanggapi.
Ia mendorong kursi rodanya menjauh dari Iskandar. Sementara Anugrah sudah menyusun satu dus makanan dan minuman kemasannya lalu membawa ke kamar. “Kenapa kau tidak menuruti larangan dokter?”
“Kak, tolong! Jangan ikut-ikut Mama yang melarang aku mengonsumsi yang beginian. Kalau kalian melarangku maka jangan salahkan aku kalau aku beralih ke alkohol.” Wulan terkejut melihat dari balik pintu kamarnya.
Plak…
“Apa ini sikap seorang laki-laki? Katakan padaku apa yang membuatmu begini, heh?”
“Kakak tidak pernah merasakan apa yang aku rasa. Jadi berhentilah mengguruiku. Siapa yang senang dengan keadaan seperti ini? Kakak tahu kan mimpiku apa? Bertmpur di medan perang, terjun payung, menjalankan misi dalam kegelapan. Lalu apa sekarang? Ini bukan jalan hidupku, ini bukan mimpiku! Ini mimpi Mama yang tidak ingin aku mengikuti Papa. Mama tidak mau aku pergi berperang dan akhirnya ini yang terjadi. Aku berakhir di belakang meja dan komputer. Semua alutsista itu aku catat, dulu, aku dengan bangga menggunakannya sekarang? Aku hanya mendatanya lalu selesai. Di mana aku harus bahagia? Apa kalian masih menganggapku Anugrah yang dulu? Tidak, Kak. Anugrah yang dulu sudah mati bersama ibu gadis itu. Saat tubuhku cacat, aku harus menyaksikan mimpiku yang lain hancur. Gadis yang aku cintai akhirnya menikahi sahabatku. Apa kakak bisa marasakan bagaimana hancurnya hatiku? Tidak! Di saat tubuhku terlihat sempurna tapi aku hanya bisa duduk di depan komputer dan mencatat. Lalu untuk apa tubuh bagus ini? Kalau untuk menjadi petugas kantor, aku tidak perlu tubuh sebagus ini. Di saat aku sedih, hancur, mereka selalu ada menemaniku. Makanan ini yang mampu membuatku sedikit bahagia saat memakannya. Tubuhku sudah tidak perlu bugar lagi, Kak. Gadis itu benar, aku memang tidak pantas bahagia. Selamanya aku akan seperti ini. Aku hanya ingin mempercepat prosesnya, minuman dan makanan ini akan membantuku supaya lebih cepat menghadap tuhan. Ini adalah penebusan dosa yang paling tepat, bukan?”
“Kalau kau ingin mati kenapa menikahinya?”
“Aku akan menceraikannya saat dia sembuh. Ini yang dia mau.”
“Apa kau juga mau melepasnya?”
“Aku tidak bisa hidup dalam rasa bersalah selamanya. Melihatnya sama sakitnya saat aku harus mengetahui jika ibunya meninggal tanpa bisa bertemu dengan anaknya karena anaknya sudah kutabrak. Anugrah terduduk lesu di depan makanan kemasannya.
__ADS_1
“Sudahlah, Kak. Aku akan pastikan dia sembuh lalu melepasnya. Dia sudah sangat menderita dan tertekan selama ini. Minggu depan aku akan pindah ke rumah dinas. Di sana dia akan mendapat perawatan secara intens di rumah sakit militer.”
“Kenapa kamu tidak berpikir jika Allah sedang mengatur jodohmu dengan dia?”
“Kak, hentikan!”
Anugrah membawa kotak berisi makanan dan minuman itu dalam kamarnya, “Aku di sana saat-saat terakhir ibunya dan aku ingat sekali pesan terakhir beliau pada Mama.”
Langkah Anugrah terhenti, “Ibunya bertanya pada Mama apakah putra Mama sudah menikah? Dan setelah mendapat jawaban Mama, Ibunya tersenyum lalu berkata, “Jadikan putri saya menantu kalian. Dia anak yang baik dan rajin.” Iskandar menatap adiknya.
“Aku tidak tahu kenapa Mama tidak mengatannya pada kalian. Mungkin Mama punya alasan tersendiri. Tapi dengan memintamu menikahinya, Mama sudah menjalankan janjinya pada almarhumah ibu Wulan. Sekarang semua ada di tanganmu! Aku sudah mengatakan yang aku dengar dan lihat. Aku juga tidak bisa meminta Wulan untuk menerima pernikahan ini karena dia sendiri membencimu. Jadi berbuatlah sesuka hati kalian. Anggap saja pernikahan ini hanya permainan dan semoga kalian akan menyesal setalah ini. Doa almarhuman ibu Wulan dan Mama tentu lebih kuat dari harapan kalian. Aku menyesal mengatakan ini tapi aku kecewa sama kalian. Kalian sama-sama manusia bersumbu pendek yang pernah aku kenal.” Iskandar pergi meninggalkan Anugrah yang masih diam membisu. Sementara di dalam kamarnya, Wulan kembali terisak seraya mendekap bantal.
Selepas kepergian Iskandar, Anugrah kembali ke kamarnya. Ia merebahkan kembali tubuhnya mencoba memejamkan mata sekitar satu jam hingga tanpa sadar matanya kembali terpejam sempurna.
Di dalam mobil, Iskandar kembali menghubungi sang mama. “Assalamualaikum, Ma.”
“Walaikumsalam, Nak. Ada apa?”
“Aku hanya mau bilang, Insya Allah besok akan membawa calon istriku ke rumah. Tolong bilang sama Nenek dan Kakek ya!”
“Jam berapa kamu datang?”
“Em, jam-jam 10, Ma. Sekalian makan siang di sana boleh kan?”
“Boleh banget, Den. Nanti Bibik masakin yang enak.” Sahut si Bibik heboh membuat Rendra geleng-geleng kepala. Sudah dulu ya, Ma. salam buat Nenek-Kakek. Aku mau jalan dulu ini. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
“Benar kan yang Ibu bilang, Iskandar pasti sudah puny calon istri. Dia tidak mungkin mengatakannya kalau belum punya.” Ucap Ibu Murni antusias.
“Tidak mau. Ibu sudah berjanji akan ikut melamar gadis itu.”
“Iya, Kak. Kenapa buru-buru begitu. Biarkan Ibu sama Bapak di sini.” Ucap Cut.
“Kalau Kak Juli ada kerja, biarkan Ibu dan Bapak tinggal sama kami.” Akhirnya Rendra bersuara.
Mobil yang dikendarai Rendra akhirnya memasuki halaman rumah dan betapa herannya mereka saat mendapati rumah masih sama seperti saat ditinggalkan tadi. “Apa mereka belum bangun?” tanya Cut pada Rendra.
Bibik langsung ke dapur dan mengecek kulkas, “Buk,” panggil si Bibik. Rendra dan Cut berjalan ke arah dapur dan Bibik memperlihatkan isi kulkas.
“Pa, mau lihat CCTV lagi dong.” Pinta Cut manja.
“Ke kamar ya!”
“Buk, Pak, kasih lihat saya juga dong.” Pinta si Bibik namun sepasang suami istri itu justru melambai cantik seraya menaiki tangga.
Di dalam kamarnya mereka benar-benar mengeksekusi rekaman CCTV hari ini. “Iskandar kemari,” ucap Cut melihat sang putra memasuki rumah. “Eh,” ucap Cut lagi. Dia begitu heboh melihat rangkaian demi rangkaian jalan cerita seperti sedang menonton film.
“Jadi, mereka sudah saling membantu sampai tahap ‘itu’?” gumam Cut.
“Mungkin, kalau dilihat dari rekaman membuktikan jika pakaian Wulan yang berganti dan rambutnya yang basah. Tidak mungkin Wulan melakukannya sendiri kalau tidak ada yang bantu. Tidak mungkin juga dia meminta bantuan Iskandar kan?”
“Hus, Papa ngaco. Ya gak mungkinlah. Anak kita itu kan saleh. Mana mau dia pegang-pegang gadis lain. Kira-kira, gadis seperti apa ya calon istrinya itu?” Cut mulai membayangkan tapi serangan sore hari dari sang suami tiba-tiba membuat bayangannya buyar seketika berganti dengan kenyataan indah nan nikmat hingga susah dilupakan. Usia boleh bertambah tapi jiwa harus tetap ON.
__ADS_1
“Nak,”
“Ibu, kenapa Ibu meninggalkanku?”
“Ibumu yang baru juga baik kenapa kamu tidak menghormatinya?”
“Ibu sudah menitipkanmu pada beliau, sayangilah ibumu itu karena doanya sama dengan doa Ibu padamu.”
Wulan terjaga dari tidurnya, mimpinya terlalu menyedihkan hingga ia terus menangis di dalam bantal. Ibunya terlihat sehat dan bahagia, lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? haruskan ia meminta maaf pada wanita itu?
Di saat Wulan sedang menangis karena rindu pada ibunya, di rumah yang lain seorang gadis juga sedang menangis dalam pelukan ibunya. Tangisan yang terdengar seperti jeritan dari protesnya tentang acara perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Sudah hampir setengah botol obat mata habis hanya untuk melancarkan aksinya namun sang ibu tetap pada pendiriannya untuk melanjutkan perjodohan itu.
"Mama, pria itu sudah om-om. Bahkan kalau Anggi jalan sama dia. Orang yang melihat akan mengira dia itu sugar daddynya Anggi, Ma. Carikan saja pria lain yang sebaya dengan Kak Ari atau salah satu sahabat Kak Ari. Anggi akan menerimanya dengan ikhlas tapi tidak dengan dokter itu. Sifatnya sangat mengintimidasi, Anggi tidak suka. Belum menikah saja sudah membuat Anggi kesusahan apalagi kalau sudah menikah. Kalau Mama sampai nekat menjodohkan Anggi, Mama tidak usah kaget kalau tiba-tiba Anggi hilang dari rumah.” Di saat sang putri menangis histeris, sang ibu justru tertawa tanpa suara bersama sang suami dan saudara kembar dari Anggi.
“Iya,”
“Mama janji ya tidak akan menjodohkan Anggi sama Pak Tua itu?”
“Iya.”
“Pokoknya Anggi akan pergi kalau Mama menjodohkan Anggi lagi.”
“Iya,”
“Tapi kalau Mama mau menjodohkan Anggi sama Kak Iskandar, Anggi mau.”
“Iya,”
“Sekarang juga Anggi mau menikah sama Kak Iskandar.”
“Iya,”
“Benar, Ma?”
“Iya.”
“Dari tadi Mama kok iya terus?”
“Lalu Mama harus jawab apa? Tidak, begitu?”
“Heheh…iya juga ya.” Anggia berhasil menghentikan aksi perjodohannya. Ia tersenyum senang lalu mencium pipi ibu dan ayahnya sebelum menghilang ke dalam kamar.
“Assalamualaikum, calon imam. Bersiap ya, Mama sama Papa akan datang melamar Kakak.”
Ting…
“Hah???”
***
__ADS_1
LIKE DAN KOMEN yang banyak ya...
Hari ini udah dua bab panjannggggg....