
Abu dan Umi terdiam sesaat dan saling menatap ketika aku bertanya tentang pria yang boleh menikah denganku. Setelah menghela nafasnya Abu berkata, “Yang harusnya kamu tanyakan adalah apa masih ada pemuda keturunan bangsawan yang mau menikah? Atau lebih tepatnya apa masih ada pemuda yang memiliki garis keturunan yang sama dengan kita saat ini? Di kampung kita saja jangankan yang segaris keturunan, yang tidak segaris keturunan saja tidak ada. Bahkan sepupumu yang sebaya denganmu saja sudah tidak lagi di kampung. Mereka sudah dipindahkan ke pesantren oleh orang tuanya. Hanya almarhum abangmu saja yang tidak mau mendengar Abu. Jangan pikirkan perkataan Abu tadi, Abu hanya ingin menolak secara halus dan alasan itu satu-satunya yang bisa Abu gunakan untuk menolak mereka.” Jelas Abu padaku.
“Jadi, Cut boleh menikah dengan pria yang bukan ‘Teuku’?” Aku mencoba mencari kepastian.
“Memangnya ada pemuda yang bukan ‘Teuku’ yang mau melamarmu selain si Khalid itu?” Aku tersenyum keki ke arah Abu. Pertanyaan Abu sangat menohok untukku karena faktanya tidak ada pria lain yang meminangku selain si Khalid, eh... aku melupakan seseorang. Setahun lebih tidak ada kabar darinya. Apa kabar dia sekarang? Eh......kenapa aku jadi memikirkan dia? Ah... ini gara-gara mendengar kisah cinta para gadis di kampung Leut Man. Aku kan jadi terpikir ke dia. “Rendra...”
“Mamammm...” Eh.... yang kupanggil Rendra besar yang menyahut Rendra kecil. Aku tersenyum menatapnya sedang makan dengan lahap.
Sore hari di kampung Sagoe...
Suasana kampung sudah tidak menakutkan lagi seperti dulu. Pos tentara dimana-mana dan situasi sekarang juga cukup tenang. Untuk pertama kalinya aku membawa Rendra kecil berjalan-jalan keliling kampung ditemani Mae. Rendra yang sudah bisa berjalan tentu sangat senang bisa berjalan jauh tanpa digendong. Di jalan kemi melewati satu pos tentara yang berada dekat dengan balai pengajianku dulu. Saat ini aku berada di jalan depan rumah almarhum Miftah.
Ibu Miftah memanggil saat melihatku melewati rumahnya. “Cut, mau ke mana? Mampir dulu!” Aku membelokkan kaki memasuki halaman rumah Miftah. Aku sempat melirik kuburannya sesaat sembari memanjatkan doa untuknya dalam hati. “Mak Wa, Mae minta buah jambu ya!” anak tersebut langsung memanjat pohon jambu yang ada di depan rumah Miftah.
Saat kampungku belum separah sekarang, aku sering makan jambu dengan bumbu rujak bersama Miftah. Kami bercerita hal-hal lucu yang akan mengocok perut kami sendiri. Sekarang, semua sudah tidak ada lagi. Hanya kenangan seperti saat ini aku sedang mengenang almarhum Miftah di tempat biasa kami duduk dulu.
“Mak Wa, apa kabar? Maaf, Cut jarang berkunjung.”
“Seperti yang kamu lihat, Cut. Alhamdulillah Mak Wa sama Pak Wa masih diberikan kesehatan sama Allah. Sudah besar saja anak si Ilham ya?”
__ADS_1
“Alhamdulillah, Mak Wa. Mulutnya tidak berhenti mengunyah.”
Kami berbincang sekitar satu jam lalu kembali melanjutkan perjalanan keliling kampung. Aku menenteng satu kantong plastik jambu yang sudah dipetik Mae. Sementara dia berjalan sambil memegang Rendra. Aku benar-benar menikmati jalan-jalan seperti ini. Andai Miftah masih hidup pasti yang berada di sampingku saat ini dia. Dan kami akan tertawa sepanjang jalan sambil bercerita hal-hal lucu.
Kami berjalan cukup jauh dan waktu sudah sedikit senja hingga aku mengajak Mae untuk pulang.
“Cut, kemari dulu!” Aku menoleh, ternyata ibu Jannah memanggilku dari rumahnya.
Aku memasuki halaman rumah Jannah. Sekilas ingatan tentang Jannah membuatku kembali teringat akan apa yang dia lakukan semasa hidupnya. “Ya, Mak Wa. Ada apa?”
“Masuk dulu sebentar, ada yang mau Mak Wa katakan.”
Aku memasuki rumah Jannah bersama Rendra dan saat Mae mau masuk langsung ditahan oleh Ibu Jannah di pintu. “Anak kecil tidak boleh mendengar pembicaraan orang tua! Kamu pulang saja, nanti Mak kamu khawatir. Mak Wa mau bicara sedikit lama sama Kak Cut.”
Setelah Mae pulang, Ibu Jannah masuk lalu menutup pintu. Aku sedikit terkejut dan mulai merasa ada yang aneh. “Mak Wa, ada apa? Cut gak bisa lama nanti Abu cari.”
“Ada yang ingin bertemu sama kamu, Cut.”
“Siapa?” Tanyaku.
“Ayo, Mak Wa antar!” Mak Wa mengambil Rendra dalam gendongannya lalu membawaku ke luar dari pintu dapur. Dari dapur ayah Jannah keluar dan wajahnya sudah tidak ramah. Aku ingin lari tapi Rendra dalam gendongan Ibu Jannah. “Mak Wa, kita mau ke mana?”
__ADS_1
“Kamu ikuti saja kami tanpa banyak tanya. Atau kamu mau melihat Rendra kesakitan? Sekarang, jalanlah dan jangan coba-coba untuk teriak atau kamu akan kehilangan Rendra!”
aku sudah menduga akhir dari perjalanan ini ke mana. Ini bukan pertama kalinya aku alami namun, aku tidak menduga jika yang akan melakukan ini sekarang adalah orang tua dari salah satu temanku yang tidak akrab.
Hari semakin gelap dan azan magrib sudah berkumandang namun kami masih berjalan dalam rimbunan kebun sawit. “Ya Allah, apa sekarang aku sedang berjalan menuju ajalku? Jika iya, maka ampuni dosaku, ya Allah. Kalau boleh meminta, jika ini jalan ajalku, maka selamatkan Rendra. Biarkan dia hidup untuk mengobati duka kedua orang tuaku. Ya Allah, ampuni dosaku. Kuatkan imanku di akhir hayatku, izinkan lidahku untuk bisa mengucapkan nama-Mu di ujung nyawaku. Ya Allah, matikanlah aku dalam keadaan Husnul Khatimah.” Setelah memanjatkan doa dalam hati kemudian aku lanjutkan dengan tasbih yang mengiringiku menuju ajal.
Aku memikirkan Abu yang sekarang pasti sudah khawatir karena aku belum pulang. Perjalanan ini sangat melelahkan, aku sudah tidak sanggup lagi berjalan. Berbagai suara binatang mengiringi perjalanan kami. Kakiku kesakitan karena terkena ranting dan Rendra juga sudah tidak nyaman. Dia mulai menangis dan memanggilku. Ibu Jannah memberikan Rendra padaku hingga perjalanan ini bertambah berat karena berjalan kaki dalam kegelapan seraya menggendong Rendra yang sudah tidak bayi lagi.
Sinar bulan menyinari perjalanan kami menyusuri hutan dan mengelilingi bukit. Rendra kembali rewel dan sepertinya dia mulai lapar. Ayah Jannah memberikan sebuah pisang padaku. Sepertinya mereka sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini. Ayah Jannah juga memberikan satu botol air minum.
“Mak Wa, boleh berhenti sebentar!” Aku memelas pada mereka namun sepertinya sia-sia. Ibu Jannah terus berjalan di depan sedangkan Ayah Jannah berjalan di belakangku dengan sebuah parang di tangannya.
Rendra sudah tenang karena sudah mendapatkan pisang. Dia terus mengunyah dalam gendonganku. Aku berselawat kecil sambil berjalan. Bukankah selawat kepada Nabi bisa mendatangkan keberkahan. Aku berharap keberkahan untuk umurku yang sudah sangat singkat ini. Doa-doa terus mengalir dalam batinku. “Ya Allah, dengan berkah dari selawatku pada Nabi Muhammad, lindungilah aku dan Rendra dari orang-orang yang berniat jahat.” Batinku.
Kami terus berjalan walaupun tertatih bahkan Rendra sudah tertidur dalam gendonganku. Satu hal yang aku tahu dengan jelas, jika kami sudah berjalan sepanjang malam. Matahari mulai menunjukkan cahayanya secara perlahan.
Kami terus berjalan di bawah pepohonan yang terlihat rimbun. Aku juga mendengar beberapa kali pesawat lewat di atas kami. Posisi kami yang berjalan di bawah rimbunan pohon membuat orang-orang yang berada dalam pesawat tidak bisa melihat kami walaupun pesawat tersebut terbang dalam keadaan rendah.
“Ya Allah, lindungi kami...”
***
__ADS_1
LIKE...LIKE...LIKE...