CUT

CUT
Iskandar dan Kehilangan...


__ADS_3

Lelah dengan semua pemikirannya, Cut memutuskan untuk bicara pada Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir selesai salat isya. Dan di sinilah Cut saat ini. duduk berhadapan dengan Pak Cek Amir yang sudah menjadi walinya. Sedangkan Mak Cek Siti duduk di sampingnya. Mak Cek Siti sudah berperan menjadi ibu untuknnya menggantikan Umi yang sudah tiada.


“Apa yang mengganggu pikiranmu, Nak?” tanya Pak Cek Amir lembut.


Cut meremas jemarinya lantaran gugup. “Bilang saja pada kami, jangan ragu!”


Ucapan lembut Mak Cek Siti sedikit memberi kekuatan pada Cut.


“Cut bingung harus memulai dari mana? Ibu dan Bapak minta Iskandar untuk dirawat oleh mereka. Cut tidak mau memberikan Iskandar untuk mereka, Mak Cek. Walaupun Is cucu mereka tapi dia tetap anak Cut. Kenapa harus meminta sepenuhnya? Kenapa tidak merawat bersama saja seperti orang-orang lain.”


Tangis Cut tidak tertahan, Mak Cek Siti mendekap Cut dalam pelukannya. Keduanya memang sudah mendengar apa yang menjadi kekhawatiran Cut selama ini. Mantan mertuanya sudah berbicara terlebih dahulu pada Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir tentang keinginan mereka sewaktu Cut masih di rumah sakit. Keinginan mantan mertuanya terus bertambah lantaran tanpa sengaja mandapati cucu mereka sedang asyik bermain dengan seorang pria berbaju loreng di rumah Mak Cek Siti. Dari sanalah, mereka tahu jika pria bernama Rendra itu ternyata mengincar mantan menantu mereka.


“Tenanglah! Semua itu hanya kekhawatiranmu saja. kita masih bisa membicarakan ini baik-baik antara keluarga. Kamu juga tidak berencana  menikah saat ini kan?”


Cut dengan mata yang masih basah menatap Mak Cek Siti yang sedang tersenyum padanya. “Menikah? Cut tidak mau menikah, Mak Cek! Dan kenapa Mak Cek menyinggung soal menikah?”


Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti akhirnya bercerita tentang kejadian dimana saat mantan mertuanya datang ke rumah mereka. Saat itu, Rendra juga ada di sana sedang bermain dengan Iskandar. Mereka langsung bertanya tentang niat sebenarnya Rendra mendekati cucu mereka.


“Apa dia tahu masalah antara Cut dan Bang Fais?”


Mak Cek Siti mengangguk lemah, “Dia sudah tahu sejak awal-awal bertemu dengan kami. Dia sudah menyampaikan niatnya dari pertama bertemu dengan kami.”

__ADS_1


“Maaf sebelumnya, Pak, Buk. Saya memiliki tujuan untuk kembali melanjutkan niat baik saya yang sempat tertunda beberapa tahun silam. Jika Cut sudah menikah maka saya akan mundur dari sekarang.” Mak Cek Siti menirukan kembali setiap kata yang keluar dari mulut Rendra saat itu.


“Lalu kami pun menceritakan semua padanya. Dan saat itu juga dia minta izin pada kami untuk mendekatimu lagi. Dan sebagai orang tuamu, Mak Cek dan Pak Cek tentu saja menginzinkan. Apalagi almarhum Abu dan Umi juga menyukainya.”


Cut mengernyit menatap Mak Cek Siti. “Abu dan Umi menyukai Bang Rendra?”


Mak Cek Siti mengangguk pelan, “Mak Cek tahu saat mereka bercerita tentang kamu dan Rendra pada kami waktu baru-baru pindah kemari. Orang tua selalu tahu mana laki-laki yang baik untuk putrinya. Begitu juga dengan penilaian Abu dan Umimu. Mereka tidak mungkin menyukai Rendra jika menurut penglihatan mereka dia tidak baik.”


“Jika almarhum orang tuamu saja menyukainya, bagaimana denganmu?” tanya Mak Cek Siti kembali.


“Pikirkan pelan-pelan! Jangan sampai mengganggu pikiranmu. Kami mendukung semua keputusanmu. Tapi ingat satu hal, kamu harus bangkit dan melangkah ke depan. Jangan terpaku di tempat karena hidup harus terus berjalan.”


Ucapan Pak Cek Amir begitu menenangkan sekaligus menyiratkan makna yang dalam untuk Cut. sementara dia sendiri tidak tahu harus  bersikap seperti apa.


Lagi-lagi Cut dibuat terkejut oleh pertanyaan Mak Cek Siti yang terkenal dengan pencari jodoh paling akurat. “Dari yang Mak Cek lihat, Rendra sepertinya sangat menyukaimu. Dia juga sangat senang bersama Iskandar. Oh ya ampun, Mak Cek lupa mengatakan padamu jika Rendra itu duda cerai tanpa anak.”


“Apa?”


Mak Cek menganggukkan kepala. “Setelah mendengar cerita kami tentang kamu, dia juga menceritakan tentang dirinya pada kami secara jujur. Dia juga memperlihatkan surat cerai yang sengaja dibawa untuk diperlihatkan pada kamu. Walaupun dia hampir putus asa karena tidak menemukan kamu.”


Cut semakin bimbang dengan semua kenyataan yang didengar dari Mak Cek Siti. Sekarang hati dan pikirannya menjadi tidak tenang.

__ADS_1


“Pak Cek, Mak Cek, Cut tidak mau menikah jika itu menjauhkan Cut dengan Iskandar. Anak lebih penting dari apapun.”


“Tidak ada yang akan menjauhkanmu dari Iskandar. Kamu hanya perlu membuka hati untuk saat ini. Tanyakan hatimu apakah masih ada tempat untuk Rendra. Jika masih, berikan dia kesempatan dan jika tidak, tolak dia secara halus.” Mak Cek Siti kembali memberikan sarannya.


Mak Cek Siti memang terkenal handal dalam urusan perjodohan. Sudah berapa pasangan yang menikah di kantornya setelah dijodohkan oleh beliau.


“Masih banyak waktu untuk berpikir. Tidak perlu terburu-buru, biarkan waktu yang menentukan siapa jodohmu selanjutnya.” Pak Cek Amir menengahi.


“Tidak bisa begitu, Ayah. Laki-laki juga butuh kepastian bukan perempuan saja. Apalagi dia hampir selesai tugas di sini. Cut harus memikirkan ini selama dua minggu. Tiga minggu lagi Rendra akan pulang kembali ke Jawa.” Timpal Mak Cek Siti.


“Mak Cek memang tante Fais bukan berarti Mak Cek membelanya. Kamu juga keponakan Mak Cek dan kamu berhak bahagia. Masalah Iskandar bisa kita bicarakan nanti. Yang penting kamu dulu. Urusan Iskandar biar Mak Cek yang bicarakan dengan orang tua Fais. Sekarang pikirkan saja apa yang hati kamu inginkan. Kalian tidak harus menikah sekarang, Rendra juga sudah mengatakan jika menikah denganmu tidak mungkin sekarang karena dia sedang tugas. Yang dia inginkan sebelum kembali ke jawa adalah keputusan kamu. Apakah menerima atau menolaknya?”


Kali ini Pak Cek Amir hanya bisa menghela nafasnya. Saat jiwa perjodohan merasuki istrinya maka akan sulit untuk dihentikan seperti saat ini.


Setelah pembicaraan panjang dengan Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti, Cut menjadi sulit memejamkan mata. Dia terus dibayangi oleh kenangan bersama Fais dan segala pengkhianatan yang ia terima. Tanpa ia sadari, pikirannya terus membanding-bandingkan antara Fais dan Rendra. Sesekali, senyum Rendra dan semua kenangan di masa lalu kembali bermunculan seperti tembakan rudal dari atas pesawat tempur di tengah malam.


Tiba-tiba, Iskandar yang tengah terlelap memiringkan tubuhnya dengan sebelah tangan tergeletak di atas dadanya. Cut menatap syahdu pada sang buah hati yang begitu tampan dan rupawan seperti ayahnya. Konon, orang-orang tua di kampungnya pernah berkata jika anak laki-laki terlalu mirip dengan ayahnya maka akan ada perpisahan dalam keluarga tersebut. Baik berupa meninggal atau bercerai.


Benar saja kata para orang tua itu. Cut dan Fais bercerai bahkan sebelum anak ini mengenal dengan baik wajah ayahnya.


“Apakah kamu merindukannya?”

__ADS_1


***


__ADS_2