CUT

CUT
Mimpi...


__ADS_3

Ibu Yetti sedang berbicara dengan sang suami selepas kepergian Rendra. Ia masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan sang anak tentang sosok wanita yang akan dilamarnya.


“Bagaimana menurut  Papa? Apa Papa akan membiarkan Rendra menikahi wanita itu apalagi jelas-jelas Rendra mengatakan jika wanita itu sulit untuk hamil. Apa seumur hidupnya dia akan terus merawat anak orang lain? Papa jangan munafik, Papa pasti menginginkan keturunan dari Rendra, bukan?”


Bapak Wicaksono memandang ke luar melalui jendela kamarnya. Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Namun, dia juga bingung karena sang putra terlihat begitu teguh mempertahankan wanita tersebut.


Sementara di kamar yang lain, Reni dan Riko juga terlibat perdebatan yang cukup alot. Rendra memberitahukan keluarganya tentang kondisi Cut secara keseluruhan untuk menghindari masalah dikemudian hari.


“Kalau aku jadi calon Kak Rendra pasti akan sedih saat tahu keluarga calon suaminya tidak setuju hanya karena fisiknya yang cacat. Bukannya itu semua musibah? Jika disuruh memilih, Kak Cut juga tidak mau cacat. Tapi semua kan sudah takdir. Bagaimana menurut kamu, Ko?”


“Aku tidak tahu, Ren. Semua melihat dari sisi mereka masing-masing. Tapi aku masih belum menyangka jika Kak Rendra akan bertemu kembali dengan wanita yang dulu dicintainya. Jodoh dan cinta memang luar biasa jalannya. Tidak ada satupun manusia yang mampu menjelaskan dengan logika. Dari semua cerita Kakak, aku yakin, mereka memang ditakdirkan berjodoh.” Ungkap Riko antusias.


“Menurut kamu, orang tua kita setuju tidak? Aku kasihan sama Kak Rendra. Menikah sama yang cantik jutsru diselingkuhi. Terus sama yang sekarang, justru tidak bisa memiliki keturunan. Dari reaksi Mama, aku yakin jalan Kak Rendra tidak akan mulus.”


“Yap…aku setuju kalau itu. Mudah-mudahan Kak Rendra ke dukun minta jampi-jampi biar Mama dan Papa setuju.”


“Husttt…doa, Ko. Bukan jampi-jampi. Jaman sekarang masih mikir dukun. Tapi, kalau lihat reaksi Papa, kayaknya setuju tuh.”


Perdebatan keduanya tidak kunjung usai hingga mereka sadar saat melihat jam di dinding yang sudah menunjuk tepat di angka 12.


Sementara itu, di rumahnya. Rendra sedang berbalas pesan dengan sang kekasih yang ternyata malam ini tidak dapat tidur. Surat-surat yang dikirim ke Aceh sudah sampai dan sudah diurus oleh Pak Cek Amir. Sampainya surat itu membuat hari-hari Cut semakin sulit. Dia seperti susah untuk bernafas tatakala memikirkan untuk menikah lagi.


“Saya sudah mengatakan pada kedua orang tua dan tinggal menunggu jawaban mereka. Sabar ya, Sayang! Jangan lupa berdoa!” tulis Rendra.


“Iya, sudah tengah malam. Sebaiknya Abang tidur.”


“Saya belum ngantuk. Kamu?”


“Saya sedang banyak pikiran jadi susah untuk tidur.”

__ADS_1


“Apa yang kamu pikirkan? Coba katakan pada saya! Siapa tahu saya bisa membantu.”


“Mak Cek Siti bilang, apa yang saya rasakan saat ini hanyalah perasaan seorang wanita yang hendak menikah. Ragu, gundah, gelisah serta pikiran-pikiran lainnya yang datang dari setan untuk menggoyahkan manusia.”


“Nah, itu benar sekali apa yang dibilang Mak Cek Siti. Dari pada kamu memikirkan yang tidak jelas, lebih baik kamu baca buku atau novel-novel yang saya kirimkan.”


“Baik.”


“Hanya itu?” balas Rendra kembali.


“Terus?”


“Ya sudah, tidur saja. Saya juga mau istirahat. Selamat tidur, Sayang. Mimpikan saya!”


Hampir setengah jam mereka saling berbalas pesan hingga keduanya tertidur. Hari berganti hari lalu kabar tentang surat-surat yang sampai dari pulau jawa akhirnya sampai juga ke telinga orang tua Faisal.


Ibu Murni ditemani oleh sang suami dan kedua anaknya mendatangi kediaman Mak Cek Siti. Kedatangan mereka tentu saja sudah diinfokan terlebih dahulu mengingat apa yang ingin mereka bahas adalah sesuatu yang penting.


Pertanyaan Ibu Murni dijawab oleh Mak Cek Siti. “Maaf, Kak Ni. Tapi kami tidak bisa menuruti permintaan keluarga Kak Ni. Iskandar tidak bisa dipisahkan dari ibunya dan tunangan Cut juga sudah mengatakan jika akan menerima dan merawat Rendra seperti anak kandungnya.”


“Tapi dia keturunanku, Siti.” Sela Bapak Fahri.


“Cut, kami sudah kehilangan Fais. Apa kamu tega membiarkan kami kehilangan cucu? Ingat Cut, Iskandar adalah keturunan kami. Kamu hanya tempat benihnya tumbuh.”


“Kakkkk”


Mak Cek Siti menaikkan oktaf suaranya. Dia sangat tersinggung dengan ucapan kakak iparnya. “Apa Siti? Benar kan yang aku bilang? Anak itu keturunan dari laki-laki, perempuan hanya penyedia tempat saja untuk dibuahi.”


Air mata Cut tanpa terasa berurai di pipi. Ia tidak menyangka akan mendengar perkataan pahit itu dari orang yang pernah sangat menyayanginya.

__ADS_1


“Tolong berika Iskandar pada saya atau kita harus berhadapan di pengadilan?”


“Bangggg”


Mak Cek Siti, Pak Cek Amir serta kedua anaknya yang berada di ruang terpisah ikut kesal mendengar perkataan mantan mertua Cut.


Mae yang juga ikut bergabung bersama mereka juga tidak kalah kesal. “Dulu mereka sangat sayang pada Kak Cut, kenapa sekarang mereka justru mengatakan hal-hal buruk untuknya.” Keluh Mae.


Perdebatan kian alot karena Mak Cek Siti sama sekali tidak mau mengalah pada saudara kandungnya itu hingga dari pihak keluarga Faisal memilih untuk menempuh jalur hukum.


“Silakan, saya ingin melihat apakah pengadilan akan memisahkan hubungan antara ibu dan anak?”


Bang Adi langsung memaksa ibunya untuk memasuki mobil karena tidak mau perdebatan itu kembali berlanjut. Sepanjang perjalanan, Ibu Murni terus saja mengomel tentang sikap adik iparnya itu. Dia juga menghasut sang suami dengan mengatakan jika adik iparnya sudah berhasil mempengaruhi mantan menantunya hingga berani melawan mereka.


“Adi, Julie, kalian harus berhasil mengambil Iskandar. Ibu sudah kehilangan Fais, jangan sampai Ibu kehilangan Iskandar lagi. Ibu tidak mau tahu, pokoknya Iskandar harus pulang ke rumah kita.”


Tanpa sepengatahuan Rendra, Cut bersama keluarganya tengah menghadapi perebutan hak asuh di pengadilan. Bang Adi dan Kak Julie rupanya bergerak cepat untuk mewujudkan keinginan orang tuanya. Sudah seminggu mereka bolak balik ke pengadilan dan itu sangat melelahkan untuk Cut. Bukan saja fisik, secara mental Cut juga sangat tertekan oleh situasi saat ini.


Saking melelahkannya, Cut sampai enggan berbicara dengan Rendra. Hari-harinya dihabiskan dengan Iskandar. Tidak jarang, ia berurai air mata saat melihat Iskandar. Semua sangat menyesakkan dada bahkan membuatnya sering terjaga di tengah malam.


“Ya Allah, tolong hamba.”


“Berdosakah hamba melakukan ini? Hamba tidak ingin berpisah dengan putra hamba. Maafkan hamba ya Allah. Ampuni dosa hamba, jangan ambil putra hamba ya Allah.”


Di saat Cut sedang berurai air mata di seperempat malam. Di salah satu kamar di pulau Jawa, seorang pria terbangun dari mimpi buruknya. Keringat bercucuran seperti habis berolahraga dengan nafas memburu seakan habis lari maraton.


“Apa yang terjadi padamu, Cut?”


***

__ADS_1


 


__ADS_2