CUT

CUT
Misi Pertama Anugrah...


__ADS_3

Suasanan kembali seperti sebelumnya dimana Anugrah menghabiskan waktu seorang diri setiap hari dengan sekolah karena libur panjang telah usai. Ia juga bahagia karena kakaknya sudah sampai di Yaman dengan selamat dan kemarin saat sang kakak menghubungi ibunya. Anugrah sangat bahagia karena setelah berbicara dengan papa dan mama, sang kakak juga ingin bicara dengannya. Hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.


“Gimana, apa papa dan mama sering bertengkar?” tanya Iskandar saat itu tanpa bertanya kabar adiknya terlebih dahulu. Walaupun begitu, Anugrah dengan sigap menjawab “Aman, Kak.”


Satu kata ‘aman’ yang diberikan sang adik ternyata cukup membuat hati Iskandar tenang di tempat ia berada saat ini. Sebuah asrama yang menampung para pelajar dari berbagai negara. Di sana, ia masih memperoleh kamar yang sama dengan ketiga temannya yang lain. Ya, sahabat till jannah itu mendapat kamar yang sama. Supaya sesama santri dapat menjalin silaturrami dengan baik, satu kamar dengan kamar yang lain diisi oleh santri yang berasal dari negara lain.


Sebelah kiri kamar Iskandar adalah kamar milik santri dari Pakistan dan di sebelah kanan diisi oleh santri dari negara Brunai Darussalam. Begitu sampai di sana, mereka langsung disibukkan dengan berbagai kegiatan dari pagi hingga malam. Dari mulai pengenalan hingga pembagian jadwal mata pelajaran dan pembagian buku, kitab dan berbagai kegiatan lainnya. Setelah semua jadwal dan perlengkapan selesai, barulah sekarang Iskandar bisa berbicara dengan keluarganya di Indonesia. Tidak hanya dia, semua santri melakukan hal yang sama namun harus mengantri untuk mengambil ponsel masing-masing di pos penjagaan khusus.


Hanya hari-hari tertentu, mereka akan mengambil ponsel di laci pribadi yang disediakan oleh asrama. Tentunya semua harus melalui prosedur tersendiri karena ponsel termasuk barang berharga jadi pihak asrama menyediakan semacam laci khusus dengan dibekali kunci yang akan dipegang oleh pihak penjaga. Untuk berbicara, mereka juga disediakan sebuah ruangan khusus seperti aula. Mereka di kurung di sana lalu dipersilakan untuk menghubungi keluarga mereka. Peraturan ini untuk mencegah para santri dari tindakan penyelundupan ponsel. Mereka diberi waktu dua jam untuk bicara lalu para petugas akan kembali mengumpulkan ponsel mereka dan memasukkannya ke dalam laci kembali.


“Terus, Papa?” tanya Iskandar kembali.


“Papa juga seperti biasa, Kak. Aku tidak pernah melihatnya menelepon seseorang sampai lama sekali kayak Kakak bilang. Tante itu juga tidak pernah ke rumah kita.”


“Nenek?” tanya Iskandar kembali.


“Nenek pernah mengajakku jalan-jalan tapi karena aku lihat Mama lagi sibuk beres-beres rumah jadi aku tidak mau. Hari selanjutnya aku udah mulai sekolah dan les jadi tidak sempat lagi jalan-jalan.”


“Ya, sudah. Tapi, tetap waspada!”


“Siapa komandan!” sahut Anugrah diseberang sana.


“Kakak tidak tanya kabarku?” Iskandar yang hendak menutup telepon jadi urung ia lakukan.


Seraya menghela nafasnya, “Aku yakin kabarmu baik buktinya kamu bisa bersekolah. Kalau kamu sakit bagaimana kamu bisa sekolah? Sudah, ya! Waktu bicara tidak banyak. Aku tutup ya! Assalamualaikum,”


“Walaikumsalam,” jawab Anugrah lalu cemberut kemudian tersenyum kembali.


Dia keluar kamar lalu menyerahkan ponsel tersebut kepada sang ibu. Anugrah tersenyum sendiri lalu ibunya pun curiga.


“Kamu kenapa? Habis main di rawa mana?”


“Ma, Adek itu senyum biar banyak pahala. Aku kan anak yang ramah.”


Cut dan Rendra sama-sama terdiam. “Kenapa anak ini jadi aneh?” batin Cut.


Hari berlalu dan kehidupan rumah tangga Cut dan Rendra masih seperti biasa. Cut menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Selebihnya, apa yang bisa ia harapkan dari dunia fana ini. Di saat ia percaya pada sang suami nyatanya sang suami malah bertemu dengan sang mantan di belakangnya. Apa ini bisa diterima dengan baik oleh Cut?


Tentu tidak!!!!


Ini adalah akhir pekan pertama setelah cut mendapati sang suami bersama mantannya di sebuah café. Sang nenek kembali datang untuk mengajak sang cucu jalan-jalan. Dan kali ini, Ibu Yetti tidak sendiri karena di sampingnya ada Risma. Wanita yang sudah ditandai oleh Anugrah.


“Hai, Ren.” sapa sang mantan dan tentu saja tingkah itu tidak luput dari pantauan Anugrah.


“Sayang, kita jalan-jalan yok!” ajak sang nenek pada Anugrah yang sedang membaca komik.


“Kemana, Nek?” pertanyaan Anugrah tentu saja membuat sang nenek tersenyum senang karena beliau yakin kali ini sang cucu pasti akan mengikuti kemauannya.

__ADS_1


“Ke mall, gimana? Atau kamu mau ke tempat lain?”


“Ke mall aja, Adek mau beli komik baru.” Senyum kemenangan terbit di wajah keriput Ibu Yetti.


“Ajak Mama juga ya Nek!”


Gleg…


Senyum kebahagiaan itu seketika sirna. “Ajak Mama? Tapi di rumah kan ada Papa? Nanti Papa kamu sendirian gimana?”


“Ajak Papa juga! Liburan keluarga.” Jawab Anugrah santai.


Cut menyadari jika Ibu Yetti tidak ingin mengajaknya, “Kamu pergi saja! Mama banyak kerjaan di rumah.” Ucap Cut.


“Ya sudah, kita ajak Papa saja!”


Celutukan Risma yang tiba-tiba tersebut cukup mengagetkan Cut maupun Anugrah. Dia yang sudah mendapat lampu peringatan dari sang kakak jutsru harus bersiap dengan segala cara.


“Benar kata, Risma. Kamu ikut kami ya Ren! sekalian kamu yang bawa mobil.”


Rendra menatap Cut, “Pergi saja! Aku lagi banyak pekerjaan.” Ucap Cut tersenyum getir sementara Risma tersenyum penuh kemenangan.


Ibu Yetti yang tidak menyadari perang di antara sang menantu dan mantan menantunya bersikap biasa saja. Ia tidak terlalu peduli dengan sang menantu apalagi dengan apa yang dipikirkan oleh Cut saat ini.


Risma yang ingin duduk di samping Rendra harus menelan kekecewaan saat sang anak sudah menyabotase terlebih dahulu.


Alhasil, Risma duduk di jok belakang bersama Ibu Yetti dan tentu saja itu semua tidak luput dari pantauan sepasang mata yang berdiri di belakang jendela.


Ia tersenyum kecil apalagi saat mengingat kata-kata yang dibisikkan oleh sang putra padanya sebelum berangkat tadi. “Mama tenang, biar aku yang menjaga Papa.”


Cut yang saat itu ingin bertanya lebih akhirnya memilih diam dan mengangguk saja. Walaupun rasa penasaran di hatinya cukup besar.


Sepanjang perjalanan, Risma dan Rendra terlibat pembicaraan yang cukup random. Sesekali Ibu Yetti juga ikut menimpali. Sementara Anugrah hanya menjawab saat ditanya saja.


“Iskandar hebat ya! Dia bisa mendapat beasiswa untuk belajar ke luar negeri. Kamu tidak ingin menyusul kakakmu, Dek?” tanya Risma pada  Anugrah.


“Tidak. Aku di sini saja menjaga Papa dan Mama.”


Rendra tertawa kecil, “Anak Papa ternyata sudah besar.”


“Nenek juga tidak mau jauh-jauh dari cucu kesayangan yang tampan ini.” Sahut Ibu Yetti kemudian.


“Kalo gitu Kakak bukan cucu kesayangan nenek ya?”


Gleg…


Ibu Yetti tercekat. Bagaimana bisa cucunya yang tampan dan tidak pernah berkata ketus kini telah berubah. Dulu, Anugrah tidak pernah berkata atau bertanya hal begini karena sebelumnya Anugrah juga pernah mendengar pertanyaan dan jawaban yang sama dari teman-teman Ibu Yetti. Saat itu Anugrah tidak sedikitpun menjawab namun kali ini, dia memberika pertanyaan yang cukup menohok untuknya.

__ADS_1


“Nenek juga sayang sama kakak. Cuma, karena kamu masih kecil jadi Nenek lebih perhatian sama kamu. Kalau sama Kakak kan sudah dulu waktu kakak masih kecil.” ucap Rendra.


Ia tahu ibunya pasti kualahan untuk menjawab pertanyaan sang putra. Rendra sendiri juga merasa aneh dengan sang putra selama seminggu ini. Anaknya seakan selalu memantau pergerakannya. Sebagai seorang tentara, Rendra sangat mengerti jalan pikiran sang anak termasuk saat dirinya sendiri yang menjadi target.


Anugrah sering kali bertanya jika ada telepon yang masuk di malam hari.


“Siapa, Pa? kok telepon malam-malam.”


“Om Wahyu, mungkin ada perlu mendadak.”


“O….” lalu Anugrah pergi meninggalkan papanya begitu saja.


Belum lama ini juga mengalami kejadian lucu di mana sang putra menyuruhnya untuk menyusul sang ibu ke kamar karena ibunya sedang kesepian. Walaupun dengan perasaan aneh, tapi Rendra menurut saja karena waktunya juga hampir menunjukkan pukul sebelas malam.


“Papa perhatikan kamu sering membantu mama di rumah ya?” tanya Rendra.


“Aku sayang sama Mama, setiap hari di rumah. Bahkan sampai akhir pekan aja Mama masih betah di rumah mengurus ini dan itu. Kenapa Papa tidak mengajak Mama jalan-jalan? Apa Papa sudah tidak sayang sama Mama?”


Pertanyaan sang putra kali ini membuat Rendra seperti mati kutu. Bagaimana ia menjawab jika ia saja baru menyadari bahwa hubungannya dengan Cut memang sedikit dingin. Justru sang putra yang menyadarkannya.


“Kalian lagi berantem?” tanya Ibu Yetti.


“Tidak, Ma. Hanya salah paham saja.” Kilah Rendra.


“Beritahu istrimu baik-baik jika ia buat salah. Mama juga seorang istri kalau yang ngingetin marah-marah ya mana bisa masuk dalam kepala. Yang ada keluar kuping kiri keluar kuping kanan.”


Risma melirik Ibu Yetti tidak suka dan tentu saja itu juga terpantau oleh Anugrah.


“Tante Risma tidak punya keluarga? Kenapa libur begini malah ikut keluarga kami?”


Rendra semakin mengernyit heran pada sang putra. “Papa merasa kamu sepertinya telah berubah banyak. Apa hormon kedewasaan mulai tumbu dalam pikiran anak Papa?”


“Mama rasa juga begitu. Cucu Nenek akan cepat tumbuh besar dan hebat serta cerdas.” Ibu Yetti tersenyum manis sambil mengacak rambut sang cucu dari belakang.


“Rumah Tante Risma kan jauh. Kamu juga sudah pernah Papa ajak dulu, ingat?” tanya Rendra sementara Risma hanya diam saja.


“O….”


Hanya O, begitulah Anugrah saat mengakhiri pembicaraannya. Mobil yang ditumpangi akhirnya memasuki area parkir di depan sebuah pusat perbelanjaan. Rendra menrangkul bahu sang putra lalu berjalan menuju stan komik.


“Kamu suka komik apa, Dek?” tanya Risma.


“Detektif!”


 


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN....SHARE...


__ADS_2