
Cut hampir roboh saat mengetahui kondisi anak dan korban yang ditabraknya. Di saat mereka cemas menunggu hasil setelah keduanya selesai menjalani operasi di bagian kepala dan kaki. Keluarga Cut kembali dibuat terkejut saat seorang suster mengabarkan jika korban yang ditabrak oleh anaknya adalah wali dari seorang ibu yang sedang dirawat di sana. Ibu dari Wulan ternyata sedang kritis akibat komplikasi diabetes dan jantung.
Cut mengajak Rendra dan Iskandar untuk menemui ibu yang bernama Sulastri itu di ruang rawat beliau. Wanita paruh baya itu menatap heran pada tiga orang yang masuk di belakang perawat. “S-us, d-di m-ma-na W-wulan?” tanyanya lirih seraya melirik ke tiga orang asing dalam ruang rawatnya.
Cut menghampiri wanita paruh baya yang terbaring lemah di atas brangkarnya. “Bu, perkenalkan saya, Cut dan ini suami dan putra pertama saya. Sama minta maaf karena putra kedua saya membuat kesalahan di jalan tadi malam hingga menabrak putri Ibu. Tapi saya janji akan bertanggung jawab mengobati putri Ibu sampai sembuh.” Cut menggenggam tangan wanita paruh baya itu. Dari penampilannya bisa diperkirakan beberapa tahun lebih tua dari dirinya.
“A-pa ya-ng te-rjadi den-gan Wu-lan, Bu? A-apa d-ia pa-rah? Su-dah sa-ya kat-akan p-ada su-ster un-tuk ti-dak meng-hubu-ngi-nya ma-lam-mal-am. Kasi-han se-kali an-ak i-tu,” air mata Ibu Satsri mengalir, matanya menerawang seakan kemalangan hidupnya tidak pernah berakhir.
“Bu, mereka sudah selesai dioperasi. Ibu segera sehat ya, biar kita melihatnya bersama-sama.” Ucap Cut lagi. Sejujurnya, ia juga tidak tahu bagaimana kondisi Anugrah dan Wulan saat ini.
“Bu, t-olong ja-ga W-ulan. Di-a ti-dak p-unya sia-pa-sia-pa la-gi di si-ni. T-ol ong ja-ga d-ia!”
Melihat ada yang lain, Iskandar mendekat lalu menuntun Bu Sulastri mengucapkan kalimat syahadat secara perlahan sampai terdengar bunyi mesin pendeteksi detak jantung dan garis lurus dari monitor. Suster dan perawat datang lalu memastikan jika Ibu Sulastri telah meninggal dunia. Rendra dan Iskandar mengurus pemulangan jenasah Ibu Sulastri sekaligus megurus segala administrasi beliau. Cut terdiam dalam kebimbangan.
“Apa yang akan kukatakan pada putrinya nanti?” gumam Cut sendiri sampai sebuah usapan hangat sang suami kembali menyedarkannya.
“Ayo, kita antar Bu Sulastri ke kediamannya hingga ke tempat peristirahatan terakhir beliau.”
Ke tiganya pergi meninggalkan rumah sakit. Untuk sejenak mereka mengabaikan anak-anak yang masih terbaring di rumah sakit. Mereka datang di belakang ambulans. Cut bersama Iskandar mengikuti jenasah sampai ke dalam. Para tetangga mulai berdatangan. Rendra berbicara dengan beberapa orang di luar, Cut sudah tidak peduli. Dengan mengucapkan bismillah, Iskandar menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk memandikan jenazah. Iskandar juga memasuki kamar di rumah sederhana itu untuk mencari kain penutup wajah sementara sambil menunggu mayat dimandikan. Semua prosesi diurus oleh Rendra dan Iskandar sampai ke acara pemakaman.
Dari rumah sakit belum ada kabar tentang perkembangan Anugrah dan Wulan hingga hari menjelang malam. Banyak warga bercerita tentang sosok Ibu Sulastri yang hidup berdua dengan Wulandari di rumah sederhana itu. Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, mereka berjualan nasi uduk, ayam penyet hingga berbagai jenis kue.
“Apa kerabatnya tidak ada yang datang, Pak?” tanya Rendra pada Pak RT dilingkungan tersebut.
“Tidak, Pak. Mereka sudah lama menetap di sini. Pemilik rumah enggan menyewakan pada orang lain karena Wulan kadang-kadang ikut menjaga dan merawat pemilik rumah yang sudah berumur itu. Maka dari itu, walaupun penghasilan mereka kecil. Pemilik rumah tetap mengizinkan mereka tinggal di sini.”
“Wulan itu anaknya sabar sekali tidak pernah sekalipun mengeluh atau marah-marah sama seperti ibunya. Anaknya ramah dan rajin. Saat anak-anak remaja lain memilih main sama teman-temannya, Wulan justru sibuk di dapur membantu ibunya.” Ujar ibu-ibu tetangga mereka.
“Jadi bagaimana keadaan Wulan sekarang, Pak?” tanya Pak RT kembali.
“Saya belum tahu, Pak. Tapi kami sudah berjanji pada ibunya untuk menjaga Wulan.”
“Jadi, anak Bapak tentara di markas Raider sana ya?”
“Iya, Buk. Saya juga terkejut kenapa bisa terjadi kecelakaan padahal baru menelepon kami sejam sebelum kejadian. Dia menutup teleponnya dengan alasan mau tidur karena besok pagi ada latihan gabungan.”
“Sudah kehendak sang pencipta, Pak. Mungkin ini cara Allah untuk memberikan Wulan kepada orang yang tepat saat ibunya harus kembali.” Ujar Pak RT kembali.
Sebulan penuh mereka berjaga menantikan Anugrah dan Wulan siuman hingga hampir putus asa tapi takdir berkata lain. Asa Cut tidak sampai putus walau dia hampir tumbang melihat anaknya belum sadar. Hingga akhirnya, Wulan dan Anugrah membuka mata bersamaan. Cut menangis dalam sujudnya. menatap sang putra dan gadis yang ditabraknya sudah sadar.
Seminggu setelah mereka siuman, dokter memastikan jika kondisinya mulai membaik dan operasi mereka telah sukses tapi untuk Anugrah. Dia tidak akan bisa seperti dulu lagi. Beberapa tulangnya tidak sekuat dulu hingga tidak diperbolehkan untuk mengikuti latihan berat. Atas larangan itulah, Anugrah bisa mendapat surat pindah dengan mudah. Sementara untuk Wulan, beberapa sarafnya ada yang rusak hingga perlu waktu untuk kembali bisa berjalan normal.
Wulan sendiri harus melakukan fisioterapi yang rutin untuk melatih otot dan sarafnya agar berkerja lagi untuk mempercepat ia bisa berjalan kembali. Tapi sayang, Wulan yang mengetahui jika ibunya telah meninggal tepat di hari dia kecelakaan menjadi histeris hingga beberapa kali harus diberikan obat penenang. Setiap membuka mata, Wulan selalu menyebut sumpah serapah untuk Anugrah yang berbaring bersama dengannya dalam satu ruangan.
__ADS_1
“Dasar pembunuh, kenapa tidak kamu saja yang mati?”
“Sampah sepertimu lebih baik mati menggantikan ibuku.”
Dan berbagai sumpah serapah lainnya keluar bebas dari mulut Wulan tanpa henti. Cut hanya bisa memeluk suaminya dibalik pintu saat harus mendengar berbagai kata-kata menyakitkan untuk putranya.
“Biarkan dia mengeluarkan semua kemarahannya. Dengan begini dia akan tenang.”
Iskandar hanya bisa diam saat sang Papa mencoba menghibur mamanya. Ia sendiri tidak tega mendengar semua kata-kata itu apalagi membayangkan posisi adiknya saat ini. Anugrah hanya memejamkan mata saat menerima semua sumpah serapah dari mulut Wulan. Dia yang bersalah, semua ini salahnya. Andai malam itu dia tidak mengambil motor, andai malam itu dia berlari saja, andai malam itu dia memilih tidur dan banyak lagi kata andai yang muncul dalam benaknya. Semua penyesalan sudah tidak berguna. Anugrah kalah dan salah. Kesalahannya telah menghilangkan kesempatan seorang anak melihat ibunya untuk terakhir kali.
“Maaf,” lirih Anugrah. Keduanya masih berbaring di brangkar masing-masing.
“Simpan maafmu itu pembunuh. Kamu pria paling menjijikkan di dunia ini.”
“Aku pastikan kamu akan menerima karmamu lebih dari yang kurasakan!”
“Aku akan tertawa sepuasnya di depan matamu nanti.”
Setiap saat ketika sadar, Wulan terus mengucapkan kata-kata itu untuk Anugrah. Wulan sendiri tidak pernah menanggapi satu perkataanpun dari keluarga Anugrah. Dia membenci mereka seumur hidupnya. Kebencian Wulan semakin menjadi saat dua minggu kemudian, mereka diperbolehkan pulang dan saat itu dengan suara tegasnya Rendra mengatakan akan membawa Wulan bersama mereka ke Surabaya.
“Apa hak anda membawa saya? Anda itu bukan siapa-siapa saya. Anda itu hanya ayah dari pembunuh itu. Sana, urus anak anda supaya jadi baik. Jangan urusi saya.”
“Saya sudah berjanji pada almarhum ibumu untuk menjaga dan merawatmu.”
“Kita akan berkunjung ke makam ibumu terlebih dahulu sebelum ke Surabaya.” Tegas Rendra namun ditanggapi Wulan dengan sinis. Wulan ingin kabur tapi kakinya belum bisa digerakkan.
“Gimana caranya menghilang dari sini?” batin Wulan saat itu namun sayang pikirannya sudah terbaca oleh Rendra.
“Jangan berpikir untuk kabur! Jangankan lari, jalan saja tidak bisa. Kalau kamu mau kabur, sembuhkan dulu kakimu di Surabaya. Setelah kamu pulih, saya sendiri yang akan mengantarkanmu kemanapun. Almarhum ibumu tidak menginginkan putrinya untuk menjadi gembel peminta-minta. Dengan kondisimu seperti ini apa kamu berniat menjadi pengemis”
Wulan terdiam, suara tegas Rendra mampu membuatnya terdiam tapi otaknya terus mencari berbagai cara supaya tidak ikut dengan mereka tapi apa daya. Dia yang tanpa apa-apa kalah dengan mereka yang punya apa-apa. Wulan duduk di atas kursi roda sampai di area parkir pemakaman. Setelah itu, Rendra menggendong Wulan menuju makam ibunya. Awalanya Wulan menjerit dan melawan tapi tatapan mata Rendra menghunus tajam ke arahnya membuat Wulan diam.
Pemakaman tempat ibunya dimakamkan bukanlah pemakaman mewah. Jadi, sangat sulit mendorong kursi roda di dalam area makam sehingga Rendra lah yang menggendongnya. Sementara Iskandar tidak mungkin melakukan itu mengingat mereka masih lajang dan tidak pantas. Dan Iskandar pun belum tentu mau melakukannya.
Setelah dari makam, Rendra membawa Wulan ke rumahnya. Rumah itu masih seperti semula. Rendra mempertahankan rumah itu sampai Wulan siuman karena berjanji akan membawa Wulan ke sini sebelum ke Surabaya.
Wulan menangis begitu memasuki rumah. Rendra dengan sabar mendorong kursi roda sampai ke kamar Wulan.
“Di mana foto-foto ibu?” Tanya Wulan.
“Semua barang-barang kamu sudah saya kirimkan ke Surabaya. Rumah ini besok sudah ditempati orang lain. Sewanya sudah berakhir hari ini.”
Pak RT dan beberapa tetangga datang melihat Wulan untuk terakhir kalinya. Mereka sudah diberitahukan oleh Rendra tentang permintaan Ibu Sulastri sebelum beliau meninggal. Pak RT dan para tetangga ikut berterima kasih karena Rendra sudah bertanggung jawab penuh pada Wulan.
__ADS_1
“Kalau mereka sembuh, kenapa tidak dinikahin saja sekalian? Putra Bapak itu masih lajang kan?” celutukan salah satu ibu-ibu membuat Cut dan Rendra seling menatap satu sama lain.
“Benar juga, Pak. Mereka terlihat serasi walaupun masih belum sadar.” Ucap Pak RT yang pernah menjenguk Wulan dan Anugrah di rumah sakit.
“Insya Allah, kalau mereka berjodoh tentu saja kami akan dengan senang hati menerimanya.” Ucap Rendra kala itu sedang membereskan barang-barang yang akan dikirim ke Surabaya.
***
Tiga bulan kemudian….
“Saudara Anugrah bin Rendra Wicaksono, saya nikahkan dan saya kawinkan anda dengan Wulandari binti Sutedja yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan anda dengan mas kawin 20 gram emas dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Wulandari binti Sutedja dengan mas kawin tersebut tunai!”
“Bagaimana saksi?”
“Sah!”
“Sah!”
Lantunan doa mengalir setelah prosesi ijab kabul secara sederhana di rumah besar Bapak Wicaksono. Tidak banyak tamu yang hadir, hanya petugas KUA, ketua RT, RW dan beberapa tetangga dekat. Anugrah mengambil buku nikah yang sudah ia tanda tangani lalu membawanya kepada seorang gadis yang sedang duduk di atas kursi roda dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sorot matanya memandang menatap penuh kebencian pada laki-laki di depannya ini.
“Nak, ayo di tanda tangani dulu.” Ucap Cut lembut.
Cut mengambil pulpen di tangan Anugrah lalu meletakkan dengan hati-hati di tangan Wulan. Dengan penuh kesabaran, Cut membujuk Wulan untuk menandatangani buku nikahnya. Dengan penuh kebencian dan sumpah serapah dalam hatinya, Wulan menarik satu gores tinta di sana. Air matanya sudah kering selama tiga bulan ini mengingat ibunya.
Kebenciannya Wulan semakin menjadi saat ia dipaksa untuk menerima Anugrah sebagai suaminya. Wulan tidak bisa berbuat banyak. Kesalahannya adalah tidak bersungguh-sungguh untuk sembuh hingga sampai sekarang dia masih belum bisa berjalan. Semangatnya tiba-tiba sirna tatkala memikirkan sang ibu. Dia ingin mati saja meyusul ibunya dari pada melihat pria pembunuh itu setiap hari. Wulan gelap mata sampai suatu sore ia melukai urat nadinya dengan serpihan gelas.
“Kamu mau ibumu semakin tersiksa di kuburnya? Dengan kamu berbuat begini, itu sama saja kamu sedang memukul ibumu dengan cambuk api. Apa kamu lupa, apa yang membuat seorang ibu bahagia di kuburnya? Anak yang saleh, kalau kamu tidak saleh setidaknya jangan menjadi durhaka begini dengan mencoba bunuh diri. Apa sayangmu padanya hanya sebatas di dunia dengan membantunya memasak? Bukan itu yang ibumu mau saat ini. Hanya sebaris doa yang tulus dari anaknya yang membuatnya bahagia di dalam sana. Apa kamu seegois ini?”
Setelah kejadian itu, Wulan tidak pernah lagi melakukan percobaan bunuh diri. Ia lebih banyak diam dan tidak berteriak-teriak seperti biasanya. Dan saat ijab kabulpun, dia diam dengan tatapan kosong. Tatapannya akan berubah saat ia melihat Anugrah. Kebenciannya terhadap pria itu tidak akan pernah sirna oleh waktu sampai kapanpun juga.
Cut mendorong kursi roda Wulan ke kamar, “Istirahatlah, kamu pasti lelah.”
“Hidup bersama kalian adalah kesalahan dan sekarang kalian memberikan neraka untukku. Kalian sungguh bukan manusia.”
***
55 kata lagi capai 2000 kata. So, jangan bilang pendek Pembaca....
__ADS_1