
Anugrah memejamkan matanya di kamar. Sebelah lengannya ia letakkan di atas kening. Ia sedang mempertimbangkan tentang tawaran tugas ke luar negeri sebagai petugas bantu perdamaian untuk ditempatkan bersama relawan dari berbagai negara yang tergabung dalam pasukan khusus PBB. Kehadiran mereka bukan untuk berperang melainkan untuk membantu para korban perang di tenda-tenda pengungsian.
Ia merasa terbebani saat melihat kedua orang tuanya terutama wajah ibunya. Setelah perceraiannya dengan Wulan, wajah ibunya terlihat sendu dan selalu memaksakan diri untuk tersenyum padanya. Anugrah tahu, ibunya pasti kecewa dengan keputusan mereka tapi inilah yang terbaik. Ia tidak mau meneruskan pernikahan karena terpaksa ini walaupun dalam hati kecilnya ia merasa nyaman di hari-hari terakhir pernikahannya dengan Wulan.
Ia juga sudah melihat foto bayi Tiara dan Doni dan sudah memberikan selamat juga untuk kedua orang tua baru itu melalu pesan di akun media sosial mereka. Senyum penuh kegetiran menghiasi wajah Anugrah lalu ia bangkit dari tidurnya.
Keputusannya sudah bulat, ia keluar lalu mencari kedua orang tuanya.
“Ma, Pa, aku minta izin mau ikut misi kemanusiaan sama PBB.” Cut dan Rendra menatap putranya dalam diam.
“Kenapa mendadak? Ingat, kondisi fisik kamu-“
“Aku tidak bertempur, Ma. Ini misi kemanusiaan. Membantu pengungsi korban perang. Boleh ya?” Tanya Anugrah menatap penuh harap pada orang tuanya.
“Memangnya ada tugas begitu, Pa? Dulu Papa tidak pernah dapat tugas begitu?” Cut menatap sang suami.
“Dulu, daerah kamu masih konflik. Semua tentara di kirim ke sana. Kalau sekarang, tentara banyak yang menganggur makanya dikirim ke luar negeri bergabung menjadi pasukan pembantu perdamaian.” Ujar Rendra.
“Kapan berangkat?” tanya Rendra kembali pada putranya.
“Minggu depan, Pa. Jadi boleh kan aku ikut?” tanyanya untuk memastikan.
“Kalau kami bilang tidak, apa kamu mau dengar?” Sindir Cut membuat putranya terkekeh.
“Berarti kamu di sana tidak untuk berperang kan?” Cut masih belum rela melepas kepergian Anugrah.
“Tidak, Ma. Komandanku juga tidak mungkin memintaku ikut jika untuk bertempur. Mereka kan tahu bagaimana keadaanku.”
“Baguslah kalau begitu.”
Suami istri itu hanya bisa menghela nafasnya setelah kepergian sang putra.
“Biarkan saja, Ma. Dia pasti butuh waktu dan suasana baru saat ini. Semoga saja ini yang terbaik untuk putra kita.”
“Amin.”
Sementara itu di kediaman Tiara, Doni masih penasaran dengan perceraian Anugrah hingga ia berusaha mencari informasi dari salah satu teman yang suaminya bertugas di kantor yang sama dengan Anugrah. Betapa terkejutnya Doni saat mendapati kebenaran dari apa yang dikatakan oleh temannya tentang perceraian sahabatnya itu. Kesedihan Doni tidak berhenti hanya di situ, ia juga mendapatkan informasi jika Anugrah akan mengikuti misi kemanusiaan bersama PBB. Itu artinya, Anugrah akan lama berada di luar negeri.
Doni tertunduk di kamarnya sampai usapan lembut Tiara menyadarkannya.
“Ada apa?” Doni menatap istrinya, “Aku mencari tahu tentang perceraian Anugrah dan itu benar bahkan sebentar lagi dia akan ikut misi kemanusiaan bersama PBB.”
“Kamu memang sahabat yang baik, Papa Doni tapi kamu tidak boleh terlalu mencampuri urusan pribadinya. Kamu tahu sendiri kalau kamu terlalu memperhatikannya bisa jadi menimbulkan kesalahpahaman antara kalian. Biarkan dia menyelesaikan masalah pribadinya, ya?” Doni mengangguk lalu memeluk istrinya. Sahabat yang berubah jadi istri dan sudah memberikannya seorang bayi mungil yang lucu.
Sementara di ruang tamu, Shinta tengah berbincang serius dengan Toni hingga tidak menyadari jika anak dan menantu mereka tengah mencuri dengar di balik dinding.
Objek yang menjadi perbincangan malah sedang asyik menikmati liburan bersama dengan mengunjungi berbagai tempat hiburan.
“Aku tag nama kamu ya, Mas?” tanya Dita saat melihat foto-foto mereka di ponselnya.
“Hem,”
“Kamu keberatan? Kenapa jawabnya ‘Hem’?”
__ADS_1
Dika menatap gadis di depannya ini. Saat ini mereka tengah menikmati minuman dingin di sebuah cafe. “Bagaimana kau bisa menemukan kekasih bila kau terus mengunggah foto-foto bersamaku?”
“Apa pertanyaan itu untuk dirimu sendiri? Kamu takut tidak akan menemukan seorang kekasih karena foto-fotomu denganku, Mas?”
“Aku sedang tidak mencari kekasih tapi kamu sedang mencarinya, bukan?”
“Kenapa kamu tidak mencarinya, Mas? Apa kamu tidak berencana menikah menyusul kakakku?”
“Entah. Aku hanya belum menemukan gadis yang mau menikahiku yang seadanya ini.”
“Kalau aku mau menjadi istrimu, bagaimana?”
Gleg...
Dita menelan ludahnya sendiri. Akhirnya dia berani bertanya sesuatu yang mengganggunya selama beberapa hari ini. Apalagi Tiara dan Doni secara terang-terangan mendukungnya untuk mendekati Dika.
“Aku ingin seiman denganmu, Mas.”
Dika menatap lekat gadis di depannya. “Dita, ini bukan lelucon yang bisa kau mainkan sesuka hati.”
“Aku tahu, Mas. Dan aku sedang tidak main-main.”
“Dita, kamu sadar kan?”
“Sadar sesadar-sadarnya, Mas.”
“Sehat kan?”
“Sehat lahir batin.”
Dika tertawa kecil lalu, “Bagaimana dengan orang tuamu?”
“Itu urusan Mas. Aku serahkan perjuangan ini sama Mas. Kalau Mas ingin menikahiku yang seadanya ini maka temui orang tuaku lalu lamar aku sama mereka secara jantan.”
Dika menepuk keningnya sesaat, “Nona Dita yang seadanya, kalau melamarmu itu mudah sudah dari dulu aku lamar. Masalahnya apa orang tuamu memberikan izin untukmu mengikuti keyakinanku? Masalah keyakinan ini sensitif. Apalagi mengingat hubungan adikmu dengan Anugrah saja bisa kandas karena berbeda agama. Bukannya kita juga akan mengalami hal serupa?”
“Kita beda kasus!” jawab Dita santai.
“Hubungan mereka kandas karena Tiara tidak mau mengikuti Anugrah. Berbeda dengan kasus kita. Aku dengan kesadaran penuh dan kesungguhan hati serta kerelaan diri mengikuti keyakinan calon suamiku yaitu dirimu, Mas Dika.”
Dika terkejut saat mendengar suara tepukan tangan dari para pengunjung cafe di sekitar mereka.
“Terima kasih, terima kasih. Mohon doanya.” Ucap Dita seraya berdiri lalu membungkuk ke arah pengunjung cafe yang memberikannya tepukan tangan yang meriah. Dika melongo melihat aksi Dita. Ia tidak percaya jika gadis ini bernyali besar untuk hubungan mereka. Ada rasa kagum yang terpancar dari sorot mata Dika saat melihat gadis di depannya ini. Gadis yang katanya seadanya tapi selalu mampu membuatnya tercengang dengan hal-hal kecil yang ia lakukan secara spontan.
“Bagaimana, Mas?” tanya Dita begitu ia duduk kembali.
Dika menghela nafasnya lalu menatap gadis itu lekat. “Ini bukan lelucon, Dita.”
“Dengan cara apalagi aku harus meyakinkan Mas kalau ini bukan lelucon? Aku sudah memikirkan semuanya dari beberapa hari yang lalu dan aku juga sempat bicara sama adikku. Kamu tahu, Mas? Seumur hidup kami tumbuh bersama baru kali ini aku bicara masalah pribadi dengan dia. Saat dia menggodaku tentang kamu, dia juga mendukungku. Katanya, kalau aku bahagia dan mau pindah keyakinan mengikuti kamu. Dia mendukung sepenuhnya. Namun sayang, saat aku bertanya kenapa dulu dia tidak mau pindah mengikuti Anugrah. Dia malah menggeleng pelan seraya mengatakan jika mereka tidak jodoh.”
“Mas, aku tahu kalau aku tidak sempurna seperti istri kakakku atau gadis-gadis alim di luar sana. Tapi aku mau belajar, Mas. Aku mau kamu yang mengajariku menjadi istri yang saleh.” Mata keduanya bertatap.
“Apa yang membuatmu memilihku? Kamu tahu sendiri kalau aku bukan pria alim seperti kakakmu?”
__ADS_1
“Entah. Hatiku yang memilihmu. Mungkin karena sikap dan caramu memperlakukanku. Aku merasa nyaman dan aman saat bersamamu.”
“Apa aku tidak memenuhi kriteria calon istrimu, Mas?” kali ini wajah Dita terlihat sendu. Ia mulai menyiapkan hati jika Dika akan menolaknya setelah ini. Tapi setidaknya dia sudah berusaha walaupun hasil akhirnya tidak sesuai harapan. Semangat itulah yang diberikan oleh Tiara dan Doni hingga dia berani mengutarakan isi hati dan pikirannya. Mereka juga berjanji akan membantu dirinya bicara sama Mama Shinta jika Dika benar-benar melamarnya.
“Tidak!”
Dita menatap manik hitam di depannya, hatinya tiba-tiba perih dan matanya seperti kemasukan debu.
“Ayo pulang! Aku tidak mau keluargamu marah karena membawamu pergi setiap hari.” Selama perjalanan pulang, Dita memilih diam menatap ke luar jendela. Ia sudah ditolak oleh Dika. Sekarang ia harus mencoba menatap kehidupannya lagi supaya Dika tidak lagi muncul dalam pikirannya. Lalu tanpa sepengetahuan Dika yang sedang menyetir mobil Doni, Dita menghapus semua foto di akun media sosialnya. Foto-foto kenangan mereka saat acara pernikahan Iskandar hingga foto-foto saat sedang bermain bersama di tempat hiburan.
Setetes air jatuh dari mata Dita. Buru-buru ia menyeka air matanya supaya tidak terlihat oleh Dika. Namun sayangnya, ekor mata Dika sudah menangkap kejadian itu lebih dulu. Begitu mobil berhenti di depan rumah, Dita langsung masuk ke dalam menuju kamarnya tanpa peduli dengan Dika.
Shinta dan Toni yang sedang bermain dengan cucunya dibuat heran dengan tingkah putrinya lalu menatap Dika yang baru masuk tidak lama setelah Dita.
“Kalian bertengkar?” tanya Toni.
Dika duduk di depan orang tua Dita. Pria itu terlihat menarik nafas dalam-dalam lalu Tiara dan Doni ikut bergabung di sana.
“Kenapa suasana mendadak tegang begini?” bisik Doni pada istrinya. Tiara hanya menggeleng pelan.
“Tante, Om, Saya ingin melamar Dita.”
Deg....
Tiara dan Doni langsung tersenyum semringah namun berbeda dengan kedua orang tua mereka.
“Kenapa mendadak? Apa yang sudah kamu lakukan pada Dita? Apa dia hamil?” Shinta mencerca Dika dengan pertanyaan di luar kepala Dika. Tiara dan Doni langsung menatap Dika dengan tatapan meminta penjelasan.
“Benar itu, Nak?” tanya Toni ikut terkejut.
“Tidak, Om. Itu tidak benar. Kami tidak pernah melakukan apa-apa. Jangankan itu, ciuman saja tidak pernah. Say tidak mau menodai wanita yang belum halal untuk saya, Om.”
“Lalu tadi apa?” Ketus Shinta.
“Saya mengerjainya, Tante. Saya menolak ajakannya untuk menikah. Sepertinya dia marah sama saya.” Toni, Tiara dan Doni tersenyum kecil mendengar penjelasan Dika.
“Jadi ini artinya kamu menerima Kak Dita?” tanya Tiara memastikan.
“Iya. Sekarang keputusan akhirnya ada di tangan Om dan Tante selaku orang tua Dita. Saya tidak ingin menikah tanpa restu orang tua. Ibu saya sudah meninggal dan ayah saya mengidap strok parah. Hanya Om dan Tante saja tempat saya meminta restu.”
Tiara yang tidak sabar ingin memberitahukan kakaknya lalu merekam perbincangan itu dan mengirimnya ke ponsel Dita dengan keterangan, “Kakak yakin tidak mau membantu Dika buat memperjuangkan Kakak di depan Mama? Sini, Kak! Bantu calon suamimu di depan Mama!”
Dita yang sedang menangis bombai di dalam kamar terkejut mendengar isi percakapan yang adiknya kirim. Ia langsung ke luar menghampiri keluarganya dan langsung memeluk Dika seraya memukul punggung pria itu. “Kamu kok jahat banget sama aku, Mas? Aku sampai hapus foto-foto kita karena ingin melupakanmu tapi apa sekarang? Kamu ingin mengerjaiku juga seperti yang Kak Iskandar lakukan?” Dita seakan tidak peduli pada keluarganya. Dia masih memeluk Dika walaupun pria itu merasa malu karena mendapat beragam tatapan dari keluarga Dita yang sedang melihat drama gadis itu.
“Kak, aku tahu Kakak cinta banget sama Kak Dika tapi lihat-lihat tempat juga. Kami masih di sini, Kak.” Dika mencoba mengurai pelukan Dita hingga gadis itu tersadar dengan suara Tiara. Setelah menyeka ingus dan air matanya, ia duduk di samping Dika lalu tersenyum menatap adiknya yang sedang meledeknya melalui senyuman.
“Kamu bersedia mengikuti keyakinan Dita?”
__ADS_1
***
Sorry gaess baru up lagi. Happy reading...🙃