
Kami sampai ke tenda dan hal tidak terduga kembali kulihat. Khalid memarahi Halimah karena membawaku pergi tanpa mengajak yang lain untuk berjaga-jaga. Halimah hanya menunduk tidak membantah sedikit pun perkataan Khalid. Hanya maaf yang selalu terucap di mulutnya.
Melihat Khalid seperti itu semakin membuatku membencinya. Dia pria arogan yang pernah kulihat. “Kenapa Cuma Kak Limah yang dimarahi? Seharusnya Abang memarahi aku karena aku yang mengajak Kak Limah pergi.” Khalid berbalik menatapku.
“Dek, di sini banyak binatang buas. Kamu tidak bisa pergi begitu saja sesuka hati. Jika kamu mau pergi ajak beberapa pejuang yang laki-laki.”
Aku membuang muka tidak mau menatapnya. “Keluarlah, aku mau bicara sama Cut.” Halimah keluar seraya menahan tangis. Dimarahi oleh pria di depan umum bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Justru bisa membuat harga diri kita jatuh. Kini, hanya kami yang berada dalam tenda dengan cahaya dari api yang dibakar di depan tenda.
Aku duduk lalu membuka tudung saji sederhana yang terbuat dari bambu. “Kamu belum makan?” Aku mengabaikannya. Aku mengisi perut yang sudah sangat lapar untuk memulihkan tenaga supaya kuat untuk lari dari sini. Ya...walaupun berisiko tapi setidaknya aku sudah berusaha. Aku sudah bertekad untuk lari dari sini nanti malam. Jalan menuju ke sini mataku tidak ditutup walaupun sangat susah untuk mengingat rute itu lagi. Jalan setapak bahkan tidak terlihat dalam semak belukar sampai dengan rimbunan pohon di dalam hutan sangat susah menentukan ke mana arah yang bisa kutuju.
Aku terus mengunyah makan malam yang mereka berikan. Semoga mereka tidak memberikan racun dalam makanan ini. Selama aku makan selama itu pula Khalid menatapku.
“Apa yang ingin Abang bicarakan?” Aku telah menyelesaikan makananku sampai habis.
“Kamu mau tambah?”
“Tidak usah. Terlalu kenyang bisa membuat seseorang terlena dengan keadaan.”
“Ternyata kamu pandai bermain kata. Jangan mencoba lari dari sini, Dek. Kamu hanya akan menjadi santapan harimau.”
“Jika harimau itu memang ada kenapa dia tidak kemari?” Aku melirik Khalid yang terlihat menahan nafasnya. Mungkin dia lelah menghadapiku.
“Besok kita akan menikah, jadi bersiaplah.”
“Tidak ada pernikahan jika wali dari perempuan tidak ada.”
“Kita menikah di bawah tangan, walimu bisa diwakilkan oleh Teungku Wan. Dia pernah tinggal di pesantren.”
“Apa dia mempelajari ilmu sesat? Bagaimana bisa dia menjadi waliku jika kedua orang tuaku masih hidup dan tidak merestui pernikahan ini. Orang tuaku sudah menolak Abang untuk kedua kalinya. Kenapa terus memaksa menikah denganku?”
“Dek, Abang hanya ingin melaksanakan permintaan Ilham untuk terakhir kalinya. Menikahimu dan menjaga anaknya.”
“Apa pun alasannya, aku tetap tidak ingin menikah. Karena ini adalah zina bukan pernikahan. Bagaimana bisa Abang menjadi suami yang akan membimbingku ke surga Allah jika ini saja Abang tidak paham. Nabi saja menyuruh umatnya untuk memilih calon suami berdasarkan agamanya, tetapi yang terjadi sekarang adalah Abang mau membawaku ke neraka dunia akhirat. Luar biasa, lebih baik aku mati dimakan harimau dari pada berzina dalam wujud pernikahan.”
“Sebagai perempuan kamu terlalu angkuh, Cut. Kamu itu hanya perempuan yang menjadi budak laki-laki. Harusnya kamu sadar akan kodrat kamu.”
__ADS_1
“Sebagai lelaki, Abang seperti tidak punya wibawa dan rasa malu. Memaksa anak gadis orang untuk menikah.”
Plakkk....
“Aku akan memperlihatkan padamu bagaimana kodrat seorang perempuan sehingga lidahmu yang tajam itu tidak akan lagi mengataiku.” Khalid keluar dari tenda setelah menamparku.
Aku meringis memegang pipiku yang terasa pedih. Untuk pertama kalinya seseorang yang tidak ada hubungan darah berani menamparku. Keputusanku tidak menerimanya ternyata sangat tepat. Dia bukan lelaki baik-baik yang akan menjadi imamku kelak. Lelaki yang baik tidak akan memukul seorang wanita.
Selepas kepergian Khalid, aku keluar dari tenda untuk mengambil Rendra. Anak itu tengah bermain bersama anak buah ayahnya dulu. Aku melirik sekilas pada salah satu pria yang menurut perkiraanku berumur sekitar 40an. Pria tersebut memakai baju kaos serta rompi. Di lehernya terdapat semacam kalung panjang tapi berbahan kain. Dan pada ujung kalung tersebut ada kertas kecil yang terdapat fotonya. Sebuah tas hitam menemani pria tersebut sambil tangannya sibuk menulis di sebuah buku.
Pria tersebut duduk tidak jauh dari tempatku sekarang. “Bapak itu siapa?” Tanyaku pada salah satu remaja laki-laki.
Anak itu melihat ke arah tatapanku. “Oh, itu Bang Siregar. Wartawan TV.”
“Kenapa dia di sini?”
“Dia sering bertemu dengan petinggi kami. Sekarang dia jadi sandera karena sudah mengetahui markas ini.”
“Terus yang diikat di pohon itu siapa?”
“Kenapa Bapak itu tidak diikat seperti yang lain?”
“Bang Siregar bukan cuak. Dia tidak pernah membocorkan tempat kami pada aparat. Tapi, karena dia sudah mengetahui tempat ini makanya kami melarangnya keluar. Kami takut dia akan ditangkap oleh aparat jika kembali.”
Aku mengangguk pelan seraya melangkahkan kaki menuju tempat duduk pria yang berprofesi sebagai wartawan itu. “Sudah malam, kenapa tidak istirahat? Perjalanan kamu pasti sangat melelahkan, bukan?” Aku tersentak, ternyata dia menyadari langkah kakiku. Dengan senyuman yang terpancar dari wajahnya membuat aku langsung duduk di sampingnya. “Ternyata pria ini tidak menyeramkan.” Batinku seraya menatapnya yang kembali menulis.
“Ada apa? Saya merasa sedang diawasi jika kamu melihat saya begitu.” Dia menutup bukunya lalu menoleh padaku. Aku tersenyum keki saat dia menatapku.
“Berapa umur kamu?” Tanyanya kembali.
“19”
“Kamu sebaya dengan putri saya. Saya Siregar, nama kamu siapa?”
“Cut Zulaikha. Bapak sudah lama di sini?”
__ADS_1
“Baru seminggu.”
“Bapak tidak takut?” Dia tertawa kecil. “Saya yang wartawan kenapa saya malah jadi narasumber?”
“Narasumber?” Kosa kata yang baru aku dengar.
“Narasumber itu orang yang menjawab pertanyaan dari wartawan. Seharusnya saya yang bertanya karena saya wartawan dan kamu yang jadi narasumbernya. Tapi sekarang malah terbalik. Saya Siregar, panggil saja Bang Regar. Kamu istri Khalid?”
Ternyata semua orang yang ada di sini sudah menganggapku istri Khalid. “Bukan dan jangan sampai.” Pria itu mengernyitkan keningnya seraya menatapku.
Aku mendekatkan kepalaku ke arahnya. “Bapak tahu jalan untuk kabur?” Bisikku yang membuatnya terkekah.
“Kenapa kamu mau kabur? Bukannya kamu senang bisa kemari dan tinggal di sini bersama Khalid? Apalagi anak kalian. Pasti dia sangat senang dekat dengan bapaknya.”
Aku menatap pria itu dengan tatapan serius dan raut wajahnya yang tadi terlihat bergurau langsung berubah serius. “Bapak pernah dengan nama ‘Pang Sagoe’?”
“Semua orang tahu Pang Sagoe. Pimpinan para pemberontak yang terkenal licin dan pintar mengatur strategi. Kabar terakhir yang saya dengar jika dia sudah meninggal bersama istri dan anaknya.”
“Saya adik dari Pang Sagoe, Teuku Muhammad Ilham.” Aku dapat melihat reaksi keterkejutannya.
“Kamu benaran adiknya?” Aku menganggukkan kepala lalu menatap Rendra yang tengah asyik bermain.
“Dan itu Teuku Rendra Muhammad Nur atau Teuku Muhammad Fikri anak bungsu Pang Sagoe yang selamat saat kontak senjata.” Kali ini pria tersebut menatap Rendra dengan wajah yang sulit diartikan.
“Setelah mendapat kabar tentang meninggalnya Abang kamu, saya berusaha untuk masuk ke kampung kamu untuk meliput namun saya tidak mendapatkan izin saat itu. Saya hanya bisa meliput dari rumah sakit tempat jenazah abang kamu beserta beberapa anggotanya yang juga meninggal. Lalu, hubungannya dengan Khalid?”
Kemudian aku menceritakan awal mula lamaran Khalid hasil dari perjodohan yang dilakukan oleh abangku dengannya sampai kejadian di mana salah satu warga kampungku yaitu orang tua Jannah membawaku dengan menjadikan Rendra sebagai umpan untuk aku mengikutinya hingga sampailah aku di sini sekarang.
“Kamu sungguh ingin kabur?”
***
Sosok wartawan dalam kisah di atas adalah nyata. Beliau salah satu wartawan dari stasiun tv swasta RCTI. Beliau wartawan palin berani saat itu dalam meliput konflik Aceh. Bahkan, beliau adalah salah satu wartawan dari stasiun TV dalam negeri yang berani keluar masuk markas para gerilyawan dan bertemu dengan petinggi mereka. Kalian bisa mencari jejak digital beliau yang mungkin masih ada di internet.
'ERSA SIREGAR'
__ADS_1
LIKE...LIKE...LIKE...