CUT

CUT
Kenyataan...


__ADS_3

“Fais!” lirih Ibu Murni begitu melihat sosok pria yang menggunakan baju batik di depannya.


Cut, Iskandar dan Rendra serta Anugrah kompak menatap Ibu Murni. Kak Juli dan Pak Fahri juga mengikuti kemana tatapan itu berlabuh dan –


“Faisal!” Pria yang dipanggil Faisal itu menatap satu persatu tamu di depannya ini.


MC yang hendak mengucapkan salam pembuka tiba-tiba terdiam saat sebelah tangan Faisal terangkat. Pria itu berjalan mendekati tamu yang selama ini ditunggu-tunggu. Tamu yang merupakan calon besannya.


“Fais, ini ibuk. Maafkan ibuk, Nak.” Ibu Murni sudah berderai air mata. Pak Fahri juga merasakan hal serupa. Sementara Kak Julie berusaha menenangkan ibunya di atas kursi roda. Iskandar melihat mereka dengan perasaan bingung penuh tanya. Ia melihat calon ayah mertuanya sedang bersimpuh di kaki sang nenek seraya menangis.


“Ma?” Iskandar menatap ibunya yang ternyata ikut meneteskan air mata.


Cut memeluk anaknya, “Dia ayahmu!”


Deg…


Iskandar terkejut begitu juga dengan Anugrah yang mendapat bisikan dari sang ayah. “Jadi ini tidak bisa dilanjutkan?” tanya Anugrah setengah berbisik.


Rendra menggeleng pelan. Wulan dan Bibik ikut bertanya-tanya melihat adegan yang seharusnya membahagiakan kenapa jadi mengharu biru seperti ini.


“Kenapa kamu tidak mencari kami?”


“Kamu tahu, Ibuk setiap hari beroda meminta supaya kami bisa bertemu lagi dengan kamu. Maafkan Ibuk, kalau malam itu kami tidak menyuruhmu pergi, kita pasti tidak akan terpisah. Kenapa kamu tidak mencari kami? Kami sengaja tidak pindah karena berharap kamu akan kembali.” Emosi Ibu Murni tidak tertahan hingga tiba-tiba ia jatuh pingsan.


Faisal langsung menggendong ibunya menuju mobil. Kak Julie dan Iskandar bersama Pak Fahri mengikuti di belakang. Rendra dan Cut juga mengikuti mereka. suasana gedung yang tadinya hangat mendadak tegang. Para petugas WO bertanya-tanya sesamanya. Mereka bingung dengan kelanjutan acara tersebut.


“Maaf, Pak. Ini bagaimana ya?” tanya salah satu petugas pada Anugrah yang hendak pergi menyusul ke rumah sakit.


“Kayaknya batal, Pak.” Ucap Anugrah lalu pergi mendorong kursi roda Wulan disusul Bibik. “A,-“ Anugrah tiba-tiba berhenti menatap si pemanggil. Ini pertama kalinya Wulan memanggil nama seperti teman-temannya terdahulu.


“Aku tidak melihat Kak Aisyah. Di mana dia?” Anugrah dan Bibik baru sadar jika Aisyah memang belum terlihat saat mereka memasuki tempat acara. Lalu Anugrah menghampiri salah satu petugas dan bertanya tentang keberadaan Aisyah.


Sementara di salah satu ruang, Aisyah sangat terkejut mengetahui dari petugas WO jika acara lamarannya telah batal dan semua tamu sudah keluar dari gedung. Air matanya tidak tertahankan saat itu bahkan riasannya sudah tidak beraturan lagi.


“Kak Aisyah!” panggil Wulan.


Aisyah menatap tiga sosok yang berdiri di depan pintu ruangannya. Aisyah langsung berlari memeluk Wulan diiringi tangis.


“Wulan, apa yang terjadi di depan? Kenapa lamaran ini tiba-tiba batal?” tanya Aisyah dalam pelukan Wulan.


“Kakak tenang dulu. Kalau sudah tenang, Kakak rapikan dulu make upnya lalu kita ke rumah sakit. keluarga Kaka dan keluarga Kak Is sudah berkumpul di sana.” ujar Wulan asal.

__ADS_1


“Nenek sakit?” Wulan mengangguk.


Aisyah langsung merapikan riasannya lalu mereka langsung menuju rumah sakit tanpa mengganti bajunya.


“Assalamualaikum, Pa. Bagaimana kabar Nenek?” tanya Anugrah dalam perjalanan menuju rumah sakit.


“Lagi ditangi dokter. Kamu di mana?”


“Aku lagi di jalan menuju rumah sakit.”


“Hati-hati, Papa tunggu di lobi ya!”


Setelah menutup teleponnya, Anugrah kembali fokus menyetir. Sementara Aisyah yang duduk di belakang sesekali menyeka air matanya. Di samping Aisyah ada Wulan yang berusaha menenangkannya.


“Semoga Nenek kuat ya! Aku masih ingin mengabulkan permintaan Nenek untuk menyaksikan pernikahan kami.” Tidak ada satu pun yang menjawab ucapan Aisyah. Mereka tidak tahu dengan jelas pokok permasalahan sampai acara lamaran ini batal. Hanya saja menurut apa yang mereka lihat dan dengar tentu mereka tahu alasannya tapi untuk menyampaikan pada Aisyah saat ini bukan pilihan yang bagus.


Setelah tiba di  area parkir, Aisyah langsung turun dengan Bibik sementara Anugrah membantu Wulan untuk duduk di kursi roda. Di lobi sudah ada Rendra yang menunggu kedatangan mereka.


“Bagaimana keadaan Nenek, Pa?” tanya Anugrah kembali.


“Baru saja dipindahkan ke ruang ICU. Usianya sudah sepuh dan gejolak emosi seperti tadi kadang membuat tubuhnya tidak mampu menahan hingga menyebabkan pingsan. Ayo, Papa antar ketemu yang lain!” ajak Rendra lalu mereka meninggalkan lobi menuju ruang ICU di mana seluruh anggota keluarga terlihat tegang menatap sang nenek yang terbaring lemah di ruang kaca itu.


“Papa, Mama,” lirih Aisyah lalu berjalan pelan melihat ke dalam kaca.


“Masih menunggu, Nak. Semoga Nenek kuat.” Ucap Faisal pada sang putri.


Melihat interaksi calon istri dan ayah kandungnya hati Iskandar mendadak merasa tidak nyaman hingga ia memutuskan untuk pergi.


“Nek, tetap semangat ya! Nenek belum melihat kami menikah.” Ucap Aisyah lalu meminta izin untuk keluar dari sana.


Di salah satu bangku taman rumah sakit, Iskandar duduk seorang diri sambil memegang botol minuman dingin yang sempat ia beli di kantin rumah sakit sebelum ke taman. Aisyah tersenyum lalu mendekati calon suaminya.


“Mas, bagi minum ya!” pinta Aisyah lalu merebut botol minuman itu dari tangan Iskandar. Aisyah sungguh haus setelah menangis tadi hingga tenggorokannya terasa kering. Iskandar melirik Aisyah yang sedang menghabiskan minumannya, “Kenapa lirik-lirik? Cantik ya?” seloroh Aisyah.


“Mas, aku takut banget tadi waktu dengar acara lamarannya dibatalkan. Aku sampai bertanya-tanya kenapa sampai dibatalin? Apa kamu jatuh cinta pada gadis lain atau apa. Lalu Wulan datang dan bilang kalau kalian semua sudah ke rumah sakit. Dari situ aku langsung tahu kalau ternyata Nenek yang sakit. jadi kapan kita akan melanjutkan acara lamarannya? Maaf, Mas. Bukannya aku tidak sabar tapi aku juga ingin mengabulkan permintaan Nenek.”


“Kita tidak akan menikah, Ai!”


Aisyah tersenyum, “Kapan, Mas?” pendengaran Aisyah belum terhubung dengan baik hingga dia tidak menyadari apa yang Iskandar katakan. Baru setelah itu, “Apa kamu bilang, Mas? Kita tidak akan menikah? Ck, yang benar saja kamu, Mas. Kita sudah menyiapkan segalanya supaya bisa menikah denganmu. Bercanda boleh tapi jangan kelewatan.” Aisyah masih mengira apa yang dikatakan Iskandar adalah gurauan semata.


Manik mata keduanya bertemu dan di situlah Aisyah menangkap raut wajah berbeda dari Iskandar. “Kamu serius, Mas? Tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu mengatakan kita tidak akan menikah?” Aisyah mulai panik, ia sampai memegang tangan Iskandar. Hal yang tidak pernah Aisyah lakukan selama ini.

__ADS_1


“Mas, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba membatalkan pernikahan kita? Jawab aku, Mas!” Iskandar terdiam beberapa saat lalu menatap Aisyah.


“Kita sedarah, Aisyah! Ayahmu adalah ayah kandungku!” Aisyah menegang. Perkataan Iskandar seperti petir yang menyambar dirinya kala itu. Otak dan pikiran serta hatinya tidak siap mendengar kenyataan yang Iskandar katakan.


“Mas, becandamu tidak lucu!” Aisyah kembali mengambill botol minum lalu menandaskannya. Tiba-tiba kerongkongannya begitu kering. Ia membutuhkan air dingin secepat mungkin. “Aku pasti sedang bermimpi.” Ujar Aisyah lalu pergi meninggalkan Iskandar seorang diri. Sementara di depan ruang ICU, pihak keluarga masih menunggu Ibu Murni siuman.


“Maafkan Bapak, Fais. Kamu pergi dari rumah setelah Bapak usir. Maafkan Bapak!” ucap Bapak Fahri sendu.


“Fais juga minta maaf, Pak. Fais salah karena tidak pernah pulang untuk mencari Bapak dan Ibuk. Fais terlalu malu untuk mencari Bapak dan Ibu hingga akhirnya Fais memilih hidup di pulau jawa setelah menjadi relawan saat tsunami.”


“Kamu menjadi relawan di Aceh? Kenapa kita tidak bertemu?” tanya Pak Fahri terkejut. Sementara yang lainnya hanya jadi pendengar.


“Malam itu Fais ke Medan. Fais berencana menemui Shinta dan ternyata dia sudah pergi ke luar kota dan tidak ada yang tahu termasuk orang tuanya. Saat itu, Fais menginap di rumah Wira dan keesokan paginya terjadilah gempa dan tsunami. Pihak kampus mengumpulkan lulusan mereka yang mau jadi relawan di Aceh. Saat itulah, Fais sama teman-teman ikut ke sana tapi kami ditempatkan di Aceh Barat. Dan di situ juga, Fais bertemu dengan Ayu. Istri Fais sekarang. Selama enam bulan kami di Aceh Barat kemudian ke Aceh Jaya selama sebulan lalu kembali ke Medan. Dan saat kembali dari Aceh, Fais membawa –“


“Pa, apa yang terjadi? Rendra tadi ke gedung acara dan petugas WO bilang acaranya dibatalkan. Ada apa, Pa?” Fais menatap Cut yang tengah menatap Dokter Rendra.


“Pa, ada apa sih?” Dokter Rendra menyadari jika di sana tidak hanya papanya melainkan ada orang lain. Ia melihat sekeliling lalu tatapan seorang wanita kepadanya tampak berbeda. Dokter Rendra mengernyit heran, wanita itu bangkit lalu mendatanginya. Saat itu, Fais ikut berdiri lalu berdiri di samping Dokter Rendra.


“Dia Teuku Rendra Muhammad Nur, keponakanmu!” air mata itu luruh, Rendra yang tadinya duduk ikut berdiri karena terkejut lalu menghampiri mereka.


“Dia, Rendra? Anaknya Ilham?” Fais mengangguk pada Rendra.


Sementara Dokter Rendra melihat mereka dengan raut wajah bingung. Cut segera menarik pria muda itu dalam pelukannya. Tidak ada yang Cut ucapkan, dia hanya memeluk pria itu erat seakan tidak mau terpisah lagi. Dokter Rendra menatap laki-laki yang selama ini ia panggil ayah dengan tatapan penuh tanya.


“Wanita yang memelukmu adalah orang yang paling berjasa dalam hidupmu. Banyak cerita yang kamu lewatkan selama ini. Dan Mak Cekmu ini akan menceritakan semuanya termasuk ayah dan ibu kandungmu.” Ujar Fais. Fais menghampiri sang istri lalu memeluknya erat.


“Terima kasih sudah mendampingiku selama ini. Kamu yang terbaik.” Bisiknya pada sang istri.


Iskandar berhenti di tempat saat melihat ibunya menangis dalam pelukan pria yang ia kenal sebagai calon suami dari Anggia itu. Keningnya ikut mengernyit heran, “Kejutan apa lagi ini?” batinnya.


“Is, kemarilah!” pinta Rendra.


Cut melerai pelukannya lalu tersenyum, “Ini adalah abang sepupumu! Dia Teuku Rendra Muhammad Nur, anak dari almarhum abang Mama.” Iskandar terkejut begitu juga sebaliknya. Ia mengangguk canggung. Situasi mereka bertemu dalam keadaan dewasa begini tentu terasa canggung untuk keduanya.


“Apa kamu tidak akan memeluk ayahmu?” tanya Fais pada Iskandar.


Walaupun ragu, Iskandar mengambil tangan sang ayah lalu menciumnya. Fais langsung memeluk putranya itu erat. Fais yang selama ini berpikir jika sang anak mungkin sudah meninggal karena tsunami tapi ternyata anak itu sudah besar bahkan hampir menjadi menantunya.


“Permisi!”


***

__ADS_1


Siapa ya????


__ADS_2