CUT

CUT
Air Mata Ibu...


__ADS_3

Mobil melaju memecah jalan kota menuju kabupaten sebelah. Hanya ada suara anak balita yang terus mengoceh tidak jelas sedangkan kedua orang tuanya memilih diam. Sepanjang perjalanan, pikiran Cut hanya tertuju pada Iskandar sementara Rendra hanya bisa melirik dalam diam. Mobil memasuki area pesantren dengan pemandangan hamparan sawah yang sudah menguning siap untuk di panen.


Cut menyerahkan Anugrah pada Rendra dengan wajah masam. Rendra sendiri hanya bisa menghela nafas kasar saat melihat bagaimana karakter istrinya yang baru terlihat. Seorang pengurus menyapa lalu mengajak mereka bertemu dengan ustad yang mendampingi Iskandar. Ustad tersebut menceritakan bagaimana perubahan yang terjadi pada Iskandar selama setahun ini. Tanpa dikomando, Cut terisak bahagia. Dia tidak  menyangka putranya ternyata sudah membanggakannya dengan cara tersendiri.


“Dia sudah menghafal jus 30 dan beberapa kitab sudah ia kuasai. Saat ini, dia baru memulai mempelajari kitab kuning dan beberapa kitab lain. Untuk kegiatan di luar pengajian, para santri terkadang membantu Abah pergi ke sawah, sebentar lagi musim padi dan anak-anak akan membantu Abah memotong padi. Kami juga akan mengadakan acara syukuran berupa makan-makan enak untuk mereka setelah panen. Ini adalah sebagai bentuk terima kasih Abah pada mereka yang turut membantu di sawah.”


Cut mengangguk takzim kemudian ustad mempersilakan mereka menemui sang putra yang tengah berada di belakang pondok. Sebenarnya, ustad hendak meminta salah satu santri untuk memanggil Iskandar ke kantor tapi Cut melarangnya. Dia ingin melihat sendiri bagaimana kondisi Iskandar saat ini. Cut berjalan mengikuti santri. Ia menyusuri jalan setapak hingga terlihatlah sosok sang putra yang sudah setahun tidak berjumpa.


Lagi-lagi Cut merurai air mata. Saat ini Iskandar sedang duduk bersama rekan sebiliknya sambil bersenda gurau lalu menarik tali hingga berbunyi gemerincing di dalam area persawahan. Seketika, kawanan burung pipit itu langsung terbang tinggi dan mereka kembali tertawa. Salah satu teman mereka memegang sebuah kitab, membaca lalu menerangkangnya.


“Nak, sebentar! Itu mereka sedang apa?” tanya Cut pada seorang santri yang melintas.


“Oh, itu si Rezki lagi baca kita dan menjelaskan maksud dari isi kitab tersebut. Kami biasa melakukannya di sini. Mereka akan bergantian menjelaskan isi kitab pada teman yang lain untuk memudahkan saat kami menghadap Ustad, Buk.”


“Terima kasih, Nak.” Santri itu pun pergi.


Cut bimbang antara melangkah ke sana atau tidak. Dia takut jika kehadirannya justru akan membuat sang putra marah dan kembali seperti dulu. Akhirnya, Cut melangkah menemui ustad untuk meminta izin mengunjungi bilik anaknya. Rendra dan Anugrah hanya melihat apa yang Cut lakukan.


Cut membuka lemari dengan nama Iskandar di pintunya. Ia memasukkan beberapa potong pakaian baru, perlengkapan mandi serta perlengkapan salat. Cut menaruh beberapa kotak makanan dan camilan kesukaan Iskandar. Cut melihat kertas dan pulpen lalu dia menulis beberapa kalimat di dalamnya dengan cucuran air mata.


Setelah meletakkan semua juga selembar surat tadi, ia langsung meninggalkan bilik. Anugrah yang melihat ibunya lalu meminta gendong pun tidak digubris. Cut langsung menuju parkiran setelah berusaha tenang saat berpamitan pada pengurus pondok.


“Kita sudah sampai sejauh ini, apa kamu tidak ingin menyapanya?”


Cut menggeleng lalu mengambil Anugrah dalam gendongan sang suami. Rendra paham, ia membuka pintu mobil untuk sang istri lalu memutar hingga keduanya sudah berada di dalam mobil. “Sebelum kita pulang, apa kamu yakin tidak ingin menyapanya?”


Cut kembali menggeleng lalu dengan helaan nafas beratnya, Rendra kembali melajukan mobil meninggalkan pondok pesantren. Hari sudah sore, kumandang azan mulai terdengar dari toa masjid pondok. Anak-anak segera berlari menuju bilik masing-masing dalam tawa canda bahagia.

__ADS_1


Saat hendak membuka lemari, Iskandar dikejutkan dengan banyaknya beberapa kotak makanan dan camilan yang sangat ia kenal.


“Wah, kita bisa dapat makan enak habis ini.” Celutuk Ari pada teman-temannya.


Kompak semua teman Iskandar mendekat lalu melongo melihat banyaknya makanan dan camilan yang tentu saja menggugah selera. Selama mereka mondok, tidak ada yang keluar dari area pesantren. sedangkan di dalam pondok hanya ada warung yang menyediakan makanan-makanan yang membuat santri kenyang dan sehat seperti ubi rebus, singkong, keripik, kerupuk, dan jagung. Pondok tidak menjual makanan pabrik tapi tidak melarang jika ada orang tua santri yang membawanya.


Hidup sederhana menjadi tujuan utama pondok. Mereka yang tidak biasa makan mau tidak mau harus makan untuk menutupi rasa lapar karena tidak ada pilihan makanan lain. Iskandar membuka lemar lalu melihat sebuah selembar kertas buku terletak di atas bajunya.


“Assalamualaikum, Sayang.


Nak, maafkan Mama karena tidak pernah datang menjengukmu. Bahkan saat Mama datang tadipun Mama tetap tidak bisa menemuimu. Mama tidak sanggup melihatmu kembali murung karena kadatangan Mama. Tapi, Mama bahagia saat tadi melihatmu tertawa bersama teman-temanmu. Sepertinya mereka baik, ya Nak? Mama merindukan kamu. Setiap malam, Mama selalu berdoa semoga kamu bahagia dimana pun kamu berada. Maaf karena meninggalkanmu di sini. Semoga suatu hari nanti, kamu bisa menerima alasan Mama membawamu ke sini. Dan harus Mama akui, Mama tidak menyesal meninggalkanmu di sini dari pada kamu menderita dan tertekan hidup di samping Mama.


Sekali lagi, maafkan Mama karena tidak mampu melindungimu. Mama tidak layak menjadi seorang ibu. Menjaga kamu saja Mama tidak becus bagaimana Mama bisa menjadi ibu yang baik? Maafkan Mama. Hanya maafmu lah yang akan membuat Mama sanggup bertahan menghadapi masa-masa sulit ini. Ketahuilah, Nak. Apa yang kamu rasakan juga Mama rasakan hanya saja kita berbeda dalam mengungkapkan rasa itu.


Berbahagialah selama kamu di sana! Setelah melihatmu bahagia, Mama juga akan mencoba bahagia dengan cara Mama. Jangan pikirkan apa-apa lagi. Nikmati masa kecilmu bersama mereka. Bahagia itu sederhana tergantung cara kita menikmatinya. Teman-temanmu pasti orang-orang baik. Habiskan waktumu dengan mereka karena saat kalian besar nanti. Kalian akan mengenang masa-masa indah ini kembali.


Salam sayang untuk putra Mama yang tampan dan bijaksana.


“Assalamualaikum.”


Iskandar menatap dalam dengan perasaan yang sulit diartikan. “Mama kamu baik ya?”


Celutukan Ari yang sempat mengintip isi surat tersebut menyadarkan Iskandar dari lamunannya.


“Ayo, sebentar lagi salat berjamaah!” seru Dika


Iskandar meletakkan kembali surat tersebut dalam lemari. Ia mengambil handuk dan baju baru yang dibelikan mamanya lalu bergegas ke kamar mandi. Sementara di kediamannya, Rendra yang baru sampai rumah menjelang malam dikejutkan dengan kehadiran sang ibu yang sudah menunggunya.

__ADS_1


“Kalian dari mana aja sih? Mama telepon tidak dijawab.” Protes Ibu Yetti.


Cut turun lalu mencium tangan ibu mertuanya. Rendra memperhatikan wajah sang istri saksama seraya menghela nafas berat.


“Cut tidurin Anugrah dulu ya, Ma.”


Cut meninggalkan ibu mertuanya bersama sang suami. “Kalian dari mana kok sampai malam-malam begini beru pulang? Kasihan Anugrah jadi masuk angin.”


“Ma, jangan berlebihan. Kami juga sudah menjadi orang tua dan tahu harus berbuat apa untuk anak kami. Tolong beri kami kepercayaan itu.” pinta Rendra dengan wajah setelah lelah.


Di satu sisi, ia harus menghadapi ibunya dan di sisi lain harus menghadapi sang istri. Rendra dilema menghadapi kedua wanita tersebut.


“Kenapa kamu berkata seperti itu? Mama hanya menasehati apa itu salah?”


“Tidak, Ma. Anugrah kan anak kami juga. Sudah pasti kami tidak akan membiarkannya masuk angin. Kami habis menjenguk Iskandar.”


“Apa? Kan Mama sudah bilang jangan jenguk dulu. Nanti dia akan berulah lagi kalau tahu kalian datang. Lalu bagaimana keadaanya di sana?”


“Dia baik, Ma. Dan sangat membanggakan kami. Dia sudah berhasil menghafal jus 30 dan beberapa kitab udah bisa ia kuasai.” Ucap Rendra bangga.


“Nah, sekarang apa salah Mama menyuruh kalian memasukkannya ke pondok? Lihat sendiri bagaimana perubahannya sekarang. Susah memberi nasehat pada anak sekarang. Selalu merasa paling benar dan orang tua yang salah karena mengatur rumah tangga kalian. Padahal, kami lebih dulu merasakan asam garam kehidupan. Ya sudahlah, Mama pulang saja.”


Ibu Yetti meninggalkan rumah putranya dalam keadaan kesal. Beliau pergi tanpa menghiraukan panggilan sang putra. Sementara di dalam rumah, Cut turut bersalah karena perkataan ibu mertuanya tadi.


“Ma,”


***

__ADS_1


__ADS_2