CUT

CUT
Satu Kamar...


__ADS_3

“Abang tidak salat isya?” pertanyaan Cut berhasil menghentikan rencana Fais yang hendak mencium Cut kembali. Fais menatap sang istri dengan mata berkabut gairah. Jiwa kelaki-lakiannya sudah tidak mampu ia bendung.


“Setelah ini. Salat pun percuma jika tidak khusuk.” ucap Fais lalu dengan cepat ia meraup kembali bibir lembut sang istri. Jika tadi ia berusaha memulai dengan perlahan dan penuh kelembutan berbanding terbalik dengan sekarang. Fais begitu rakus dan ganas hingga Cut harus memukul-mukul dada Fais untuk menghentikan aksinya.


Cut memegang dadanya dengan nafas naik turun. Ia hampir mati kehabisan oksigen akibat ulah sang suami.


“Maaf.” ucap Fais ketika menyadari perbuatannya yang hampir mencelakai sang istri.


“Maaf ya.” ucap Fais kembali.


Fais bergegas mengambil air minum untuk Cut.


“Minum dulu!” tanpa menjawab, Cut segera mengambil air minum tersebut lalu menghabiskannya. Fais tersenyum kecil menyadari kekonyolannya saat itu. Ia yang tadi sangat bernafsu kini memudar setelah melihat Cut hampir pingsan dengan bibir bengkak akibat ulahnya.


“Istirahatlah! Aku mau salat dulu.”


Fais keluar dari kamar dengan membawa talam berisi piring kotor. Ia meninggalkan Cut sebagai bentuk permintaan maaf. Cut duduk di depan cermin seraya menatap bibirnya yang bengkak. Bulu kuduknya meremang setiap kali mengingat kejadian demi kejadian yang baru ia lalui.


Ada perasaan aneh yang menjalar dalam darahnya ketika ia mengingat ciuman demi ciuman yang Fais berikan. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil lalu berlari menaiki tempat tidur. Ia tersenyum malu di bawah bantal sementara sang suami justru merasa sakit kepala akibat ulahnya sendiri.


“Cut sudah tidur?” tanya Umi ketika berpapasan dengan Fais di ruang tengah.


“Belum, Umi. Mungkin nanti juga keluar.”


“Lebih baik kalian istirahat saja.”


“Baik, Umi. Abu sama Pak Cek belum pulang, Umi?”


“Belum. Sudah, istirahat sana! Biar Umi yang bereskan.”


“Baik, Umi. Fais ke kamar dulu.” Umi mengangguk pelan seraya tersenyum pada sang menantu.


Fais yang tadinya hendak menuju kamar tiba-tiba ia melangkahkan kakinya menuju lantai dua tempat adik sepupunya masih terdengar cekikikan.


“Kalian belum tidur?” tanya Fais pada Intan yang masih asyik bermain bersama Rendra dan Faris.


“Bentar lagi, Bang. Ini anak juga masih ingin main. Abang tidak tidur?” tanya Intan.

__ADS_1


“Bentar lagi. Hai Rendra...” sapa Fais pada keponakannya.


Selama perjodohan hingga pernikahan, hubungan Fais dan Rendra tidak terlalu akrab karena setiap kali mereka bertemu selalu di luar tanpa membawa Rendra.


Fais menghabiskan waktunya bersama mereka sampai para sepupu dan keponakannya masuk ke kamar masing-masing. Ia duduk seorang diri menyandarkan kepalanya pada sofa dengan pikiran berkelana tak tentu arah.


“Cinta dan nafsu jalan beriringan.” gumam Fais sambil menutup mata.


Di lantai bawah, Cut baru selesai salat isya dikejutkan oleh ketukan pintu.


Tok...tok...


“Cut, ini Umi.”


Mendengar suara Umi, Cut langsung bergegas untuk membuka pintu. Umi memandang wajah sang putri dengan seraya tersenyum lembut. “Mulai malam ini kamu sudah menjadi milik suamimu. Jangan abaikan kewajibanmu sebagai seorang istri. Fais ada di lantai atas, ajak dia untuk tidur!”


Umi berlalu setelah mengingatkan sang putri. Cut yang masih menggunakan mukena lalu berjalan menuju lantai atas tempat suaminya berada saat ini.


“Abang sudah salat?” tanya Cut pelan sambil menyentuh lengan sang suami.


“Baru saja. Ayo, salat di kamar saja!” berbekal nasehat dari Umi, Cut memberanikan diri menggenggam tangan Faisal lebih dulu untuk mengajaknya ke kamar.


Faisal tersenyum senang melihat tindakan berani Cut. Ia melepaskan genggaman Cut lalu merangkul pinggang sang istri dengan mesra. Walaupun takut jika sampai ada orang rumah yang melihat namun Cut berusaha menuruti semua yang Faisal lakukan.


“Abang salat dulu.” ucap Cut ketika mereka sampai di kamar.


“Iya.”


Faisal melaksanakan salatnya sementara Cut duduk di belakang sang suami. Ia masih menggunakan mukenanya. Ia menunggu sang suami dengan kalimah takbir yang terus ia ucapkan sebagai bentuk rasa syukur untuk kehidupan yang baru ini.


Faisal terkejut begitu ia selesai mengucap salam sebuah tangan terulur dari belakangnya. Cut mencium tangan sang suami penuh takzim. Keduanya duduk berhadapan dalam diam dengan sebelah tangan Cut yang masih digenggam oleh Faisal. Sesekali Cut memberanikan diri untuk menatap sang suami namun, diamnya sang suami membuat Cut serba salah.


Lama terdiam, akhirnya Cut memberanikan diri untuk lebih dulu bersuara. “Abang pindah dulu biar saya rapikan sajadahnya.”


Fais bangun dari duduknya lalu membuka baju hingga badannya begitu jelas terlihat oleh Cut. Cut salah tingkah, ia melipat sajadah berulang kali hingga membuat Fais tersenyum kecil melihat tingkah sang istri. Fais mengambil sajadah di tangan Cut lalu menaruh di dekat lemari.


“Apa kamu akan tidur menggunakan mukena?” tanya Fais lalu secara perlahan ia membuka mukena sang istri kemudian diletakkan di atas nakas.

__ADS_1


Cut rasanya ingin kabur keluar kamar jika tidak mengingat nasihat Umi serta statusnya saat ini. Ia sudah tidak mampu membayangkan kejadian apa yang akan ia hadapi malam ini.


“Kenapa kamu tegang begitu? Santai saja. Oh iya, tadi sore aku sudah memijatmu sekarang kamu harus memijatku, mau kan?” tanya Fais sambil merebahkan badannya di atas tempat tidur.


Cut mengangguk pelan walaupun malu tapi ia harus memberanikan diri. Cut naik ke tempat tidur lalu mulai memijit kaki sang suami. Faisal menikmati pijatan tersebut sambil menikmati pemandangan indah di depannya. Sementara, Cut terus menunduk dalam diam dengan sesekali melirik Faisal yang terus menatapnya.


“Sudah cukup, kakiku terasa enak, makasih ya istri. Sekarang giliran tanganku yang butuh pijatanmu.” pelan tapi pasti, Cut harus mendekati Faisal untuk bisa memijit tangannya.


“Sebelumnya, kamu pernah memijit siapa saja?” tanya Faisal dengan mata terus tertuju pada Cut.


“Abu, Umi tapi lebih sering Rendra waktu masih bayi.”


“Siapa yang mengajari?”


“Tidak ada, kalau cuma memijit seperti ini, semua orang pasti bisa.” ucap Cut tanpa sadar memijit lengan Faisal hingga turun ke telapak tangan dan jari-jemarinya.


Faisal tersenyum lebar melihat sang istri termakan pancingannya.


“Sebelah sini juga.” ucap Faisal lalu membalikkan badannya menghadap Cut yang tengah duduk. Cut bergeming karena posisi sang suami begitu dekat dengannya.


“Apa bedanya memijit bayi dengan orang dewasa?” tanya Faisal memecahkan keheningan di antara mereka.


“Kalau bayi harus pelan-pelan dan hati-hati karena tulangnya masih lembek tapi kalau orang dewasa ya semampunya kita saja.” Baru sesaat Cut diam, Fais kembali membuat gerakan yang mengejutkan.


Tiba-tiba, Fais mengganti posisi tidurnya dengan menyandarkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Kepala juga!” mau tidak mau, Cut mulai memijit kepala sang suami dengan lembut namun terasa berbeda karena kini Cut tidak bisa menunduk lagi.


Ada wajah sang suami yang terus menatapnya dengan senyuman yang mampu mengguncangkan jantung Cut saat ini.


“Kamu deg-degan tidak kita berdua di kamar seperti ini?” pertanyaan yang sulit Cut jawab namun dari tingkahnya tentu saja Faisal sudah tahu.


 


***


LIKE...KOMEN...SHARE...

__ADS_1


__ADS_2