
“Hai, apa kabar?” Anugrah tidak tahan lagi memendam rindu pada Tiara hingga akhirnya mengirim pesan melalui aplikasi hijau. Anugrah hanya bisa menghela nafasnya saat melihat pesannya hanya centang satu yang berarti ponsel Tiara dalam keadaan mati. Perasaannya semakin tidak menentu saat mengingat kejadian tadi siang di mana ia seakan melihat Tiara di dalam mobil bersama Doni.
“Don, lagi di mana? Keluar yok,” Anugrah kembali mengirim pesan namun kali ini untuk Doni.
Sepuluh menit kemudian Doni baru membalas, “Gue lagi sama Tiara di arena permainan. Sorry, A. Gue harus menemani dia dulu. Dia drop banget saat ini. Semoga loe bisa ngerti.” Balas Doni lalu mengirim foto di mana Tiara sedang memukul sebuah permainan dengan penuh semangat. Tiara juga seperti dirinya yang memakai kaca mata hitam untuk menutupi mata sembab.
“Thanks, Don. Loe udah nemenin dia saat-saat terpuruk seperti sekarang. Dia memang lebih butuh loe dibanding gue. Gue rindu banget sama dia, Don.”
“Dia juga, tadi gue juga udah bilang ke dia. Kamu mengalah saja lalu menikah sama dia tapi gak ada jawaban. Dia kayaknya memang gak bisa meninggalkan keyakinannya buat bersama loe.”
“Paham, Don. Aku juga tidak punya hak buat maksa dia. Aku sendiri tidak bisa mengikuti keyakinan dia. Makasih, Don.”
“Sama-sama, A. Gue turut prihatin sama hubungan kalian. Semoga kalian bisa melalui ini dengan baik. Kalau jodoh takkan kemana. Banyak-banyak berdoa saja semoga tuhan menjodohkan kalian kelak.”
“Amin…”
Anugrah mengakhiri percakapan via pesan itu saat orang tua serta kakaknya ikut bergabung bersamanya di ruang keluarga.
“Jadi apa selanjutnya? Kamu gak mungkin melajang sampai tua hanya gara-gara satu gadis kan?” tanya Rendra. Walaupun enggan membahas ini lagi tapi Anugrah tetap merespon pertanyaan orang tuanya. “Entahlah, Pa. Aku belum mau memikirkan itu dulu. Aku tunggu aja siapa yang akan menjadi jodohku nanti. Sudah malas mencari kalau akhirnya gagal lagi seperti ini. Yang ada hanya kecewa dan terluka.”
Kedua orang tuanya hanya diam, mereka juga bingung harus menanggapi apa. “Yang sabar Dek! Semua yang terjadi pasti ada hikmah untuk kita semua.”
“Mungkin sudah waktunya kita bercerita tentang kisah cinta kita pada anak-anak, Ma. Terutama Anugrah, dia belum tahu apa-apa soal kita dan Iskandar.” Ucap Rendra menatap serius pada istri dan ke dua anaknya.
Anugrah mengernyit heran menatap satu persatu anggota keluarganya. “Jangan bilang kalau aku anak pungut.”
Bugh…
Sebuah bantal sofa mendarat indah ke atas Anugrah dari tangan sang kakak. Akhirnya, Rendra menceritakan bagaimana kisah cinta mereka pada sang anak. Tidak ada yang mereka tutupi termasuk tentang sosok Faisal dan wanita bernama Shinta yang ternyata ibu dari Tiara.
Anugrah dan Iskandar terbelalak saat mendengar bagian terakhir dari kisah percintaan orang tua mereka. Cut sendiri sudah memberitahukan Rendra tentang ibu dari Tiara yang ternyata mantan pacar ayah dari Iskandar.
“Jadi secara tidak langsung Tiara itu???” tanya Anugrah bingung.
“Kalian bisa menikah karena ayahnya bukan Ayah dari kakakmu dan kalaupun iya, kalian tetap bisa menikah juga ya, Ma? Karena kamu kan anak Papa.”
__ADS_1
“Kayaknya sih bisa, Pa. Entahlah, Mama juga bingung.”Jawab Cut.
Sementara sang putra sulung hanya terdiam mencerna setia cerita yang orang tuanya katakan. Ia kaget karena selama ini yang ia tahu hanya sekedar ia adalah anak dari suami pertama ayahnya. Tapi, sekarang dia sudah tahu dengan lengkap cerita hidup ibunya sampai proses perceraian dengan sang ayah lalu ibunya kembali bertemu dengan pria yang sekarang menjadi papanya.
“Is, kenapa kamu diam saja? Maaf kalau kami menyinggung perasaanmu. Tapi inilah yang sebenarnya terjadi. Mama tidak mau kamu melalui kejadian yang sama makanya Mama minta kamu untuk menjadi pria yang bertanggung jawab kelak kalau kamu menikah. Jangan pernah menyakiti hati seorang wanita yang sudah kamu nikahi di depan Allah. Kamu sudah belajar agam dari kecil tentu kamu lebih paham dari pada Mama.” Cut berkata lirih. Matanya sudah berembun.
“Maafkan Is kalau selama ini Is sudah melukai hati Papa. Harusnya Is berterima kasih karena Papa sudah mau menerima Is sebagai anak.” Lirih Iskandar, ia menunduk dengan buliran air mata yang sudah tergenang di pelupuk mata. Rendra merengkuh sang putra sulung dalam pelukannya.
“Tanpa kamu Papa tidak akan pernah bisa menikahi wanita kuat seperti Mama kalian. Kamulah alasan Mama menerima Papa. Jadi, sudah seharusnya Papa yang berterima kasih kepada kamu karena mau menerima Papa sebagai pengganti ayahmu. Walaupun Papa tahu, ayahmu pasti lebih menyayangimu dari pada Papa. Buktinya, Papa sampai membuangmu ke pesantren setelah Anugrah lahir.” Kalimat terakhir Rendra sebenarnya hanya candaan tapi entah mengapa begitu menusuk relung hati Iskandar. Sempat terbesit kebencian di hatinya untuk sang papa karena sudah membuangnya ke pesantren waktu pertama kali berada di pondok.
“Kamu pasti sangat membenci Papa kan?” goda Rendra.
“Maafin Is, Pa.”
“Lebaran masih lama, Is.” Balas Rendra lagi yang membuat Cut dan Anugrah tergelak di tengah momen-moment haru.
“Jadi, ayah dan anak dari ibunya Tiara itu masih hidup atau gimana, Ma?” tanya Anugrah penasaran.
“Mama tidak tahu, Nak.”
“Keluarga kakek dan nenekmu di sana juga tidak ada yang bertemu dengan papamu, Kak. Itu sebabnya mereka sepakat menerima jika ayahmu sudah tiada walapun jasadnya tidak ditemukan sampai saat ini.”
Ting…
“Maaf, A. Aku baik. Ada Doni yang menemaniku saat ini. Besok aku akan kembali ke Jakarta. Maaf, A tapi sepertinya kita tidak bisa saling berbagi pesan lagi seperti dulu. Aku tidak sanggup kalau harus menjalani semua ini seakan tidak terjadi apa-apa antara kita. Semua yang samar sudah menjadi jelas begitu juga dengan hubungan kita. Apa yang terjadi sudah menjadi takdir dan aku akan berusaha untuk menerima. Berada di sini begitu menyakitkan karena setiap tempat selalu terdapat kenangan kita. Semua ini sangat menyiksaku, A. Aku harap kamu bahagia dan terima kasih untuk semuanya. Maaf, lebih baik kita tidak saling bertukar pesan lagi karena semua itu hanya sis-sia belaka. Aku harap kamu bisa move on karena aku juga pasti berusaha untuk move on. Sekali lagi, terima kasih A. Saat-saat denganmu adalah kebahagiaan buatku. Maaf, jika selama kita pacaran aku pernah menyakiti hatimu. Selamat tinggal, A.
Raut wajah Anugrah kembali bermuram durja setelah membaca pesan dari Tiara. Ayah, ibu dan kakaknya menatap sendu ke arah Anugrah yang sudah merebahkan diri di pangkuan sang ibu. Wajahnya ditutupi oleh batal sofa. Cut mengusap pelan kepala sang putra yang kini mulai dewasa.
“Yang sabar, Nak. Pelan tapi pasti kamu akan segera menerima keadaan ini.” Ucap Cut lembut.
“Hei, jangan cengeng begitu! Kamu siap bermain berarti harus siap juga untuk menerima hasilnya antara kalah atau menang. Dan sayangnya, kamu kalah!”
“Paaaa….” Pekik Cut pada sang suami yang terlihat santai mengucap setiap kata untuk sang putra bungsu.
“Ma, yang Papa bilang itu benar. Dia laki-laki, tentara lagi. Apa gak malu kalau harus menangisi cewe berhari-hari? Jangan pacaran lagi setelah ini kalau kamu akan uring-uringan begini. Gimana kalau kamu lagi di medan perang dengan kondisi begini? Bisa mati berdiri kamu.” Rendra mulai mengeluarkan taringnya sebagai seorang ayah sekaligus komandan.
__ADS_1
“Aku sayang banget sama dia, Pa.” jawab Anugrah dalam pangkuan ibunya.
“Lah, terus? Kamu berharap apa dari itu? Berharap kalau rasa sayang kamu bisa membawa Tiara mengubah keyakinannya? Tidak semudah itu, Bambang! Kasih sayangmu belum mampu menggoyahkan hati Tiara untuk mengubah keyakinannya. Sekarang terima kenyataan bahwa cinta pertama tidak selamanya berjalan lancar sampai ke pelaminan.” Ucapan tegas Rendra yang tidak biasanya membuat aura ruang tamu keluarga itu sedikit menegang.
“Ma, sebelum Is ngajar. Apa boleh, Is mengunjungi keluarga di Aceh?” Bukan hanya orang tuanya yang terkejut, Anugrah yang sedang sedih pun ikut terkejut.
“Aku ikut!” sahut Anugrah cepat.
Cut menatap sang suami, “Ayo kita pulang kampung sama-sama!” jawaban Rendra bagaikan siraman yang menyegarkan di tengah padang pasir.
“Kapan kita berangkat?” tanya Anugrah semangat.
“Besok!” jawab sang ayah.
Permintaan Iskandar menjadi ajang untuk Anugrah menyegarkan diri dari rasa sedih karena gagal menikah. Ia sangat bersemangat mengalahkan sang kakak. Tidak banyak barang yang mereka bawa karena kepulangan yang mendadak apalagi mereka tidak akan lama di sana. Iskandar harus mengajar minggu depan dan Anugrah juga akan kembali aktif setelah menghabiskan masa cutinya. Setelah mendengar cerita orang tuanya tentang masa lalu, Iskandar dan Anugrah merasa penasaran hingga ingin berkunjung ke kampung mereka. Apalagi selama ini mereka tidak pernah pulang ke sana. Selama menikah, Cut seolah enggan pulang ke sana. Rasa inginnya tenggelam bersamaan tumbuhnya ke dua putra mereka yang tentunya membutuhkan banyak biaya. Cut tidak mau membebani Rendra dengan biaya tambahan untuknya pulang kampung. Tapi sekarang, anak-anak sudah memiliki penghasilan sendiri.
Mereka telah sampai di bandara keesokan harinya. Senyum Anugrah yang terpatri indah tiba-tiba kembali sendu saat melihat mantan calon istri juga sedang tertawa riang di samping sahabatnya. Dan yang lebih menyakitkan adalah, mereka justru mendapat bangku berdekatan dengan posisi Doni di antara Tiara dan Anugrah.
“Kamu mau tukaran?” tanya Doni pada sahabatnya ketika sudah berada di pesawat.
Anugrah tersenyum seraya menggelang, “Dia lebih bahagia di samping kamu, Don. Kami telah selesai!” jawab Anugrah. Sungguh hatinya sangat hancur saat mengatakan itu dengan tatapan tertuju pada Tiara yang sedang berpura-pura melihat ponselnya. Doni sendiri merasa serba salah berada di antara mereka. Ke dua orang patah hati itu adalah sahabatnya, dia bisa apa?
“Ada acara apa ke Aceh?” tanya Doni mengalihkan permbicaraan.
“Mengunjungi keluarga Mama sekalian ziarah ke makam kakek dan nenek.”
“Dan semoga aku juga bisa mengulang kisah Papaku yang bertemu jodohnya di sana.”
Deg…
***
__ADS_1
Up jam 03.55 pagi gaeysss...orang2 masih merajut mimpi. Nah, aku????