CUT

CUT
Asrama...


__ADS_3

Hari berlalu dan Iskandar masih dengan sikap dingin dan datarnya. Rasa bencinya terhadap sang adik semakin menjadi meskipun Cut dan Rendra sudah mencoba menjelaskan. Waktu yang dihabiskan Cut untuk anak keduanya memang cukup banyak melebihi waktu untuknya bersama Iskandar. Kebencian Iskandar semakin bertambah karena ulah kakek dan neneknya.


Semenjak Anugrah lahir, Ibu Yetti seperti pilih kasih pada mereka. Tidak jarang Ibu Yetti lebih memilih bemain dengan Anugrah yang masi bayi dari pada bicara dengan Iskandar yang sudah bisa menanggapinya. Waktu bersama Papanya saat akhir pekan juga sudah dimonopoli oleh adiknya. Kalaupun mereka pergi, Iskandar tetap tidak mendapat tempat di samping sang papa.


Hari berganti hari dan perubahan tingkah laku Iskandar juga semakin menjadi. Rendra hampir tidak bisa menguasai emosinya jika tidak mendengar panggilan lembut sang istri. Bagaimana tidak emosi jika dalam sebulan sudah tiga kali dia dipanggil ke sekolah karena Iskandar berkelahi. Walaupun alasan Iskandar berkelahi hanya untuk membantu temannya tapi setiap kali Iskandar membalas mereka. Ia seperti sedang mengeluarkan emarah terpendamnya.


Rendra sudah mulai berlaku tegas untuk putra pertamanya dan tentu saja semakin membuat Iskandar bertambah membangkan. Setelah sampai ke rumah, Iskandar melihat adiknya yang sudah mulai berjalan sedang bermain-main hingga tanpa sengaja menginjak mobil dan membuat adiknya jatuh ke belakang. Cut yang saat itu sedang membuat susu langsung berlari saat mendengar Anugrah menangis kencang. Sementara Iskandar hanya melihat tanpa niat membantu. Dia melihat bagaimana mamanya mengambil Anugrah lalu menenangkannya.


Cut menatap tajam putranya yang masih berdiri melihatnya. “Kamu senang jika adikmu terluka? Bagus, berbuatlah seperti itu selamanya.” Ucap Cut seraya menahan emosi di dadanya.


Iskandar sudah besar, usianya sudah 10 tahun sedangkan Anugrah sudah berusia tiga tahun. Selaku ibu, Cut cukup kerepotan walaupun ada yang membantu urusan pekerjaan rumah tangga. Emosinya sebagai seorang perempuan kadang naik turun seperti saat ini. Emosi dalam dirinya justru diperlihatkan pada Iskandar hingga membuat kebencian Iskandar pada sang adik semakin menjadi. Cut memang tidak marah-marah seperti kebiasaan ibu dari teman-temannya yang lain tapi tatapan tajam yang Cut berikan cukup membuat Iskandar kesal dan marah.


Setelah menaruh tasnya, ia segera mengambil sepeda lalu keluar rumah. Sementara Cut hanya bisa menghela nafasnya sambil terus menenangkan Anugrah. Rendra pulang ketika sore dan mendapati wajah masam sang istri.


“Ada apa?” tanyanya lembut.


Cut menceritakan kejadian tadi siang pada sang suami. “Kita tidak bisa membiarkannya lagi. Mama takut dia semakin menjadi, Pa.”


“Biar Papa yang bicara padanya nanti.”


Iskandar sampai ke rumah setelah ashar. Ia masuk begitu saja setelah mencium tangan papanya. “Sudah makan?” tanya Rendra.


“Belum.”


Iskandar langsung masuk setelah menjawab pertanyaan papanya. Dia mandi dan berganti baju. Cut keluar sambil menggendong Anugrah yang sudah mandi dan wangi. Ketiganya duduk di teras rumah sambil bersenda gurau.


“Kakak, sini duduk sama Mama!” ajak Cut ketika melihat sang putra yang baru selesai mandi.


“Is mau makan.”


Dia pergi menuju meja makan. Sementara Cut dan Rendra hanya bisa menghela nafasnya.


Kedatangan Omnya saat malam membuat Iskandar sedikit senang. Riko mengajak Iskandar keluar. Sudah lama dia tidak mengajak Iskandar keluar karena kesibukan mengurus bisnisnya. Sementara malam ini dia harus datang karena ada misi khusus.

__ADS_1


Ya, Rendra meminta bantuan Riko untuk bicara dengan Iskandar. Selama ini Rendra sudah mencoba tapi Iskandar seperti menutup diri dari Rendra. Ia sangat frustasi memikirkan perubahan sikap Iskandar padanya. Perubahan yang dipikir Rendra hanya sesaat lantaran cemburu pada sang adik tapi lambat laun menjadi semakin parah.


“Ada apa Om mengajak keluar?”


“Sudah lama kita tidak jalan bareng. Kamu jangan marah sama Om. Kamu kan tahu selama ini Om selalu kena marah sama nenek karena dianggap mencemari otakmu sampai kamu dianggap nakal.”


“Kenapa orang tua hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa mau menyalahkan diri sendiri? Apa mereka merasa tidak punya salah sampai harus menyalahkan orang lain?”


Riko menatap lekat pada ponakannya. Ternyata anak yang selama ini kerap ia bawa telah berubah. Perilaku dan pemikirannya telah berbeda. Jauh berbeda dari usianya.


“Sebenarnya ada apa? Apa kamu juga tidak menganggap Om sebagai temanmu?”


Iskandar menatap lekat manik pria yang sudah tidak muda lagi itu. “Karena semua orang tua menyebalkan. Hanya satu orang tua yang menurutku baik.”


“Siapa?” tanya Riko penasaran.


“Ibu Adit.”


“Ibu Adit???”


“Jangan begitu nanti Mama kamu sedih dengar anaknya lebih menyukai ibu temannya dari pada ibunya sendiri. Kalau kamu diposisi Mama pasti kamu akan sedih juga dibanding-bandingkan dengan orang lain?”


Iskandar tidak lagi menjawab perkataan Riko. Ia sudah malas berbicara dengan orang yang tua yang selalu menganggap diri mereka selalu benar. Upaya Riko tidak berhasil, Rendra hanya bisa menghela nafasnya dengan berat saat melihat pias wajah Riko.


Rendra sudah bicara pada Iskandar jauh-jauh hari tapi anak itu tetap saja tidak berubah. Ikatan dinas membuat Rendra tidak bisa setiap hari di rumah. Setelah pulang sekolah, Iskandar langsung berganti baju lalu menuju meja makan. Saat itu, adiknya sedang bermain tidak jauh darinya. Cut sendiri sedang merapikan dapur setelah selesai memasak dan-


Tangis Anugrah kembali pecah. Cut segera berlari dari dapur lalu melihat putra keduanya sedang menangis kencang dengan bibir pecah mengeluarkan darah. Iskandar dengan santainya menikmati tanpa menghiraukan sedikitpun kekalutan ibunya. Cut membawa Anugrah ke kamar untuk menenangkannya sementara Iskandar langsung pergi setelah menyelesaikan makan siangnya.


Anugrah tertidur setelah kelelahan menangis. Cut keluar kamar dan ternyata Iskandar sudah tidak ada. Iskandar menghabiskan waktunya bersama teman-teman di taman. Suara tangisan Anugrah seperti petir untuknya. Rasa benci Iskandar semakin apalagi jika dia mengingat kejadian yang belakangan sering terjadi. Anugrah pernah memukul kepalanya dengan kotak pensil dan itu sakit sekali. Tapi Mama dan Papanya hanya mengatakan jika Anugrah masih kecil belum mengerti apa-apa. Dan saat Anugrah celaka begini, ia orang pertama yang tertawa dalam hati.


“Kamu tidak kasihan sama adik kamu, Is?” tanya Adit lugu.


“Alahhhh, sesekali biar dia tahu gimana rasanya sakit. Ya kan, Is?” Iskandar mengangguk seraya tersenyum kecil.

__ADS_1


“Aku sering diam-diam menjitak kepala adikku lalu aku lari ke luar biar Mama tidak memarahiku.” Celutuk teman Iskandar yang lain.


Mereka menghabiskan waktu di taman komplek dengan berbagai keluh kesah. Semenjak kejadian Iskandar diserempet motor, mereka tidak pernah lagi balapan sepeda di jalan. Kadang, mereka hanya mengikuti lomba lari bersama untuk menghilangkan rasa bosan.


Hari sudah mulai petang dan mereka sepakat untuk pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Iskandar melihat ada mobil terparkir di depan dan dia langsung tahu jika itu adalah nenek dan kakeknya.


“Assalamualaikum,” ucap Iskandar lalu mencium tangan kakek dan neneknya.


“Walaikumsalam. Is, kamu baru pulang jam segini? Sesekali kamu bantu Mamamu jaga Anugrah di rumah jangan pergi main terus.” Ucap sang nenek tapi tidak dihiraukan oleh Iskandar.


“Kenapa tidak Nenek saja yang jaga? Diakan cucu nenek.”


Deg...


“Iskandar!”


“Jaga sikapmu saat bicara dengan orang tua!” suara Cut meninggi. Ia tidak menyangka jika putranya akan bersikap seperti itu pada mertuanya.


“Salah lagi. Aku selalu salah dan Mama selalu benar.”


Iskandar membanting pintu kamarnya dengan keras hingga membuat Anugrah terkejut dan langsung menangis.


Ibu Yetti kembali menenangkan cucunya sementara Cut segera membuatkan susu supaya Anugrah tenang. Sesekali, ia mencoba menghirup banyak oksigen untuk menenangkan hati dan pikirannya. Rendra pulang lalu menelisik setiap wajah terutama sang istri yang terlihat kecewa dan sedih. Cut mengambil Anugrah lalu membawanya ke kamar. Ibu Yetti menatap putranya lalu mengajaknya duduk di depan rumah.


“Sebaik apapun kamu, darah dalam tubuh Iskandar tidak akan berubah. Dia akan meniru ayahnya sampai dewasa.”


Rendra semakin bingung lalu memilih duduk tenang mendengar semua cerita ibunya tentang kelakuan Iskandar. Sejujurnya dia memang mengetahui bagaimana perilaku Iskandar pada Anugrah tapi Rendra juga tidak bisa melakukan apa-apa karena memikirkan perasaan istrinya.


“Kamu tidak bisa selamanya mentolerir sikap Iskandar. Dia sudah besar dan sudah bisa diajari tanggung jawab. Bagaimana kalian mendidiknya selama ini. Lihat saja sekarang, dia bahkan berani membanting pintu sampai membuat Anugrah terkejut hingga menangis histeris. Kamu sebagai kepala rumah tangga harus bisa mengambil sikap.”


“Masukkan dia ke asrama, supaya dia mandiri dan belajar bertanggung jawab!”


***

__ADS_1


 


__ADS_2