
Berita mengejutkan kembali menggemparka masyarakat. Rakyat Aceh berduka khususnya para anggota gerilyawan. Pimpinan tertinggi mereka tewas bersama sang istri dan dua orang pengawalnya di daerah perbukitan dalam pertempuran dengan pasukan TNI. Pimpinan gerilyawan dari berbagai wilayah menyatakan berkabung selama 44 hari.
Pihak militer sudah membaca aksi tersebut sehingga mereka juga memperketat pengamanan di berbagai titik rawan. Aksi pelemparan granat ke markas polisi atau tentara terjadi di berbagai wilayah. Pos Brimob dan Koramil menjadi target utama penyerangan tersebut.
Banyak yang menjadi korban baik dari pihak militer maupun masyarakat. Taktik lempar batu sembunyi tangan masih menjadi andalan para kaum separatis untuk mengurangi jumlah anggota mereka yang gugur.
Aksi penculikan semakin menjadi. Tentara daerah yang sudah bertugas lama di Aceh juga ikut terkena imbasnya. Dalam gelap, mereka hilang tanpa diketahui akhirnya. Mereka pergi dengan meninggalkan nama. Tanpa tahu di mana kuburnya. Begitu juga sebaliknya, rumah-rumah para pemberontak di datangi oleh pasukan TNI. Mereka menggeledah rumah satu persatu hanya untuk mendapatkan foto. Sayangnya, kebiasaan orang kampung yang tidak bersekolah tinggi membuat para tentara harus menelan kepahitan hingga akhirnya meluapkan amarah kepada masyarakat.
Pelanggaran HAM di Aceh kerap kali terjadi namun tidak pernah diusut tuntas. Bahkan, dunia luar ikut menyoroti tentang pelanggaran HAM tersebut. Menjelang subuh, orang-orang yang tengah bersiap menuju mesjid kembali dikejutkan dengan suara bom. “Abuuuu.” Teriak Cut di kamarnya.
Dalam kepanikan, Abu dan Umi segera berlari ke kamar Cut. Suara tembakan tidak bisa dicegah. Cut histeris di kamarnya.
“Tenang....tenang. Abu sama Umi ada di sini.” Umi memeluk sang putri dengan tubuh bergetar seraya terus menangis histeris seolah kejadian tersebut berada di depan matanya.
“Abu, obat!” Abu berlari keluar untuk mengambil air dan obat buat Cut.
“Baca Bismilalah, Nak.” pinta Umi yang tentu saja tidak mendapat jawaban. Dengan susah payah Abu dan Umi menenangkan hingga berselang beberapa menit setelah minum obat, Cut kembali tenang.
Suara senjata masih terjadi beberapa kali. Dari luar terdengar bunyi sirene ambulans yang melewati jalan di depan pasar.
“Abu, Umi, Cut takut. Pasti ada yang tertembak. Mae sama Rendra mana? Pak cek Amir, Mak Cek Siti bagaimana keadaannya. Intan dan Faris apa mereka baik-baik saja? Abu, Cut...”
Dalam tangis ia mengkhawatirkan satu persatu keluarga dekatnya sampai reaksi obat membuatnya terlelap.
“Abu, bagaimana ini?” tanya Umi gelisah.
Selama beberapa bulan Cut mengalami depresi baru kali ini dia bereaksi saat mendengar suara bom. Ketakutan akan kehilangan orang-orang terdekat kembali menghantui pikiran sehingga membuatnya histeris.
__ADS_1
Abu hanya bisa menghela nafasnya sesaat seraya menatap sang putri yang sudah terkulai lemas dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Sementara di luar ruko masih terdengar suara sepatu para tentara yang sedang melakukan pengejaran.
Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang tenang karena hari libur tapi akibat insiden di subuh tadi membuat minggu pagi menjadi mencekam dikarenakan semua pemilik ruko diminta keluar.
Setiap ruko dimasuki oleh tentara untuk diperiksa. “Keluar semua! Jangan coba-coba lari atau kami tembak di tempat!”
Tidak ada yang berani membantah. Suasana pasar begitu mencekam.
“Pak, anak saya sedang sakit di atas. Kalau boleh tolong biarkan dia tidur.” Pinta Abu yang sudah berbaris di bawah bersama Umi, Mae dan Rendra.
“Ada yang mencoba melindungi anggota pemberontak di sini? Silakan mengaku sekarang atau kalian akan tahu akibatnya. Membantu pemberontak sama saja dengan melawan negara. Melawan negara berarti mati. Apa kalian sudah siap mati sekarang?” suara tentara penuh emosi begitu menakutkan.
Beberapa tentara masuk mengobrak-abrik setiap sudut toko. Barang-barang berceceran di lantai. Mereka memeriksa sampai lantai atas bahkan plafon lantai atas juga kena imbasnya. Mereka mencurigai setiap plafon lantai atas setiap toko sebagai tempat bersembunyi para pemberontak.
“Abuuuuu, Umiiiiii.”
“Abuuuu.....Umiiiii.”
Cut kembali histeris ketika mendapati beberapa orang tentara sedang mengobrak-abrik lantai atas. Para tentara yang sedang tersulit emosi tanpa sadar menarik Cut ke bawah. Cut melawan seraya berteriak histeris membuat Abu dan Umi semakin gelisah.
Abu berlari menuju ruko bersama Umi. “Pak, putri saya sakit jiwa. Tolong biarkan saya mengambil obatnya.” pinta Abu pada salah seorang tentara yang berdiri di depan toko.
Begitu melihat Abu dan Umi, Cut segera berlari memeluk mereka. Semua mata tertuju pada Cut yang begitu histeris dalam pelukan Umi. Suara tembakan kembali terdengar diikuti teriakan lelaki yang dipukuli oleh beberapa tentara di dalam pasar ikan.
__ADS_1
“Cepat kataka! Di mana pria itu?”
“Saya tidak tahu, Pak.”
Bug...bug...
Umi memeluk sang putri erat, sementara Rendra kecil juga mulai ketakutan dalam gendongan Mae. Abu semakin kalut dengan semua yang terjadi. Baru ini, ia mengalami kejadian seperti ini. Dahulu, saat berada di kampung. Warga tidak sampai diperlakukan seperti ini.
“Semuanya tiarap!!!” teriak seorang tentara dengan suara lantang.
Seketika itu juga, semua warga penghuni pasar tiarap ke tanah Umi sendiri hanya duduk sambil memeluk Cut yang terus menjerit. Air mata, takbir serta doa terus terpanjat dari setiap mulut penghuni pasar saat itu.
Di ujung senapan nyawa mereka bisa melayang kapan saja. Emosi para tentara di pagi itu bukan tanpa sebab. Komandan mereka beserta beberapa rekan tewas dari insiden lemparan granat serta tembakan senjata tadi malam. Salah satu dari para pemberontak yang melakukan aksi tadi malam terlihat berlari memasuki kawasan pasar. Dari pengejaran semalam sampai pagi belum berhasil menemukan pelaku bahkan sampai pasukan bantuan juga didatangkan untuk menyisir kawasan pasar, area pertokoan serta kawan rumah penduduk di sekitar pasar.
Suara ledakan lebih dahsyat kembali terjadi. Semua warga kembali panik. Mereka tidak bisa bergerak ke mana-mana karena para tentara seperti mengepung area pasar saat ini.
“Asap tebal sekali, sepertinya ada kebakaran.” ucap salah seorang penjual sayur.
Tabung gas di sebuah toko meledak setelah dilempar oleh orang tidak dikenal ke truk tentara yang sedang parkir di pinggir jalan.
Pagi minggu yang kelam berubah menjadi awan hitam tatkala beberapa toko di depan truk tentara yang terbakar menjadi tempat pelampiasan kemarahan para tentara yang gagal menemukan para pelaku. Berbekal sebuah tabung gas, para pemberontak kembali berhasil menyerang mereka. Tidak ada yang tewas tapi yang terluka cukup banyak.
Toko-toko yang berjejer di pinggir jalan tersebut musnah dilalap si jago merah. Para pemilik hanya bisa menangis meratapi pagi minggu mereka yang berubah kelam dalam sekejap.
***
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...
yang banyak ya!!!
__ADS_1