CUT

CUT
Peristiwa Di Subuh Pagi...


__ADS_3

Mereka bercerita banyak hal sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam lima pagi. “Pak, kita salat subuh di mana?” tanya Dodik.


Iskandar sedang memutar otak. Lampu mati, di sini tidak ada air, langit di pedesaan masih gelap tidak mungkin mereka kembali ke kecamatan. Ke rumah Pak Joko juga segan, hanya ada sumur di sana untuk menimba air.


“Ayo, itu ada sumur. Kita timba air saja untuk berwudhu.”


Iskandar menimba air sepeti dahulu di pondok saat masih jadi santri. Ketika mati listrik maka mereka akan menimba iar untuk mandi dan wudhu.


“Mahasiswi maju satu persatu!” pinta Iskandar.


Walaupun enggan, para mahasiswi yang berjumlah delapan orang itu maju satu persatu. Iskandar tanpa sungkan menimba air pada mereka. Adegan yang membuat mereka tertawa adalah ketika salah satu mahasiswi ditegur karena salah berwudhu. Lalu, Iskandar dengan sabar mengajarkan mahasiswi itu cara berwudhu yang benar.


“Jangan menertawai teman kalian, bisa jadi kalian lebih parah dari dia.” Ucap Iskandar saat menimba kembali.


“Kami juga sama, Pak. Sebaiknya, Bapak juga mengajari kami cara berwudhu yang benar. Karena kami juga jarang salat sebelum ini mana tahu cara berwudhu yang benar.” Ucap Dodik tanpa malu.


Subuh ini menjadi subuh terbaik yang akan dikenang oleh mereka. Dengan bermodalkan cahaya senter dari ponsel. Mereka belajar mengambil air wudhu yang benar. Tibalah giliran Aisyah, gadis itu mengangguk pelan pada Iskandar lalu menunduk seraya mengangkat lengan bajunya. Para mahasiswa sudah lebih dulu berbalik seperti yang Iskandar pinta. Ia sendiri setelah menimba air ikut berbalik supaya tidak melihat aurat dari para mahasiswi kecuali saat salah satu mahasiswi tadi melakukan kesalahan saat bersudhu. Iskandar bisa menangkap dengan ekor matanya saat tangan mahasiswi tersebut langsung dimasukkan ke dalam timba.


saat itulah dengan mengucapkan doa serta istigrfar, Iskandar membalikkan badan dengan niat mengajari anak didiknya berwudhu dengan benar.


“Semoga engkau mengampuni hamba,” batin Iskandar ketika harus melihat mahasiswi itu membasuh lengannya secara benar seperti yang sudah ia ajarkan.


Hanya Aisyah yang tidak perlu Iskandar ajarkan. Dia sudah memiliki ilmu tersebut jauh-jauh hari saat belajar agama di lingkungannya. Setelah para mahasiswi lalu dilanjut oleh para mahasiswa. Salat subuh mereka lewati dalam temaramnya cahaya ponsel hingga matahari mulai menampakkan diri.


“Ini bagaimana? Apa kita kembali dulu untuk sarapan?” tanya Dodik pada sang dosen.


“Saya-“


“Selamat pagi, Pak Is dan adik-adik semuanya. Saya minta maaf karena semalam tidak bisa mengunjungi Bapak dan adik-adik semua. Ini saya bawa sarapan pagi karena saya tahu Bapak dan adik-adik semua pasti sudah lapar. Jam segini warung-warung di jalan besar juga belum buka. Sulit untuk mendapatkan sarapan apalagi mati lampu begini.” Ujar Pak Joko.


“Bapak kok bisa masak padahal mati lampu?” selidik Dewi. Pak Joko tersenyum ramah, “Kami masih menggunakan kayu bakar, Dik Dewi.”


Dewi ingin  bertanya lagi karena di rumah Pak Joko yang ia lihat kemarin ada kompor gas tapi kenapa jawabannya malah menggunakan kayu kabar? Iskandar menggeleng kecil menatap Dewi.


“Terima kasih, Pak. Kami memang sangat kelaparan sekarang. Ini kami bawa untuk di makan di tempat penginapan. Kami harus kembali karena banyak barang-barang untuk program hari ini tertinggal di sana.”


“Kenapa Bapak dan adik-adik mahasiswa tidak tinggal saja di sini seperti tahun-tahun sebelumnya?”


“Mereka sih mau, Pak. Cuma saya saja yang tidak bisa. Apa lagi barang-barang yang akan mereka bawa ke sini hanya bisa di dapat di kabupaten kota. Kalau menginap di sini akan susah untuk mereka mencari barang-barang itu ke pasar karena harus bolak-balik.”


“Pak, sudah siap semuanya.” Lapor Dodik.

__ADS_1


“Baiklah, kami permisi dulu, Pak Joko. Sampaikan terima kasih kami untuk keluarga di rumah karena sudah mau repot-repot membuatkan sarapan pagi. Dari baunya sudah tercium harum apalagi kalau dimakan.” Ucap Iskandar hendak menaiki mobil seraya mengangkat kresek berisi nasi bungkus dari Pak Joko.


“Kalau begitu dimakan dulu saja sarapannya di sini setelah itu baru balik ke kecamatan.” Pak Joko masih berusaha menahan Iskandar.


Iskandar menarik nafasnya dalam-dalam, “Komandar koramil di kecamatan itu kerabat saya, Pak. tidak enak sama beliau kalau pagi ini saya tidak balik ke sana. Apa lagi sedari kemarin ponsel saya mati. Saya takutnya beliau kemari mencari saya.”


Raut wajah Pak Joko langsung berubah, “Mari, Pak.” ucap Iskandar lalu menaiki mobil Dodik.


Mereka menghela nafasnya begitu mobil keluar dari gapura desa menuju jalan nasional. “Pak, kenapa nasinya tidak dimakan di sana? Bukannya Bapak bilang lapar tadi?” tanya Dodik.


“Bapak takut dijampi-jampi ya?” gurau Dewi.


“Iya!” jawab Iskandar membuat ke tiganya terkejut. Padahal Dewi hanya bergurau ternyata Iskandar menjawab serius.


“Saya merasa aneh kemarin. Kita makan di rumah Pak Joko lalu kita tertidur sampai tengah malam. Apa kalian tidak merasa aneh?” tany Iskandar kembali.


Mereka berpikir sejenak, “Iya juga, ya? Kok kita bisa jadi kebo gitu dalam sehari.” Dewi mencoba memikirkan kembali kejadian kemarin.


Sesampainya di  pos penginapan, Pak Hasyim langsung menyambut mereka, “Kalian baik-baik saja?”


“Alhamdulillah, Pak.”


“Pak, ini ada sarapan pagi dari kepala desa. Apa boleh saya kasih untuk ayam-ayam di sana? Tapi saya ragu kalau akan berdampak sama ayam-ayam itu nanti.” Pak Hasyim sedikit berpikir.


“Kasih ke kucing pasar saja. Kalau memang beracun kucing pasti tahu.” Iskandar mengangguk lalu membuka bungkusan itu satu persatu dan meletakkan di pinggir pagar.


Istri dari Pak Hasyim telah menyiapkan sarapan untuk Iskandar di dalam. Ia sarapan bersama Pak Hasyim sebelum bergabung kembali dengan mahasiswanya. Di mess koramil, para mahasiswa sedang makan nasi dengan lauk mie instan ditambah telur.


“Mari, Pak.” ajak Dodik.


“Terima kasih. Cuaca begini enaknya memang mie instan rebus tambah cabai rawit giling terus telur.” Ujar Iskandar mengambil piring lalu menyendokkan mie instan ke dalamnya.


Cepret…


Iskandar memotret piring berisi mie dan telur itu seraya tersenyum lalu mengirim foto tersebut ke sang adik. Anugrah yang tengah piket langsung melakukan panggilan video.


“Wah, Kakak parah. Mama bisa khutbah panjang mengalahkan Mamah Dedeh kalau tahu Kakak makan mie instan.” Seketika itu juga para mahasiswa yang mendengar ucapan Anugrah menatap sang dosen. Beberapa di antara mereka justru tengah menyesap mie dengan nikmat di bibirnya.


Tut…


Panggilan di akhiri sepihak oleh Iskandar. Ia tidak punya muka lagi untuk menatap para mahasiswanya saat ini.

__ADS_1


“Silakan makan anggap saja tadi suara kecoa.” Iskandar menyantap mie sampai habis tanpa melirik sedikitpun para mahasiswanya. Sementara Aisyah tersenyum kecil melihat kelakuan sang dosen pujaannya.


Mie instan tiga panci telah habis, piring kotor sudah bersih. Kini mereka telah berkumpul untuk memulai rapat. Suasana menjadi serius saat wajah Iskandar terlihat seperti sedang menahan beban berat.


“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Ada beberapa hal penting yang harus saya bicarakan pagi ini. Ingat, ini sangat penting dan saya harap kalian mematuhinya. Saya tidak akan bertanggung jawab kalau sampai terjadi sesuatu pada kalian jika membantah larangan saya.”


“Pak, jangan nakutin begini. Kami kan jadi takut.” Keluh Dewi.


“Bukan menakuti tapi kalian memang harus takut karena setelah ini kalian akan berjalan sendiri ke sana karena saya tidak akan ke sana lagi setelah ini.” Para mahasiswa mulai ketakutan.


“Saya dipanggil ke kampus. Seperti yang kalian tahu kalau saya baru bergabung di kampus kalian da saya tidak tahu kalau tugas dosen pemnimbing KKN tidak selamanya berada bersama mahasiswa. Saya pernah membaca tapi belum sempat menanyakan langsung pada panitia. Jadi setelah ini saya akan kembali ke kampus dan akan mengunjungi kalian lagi dua minggu sekali sampai waktu penjemputan kalian tiba.”


“Yah, Pak. Gimana nasib kami nanti di kampus?”


“Kami tanpa Bapak apa jadinya?”


Keluhan demi keluhan terus terdengar dari para mahasiswa. “Kalian bisa menghubungi saya kapan saja jika ada kendala.”


“Gak sama, Pak. gimana kalau ada kejadian seperti semalam?” protes masih berlajut.


“Nah, ini yang saya mau katakan. Mulai nanti sampai selanjutnya. Jangan pernah makan lagi di rumah Pak Joko ataupun yang dibawa oleh warga lain untuk kalian. Saya sudah buatkan daftar barang yang harus kalian sediakan di mobil seperi penanak nasi listrik hingga mie instan dan sebisa mungkin pagi-pagi sekali kalian sudah masak. Siangnya kalian tinggal makan. Selalu sediakan telur rebus dan roti untuk mengganjal perut termasuk air mineral. Kalian sudah dewasa jadi cobalah untuk bertindak dewasa mulai saat ini. Pergunakan akal kalian baik-baik saat di sana. Waspada itu wajib. Jangan pergi-pergi sendiri kalau ada salah satu dari kalian yang pergi. Kalian harus cegah dan kalau tidak bisa di cegah, ikat dia! Jangan ikuti karena bisa jadi kalian akan ikut  terkena yang tidak-tidak. Hubungi saya jika terjadi apa-apa. Mulai sekarang kalian akan benar-benar sendiri.”


“Saya juga minta pada kalian yang berasal dari jurusan dakwah. Jangan kalian jadikan DesaWengi sebagai tempat dakwah kalian. Jangan mencampuri adat istiadat mereka dengan ceramah kalian tentang agama. Bukannya senang, mereka justru mengamuk karena menghina kepercayaan mereka. Ingat, kalian di sana untuk program pengabdian masyarakat bukan untuk menyebarkan dakwah. Bisa jadi, niat baik kalian justru membuat mereka marah dan bertindak di luar dugaan. Jadi, berlakulah seperti biasa, pura-pura bodoh juga tidak masalah. Bahkan lebih baik kalau kalian pura-pura nakal. Karena orang sok benar itu lebih menyebalkan dari mereka yang seperti preman di mata orang jahat.”


Iskandar membekali banyak hal pada mahasiswanya. Walaupun usia mereka sudah dewasa tapi dari segi pengalaman, Iskandar jauh melebihi mereka. Anggap saja kalau kalian sedang berkemah ke sana.” Iskandar berusaha menghibur anak asuhnya walaupun tidak berhasil. Selepas salat zuhur, Iskandar berpamitan pada mahasiswanya. “Dodik, saya titip yang lain ya? Kamu adalah pemimpin jadi harus tegas dan tidak boleh mengedepankan emosi.”


“Baik, Pak. Saya pergi dulu. Hati-hati!”


“Baik, Pak. Kabari kami kalau Bapak sudah sampai.”


“Assalamualaiku…”


 


 


***


Jangan ngarapin adegan horror berlebihan karena genrenya tetap romansa modern....🤣


kapan2 aku mau buat horror, apa ada yang mau baca???

__ADS_1


__ADS_2