
Krek...
“Tariii...”
Cut dan Khalid sama-sama terkejut ketika mendapati Putro Tari berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.
“Kalian bukan adik-abang? Selama ini kalian sudah berbohong pada kami?” tanya Putro Tari seraya melangkah tepat di depan mereka.
Khalid menatap Putro Tari lekat sementara Cut hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Apa kalian tidak ingin berkata jujur padaku? Atau harus Abu yang tanya baru kalian mau jujur?”
“Pergilah! Katakan pada Abu apa yang sudah kamu dengar. Kami juga akan meninggalkan pulau ini secepatnya. Kamu tidak perlu menyuruh orang kampung untuk mengusir kami lagi.” ucap Khalid.
Mata mereka seakan menyiratkan peperangan. “Dek, Kak Cut dibawa kemari karena betul-betul sakit. Kakak masuk rumah sakit jiwa juga itu betul. Bang Khalid menculik Kakak dari sana lalu membawa kemari. Hanya status adik dan abang yang bohong, selebihnya semua benar.”
Putro Tari memutus kontak mata dengan Khalid lalu menatap Cut yang sudah ia anggap sebagai kakaknya tersebut dengan perasaan campur aduk. Hati dan pikirannya tidak bisa dipungkiri tentang keadaan Cut saat pertama kali sampai di rumahnya.
Cut sering terlihat berbicara dengan bunga-bunga di halaman rumahnya. Kadang, ia juga menangis tanpa sebab bahkan ia jarang bicara. Hari-harinya selama beberapa bulan di sana sangat menyedihkan. Orang-orang kampung sangat mengasihaninya sampai tidak jarang dari mereka mengantar makanan untuknya.
Masyarakat pulau sangat menyayanginya begitu juga dengan keluarga Keuchik Banta. “Ayo, Abang mau bicara dengan Abu.” Cut mengikuti Khalid lalu disusul oleh Putro Tari.
Sesampainya di rumah, Khalid langsung menjumpai Keuchik Banta yang sedang berada di beranda rumah.
“Abu, ada yang ingin saya bicarakan.” ucap Khalid yang membuat Keuchik Banta bersama sang istri menatap heran terlebih di belakang Khalid ada Cut dan Putro Tari.
“Kamu mandi dulu! Sudah zuhur setelah itu langsung makan. Setelah kamu makan baru kita bicara.”
Khalid tidak membantah, orang tua itu sudah seperti orang tuanya sendiri. Sosoknya yang bijaksana membuat Keuchik Banta dihormati oleh segenap masyarakat pulau.
“Kalian kenapa masih di situ? Pergi semayang sana!” Cut dan Putro Tari pun bergegas masuk ke dalam.
__ADS_1
Seperti yang dikatakan tadi, kini keluarga Keuchik Banta berkumpul semua di ruang tamu. Cut dan kedua putri Keuchik Banta juga ikut berkumpul di sana.
“Abu, saya dan Cut bukan saudara kandung. Saya menculik Cut dari rumah sakit lalu membawanya kemari.” ucap Khalid.
Umi dan Putro Ceudah sangat terkejut sedangkan Putro Tari hanya diam saja tanpa reaksi apa-apa.
Keuchik Banta tersenyum kecil, “Abu sudah tahu. Terus mau kalian apa? Atau kalian ingin dinikahkan sekarang?” ucap Keuchik Banta dengan seutas senyum.
“Abu sudah tahu? Sejak kapan? Kenapa tidak memberitahukan kami?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Putro Tari.
“Jadi, Bang Khalid dan Kak Cut mau menikah?” pertanyaan dari Putro Ceudah dengan suara lemah penuh kekecewaan.
Untuk pertama kalinya Putro Ceudah berani membalas tatapan mata Khalid. Dulu, ia hanya berani mencuri pandang atau menatap dari jauh. Tapi dengan kejujuran Khalid kali ini ada perasaan marah yang meluap-luap di hatinya.
Semua mata menatap Khalid. “Kami tidak akan menikah karena saya tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya.” ucap Khalid.
“Saya minta maaf pada Abu sekeluarga. Besok pagi, kami akan meninggalkan pulau. Saya akan mengantar Cut kepada orang tuanya.” jawab Khalid.
“Bagaimana dengan pinangan Abu Syik? Apa kamu akan pergi begitu saja?” tanya Keuchik Banta kembali.
Khalid menunduk bingung. “Saya tidak bisa menikahi anak Abu Syik, Abu. Saya tidak mau menyakitinya. Mala atau perempuan mana pun tidak bisa bahagia bersama seorang pemberontak seperti saya. Saya akan menemui Abu Syik setelah ini.”
Setelah menyelesaikan pembicaraan itu, Khalid langsung menuju ke kediaman Abu Syik. Selama perjalanannya ia selalu menghela nafas seakan semua sangat berat. Sementara itu, Cut segera mengemasi barang-barangnya yang tidak banyak.
Tok...tok....tok...
“Apa harus seperti ini cara kita berpisah, Kak?” tanya Putro Tari.
“Kalau kamu ke kota, singgahlah di tempat Kakak! Ini alamat ruko Kakak. Semoga kita masih bisa bertemu lain waktu.” ucap Cut dengan seutas senyum.
__ADS_1
“Kenapa orang tua Kakak tidak merestui Bang Khalid menjadi suami Kakak?” tanya Putro Tari penasaran.
“Banyak kejadian menyedihkan yang terjadi antara tentara pemerintah dan para pemberontak di kampung-kampung. Kamu harus bahagia karena pulau ini sangat aman tidak ada suara senjata atau bom. Di daerah Kakak, setiap saat bisa terdengar suara senjata atau bom. Mayat tidak dikenal, suara orang-orang menjerit di atas bukit rumah dan toko dibakar, orang-orang dipukuli, orang hilang bahkan wanita diperkosa di rumah mereka sendiri.”
“Kenapa menakutkan sekali ya, Kak?”
“Sangat, jika kamu tidak siap maka kamu akan berakhir seperti Kakak. Tinggal di rumah sakit jiwa.”
“Apa Kakak membenci Bang Khalid? Dia sangat tampan menurutku. Apa Kakak tidak pernah menaruh hati padanya walaupun sedikit?”
“Entah. Kakak tidak tahu. Kakak hanya ingin kembali kepada orang tua Kakak.”
“Bagaimana dengan tentara yang kalian bicarakan di pinggir pantai? Apa dia tampan? Apa Kak Cut sangat menyukainya?” jiwa ingin tahu Putro tari semakin besar.
“Entah. Kakak tidak mau membahayakan orang tua Kakak lagi. Lebih baik kami tidak bertemu lagi. Kakak ingin memulai hidup baru bersama orang tua serta keponakan Kakak.” ucap Cut seraya tersenyum menatap Putro Tari.
Tanpa mereka sadari, di balik dinding papan tersebut seorang gadis juga tengah mencuri dengar pembicaraan mereka. Putro Ceudah sangat ingin mengetahui tentang cerita Cut dan Khalid namun, ia terlalu malu untuk bertanya. Ia lebih memilih memendam sendiri apa yang ingin ia tahu atau pertanyakan dengan harapan suatu hari ia akan menemukan jawabannya.
Seorang gadis yang lain juga tengah menangis tersedu-sedu saat mendengar jawaban dari pinangan ayahnya. Abu Syik dan istri tidak bisa berbuat apa-apa saat Khalid mengatakan tentang kehidupannya secara sekilas pada keluarga Mala.
“Abu pasti tidak ingin kehilangan putri yang sudah Abu besarkan dengan penuh cinta kasih, bukan? Menikah dengan saya berarti Abu sedang menggali lubang kubur untuk putri Abu sendiri. Saya adalah pemberontak yang paling dicari seluruh Aceh. Lebih baik Abu menikahkannya dengan laki-laki yang lebih dari pada saya. Terima kasih karena selama ini, Abu dan keluarga sudah menerima saya dan Cut dengan baik. Kondisi Cut sudah jauh lebih baik dan tugas saya adalah mengantarkannya kembali ke rumah.”
“Setelah itu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Abu Syik.
“Saya tidak tahu, Abu. Saya akan berjalan seperti air di sungai. Jika suatu hari saya tertangkap atau mati ditangan tentara berarti itulah jalan akhir saya. Saya mohon doanya, Abu.”
“Mala menerima Abang. Semua kejadian di masa lalu Abang, kekurangan Abang, Mala tidak masalah. Mala mohon jangan tinggalkan pulau. Abang sudah tahu di kota berbahaya, kenapa Abang tetap pergi? Biarkan Cut kembali ke kota. Dia pasti akan selamat tapi Abang? Siapa yang akan menjamin Abang?” Mala yang semenjak tadi hanya diam saja tiba-tiba berujar penuh air mata serta kepasrahan.
***
__ADS_1
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...